Bab 1

Dalam perjalanan ke bank untuk menyetor uang, aku tidak sengaja menemukan sebuah postingan:

[Pernahkah Anda melakukan sesuatu yang sulit diungkapkan tanpa diketahui pasangan Anda?]

Di bawah postingan, seorang netizen berkomentar :

[Aku diam-diam mendaftarkan pernikahanku dengan cinta pertamaku, tapi pacarku masih menyetor uang ke rekening bersama kami. Dia benar-benar bodoh. Dia kira aku benar-benar ingin menabung untuk membeli rumah dan menikahinya.]

[Sudah ada 1,3 miliyar di dalam rekening, ketika dia sudah menabung sampai 1,6 miliyar, aku akan diam-diam menariknya!]

Aku melihat komentar itu banyak disukai, lalu melihat saldo rekeningku.

Tidak lebih, tidak kurang, pas 1,3 miliyar.

Ternyata pacarku dan cinta pertamanya telah mendaftarkan pernikahan mereka!

Ketika aku menyadari hal ini, reaksiku pertama kali adalah penyangkalan.

Aku dan Candra sudah menjalin hubungan selama hampir tiga tahun, dan hubungan kami selalu stabil.

Belum lama ini, kami bahkan sudah bertemu dengan orang tua masing-masing.

Tetapi, kenapa dia menjadi seperti orang asing dan sangat perhitungan saat di sosial media?

Ketika pulang, hati dan pikiranku dipenuhi dengan banyak keraguan. Aku ingin mencari kesempatan untuk membicarakan hal ini padanya.

Tanpa diduga, sebelum meletakkan tasku, Candra langsung bergegas menghampiri.

"Sayang, aku sudah menyetor dua puluh juta ke tabungan bersama kita. Bulan ini kamu mau menabung berapa banyak?”

"Karena gajimu lebih banyak, jadi seharusnya kamu bisa menabung lebih banyak, kan?"

Candra melambaikan telepon genggamnya dan menatapku lekat menunggu jawaban.

Tanganku tanpa sadar merogoh tas dan menyentuh amplop tebal di dalamnya.

Hari ini sebenarnya bonus akhir bulan sudah cair. Karena aku sudah berhasil mendapatkan klien besar, bos memberiku bonus sebesar enam puluh juta.

Awalnya aku ingin menyetorkan semuanya untuk tabungan, sehingga total tabungan kami menjadi satu miliar empat ratus juta.

Namun dalam perjalanan ke bank, aku tidak sengaja melihat postingan itu.

Seketika, semua perasaan bahagia dan antusias itu hilang.

Aku tidak percaya jika ada begitu banyak kebetulan di dunia ini dan juga tidak percaya pada sifat manusia.

Begitu benih keraguan muncul di hati, dia akan mengakar dan tumbuh dengan tak terkendali.

Aku menarik napas dalam dan memaksa air mataku keluar.

"Sayang, kinerjaku bulan ini tidak terlalu baik jadi aku tidak dapat bonus bulan ini.”

"Mama sakit kemarin, jadi aku baru saja mengirim dua belas juta padanya."

Pada saat berbicara, aku memperhatikan ekspresi Candra dengan saksama.

Sudut bibirnya perlahan turun dan matanya yang gelap menatapku dari atas sampai ke bawah.

"Dulu kamu selalu menabung empat puluh sampai enam puluh juta setiap bulan. Apa kamu tidak akan menabung bulan ini?"

Suara Candra terdengar dingin.

"Kalau kamu tidak ikut menabung dan hanya mengandalkan gajiku saja, kapan kita akan bisa membeli rumah dan menikah?"

Ketika mendengar kata pernikahan, aku tidak dapat lagi mengendalikan emosi.

Aku ingin mengajaknya langsung ke Kantor Catatan Sipil untuk memeriksa status perkawinannya.

Aku menatapnya dingin lalu berjalan masuk ke kamar tidur sambil membawa tasku.

"Apa kalau tidak ada aku, kamu tidak akan beli rumah dan menikah?”

"Candra Susanto, jangan selalu menggunakan alasan ini untuk memaksaku. Sudah kubilang, pokoknya bulan ini aku tidak ada uang!"

Mendengar kalimatku yang tajam, wajah Candra berubah menjadi pucat.

Namun dia bisa langsung mengendalikan dirinya dan mengikutiku ke kamar.

"Lian Juwita, aku bekerja keras untuk menabung selama dua tahun ini, itu semua agar bisa menikahimu.”

"Kenapa sekarang kamu bicara seolah-olah pernikahan ini hanya urusanku sendiri? Apa kamu tidak memiliki tanggung jawab?"

Semakin banyak lelaki itu berbicara, semakin besar rasa bersalahnya. Dia tampak terlihat kikuk.

Aku mendengus dingin lalu duduk di depan meja komputer.

"Walaupun tanpa aku, kamu masih bisa menikah, ya kan?"

Aku tahu betul bahwa jika aku bertanya secara terus terang dan langsung padanya, Candra pasti tidak akan mengakuinya.

Dia bahkan mungkin akan membalikkan keadaan dan menuduhku sudah curiga padanya.

Aku harus menemukan cara untuk membuatnya mengaku.

Melihatku tetap bergeming, Candra mendekat dan menarik lenganku.

"Gajimu setiap bulan kan lebih dari empat puluh juta. Walaupun kamu mengirim dua belas juta untuk ibumu, masih tetap ada sisanya.”

Bab 2

"Lalu dikurangi biaya bulanan kita sepuluh juta. Nah, semua sisanya bisa kamu setorkan ke tabungan kita."

Seharusnya Candra tidak menyebutkan hal itu.

Sekarang setelah mendengar semua ucapannya, tiba-tiba saja aku sadar bahwa akulah yang membayar hampir semua biaya hidup kami setiap bulan!

Selain dua puluh juta yang dia setorkan ke rekening bersama setiap bulan, Candra hampir tidak mengeluarkan uang apa pun lagi.

Aku menatap bibirnya yang bergerak naik turun, dan langsung berkata padanya.

"Sayang, ayo kita menikah sekarang."

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

Saking heningnya, aku bahkan bisa mendengar suaranya menelan ludah dengan panik.

Suara Candra seperti tersangkut di tenggorokan sehingga dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Sambil menyeka air mata yang jatuh di pipi, aku tersenyum.

"Uang yang kita tabung sudah cukup untuk membayar DP rumah, lagipula kita sudah tidak muda lagi, jadi kita harus menikah sesegera mungkin.”

"Dulu kamu pernah melamarku, kan? Aku setuju sekarang."

Dari matanya, aku tidak dapat melihat rasa antusias dan bahagia.

Bahkan sebaliknya, aku melihat rona keputusasaan di sana.

Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya dia setengah berlutut di kakiku.

"Sayang, kita kan sudah sepakat menabung sampai terkumpul satu koma enam miliar dulu sebelum menikah. Kenapa kamu mendadak mau menikah?”

"Kalau kita menikah sekarang, rencana kita bisa kacau."

Dia menatapku dengan gugup, khawatir jika aku benar-benar serius ingin menikah.

Aku mengeluarkan dari laci cincin pertunangan yang dia berikan dulu dan memasangkannya di jari manisku.

Sikapku sangat tegas.

"Aku khawatir kalau kita tidak menikah sekarang, kamu akan menikah dengan orang lain."

Mendengar lelucon itu, Candra tampak kaget setengah mati.

Kakinya terasa lemas dan akhirnya dia terjatuh ke lantai.

"Sayang, pernikahan itu hal besar, kita harus pikirkan semuanya baik-baik.”

"Mamamu kemarin juga jatuh sakit, kan? Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara tentang pernikahan kita."

Ketika Candra bicara, dia tidak berani menatap mataku dan terus menghindar.

Aku memegang bahunya dengan kuat-kuat seakan sedang mempercayakan tugas penting kepadanya dan berkata dengan serius:

"Karena Mamaku sakit, jadi aku ingin kita segera menikah dan membuatnya bahagia.”

"Ini semua demi Mamaku, kamu tidak mungkin tolak, ‘kan?"

Hanya dengan beberapa kalimat sederhana, aku bisa menjawab semua alasannya tadi.

Candra terdiam dan menggaruk rambutnya dengan cemas.

Dia bangkit dan berkata akan menelepon orang tuanya untuk memberitahu mereka.

Aku tidak menghentikannya dan membiarkan dia menyelinap ke ruang kerja.

Tidak sampai dua menit, suara Candra terdengar dari ruangan sebelah.

Tapi sayang, ruangan itu kedap suara.

Aku mengambil gelas kaca dan menempelkannya ke dinding lalu mendekatkan telingaku ke sana.

Suara yang tadinya samar-samar, tiba-tiba berubah menjadi lebih jelas.

Candra terdengar menekan pita suaranya, dan bicara dengan suara yang agak berbeda.

“Sayang, setelah kamu kembali kerja di sini, kita akan bisa bertemu setiap hari.”

"Kamu jaga dirimu di sana ya, kalau tidak aku akan merasa khawatir."

Mendengar hal itu, hatiku akhirnya mati.

Benih keraguan di hatiku akhirnya berakar dan tumbuh besar menjadi pohon yang menjulang tinggi.

Cabang-cabangnya kemudian menyusup ke dalam hatiku dan menggoresnya hingga berdarah.

Sementara di ruangan sebelah, Candra masih bicara dengan suara rendah.

"Sayangku, saat kamu kembali nanti, aku akan membelikanmu sebuah rumah besar.”

"Jangan khawatir, suamimu ini punya banyak uang!"

Aku tertawa terbahak-bahak dan tak dapat berkata apa-apa.

‘Dia punya banyak uang? Lucu sekali!’

‘Dari jumlah total uang tabungan bersama kami di bank, sembilan puluh persennya adalah uangku!’

Keesokan paginya, aku benar-benar mengajak Candra ke Kantor Catatan Sipil.

Kali ini, dia benar-benar sangat panik.

Dia tetap meringkuk di tempat tidurnya dan menolak untuk pergi dengan alasan apapun.

"Sayang, ini mendadak banget, aku jadi takut nikah.”

Bab 3

"Kita bicarakan tentang pernikahan ini nanti saja ya?"

Sebenarnya aku juga tidak bermaksud memaksanya pergi.

Namun, sikapnya saat ini membuatku semakin yakin bahwa dia telah mengkhianatiku.

Aku melepaskan pelukannya dan mendorongnya kembali ke tempat tidur.

"Oke, terserah kamu deh. Aku mau keluar urus sesuatu dulu.”

"Kalau kamu sudah yakin, kita baru pergi urus pernikahan ini."

Candra mengangguk patuh, wajahnya dipenuhi rasa lega seakan telah terselamatkan dari bencana.

Dia mengulurkan tangannya untuk menggapai tanganku, suaranya penuh dengan kemesraan.

"Sayang, hati-hati di jalan. Aku mencintaimu!"

Langkahku terhenti di depan pintu, hatiku terasa sakit.

Aku telah mendengar lelaki itu mengatakan ‘Aku mencintaimu’ berkali-kali dalam tiga tahun terakhir.

Namun, hari ini aku baru sadar betapa ironisnya hal itu.

Aku berbalik dan dengan alis terangkat aku bicara padanya, "Kamu mencintaiku?"

"Candra, cinta itu tentang tindakan, bukan hanya kata-kata. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu harusnya akan dengan senang hati ikut aku ke Kantor Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita, kan?"

Aku berpura-pura merasa tersakiti dan menghapus air mata dengan kedua tanganku .

Kali ini, Candra hanya diam tanpa sepatah katapun.

Dia membalikkan punggungnya dan nada suaranya menjadi dingin, "Lian, apa kamu sedang memaksaku untuk menikahimu?"

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

Dalam situasi seperti ini, kata-kata [berhenti pada waktu yang tepat] adalah yang terbaik.

Aku mengendarai mobilku menuju agen properti yang telah aku kunjungi berkali-kali sebelumnya.

Dalam perjalanan ke sana, aku mentransfer semua uang yang sudah aku setorkan ke rekening bersama kami.

Totalnya ada satu miliar lebih, itu semua adalah tabunganku sejak lulus kuliah.

Karena Candra tidak punya rencana untuk membeli rumah dan menikah denganku.

Maka, aku juga memilih untuk tidak menikahinya.

Tetapi, aku tetap masih bisa membeli rumah sendiri!

Untungnya harga rumah yang sebelumnya aku suka sedang turun harga.

Uang mukanya hanya perlu satu koma dua miliar, setelah itu aku bisa langsung dapat menandatangani kontrak dan menyelesaikan semua prosedurnya.

Tanpa keraguan sedikit pun, aku menandatangani kontrak pembelian rumah itu.

Saat menandatangani dokumen terakhir, layar ponselku menyala pada waktu yang tepat.

Itu telepon dari Candra.

Tanpa ragu-ragu, aku langsung menolak panggilan telepon darinya dan lanjut memeriksa dokumen-dokumen itu dengan teliti.

Candra sepertinya sudah tahu bahwa uang di rekening bersama kami hilang, jadi dia meneleponku untuk bertanya tentang hal itu.

Melihatku tidak menjawab panggilannya, dia lalu mengirim pesan.

[Lian, kenapa uang tabungan di rekening kita menghilang?]

[Itu adalah uang kita bersama. Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau akan menarik sebanyak itu?]

[Cepat kembalikan lagi uangnya, kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu!]

Aku tidak memedulikan pesannya.

Melalui aplikasi lokasi terkini, aku bisa melihat bahwa Candra terlihat berkeliaran ke sana kemari.

Sekeras apa pun dia berpikir, dia tidak akan pernah menyangka kalau aku pergi untuk membeli sebuah rumah.

Setelah menyelesaikan semua prosedur pembelian rumah, aku pulang ke rumah dengan santai.

Candra masih belum pulang. Sepertinya dia masih berusaha mencariku.

Aku duduk di ruang tamu, memperhatikan ponselku yang terus menyala dan bunyi berulang kali.

Pada saat ini, aku tiba-tiba teringat banyak hal.

Aku teringat kenangan tentang bagaimana kami bertemu, berkenalan dan saling jatuh cinta.

Awalnya aku pikir kami saling menyukai satu sama lain dan bisa hidup bersama selamanya.

Tetapi, postingan itu bagaikan sebuah tamparan keras di wajahku.

Tamparan yang langsung membawaku kembali pada kenyataan dan membuatku menyadari sifat asli Candra Susanto yang sebenarnya.

Suara notifikasi pesan yang datang dari ruang kerja tiba-tiba menyadarkanku kembali.

Aku menyeka pipiku yang sudah dibasahi oleh air mata.

Aku mendorong pintu ruang kerja dan menemukan bahwa Candra belum keluar dari Whatsapp di komputernya.

Kontak yang disematkan pada kotak obrolannya adalah aku dan cinta pertamanya.

Jessica Darmawan.

Candra masih terus mengirimiku pesan.

Antara Cintanya dan Hartaku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya