Logo
Antara Tajir dan Hafidz Qur'an
Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

84 Bab
Tamat
Dalam Antara Tajir dan Hafidz Qur'an, Nadia harus memilih antara kemewahan atau cinta pada Akbar, seorang penghafal Al-Qur'an. Romance novel ini mengisahkan perjuangan melampaui status sosial. Baca kisah inspiratif ini di web novel kami sebagai pilihan fiction books terbaik Anda.
Bab 1 dari Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

"Untuk apa bicara soal kedamaian kalau hidup ini butuh uang?" tanya Nadia, nada sinis terdengar jelas dalam suaranya, memecah keheningan ruangan.

Semua menoleh ke arah suara itu, sebagian kaget, sebagian lainnya hanya terdiam, menanti reaksi pria yang berdiri di atas panggung. Pria itu adalah Akbar, sosok sederhana yang tampak berbeda di antara tamu-tamu lain yang hadir dengan busana mewah dan rapi.

Akbar tersenyum tipis, tak menunjukkan tanda terganggu sedikit pun oleh pertanyaan itu. Dengan tenang, dia menatap ke arah Nadia, sorot matanya lembut tapi tajam. "Kedamaian bukan tentang uang, Nadia," ucapnya pelan namun cukup jelas didengar oleh semua yang hadir.

Nadia mendengus pelan, merasa tertantang dengan balasan tersebut. "Kedamaian bukan tentang uang? Kamu tahu nggak, dunia ini berputar karena uang? Semua yang ada di sini, termasuk acara amal ini, membutuhkan uang agar bisa berjalan."

Akbar hanya mengangguk, tetap tenang. "Betul, tapi uang hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuan kita seharusnya lebih dari sekadar materi."

"Jadi menurutmu, tujuan hidup itu apa? Kalau bukan untuk sukses?" tanya Nadia, nada sinisnya tak berkurang sedikit pun.

"Sukses adalah saat kita bisa hidup tanpa perlu terus-menerus mengejar sesuatu di luar diri kita," jawab Akbar dengan senyum yang tetap tenang.

Nadia merengut, merasa semakin tidak nyaman. Ia tak menyukai cara pria itu berbicara-tenang, tanpa nada emosi, seolah-olah benar-benar yakin dengan setiap kata yang diucapkannya. Namun, justru ketenangan itu yang membuat Nadia semakin terganggu.

Sofi, sahabatnya yang duduk di samping, menyenggolnya pelan. "Udah, Nad. Jangan terlalu keras."

Namun, Nadia mengabaikannya. Ia menatap Akbar dengan penuh rasa penasaran bercampur sinis. "Kamu hidup sederhana mungkin karena kamu belum pernah merasakan yang namanya kenyamanan. Jadi, wajar aja kamu nggak paham betapa pentingnya uang dalam hidup ini."

Akbar tersenyum, tetap tenang. "Saya tidak menyalahkan siapa pun yang menginginkan kenyamanan, Nadia. Semua orang berhak hidup layak. Tapi pertanyaannya adalah, apakah yang kita kejar itu benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan yang kita tanam karena terbiasa membandingkan diri?"

Kata-katanya menghantam Nadia. Ia terdiam sejenak, merasa seperti ditelanjangi di hadapan orang-orang. Selama ini, ia berusaha memiliki yang terbaik, menjalani hidup yang dianggap sukses. Tapi, mengapa kata-kata Akbar terdengar begitu menantang? Mengapa ia merasa seolah pria itu sedang berbicara langsung padanya?

"Jadi menurutmu hidup tanpa uang itu lebih baik?" Nadia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah.

"Tidak begitu," jawab Akbar lembut. "Uang penting, sangat penting. Tapi hidup kita lebih berharga dari sekadar angka-angka di rekening. Mungkin kita bisa memiliki segalanya, tapi hati kita kosong. Mungkin kita terlihat bahagia, tapi di dalam diri kita, ada yang hilang."

Nadia merasakan perasaan aneh. Seakan-akan Akbar sedang berbicara langsung ke dalam hatinya. Ia tidak suka ini. Ia tidak suka merasa rapuh.

"Omong kosong," gumamnya, walau tak cukup pelan untuk menyembunyikan nada frustrasi dalam suaranya.

Akbar tetap tersenyum, tak terpancing oleh ketegangan yang terlihat di wajah Nadia. "Bukan omong kosong, Nadia. Mungkin kamu belum pernah merasakannya, atau mungkin kamu belum sadar. Tapi di saat kita berhenti mengejar hal-hal yang membuat kita letih, kita bisa mulai melihat apa yang benar-benar berarti."

Nadia ingin membalas, namun kata-kata Akbar terus bergema di kepalanya, seolah menghancurkan semua dinding yang selama ini ia bangun.

Sofi menarik napas dalam, lalu menepuk bahunya pelan. "Udah, Nad. Kita di sini untuk acara keluarga, bukan buat debat."

Nadia memalingkan wajah, berusaha mengendalikan emosinya. "Iya, aku tahu," jawabnya lirih, tapi tatapannya tak lepas dari Akbar, pria yang berhasil mengusik pikirannya dengan cara yang tak terduga.

Akbar menyudahi sesi bicaranya dan turun dari panggung. Saat ia mendekati meja Nadia, ia berhenti sejenak, menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. "Maaf kalau tadi ada kata-kata saya yang mungkin menyinggungmu, Nadia. Saya hanya ingin berbagi pemahaman."

Nadia merasa ingin menghindar, tetapi tatapan Akbar membuatnya sulit berpaling. "Kamu terlalu yakin dengan apa yang kamu katakan, seakan-akan kamu sudah tahu semuanya."

Akbar mengangguk pelan. "Saya tidak tahu semuanya, Nadia. Saya hanya tahu apa yang membuat saya merasa damai. Mungkin apa yang saya katakan tadi hanya cocok untuk sebagian orang, atau mungkin juga tidak."

"Jadi kamu nggak yakin juga?" Nadia menyipitkan mata, mencoba mencari kelemahan di balik jawaban Akbar.

Akbar tersenyum lagi. "Saya yakin pada kedamaian yang saya rasakan. Itu cukup buat saya."

Saat itu, Nadia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang terguncang. Selama ini, ia hidup dengan keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah yang terbaik, mengejar kesuksesan, meraih apa yang ia inginkan. Namun, kata-kata Akbar seolah membuatnya ragu.

Sebelum Nadia sempat berkata apa-apa lagi, seorang tamu lain menghampiri Akbar, memintanya untuk berbicara. Akbar pun pamit dengan anggukan singkat, meninggalkan Nadia yang masih terpaku di tempat.

Sofi menarik lengannya pelan, mencoba mengajaknya duduk kembali. "Nad, kamu kenapa sih? Kelihatan banget kalau kamu terusik sama dia."

Nadia menghela napas panjang, mengalihkan pandangan dari punggung Akbar yang semakin menjauh. "Aku nggak tahu, Sof. Dia... dia ngomong seakan-akan semua yang aku percaya selama ini salah."

Sofi tersenyum tipis. "Mungkin kamu cuma nggak terbiasa mendengar perspektif lain."

Nadia diam, merenung. "Mungkin," gumamnya pelan.

Selama sisa acara, Nadia tak bisa fokus. Kata-kata Akbar terus berputar di kepalanya, menghantui pikirannya. Ia selalu berpikir bahwa hidup yang sempurna adalah memiliki segalanya. Tapi kenapa sekarang ia merasa kosong? Mengapa kata-kata Akbar begitu mengusik, seolah ia baru menyadari bahwa ada hal yang hilang dalam hidupnya?

Saat acara selesai, Nadia pamit pada Sofi dan langsung berjalan keluar ruangan. Udara malam yang dingin menyambutnya, tetapi itu tidak cukup untuk mengusir perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya.

Langkahnya terhenti ketika melihat Akbar berdiri di halaman, mengamati langit malam dengan tenang. Ada kedamaian di wajahnya, sesuatu yang langka dalam hidup Nadia.

Tanpa sadar, Nadia melangkah mendekat. "Kamu nggak takut kedinginan di sini?"

Akbar menoleh, tersenyum. "Udara malam ini menyegarkan. Membantu kita berpikir."

Nadia tersenyum kecil, menatap langit bersama Akbar. "Aku nggak ngerti gimana bisa kamu hidup seperti itu, seolah nggak ada yang kamu kejar."

Akbar menatapnya dengan lembut. "Kedamaian bukan berarti berhenti mengejar sesuatu, Nadia. Kedamaian adalah saat kita tahu apa yang harus kita kejar, dan apa yang harus kita lepaskan."

Nadia terdiam, kata-kata itu kembali mengusik. Selama ini, apa yang sebenarnya ia kejar?

"Aku nggak tahu apa yang harus aku lepaskan," akhirnya ia mengakui, lirih.

"Kadang, kita hanya butuh diam sejenak, memberi ruang untuk mendengarkan hati kita sendiri," jawab Akbar, suaranya lembut seperti angin malam.

Nadia merasa tenggelam dalam kedamaian yang Akbar bicarakan. Namun, ia tahu ketenangan ini tak akan bertahan lama. Hidupnya penuh dengan tuntutan, ambisi, dan ekspektasi. Bagaimana mungkin ia bisa hidup seperti Akbar?

"Nadia," suara Akbar menyela lamunannya. "Kamu nggak harus punya jawaban sekarang. Kadang, perjalanan menemukan jawaban itu lebih penting daripada jawabannya sendiri."

Nadia menghela napas panjang. Mungkin Akbar benar, tapi semua ini terasa begitu asing, begitu jauh dari kehidupannya yang biasa. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang meronta, seakan ingin merasakan kedamaian yang Akbar bicarakan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah panggilan dari salah satu rekan kerja. Ekspresinya berubah, kembali pada realitas yang ia kenal.

"Aku harus pergi," ucapnya cepat pada Akbar.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Aku dan "Sahabatku"
Aku dan "Sahabatku"
Dalam novel romantis miliarder Aku dan "Sahabatku", sang protagonis terlahir kembali setelah menyadari pengkhianatan sahabatnya, Melinda. Demi mengamankan pernikahannya dengan Aldi Noran, ia harus menghadapi intrik Melinda yang berpura-pura menguji kesetiaan sang suami. Temukan kelanjutan kisahnya di webnovel ini.
Be Your Pet
Be Your Pet
Demi membiayai pengobatan ibunya, Erick terpaksa menjadi peliharaan Jason dalam web novel Be Your Pet. Terjebak dalam gaya hidup BDSM yang keras, Erick harus bertahan menghadapi tantangan dalam kisah lgbt dan romance novel yang penuh dengan risiko serta pilihan sulit di dunia modern.
Hilangnya Masa Muda
Hilangnya Masa Muda
Dalam Hilangnya Masa Muda, Safira terpaksa menikah dengan Danu, seorang duda dingin, demi menuruti keinginan mertuanya. Ikuti kisah romance modern ini di platform web novel kami, sebuah cerita tentang pengorbanan dan pilihan sulit dalam kumpulan online novel terbaik saat ini.
JERAT CINTA TUAN MAFIA
JERAT CINTA TUAN MAFIA
Pasca pengkhianatan kekasihnya, Louisa terjebak dalam masalah besar hingga diselamatkan pria misterius. Namun, keputusan cerobohnya memberikan hadiah kepada sang penolong justru menyeretnya ke dalam JERAT CINTA TUAN MAFIA. Simak kelanjutan kisah mafia novel ini dalam web novel terbaru.
Kumpulan Kisah Dewasa
Kumpulan Kisah Dewasa
Kumpulan Kisah Dewasa menyajikan antologi romance modern tentang dinamika hubungan di berbagai latar profesi. Jelajahi pilihan fiction books ini yang mengungkap realita percintaan unik setiap tokoh. Baca romance stories penuh liku ini untuk memahami sisi lain kehidupan para insan pecinta.
Menikahi Ceo
Menikahi Ceo
Dalam novel Menikahi Ceo, Raisya yang tangguh berusaha mengejar Arga, seorang billionaire yang kaku. Namun, pertunangan Arga dengan wanita lain menjadi rintangan besar. Simak kelanjutan romance novel ini di platform webnovel untuk melihat apakah cinta gila mereka akan bertahan.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Debut Asmara Voli Pantai
Debut Asmara Voli Pantai
Jenny Taylor ingin kehilangan keperawanan dengan musuh bebuyutan sekaligus kakak tirinya, Chris Riggins. Gara-gara tanpa sengaja mencium Chris, dia jadi bahan olokan pacar Chris, Natalie, dan seluruh tim voli. Namun, tiba-tiba Chris mulai perhatian dan peduli pada Jenny. Apakah ini awal dari hubungan terlarang mereka?
Bulan di Kota Selatan
Bulan di Kota Selatan
Rara Iskandar menyelamatkan Mahadri Wiratama di luar negeri dan tak sengaja terkena obat perangsang hingga berhubungan intim. Setelah pulang, Mahadri kembali ke Indonesia untuk membatalkan pertunangan, yang ternyata calon istrinya adalah Rara sendiri. Rara, demi merebut kembali perusahaan keluarganya, memaksa Mahadri menyetujui pertunangan ini. Keduanya tak saling mengenali identitas, hingga akhirnya kebenaran terungkap dan mereka pun bersatu.
CEO Itu Ayah dari Bayi Kembarku!
CEO Itu Ayah dari Bayi Kembarku!
Sophie yang polos ditipu oleh ibunya hingga melakukan operasi inseminasi buatan dan menjadi ibu pengganti, tapi pihak rumah sakit malah salah memasukkan sperma! Sementara ibu dan adiknya memaksanya aborsikan anak itu. Sophie akhirnya dipaksa ke ujung tanduk. Saat itulah dia dapat kabar bahwa anak dalam rahimnya adalah anak sang miliuner, Ryder! Karena merasa bertanggung jawab, Ryder bawa dia pulang. Pelan-pelan mereka pun mulai jatuh cinta, di saat ini, mantan tunangan Ryder malah muncul! Apakah kisah cinta mereka akan berakhir bahagia?
Dihina Kerabat, Aku Bela Ibu
Dihina Kerabat, Aku Bela Ibu
Pekerja wanita pensiunan Yuni Wibowo telah dieksploitasi oleh saudara perempuannya sendiri selama setengah hidupnya. Karena statusnya yang rendah, Yuni Wibowo tidak termasuk dalam daftar undangan pernikahan Tasya Santosa. Putrinya, Laras Pramudita, tidak tega melihat ibunya dihina, lalu mulai menyusun rencana secara diam-diam. Ia memutuskan untuk membalas pada hari pernikahan Tasya Santosa, hingga akhirnya membuat kerabat yang hanya suka menjilat yang kaya dan merendahkan yang miskin ini menyesali perbuatan mereka.
Kuberikan Jantungku untuknya
Kuberikan Jantungku untuknya
Selama tujuh tahun, Alec setia mencintai Lexi. Sayangnya, kakak laki-laki Lexi berhasil meracuni pikirannya, meyakinkannya bahwa Alec telah mengkhianatinya. Lexi pun menuntut cerai, menggugurkan anak mereka, yang memicu kambuhnya penyakit jantungnya. Dengan rela, Alec mengorbankan jantungnya sendiri untuk menyelamatkan nyawa wanita yang dicintainya. Tanpa menyadari pengorbanan itu, Lexi justru mengira pria itu pergi karena dendam. Di tengah penyesalan yang menyiksa, dia baru tersadar bahwa cintanya pada Alec selalu ada dan mulai memburu bayangannya dalam keputusasaan. Kebenaran akhirnya terungkap. Saat mengetahui jantung yang berdetak di dadanya adalah milik Alec, Lexi pun hancur hati. Keputusasaan akhirnya menguburnya hidup-hidup, bersama kenyataan pahit bahwa orang terkasihnya telah wafat untuk selamanya demi keselamatannya.
Cinta Dalam Sorotan
Cinta Dalam Sorotan
Delapan tahun silam, Ella, seorang aktris pemula, terpaksa menikahi Jaxon, CEO Grup Brooks, demi menuruti keinginan terakhir kakeknya. Tak disangka, kehamilan tak terencana membuatnya memutuskan bercerai. Enam tahun berlalu, keluarga Jaxon diguncang fakta mengejutkan: putri Ella, Sofia, ternyata darah daging Jaxon! Mereka pun berusaha mencari Sofia ke seluruh kota. Di lokasi syuting, Ella terus mengalami pelecehan. Puncaknya ketika Sofia terjebak dalam kotak properti, Jaxon yang datang menyelamatkan justru tak mengenali anak kandungnya sendiri! Di pesta megah, nenek Jaxon mengungkap identitas Sofia. Orang lain baru sadar Ella adalah mantan istri Jaxon! Di hadapan semua orang, Jaxon menyatakan cintanya pada Ella. Kisah mereka berakhir bahagia dengan pernikahan kedua dan kelahiran anak kembar, sekaligus mengantarkan Ella sebagai aktris papan atas.