Bab 3
"Kita bicarakan tentang pernikahan ini nanti saja ya?"
Sebenarnya aku juga tidak bermaksud memaksanya pergi.
Namun, sikapnya saat ini membuatku semakin yakin bahwa dia telah mengkhianatiku.
Aku melepaskan pelukannya dan mendorongnya kembali ke tempat tidur.
"Oke, terserah kamu deh. Aku mau keluar urus sesuatu dulu.”
"Kalau kamu sudah yakin, kita baru pergi urus pernikahan ini."
Candra mengangguk patuh, wajahnya dipenuhi rasa lega seakan telah terselamatkan dari bencana.
Dia mengulurkan tangannya untuk menggapai tanganku, suaranya penuh dengan kemesraan.
"Sayang, hati-hati di jalan. Aku mencintaimu!"
Langkahku terhenti di depan pintu, hatiku terasa sakit.
Aku telah mendengar lelaki itu mengatakan ‘Aku mencintaimu’ berkali-kali dalam tiga tahun terakhir.
Namun, hari ini aku baru sadar betapa ironisnya hal itu.
Aku berbalik dan dengan alis terangkat aku bicara padanya, "Kamu mencintaiku?"
"Candra, cinta itu tentang tindakan, bukan hanya kata-kata. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu harusnya akan dengan senang hati ikut aku ke Kantor Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita, kan?"
Aku berpura-pura merasa tersakiti dan menghapus air mata dengan kedua tanganku .
Kali ini, Candra hanya diam tanpa sepatah katapun.
Dia membalikkan punggungnya dan nada suaranya menjadi dingin, "Lian, apa kamu sedang memaksaku untuk menikahimu?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
Dalam situasi seperti ini, kata-kata [berhenti pada waktu yang tepat] adalah yang terbaik.
Aku mengendarai mobilku menuju agen properti yang telah aku kunjungi berkali-kali sebelumnya.
Dalam perjalanan ke sana, aku mentransfer semua uang yang sudah aku setorkan ke rekening bersama kami.
Totalnya ada satu miliar lebih, itu semua adalah tabunganku sejak lulus kuliah.
Karena Candra tidak punya rencana untuk membeli rumah dan menikah denganku.
Maka, aku juga memilih untuk tidak menikahinya.
Tetapi, aku tetap masih bisa membeli rumah sendiri!
Untungnya harga rumah yang sebelumnya aku suka sedang turun harga.
Uang mukanya hanya perlu satu koma dua miliar, setelah itu aku bisa langsung dapat menandatangani kontrak dan menyelesaikan semua prosedurnya.
Tanpa keraguan sedikit pun, aku menandatangani kontrak pembelian rumah itu.
Saat menandatangani dokumen terakhir, layar ponselku menyala pada waktu yang tepat.
Itu telepon dari Candra.
Tanpa ragu-ragu, aku langsung menolak panggilan telepon darinya dan lanjut memeriksa dokumen-dokumen itu dengan teliti.
Candra sepertinya sudah tahu bahwa uang di rekening bersama kami hilang, jadi dia meneleponku untuk bertanya tentang hal itu.
Melihatku tidak menjawab panggilannya, dia lalu mengirim pesan.
[Lian, kenapa uang tabungan di rekening kita menghilang?]
[Itu adalah uang kita bersama. Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau akan menarik sebanyak itu?]
[Cepat kembalikan lagi uangnya, kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu!]
Aku tidak memedulikan pesannya.
Melalui aplikasi lokasi terkini, aku bisa melihat bahwa Candra terlihat berkeliaran ke sana kemari.
Sekeras apa pun dia berpikir, dia tidak akan pernah menyangka kalau aku pergi untuk membeli sebuah rumah.
Setelah menyelesaikan semua prosedur pembelian rumah, aku pulang ke rumah dengan santai.
Candra masih belum pulang. Sepertinya dia masih berusaha mencariku.
Aku duduk di ruang tamu, memperhatikan ponselku yang terus menyala dan bunyi berulang kali.
Pada saat ini, aku tiba-tiba teringat banyak hal.
Aku teringat kenangan tentang bagaimana kami bertemu, berkenalan dan saling jatuh cinta.
Awalnya aku pikir kami saling menyukai satu sama lain dan bisa hidup bersama selamanya.
Tetapi, postingan itu bagaikan sebuah tamparan keras di wajahku.
Tamparan yang langsung membawaku kembali pada kenyataan dan membuatku menyadari sifat asli Candra Susanto yang sebenarnya.
Suara notifikasi pesan yang datang dari ruang kerja tiba-tiba menyadarkanku kembali.
Aku menyeka pipiku yang sudah dibasahi oleh air mata.
Aku mendorong pintu ruang kerja dan menemukan bahwa Candra belum keluar dari Whatsapp di komputernya.
Kontak yang disematkan pada kotak obrolannya adalah aku dan cinta pertamanya.
Jessica Darmawan.
Candra masih terus mengirimiku pesan.
Bab 4
Sambil berusaha mencariku, dia tidak lupa membalas pesan dari Jessica.
[Sayang, hati-hati di jalan saat periksa kandungan, jangan sampai jatuh!]
[Baik-baik di sana ya. Aku merindukan dan mencintaimu.]
Hatiku yang semula tak mau peduli, menjadi sedikit terusik dan terasa sakit.
‘Mereka bahkan akan punya anak?’
Aku tidak pernah tahu kapan mereka menikah dan punya anak.
Beberapa menit kemudian, wanita itu mengirim sebuah pertanyaan.
[Aku sudah hamil dua bulan. Kapan kamu mau putus dengan perempuan itu?]
[Aku sekarang sudah jadi istrimu, kenapa kamu masih punya hubungan dengan orang lain?]
Ketika aku membaca pesan itu, jantungku berdebar kencang dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Awalnya aku berpikir bahwa Jessica juga sudah dibohongi sepertiku.
Aku bahkan sempat ingin menghubunginya terlebih dahulu dan bekerja sama dengannya untuk mengungkap kebejatan laki-laki itu.
Sekarang tampaknya itu tidak perlu lagi.
Mereka berdua adalah pasangan yang serasi, sama-sama jahat!
Tepat pada saat itu, muncul pesan lainnya.
Itu dari ibunya Candra.
[Candra, kenapa kamu masih tidak bisa membujuk seorang gadis bodoh?]
[Apa kamu sudah lupa semua yang pernah diajarkan Ibumu ini?]
Ternyata ibunya yang selalu baik dan ramah padaku juga tahu tentang semua kebohongan ini.
Aku tersentak dengan kejutan ini. Tanganku berpegangan pada meja untuk beberapa lama sebelum pulih kembali.
Semua yang kualami dalam tiga tahun terakhir ini ternyata tidak lain hanyalah penipuan yang sudah dirancang dengan cermat oleh para penjahat ini.
Hanya demi uang, mereka benar-benar tega melakukan ini semua.
Aku mencatat nomor kontak Jessica, lalu meninggalkan ruangan itu tanpa suara.
Setengah jam kemudian, Candra kembali ke rumah dengan keringat bercucuran.
Dia mengumpatku sambil menendang membuka pintu.
"Dasar wanita tidak tahu malu, berani sekali dia mengambil uangku.”
"Begitu kamu pulang, kuhajar kamu sampai mati!"
Aku bersandar di meja makan dan minum air dengan tenang, "Apa? Kamu mau menghajarku sampai mati?"
Candra terdiam sejenak, dia menatapku dengan dahi berkerut.
Dengan wajah dingin dan murka dia berjalan cepat ke arahku dan memegang erat pergelangan tanganku.
"Lian, kamu pindahkan ke mana uang kita?"
Aku letakkan gelas itu dan melepaskan diri dari cengkramannya.
Lalu berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa.
"Jangan bercanda, itu semua uangku, bukan uangmu.”
"Selama ini kamu hanya bisa menabung dua ratus jutaan saja. Bisa-bisanya kamu sebut itu uangmu tanpa malu."
Candra menelan ludah pahit, dan tangannya terlihat mengepal berulang kali.
Tinjunya terasa seperti akan mengenai wajahku sedetik kemudian.
Candra menahan amarahnya dan bertanya padaku dengan suara dingin.
"Kita akan menikah di masa depan, jadi ini adalah harta kita bersama. Kenapa kamu tarik uang itu tanpa bilang apa pun padaku?”
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan semua uang itu?"
Aku menyilangkan kakiku dengan santai tanpa melihatnya.
"Aku beli sebuah rumah."
Candra terbelalak mendengar jawabanku.
Dia langsung meninggikan suaranya dan mengulangi pertanyaannya dengan nada tidak percaya.
"Apa kau bilang tadi?!"
Salah satu yang paling aku benci dalam hidupku adalah berbicara dengan alat perekam.
Aku sudah malas meladeninya, jadi aku mengambil ponselku dan mulai bermain gim.
Candra akhirnya tidak dapat menahan amarahnya lagi, dia mendekat maju dan menjatuhkan ponselku.
Ponsel itu jatuh dengan keras ke lantai, dan layarnya retak menjadi beberapa bagian dalam sekejap.
Candra menggila dan berteriak kepadaku, "Kalau uang itu kamu pakai untuk beli rumah, jadi bagaimana denganku?”