Bab 6

Billy memalingkan kepalanya menatap Siena dengan tatapan benci. “Siena, sepertinya kamu belum kapok sebelum kena batunya! Aku ingin lihat kamu bisa hidup berapa hari setelah meninggalkan Keluarga Juman kami! Mulai sekarang, kita batalkan perjanjian pernikahan kita! Kamu bukan lagi calon istriku!”Ucapan Billy membuat Lukasa murka. Dia menunjuk Billy dengan tangan gemetar. “Kamu … kamu memang sudah buta ….”

Belum selesai Lukasa menyelesaikan omongannya, dia pun memejamkan matanya dan jatuh pingsan di tempat.

Dokter segera memeriksa Lukasa. Berhubung Siena merasa panik, dia spontan ingin berdiri. Hanya saja, lukanya malah tertarik dan dia kembali jatuh duduk di tempat.

“Kakek, Kakek ….”

Siena meneteskan air mata. Dia mengulurkan tangannya menarik ujung pakaian Billy. “Biarkan aku menjenguknya. Aku mohon sama kamu ….”

Darah dan air mata menetes bersamaan. Hanya saja, Billy menepis tangan Siena dengan rasa jijik. “Kamu akting apa lagi? Kalau bukan kamu yang memprovokasi hubungan kita, apa mungkin Kakek akan marah hingga jatuh sakit? Siena, kamu memang rendahan sekali!”

Billy membalikkan tubuhnya mengikuti dokter meninggalkan kamar pasien. Dia sengaja memerintah pengawal untuk menjaga Siena dengan baik, tidak memperbolehkannya ke mana pun.

Orang tua Billy yang berada di luar kota juga telah mendengar kabar ini. Mereka bergegas menuju rumah sakit.

“Kami baru beberapa hari nggak di rumah, malah terjadi masalah seperti ini! Dasar anak durhaka, kalau terjadi sesuatu dengan kakekmu, aku pasti akan habisi kamu!” marah ayahnya Billy, Leo Juman, dengan emosi tinggi. Dia hampir saja ingin turun tangan. Untung saja ada istrinya, Ariana, segera menghalanginya.

Ketika Julia melihat situasi, dia segera berkata, “Siena cari masalah lagi. Kak Billy cuma omeli dia sedikit saja, dia malah mengadu sama Kakek, makanya Kakek ….”

Raut wajah Ariana langsung menjadi dingin. “Dia seorang anak yatim piatu malah berani mencari masalah di Keluarga Juman. Dia memang nggak tahu diri! Apa dia benar-benar mengira dia itu putri orang kaya? Setelah berhasil menggaet keluarga kami, dia pun berkhayal sudah menjadi burung merak!”

Saat Billy mendengar ucapan itu, keningnya spontan berkerut. “Ibu, kamu jangan bicara seperti ini. Bagaimanapun, nyawa orang tua Siena tiada demi menyelamatkanmu dan Ayah ….”

“Cukup!” Leo menyela, “Hanya karena satu masalah itu saja, apa perlu kita selalu menurutinya untuk selamanya? Dia begitu arogan. Kalau kamu menikah sama dia, jadi apa Keluarga Juman ini? Lebih baik batalkan perjanjian pernikahan ini saja, usir Siena, si tukang buat masalah!”

Reaksi pertama Billy adalah menolak. Dia hanya ingin menakuti Siena agar Siena lebih penurut saja. Hanya saja, dia tidak pernah kepikiran untuk benar-benar mencampakkan Siena.

Sekarang Siena terluka parah dan tidak ada yang membantunya. Jika Siena tidak memiliki Billy lagi, siapa yang bisa menjadi sandaran Siena?

Hanya saja, Julia menghalangi Billy dan berkata dengan suara ringan, “Kalau sekarang kamu masih bersikeras, bukannya Paman dan Bibi akan semakin marah sama Siena? Pelan-pelan saja, kita masih punya waktu.”

Julia berpikir sejenak, lalu mengusulkan, “Gimana kalau kita antar Siena ke luar negeri? Sekarang dia bersikap begitu arogan pasti karena terlalu menempel dengan Kak Billy. Jadi kita bisa antar dia ke luar negeri agar dia bisa menenangkan dirinya. Kita bicarakan lagi setelah Kakek sehat nanti.”

Ariana setuju dengan usulan itu. Dia segera pulang untuk mempersiapkan masalah yang bersangkutan. Mereka ingin segera mengantar Siena sejauh mungkin.

Billy menggenggam tangan Julia dengan rasa berterima kasih. “Untung saja ada kamu. Siena sudah mencelakaimu hingga seperti ini, kamu nggak perhitungan sama dia, malah begitu memikirkannya ….”

Julia tersenyum lembut. “Nggak, kok? Kak Siena juga hanya khilaf, doang. Mana mungkin aku akan perhitungan sama dia.”

Selama beberapa hari ini, Siena dikurung di dalam kamar pasien. Tidak ada yang bisa berbicara dengannya. Setiap harinya dia hanya ditemani oleh ponselnya saja.

Di dalam album tersimpan banyak foto bersama Siena dengan Billy. Awalnya hanya ada mereka berdua saja. Siena dan Billy minum segelas boba berdua, lalu jalan-jalan dengan bergandengan tangan ….

Setiap momen itu adalah bukti bahwa mereka pernah saling mencintai. Hanya saja entah sejak kapan, jelas-jelas mereka berdua sedang berkencan, malah selalu muncul sosok Julia.

Siena membuka ponselnya, lalu membuka akun Facebook-nya.

Dari ratusan unggahan itu hampir semuanya berkaitan dengan Billy. Ada foto-foto kebersamaan mereka, juga catatan harian kecil yang dia tulis penuh perasaan di hari-hari spesial.

Komentar netizen ramai mengoloknya karena terlalu bucin, seolah-olah hanya ada Billy saja yang pantas dia perhatikan di dalam hidupnya.

Sembari membaca, Siena sembari tersenyum getir dan menggeleng saja.

Masalah telah berkembang hingga tahap sekarang. Tidak ada gunanya untuk menyimpan foto-foto dan tulisan itu lagi.

Jadi, Siena pun mengeklik tombol menghapus akun.

Bab 7

Selama tinggal di rumah sakit, Billy datang untuk menanyakan kondisi penyakitnya. Hanya saja, dia pun dikelabui oleh Xavier. “Kamu juga sudah lihat sendiri kondisinya. Kalau dia nggak kerja sama, aku juga kehabisan akal. Nanti kapan dia bersedia untuk diobati, kondisinya akan segera pulih. Pada saat itu, setibanya di luar negeri, dia akan diobati oleh spesialis yang lebih bagus lagi. Kamu tenang saja.”Di satu sisi, Billy merasa marah dengan tingkah tidak masuk akal Siena. Di sisi lain, dia malah diam-diam merasa gembira karena Siena peduli dengan dirinya.

Sepertinya Billy sangat penting bagi Siena. Saking pentingnya, Siena bahkan rela merusak kesehatannya demi bisa berada di sisinya.

“Siena, kenapa kamu nggak menerima pengobatan biar bisa segera sembuh? Kenapa kamu masih begitu keras kepala mesti menyakiti dirimu sendiri dan memperparah cederamu?”

Hanya saja, ketika Siena melihatnya, dia hanya bertanya dengan datar, “Apa Kakek sudah siuman?”

Rasa luluh yang baru saja tumbuh di hati Billy langsung menghilang. Dia tersenyum. “Kamu malah berani tanya lagi? Kalau bukan karena kakimu nggak bisa bergerak sekarang, aku pasti akan paksa kamu berlutut untuk minta maaf sama Kakek!”

Siena mengucapkan sepatah kata dengan lemas, “Maaf.”

Hanya saja, sepertinya Billy tidak kedengaran atau dia tidak ingin mendengarnya.

Tidak lama kemudian, barang Siena di Kediaman Keluarga Juman sudah dikemas. Kelihatannya seperti ingin mengusir Siena dari rumah saja.

Di antaranya ada sebuah ukiran patung kayu kecil. Tadinya Siena berencana untuk memberikannya kepada Billy di saat hari ulang tahunnya.

Waktu itu saat Siena datang ke Kediaman Keluarga Juman, dia masih adalah seorang gadis yang tidak familier dengan sekitar.

Saat Lukasa tidak ada waktu, Billy akan menemani Siena bersama-sama ke taman bermain, jalan-jalan, dan nonton di bioskop.

Billy yang waktu itu bersikap lembut sangat memperhatikannya. Siena diam-diam mulai menulis buku harian, menulis nama Billy di dalamnya.

Patung kayu ini dibuat Siena dalam waktu satu bulan. Saat mengukir, tangannya pun tidak sengaja terluka oleh pisau. Rasa sakit itu tidak membuat Siena menyerah. Pada saat itu, hal yang Siena pikirkan adalah tidak boleh mengotori patung kayu ini.

Namun saat hari ulang tahunnya, Siena dengan penuh rasa girang tiba di acara ulang tahun Billy. Pada saat itu, dia menyadari ada orang lain yang telah menjadi pendamping wanitanya, yaitu Julia.

Julia merangkul lengan Billy dengan mesra. Senyuman mereka berdua kelihatan sangat menusuk di mata Siena. Waktu itu, Siena merasa sedih hingga ingin menangis di tempat.

Billy malah tidak menyadarinya, malah membawa Julia berjalan ke hadapan Siena, “Siena, ini pertama kalinya Julia menghadiri acara seperti ini. Kamu mesti lebih menjaganya ….”

Siena tidak bisa mendengar kalimat akhir sebab dia merasa sedih dan marah. Dia langsung menepis tangan Billy, lalu berlari keluar.

Jelas-jelas Siena barulah orang yang seharusnya berdiri di samping Billy.

Jelas-jelas Siena barulah calon istri Billy!

Setelah kejadian itu, Siena bertengkar hebat dengan Billy. Billy malah menyalahkan Siena tidak masuk akal. “Apa bisa jangan selalu bersikap buruk terhadap setiap orang yang kamu jumpai? Apa kamu nggak malu bersikap seperti anjing rabies saja? Lia itu temanku. Bisa nggak kamu menghormatinya!”

Sejak saat itu, sikap Billy terhadapnya menjadi lebih dingin. Dia tidak lagi bersikap seperti dulu, yang mana memanggilnya “Nana” dengan lembut.

Setiap kali mendengar Billy memanggilnya “Siena” dengan nada tidak sabar, hati Siena sungguh terasa pilu.

Saat terjebak di gunung salju dan nyaris kehilangan nyawanya, Siena duduk di bawah pohon dengan kaki terluka parah dan rasa putus asa di hatinya.

Di depan kematian, segala obsesi tidaklah berarti.

Tiba-tiba, seorang Dewa Bulan yang berpakaian putih muncul di hadapan Siena.

“Ternyata kamu itu manusia yang terluka akibat cinta dan nyaris kehilangan nyawamu. Begini saja, kita lakukan sebuah transaksi saja. Nanti aku akan biarkan aku melanjutkan hidupmu.”

Siena bertanya dengan napas lemah, “Transaksi apa?”

“Serahkan barang paling berhargamu untukku. Aku pun bisa membuatmu melanjutkan hidupmu!”

“Aku nggak punya orang tua dan kekuasaan. Hal yang paling aku hargai adalah cintaku terhadap Billy. Gimana caranya aku memberikannya kepadamu?”

Siena tersenyum getir. Dia merasa dirinya sangat kasihan.

“Enam hari kemudian, kamu lompat dari atas gedung. Aku akan merenggut rasa cintamu terhadap Billy dan juga semua memori tentang Billy. Kemudian, kamu mulai hidup barumu kembali.”

Siena memejamkan matanya. Gambaran masa lalu bersama Billy terlintas di hadapannya.

Billy, aku akan melepaskanmu.

Pada akhirnya, Siena mengangguk. “Aku janji sama kamu.”

Di hari keenam. Bawahan Kediaman Keluarga Juman datang ke kamar pasien untuk bertanya pada Siena, apa lagi yang perlu dibawa pergi.

“Nona Siena, ini semua adalah barang di dalam kamarmu. Mohon dipastikan sebentar.”

Tatapan Siena tertuju pada tumpukan barang itu. Dia pun menggeleng. “Nggak usah lagi. Buang saja semuanya. Nggak butuh lagi.”

Sebelum pergi, Billy datang untuk menemui Siena. Setelah kepikiran mereka tidak bisa bertemu lagi di kemudian hari, hatinya pun terasa lara.

“Saat berobat di luar negeri, kamu renungkan dirimu dengan baik, perbaiki temperamenmu. Setelah kamu mengubahnya, aku akan pergi menjemputmu. Sudah dengar belum?”

Siena hanya mengangguk dengan datar. “Aku tahu. Aku akan berubah.”

Kening Billy berkerut. Hatinya terasa semakin tidak tenang saja.

Siena yang sekarang sangat penurut, tetapi entah kenapa Billy malah merasakan keanehan yang tidak bisa dideskripsikannya. Sepertinya dia merasa Siena tidak seharusnya bersikap seperti ini ….

Pada saat ini, Julia berjalan ke dalam ruangan dan merangkul lengan Billy. Dia memotong pemikiran Billy. “Kak Siena, apa kamu sudah siap-siap?”

Ketika melihat sikap mesra mereka, Siena hanya tersenyum datar saja. “Kalian tunggu di luar saja. Aku akan datang setelah ganti pakaian.”

Billy merasa tidak tenang. Hanya saja, di bawah dampingan Julia, dia pun berjalan keluar kamar pasien.

Hati Billy mulai dibaluti dengan firasat buruk.

Kenapa Siena tidak seperti dulu, memelasnya dengan manja?

Kenapa Siena tidak cemburu dengan Julia?

Julia dapat melihat sikap Billy. Terlintas rasa sadis di dalam matanya.

Sepertinya apa hebatnya Siena si wanita jalang itu!

Padahal kondisi Siena sangat buruk saat ini, kenapa Billy masih begitu perhatian terhadapnya?

Hanya saja, ketika mengangkat kepalanya, Julia masih tersenyum manis terhadap Billy. “Kak Billy, kamu jangan khawatir.”

“Paman dan Bibi sudah mengaturnya dengan baik. Aku nggak akan merugikan Kak Siena.”

Billy mengangguk dengan tidak fokus. Paling-paling Billy akan terbang ke sana untuk mengunjungi Siena. Namun, Siena tidak boleh menyadarinya. Jika tidak, dengan temperamennya, dia pasti akan bersikap seperti dulu, tidak bersedia untuk melepaskannya.

Ketika kepikiran dengan hal ini, Billy spontan tersenyum. Hanya saja, satu detik kemudian, tiba-tiba dia memperhatikan ada sesosok bayangan yang familier baginya sedang duduk di tepi jendela lantai lima.

“Jangan ….”

Kedua mata Billy spontan terbelalak lebar. Dia spontan hendak menyerbu ke depan. Hanya saja, semuanya telah terlambat. Satu detik kemudian, sosok bayangan tubuh langsing itu jatuh ke lantai, lalu terlihat darah berlumuran di atas lantai.

“Nana!”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B21377" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B21377
Salin

Andai Cinta Datang Lebih Awal

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya