Bab 1

Saat longsor salju di arena ski, aku didorong ke bawah oleh adik sepupuku sendiri, Julia Luandi.Kekasihku, Billy Juman, menggendong adik sepupuku, lalu membalikkan tubuhnya berjalan pergi begitu saja. Dia bahkan lupa bahwa masih ada aku yang terkubur di dasar salju, meninggalkanku sendirian selama tujuh hari di lembah.

Saat mereka menemukanku, Billy berkata dengan emosi, “Seharusnya kamu bersyukur kedua lengan Lia baik-baik saja. Kalau nggak, kamu mesti mati di gunung salju ini untuk menebus kesalahanmu!”

“Pernikahan pada seminggu kemudian dibatalkan. Kapan kamu menyadari kesalahanmu, kapan kita adakan pernikahan kita.”

Tadinya Billy mengira aku akan menangis dan merengek lantaran tidak menyetujuinya. Namun, aku hanya mengangguk dengan perlahan. “Oke.”

Billy tidak tahu aku telah melakukan sebuah transaksi dengan Dewa Bulan. Enam hari kemudian, aku akan menukarkan barang paling berharga bagiku, yaitu cinta dan ingatanku terhadap Billy.

Mulai saat ini, aku akan melupakan semua tentang Billy, lalu memulai hidup di tempat baru.

Menikah sudah tidak penting bagiku.

Siena yang mencintainya itu sudah meninggal di dalam gunung salju.

Saat terjadi longsor salju di arena ski, Siena Kimnara didorong oleh Julia Luandi hingga terjatuh dari gunung bersalju. Julia hanya mengalami dislokasi pada kedua lengannya karena jatuh di tempat, tetapi Siena malah terjatuh hingga ke dasar gunung.Siena terjebak di Gunung Meiri selama tujuh hari.

Seandainya bukan karena kakinya tertusuk ranting pohon, membuat darahnya mencolok di tengah putihnya pegunungan salju, mungkin seumur hidupnya dia tidak akan ditemukan lagi.

Jejak darah berwarna merah menyala menyebar di atas salju, seperti sekuntum bunga merah yang sedang bermekaran.

Siena bersandar lemah di batang pohon. Napas dan tubuhnya sangat lemah, seolah-olah akan segera menyatu dengan salju saja.

Begitu tim pengawal menemukan Siena, mereka segera menghubungi Billy Juman melalui walkie-talkie.

“Tuan Billy, kami sudah menemukan Nona Siena!”

Tidak lama kemudian, helikopter mendarat. Angin besar membuat Siena tidak sanggup untuk membuka matanya. Meskipun demikian, dalam sekilas mata, dia tetap bisa melihat Billy. Hanya saja, ada sosok Julia di belakangnya.

Billy berlari mendekat dengan buru-buru. Ketika melihat tubuh Siena yang terhuyung-huyung, Billy langsung menyalahkannya. “Kenapa kamu lari sembarangan. Aku jadi mesti mengerahkan banyak orang untuk mencarimu! Kalau kamu berdiri di tempat, kami juga nggak perlu mencarimu selama lima sampai enam hari! Gara-gara kamu, tim pengawal harus bekerja tanpa henti selama 24 jam! Sepertinya sehari nggak bikin masalah, kamu nggak akan merasa puas, ya!”

Sekarang sedang bulan November. Salju menyelimuti gunung di tengah musim dingin dengan suhu minus belasan derajat. Awalnya, Siena takut tersesat, jadi dia hanya berani berdiri di tempat, menahan dingin sambil terus berharap Billy akan datang menyelamatkannya.

Siena berpikir, Billy pasti tidak akan tega meninggalkannya mati kedinginan di sini.

Namun begitu malam tiba, sekeliling menjadi gelap gulita, sepasang demi sepasang mata hijau mengintai dari kegelapan. Suara auman binatang buas terdengar dari kejauhan.

Siena ketakutan sampai tubuhnya gemetar hebat. Dia hanya bisa memegang obor tanpa berani menutup mata semalam.

Sampai akhirnya, makanan terakhir pun habis, dia terpaksa keluar untuk mencari sayuran dan buah liar.

Namun pada musim dingin yang menggigil seperti ini, Siena menggali tanah sampai jari-jarinya lecet berdarah dan mati rasa, tetapi dia tetap kesulitan untuk mengisi perutnya.

Satu hari, dua hari, tiga hari …. Secercah harapan di hati Siena perlahan padam, seperti lilin yang ditiup angin musim dingin tanpa belas kasihan.

Saat mendengar omelan Billy, Siena hanya menunduk lemas dan tidak berbicara sama sekali.

Billy menganggap Siena cerewet, suka membantah, dan pintar berdalih. Setiap kali terjadi sesuatu, tak peduli bagaimana Siena menjelaskan, jawabannya selalu sama.

“Kamu lagi ngawur, ya? Trik apa lagi yang lagi kamu mainkan?”

Sudahlah.

Siena sudah tidak ingin berdebat lagi dengannya. Terserah apa yang ingin dia katakan.

Pengawal yang berada di samping bersin karena terkena embusan angin. Dia spontan bergumam, “Sering ada serigala di dalam pegunungan salju. Kalau dia hanya menunggu di tempat, sepertinya sekarang dia sudah menjadi tumpukan tulang.”

“Astaga?” Julia menutup mulutnya dengan syok. “Kak Siena, apa dia itu temanmu?”

Pengawal yang ditanya langsung menggeleng. “Bukan, aku nggak kenal sama dia.”

Hari ini adalah hari pertama dia bekerja. Dia bahkan belum mengenal semua rekan kerjanya. Mana mungkin dia kenal dengan Siena?

Julia pun tersenyum dengan makna tersirat. “Oh, begitu, kamu begitu perhatian sama dia. Aku kira kalian saling kenal. Kak Siena memang punya pesona, ya. Baru kenal sebentar saja, sudah ada yang belain kamu.”

Sesuai dugaan, raut wajah Billy langsung berubah muram. “Siena, kenapa kamu nggak tahu cara menjaga sikapmu?”

Kemudian, Billy memalingkan kepalanya berkata pada pengawal yang berbicara tadi dengan suara dingin, “Kamu … nggak usah masuk kerja lagi. Mohon lihat dengan jelas, aku barulah bos kalian. Kalau di antara kalian masih ada yang nggak bisa membedakan keadaan, nggak usah kerja lagi!”

Begitu ucapan dilontarkan, semua orang spontan mundur beberapa langkah. Mereka semua takut amarah Billy akan membuat mereka kehilangan mata pencaharian mereka.

Pada saat ini, Julia berjalan maju. “Kak Siena, apa kamu baik-baik saja?”

Sambil berbicara, Julia hendak memapah Siena.

“Kak Billy, Kak Siena juga bukan sengaja bikin kedua lenganku dislokasi. Dia hanya dimanjakan keluarganya sejak kecil, makanya dia jadi sedikit arogan dan nggak suka sama aku. Dia hanya lagi lampiasin amarahnya saja.”

“Kak Billy, kamu jangan marah lagi sama Kak Siena …. Lenganku sudah dirawat selama beberapa hari juga. Kak Siena sudah lama seorang diri di pegunungan salju. Dia pasti merindukan keluarganya. Ayo, kita pulang.”

“Seharusnya kamu bersyukur nggak terjadi apa-apa dengan kedua lengan Julia. Kalau nggak, kamu mesti mati di pegunungan ini sebagai ganti ruginya!”

“Pernikahan satu minggu kemudian dibatalkan. Kapan kamu menyadari kesalahanmu, baru kita adakan kembali pernikahan kita.”

Raut wajah Billy semakin muram lagi.

“Hmph! Siapa juga yang nggak tahu dalam arena ski alami ini nggak ada pelindung dan berbahaya? Cuma demi foto yang bagus, kamu jalan ke sana kemari dengan sesuka hati. Kamu cuma bisa salahin diri kamu sendiri!”

“Siena, kalau bukan karena orang tuamu punya budi sama aku, sudah lama aku ingin membatalkan perjanjian pernikahan ini!”

Bab 2

Tiga tahun lalu, orang tua Siena meninggal dunia dalam kecelakaan mobil saat menyelamatkan orang tua Billy.

Kerabat-kerabat yang mengincar harta Keluarga Kimnara segera membagikan seluruh aset mereka hingga tidak tersisa.

Kakek Billy, Lukasa Juman, merasa kasihan terhadap Siena. Dia membawa Siena ke Kediaman Keluarga Juman agar dia tidak terlantar di jalanan.

Sang kakek sangat khawatir Siena akan ditindas. Jadi, dia menjodohkan Siena dengan Billy dengan harapan Siena bisa menjadi cucu menantunya. Dengan begitu, mereka berdua pun secara alami menjadi sepasang kekasih.

Namun, Billy terlalu populer. Seluruh orang di ibu kota tahu, tuan muda sulung Keluarga Juman itu tampan dan luar biasa. Wanita yang menyukainya pun sudah berbaris panjang. Dibandingkan dengan mereka semua, keberadaan Siena sama sekali tidak berarti.

Demi mempertahankan Billy, Siena menghalalkan segala cara. Menangis, merengek, dan mencoba bunuh diri adalah makanan sehari-hari. Semua wanita yang mendekati Billy pasti akan diusir Siena dengan segala cara.

Semua orang berkata Siena adalah tukang cemburu yang sangat protektif terhadap suaminya. Sementara itu, demi menunjukkan kekuasaannya, dia pun mengunggah foto bersama mereka di akun sosial media untuk memamerkan kemesraan!

Namun sekarang, ketika dihadapkan dengan omelan Billy, Siena hanya menunduk dan membalas dengan suara ringan, “Aku tahu.”

Billy pun terbengong.

Dengan karakter Siena yang dulu, seharusnya dia akan segera menangis, merengek, menjerit untuk menolak, kemudian dia akan memeluk Billy untuk bermanja-manja demi mendapatkan hati Billy, seperti yang pernah Siena lakukan berkali-kali sebelumnya.

Sekarang akhirnya Siena menuruti kemauan Billy. Dia berubah menjadi patuh dan penurut. Hanya saja, Billy malah merasa ada yang aneh.

“Siena, kamu pikir dengan saksama. Kalau kamu bisa mengakui kesalahanmu, aku ….”

“Aku sudah memikirkannya.”

Siena tersenyum tipis.

Sepertinya selamanya dia tidak akan menjadi tokoh utama wanita dalam pernikahan ini.

Lagi pula, pada enam hari kemudian, Siena akan melupakan semua tentang Billy, termasuk rasa cinta terhadapnya. Dia akan memulai hidup baru di tempat baru.

Ketika para pengawal menggotong Siena ke atas tandu, mereka baru menyadari bahwa kaki Siena terluka parah karena kedinginan. Kulitnya bahkan sudah membusuk.

Entah sudah berapa lama Siena berjalan terseok-seok di tengah salju yang tingginya melewati lutut. Dia tak berani berhenti dan juga tidak boleh berhenti. Sebab, dia tahu, begitu dia berhenti, kawanan serigala di belakangnya akan langsung mengejarnya.

Salju terlalu dalam. Siena tanpa sadar tergelincir. Sebatang ranting tajam menusuk telapak kakinya. Darah segar langsung menyembur keluar, mewarnai hamparan salju di sekitarnya dengan warna merah yang mencolok.

Pada saat itu, Siena sempat berpikir bahwa dia akan kehabisan banyak darah dan mati di gunung bersalju ini.

Ironisnya, kalau saja darah Siena tidak menodai salju yang putih itu, mungkin orang-orang itu juga tidak akan pernah menemukannya.

Luka itu kelihatan mengerikan. Dagingnya sobek dan berlumuran darah. Darah yang mengalir membeku dan menempel pada kulitnya yang membiru dan bengkak.

Setelah Billy melihatnya, dia langsung menunjukkan ekspresi panik. “Dokter, apa lukanya serius? Apa bisa sembuh total?”

Dokter yang ikut serta dalam perjalanan kali ini menunjukkan raut serbasalah. “Nggak jelas. Sekarang aku hanya bisa duluan melakukan pembersihan pada lukanya. Mengenai yang lagi, cuma bisa diperiksa di rumah sakit.”

“Siena, apa kamu kesakitan ….” Pada akhirnya, Billy tidak bisa menahan dirinya lagi. Ketika melihat jari tangan Siena kedinginan hingga memerah, dia hendak mengulurkan tangannya untuk menghangatkan tangan Siena.

Hanya saja, tiba-tiba Julia yang berada di samping Billy tiba-tiba berdeham ringan. Rasa sakit menderita terlihat di atas wajahnya. “Stt, tanganku ….”

Billy segera melepaskan tangannya, lalu memalingkan kepalanya pergi memeluk Julia ke dalam pelukannya dengan gugup. “Lia, gimana kondisimu?”

Mata Julia memerah. Ujung matanya juga terlihat agak basah. “Aku nggak kenapa-napa, hanya saja lenganku terasa sakit karena tertiup angin. Kamu pergi lihat Siena dulu, dia ….”

Billy menatap Julia dengan tidak berdaya. “Kalau tahu akan seperti ini, seharusnya aku suruh kamu memulihkan lukamu di rumah sakit. Dasar kamu ini, padahal kamu belum sembuh total, kamu malah sibuk khawatirin orang lain. Gimana nasibmu tanpaku?”

Sambil berbicara, tangan Billy dengan lembut memijat bagian yang sebelumnya patah dan terluka.

Meski kata-katanya terdengar seperti menyalahkan, nada suaranya justru penuh kelembutan. Dia sama sekali tidak melirik Siena lagi. Dia langsung menggendong Julia naik ke helikopter tanpa ragu sama sekali.

Sementara, Siena terdorong olehnya hingga tubuhnya terhuyung dan nyaris jatuh. Telapak tangannya sempat tergesek di tanah, meninggalkan beberapa goresan berdarah.

Bab 3

Setelah dengan tidak gampangnya tiba di rumah sakit terdekat, dokter pun menyampaikan kabar dengan wajah berat setelah melakukan pemeriksaan.

Luka di kaki Siena sangat parah. Satu-satunya cara sekarang adalah amputasi, harus memotong bagian yang sudah busuk.

Jika luka meradang dan bernanah itu terus dibiarkan, bisa jadi satu kakinya tidak bisa dipertahankan lagi.

Bukan hanya itu saja, kondisi kelaparan parah telah merusak saluran pencernaannya. Jika ingin memulihkannya secara menyeluruh, mungkin akan membutuhkan waktu setidaknya 10-20 tahun.

Mendengar hal itu, Billy merasa bagai dihantam palu besar saja. Dia terbengong beberapa saat baru akhirnya tersadar. Kemudian, dia menendang kursi hingga terjatuh dengan amarah tinggi. “Mana mungkin? Mana mungkin sedikit luka luar seperti itu malah diamputasi! Dasar dokter nggak berguna! Kamu jangan omong kosong di sini!”

Julia segera menghalanginya. “Kak Billy, kamu jangan panik. Mungkin keterampilan dokter di tempat kecil seperti ini kurang memadai. Nanti kita bawa dia kembali ke ibu kota, pasti ada caranya! Kakakku itu ahli bedah yang sangat unggul. Gimana kalau diobati dia saja? Kalau nggak bisa, kita bisa cari spesialis di luar negeri.”

Saat ini, Billy baru menyimpan amarahnya. Hanya tersisa sedikit rasa gelisah di dalam matanya.

“Iya, iya, biarkan kakakmu saja yang mengobatinya,” ucap Billy sembari mengepal tangannya dengan gelisah. “Carikan dokter terbaik. Pasti bisa disembuhkan.”

Oleh sebab itu, mereka buru-buru membawa Siena kembali ke ibu kota.

Dokter yang menangani Siena adalah kakaknya Julia, Xavier Luandi. Dia adalah spesialis bedah terbaik di rumah sakit ibu kota.

Setelah Xavier melihat luka Siena, dia pun berkata kepada Billy dengan singkat, “Nggak ada yang serius. Luka Siena hanya luka luar saja. Dia hanya perlu istirahat selama beberapa waktu. Lukanya akan membaik. Mengenai masalah organ dalam tubuhnya, semua itu juga bukan masalah. Dia hanya sedikit kekurangan gizi saja. Menurutku, semua ini hanyalah intrik Siena saja untuk mendapat rasa kasihan darimu.”

Setelah mendengar ucapan itu, Billy menatap Xavier dengan sedikit ragu. Bagaimanapun, cedera Siena sangat mengerikan. Dia sendiri juga sudah melihatnya. Apa benar Siena baik-baik saja?

Julia segera merangkul lengan Billy, lalu berkata dengan nada manja, “Kak Billy, kamu nggak usah khawatir. Teknik pengobatan kakakku nggak usah diragukan lagi.”

Xavier menatap Billy dengan ekspresi tidak puas. “Aku nggak salahkan kamu! Bukannya kamu bilang kamu akan menjaga Lia dengan baik? Kenapa tangannya malah terluka? Bahkan masih belum sembuh sampai sekarang? Daripada kamu mencemaskan Siena yang kerjaannya mencelakai orang saja, lebih baik kamu mencemaskan Lia.”

“Tangannya itu akan menjadi tangan seniman. Kalau terjadi sesuatu, aku pasti akan salahin kamu!”

Julia tersenyum bersahabat. “Kak, jangan bicara lagi. Siena pasti bukan sengaja ingin melukai tanganku. Dia hanya kehilangan akalnya sesaat, makanya dia baru melakukan hal seperti ini.”

“Lagi pula ….” Julia menatap Billy sembari menunjukkan senyuman lara dan juga tegar. “Meskipun kelak aku nggak bisa melukis lagi … asalkan ada Kak Billy yang menemaniku, aku pasti akan merasa sangat puas.”

“Mana mungkin?” Perhatian Billy benar-benar teralihkan. Dia langsung menggenggam tangan Julia. “Lia, kamu tenang saja. Aku pasti akan membuatmu kembali memegang kuas!”

Sandiwara kedua saudara itu telah membuat Billy sepenuhnya melupakan masalah Siena.

Siena juga sudah terbiasa dengan mereka yang memutarbalikkan fakta.

Saat kejadian longsor salju seminggu lalu, sebenarnya Siena sudah berhasil untuk menghindar. Hanya saja, dia malah didorong Julia ke bawah gunung. Lantaran bertengkar, kedua lengan Julia mengalami dislokasi, sedangkan Siena jatuh ke dasar gunung.

Saat jatuh, tubuh Siena menghantam batu karang dengan kuat. Semua sendi di tubuhnya seakan-akan bergeser dari tempatnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tidak bisa bergerak, bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara.

Ketika Siena jatuh dari ketinggian, dia mendengar kutukan kejam dari Julia.

“Lebih baik kamu mati di sini saja. Biar nggak repotin orang-orang. Ada banyak binatang buas di dalam gunung ini. Bisa memberi mereka makan, juga termasuk sebagai perbuatan baikmu.”

Andai Cinta Datang Lebih Awal

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya