Bab 5

Sop panas menyembur ke lenganku sebelum aku sempat menghindar.

Rasa sakit yang membakar menyayat kulitku, seperti ribuan jarum menembus dalam satu waktu. Tenggorokanku terkunci. Aku bahkan tak mampu berteriak.

"Viona!"

Untuk pertama kalinya, suara Dario terdengar panik. Dia mendorong Arisa ke samping dan berlari ke arahku, meraih lenganku dengan wajah tegang.

"Kamu terbakar. Sial, kita harus ke rumah sakit sekarang!"

Aku menatapnya di tengah kabut rasa sakit. Bibirku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.

Lalu terdengar jeritan melengking.

"Oh Tuhan, Arisa, kamu juga terluka!"

Dario terdiam. Perhatiannya langsung berpaling.

Beberapa tetes sop krim panas memang mengenai pergelangan tangan Arisa, tetapi hanya meninggalkan sedikit kemerahan di kulitnya yang pucat. Meski begitu, ekspresi Dario tampak seolah seluruh dunia runtuh di depan matanya.

Arisa menggeleng pelan, menahan air mata yang nyaris jatuh.

"Tidak apa-apa. Tolong lihat Viona dulu. Dia yang lebih parah."

Nada suaranya bergetar, penuh kepedulian yang terdengar tulus, tetapi justru kelembutannya membuat Dario makin menggenggam erat tangannya.

"Kamu memang selalu rapuh," katanya, suaranya bergetar. Tanpa menoleh padaku lagi, dia langsung mengangkat Arisa ke dalam pelukannya.

"Kita ke rumah sakit. Sekarang."

Arisa memegang lengannya erat.

"Kak, jangan buang waktu! Arisa sakit… cepatlah."

Dario sempat menatapku sekali, sekejap, penuh bayangan rasa bersalah.

"Viona… naik taksi saja. Klinik dekat dari sini. Kamu akan baik-baik saja."

Dan dia pergi.

Aku berdiri di sana, kulitku terbakar, perutku melilit. Aku hanya bisa menyaksikan bayangan mereka menghilang ke dalam gelap malam.

Para staf restoran berlarian mendekat, meminta maaf dengan wajah panik. Mereka membersihkan luka bakarku, membalutnya, memberiku obat pereda nyeri, bahkan pakaian baru untuk diganti. Namun, entah kenapa, simpati mereka terasa lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri.

Di rumah sakit, dokter menangani lepuh di lenganku dengan tenang.

"Oleskan salep ini setiap hari. Jika dirawat dengan baik, tidak akan meninggalkan bekas," katanya lembut.

Di belakangnya, dua perawat lewat sambil berbisik.

"Katanya Dario Mahardika menyewa satu lantai penuh hanya untuk Arisa. Bahkan memanggil tiga dokter kulit, padahal cuma terkena sedikit sop krim di tangan."

"Bayangkan, seberapa cintanya dia. Banyak wanita rela mati demi perlakuan seperti itu."

Mereka terkekeh pelan, lalu berlalu.

'Cinta,' pikirku getir.

Aku hampir tertawa bersama mereka.

Dia meninggalkan istrinya yang kulitnya melepuh… demi menggenggam tangan wanita lain.

Ya, Dario Mahardika memang istimewa, dalam cara yang menyakitkan.

Saat perban terakhir dipasang, aku sudah mati rasa. Di luar dan di dalam.

Begitu keluar dari rumah sakit, ponselku bergetar dan ada satu notifikasi muncul.

[Selamat. Anda diterima di Akademi Seni Florance.]

Aku terpaku. Akademi Florance, salah satu sekolah seni paling bergengsi di Aropa. Aku mendaftar dua bulan lalu, langkah nekat yang bahkan tak kusangka akan berhasil. Terlebih sekarang, saat aku sedang tiga bulan hamil.

Tanganku gemetar saat membaca kelanjutannya:

[Kehamilan bukan penghalang. Kami menghargai bakat Anda. Kami telah menunggu Anda selama bertahun-tahun, Nona Viona.]

Aku memejamkan mata. Bertahun-tahun aku menolak mereka demi Dario. Meyakinkan diriku bahwa cinta lebih berharga daripada seni. Bahwa suatu hari, dia akan melihatku.

Namun, kini… Arisa telah kembali.

Dan Akademi masih menginginkanku.

Malam itu, aku membeli kuas, arang, dan kanvas baru.

Aku menghapus debu dari bagian diriku yang telah lama aku kubur sejak menikah.

Kupikir aku akan merasa bersalah. Namun, yang kurasakan hanya kejelasan.

Keesokan paginya, aku berkata pada pengurus rumah bahwa aku akan pergi beberapa hari. Aku tidak memberi tahu Dario. Dia bahkan tidak menyadarinya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Arisa.

Sementara itu, aku menemukan sebuah teras kecil di tepi laut. Di sanalah aku mulai melukis lagi, menuangkan rasa lapar, duka, dan harapan ke atas kertas.

Setiap garis yang kutarik adalah langkah menjauh darinya.

Setiap sapuan warna adalah bukti bahwa aku masih punya masa depan, bahkan di luar bayang-bayangnya.

Tebing-tebing menjulang di atas air biru toska, bunga liar menunduk ditiup angin. Aku mendirikan kanvasku di atas teras yang sepi, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku menghirup udara yang tak berbau kekuasaan, asap, atau darah.

Kuas bergerak nyaris tanpa kendali.

Tiga hari berlalu seperti mimpi. Aku melukis sampai dunia di sekitarku menghilang. Sampai rasa nyeri di lenganku tak terasa, sampai bayangan rumah Dario tak lagi menghantuiku.

Tak ada yang menegurku. Tak ada yang memerintah.

Hanya aku, udara asin laut, dan kebebasan.

Ketika akhirnya aku menyalakan ponsel, layar dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Lebih dari seratus.

Semuanya dari Dario.

Dia belum pernah meneleponku sebelumnya.

Tidak sekali pun, selama lima tahun pernikahan kami.

Dan kini 108 kali.

Aku masih menatap layar ketika nama Serina muncul.

Begitu kuangkat, suaranya langsung melengking dari seberang.

"Viona! Ke mana saja kamu? Tahu tidak, kakakku hampir gila mencarimu! Tapi jangan salah sangka kalau kamu pikir ini akan membuatnya memilihmu, kamu bodoh. Arisa satu-satunya wanita yang pantas jadi nyonya keluarga ini!"

Sambungan terputus.

Aku menurunkan ponsel perlahan, dadaku terasa sesak.

Dario Mahardika… mencariku?

Mengamuk karena aku menghilang?

Harusnya aku tertawa. Namun, jemariku bergetar saat menatap angka di layar, 108 panggilan tak terjawab.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… dia yang mengejarku.

Dia tidak tahu.

Dia tidak tahu aku telah diterima di Akademi.

Dia tidak tahu aku mulai menyiapkan portofolio.

Dia tidak tahu aku siap pergi.

Mungkin sekarang dia panik, meronta di tengah keheningan yang kutinggalkan. Akan tetapi, itu tidak mengubah apa pun.

Lukaku telah mengeras menjadi perisai.

Hatiku tak lagi condong padanya.

Biarlah dia marah, menyesal, atau terbakar dalam reruntuhan yang dia ciptakan sendiri.

Karena aku tidak akan menoleh lagi.

Bab 6

Saat akhirnya aku kembali ke vila, para staf nyaris menangis lega.

"Bu! Syukurlah Anda kembali. Tuan Dario panik sekali beberapa hari terakhir. Apa pun yang kami lakukan tak pernah membuatnya puas. Dia tidak tidur, tidak makan…"

Suara mereka saling bertumpuk, penuh kegembiraan gugup, seolah ketidakhadiranku hampir menghancurkan seluruh rumah tangga ini.

Jadi memang begitu. Tanpaku, Dario kehilangan keseimbangan.

Akan tetapi, dia harus terbiasa. Sebentar lagi, aku akan pergi untuk selamanya, dan hidupnya hanya akan dipenuhi kesunyian yang kutinggalkan.

Aku tersenyum tipis, menenangkan staf, lalu melangkah masuk ke rumah. Vila itu gelap, tidak ada satu pun lampu yang menyala, hanya cahaya bulan yang retak menembus jendela.

Dario duduk di sofa, sosoknya seperti bayangan yang disayat cahaya pucat, profil tajamnya sulit dibaca.

Saat akhirnya dia menatapku, pandangannya terlalu lama tertahan. Suaranya rendah, menyimpan sesuatu yang tak bisa kusebutkan.

"Ke mana saja kamu?"

Aku melepas mantel, suaraku datar.

"Di pantai. Melukis."

Alisnya mengerut. "Sejak kapan kamu tertarik melukis?"

Bukan sejak kapan, tetapi selalu.

Aku dulunya murid berbakat, wanita yang pernah bermimpi ke akademi seni dan galeri, sebelum kesetiaan mengikatku pada nama Dario. Sebelum hidupku tenggelam oleh kerajaan Mahardika.

Namun, aku tak menjelaskan itu padanya. Aku hanya menuang segelas air dan menjawab ringan, "Aku menyukainya."

Dia mengusap pelipis, menghela napas.

"Soal malam di restoran, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Arisa selalu rapuh, lemah. Aku tumbuh dengan melindunginya, jadi instingku..."

Suaranya tersendat saat aku diam saja.

"Kamu juga tidak menolak waktu itu," desaknya, sedikit kesal. "Lalu kenapa tiba-tiba menghilang? Kamu tahu Arisa sudah pindah ke apartemennya sendiri. Semua… itu sudah selesai. Jangan dendam soal hal sepele."

Sampai sejauh itu dianggap sepele?

Nada suaranya penuh teguran, seolah rasa sakitku hanyalah gangguan kecil. Seolah luka bakar di lenganku tak sepenting kepura-puraan Arisa yang rapuh.

Aku tak menjawab. Aku menoleh ke tangga, tetapi suaranya memecah kesunyian lagi.

"Viona."

Aku menoleh, dan untuk pertama kalinya, kulihat dia berdiri dengan goyah.

"Aku lapar. Buatkan aku pasta."

Aku mengangkat tangan yang dibalut perban, kain kasa tampak kontras di cahaya bulan.

"Lupa ya? Tanganku masih terbakar."

Ekspresinya berubah, sekejap terlihat… hampir seperti penyesalan. Namun, aku tak menunggu lebih lama. Aku berpaling dan menaiki tangga.

Keesokan paginya, dia menghentikanku di lorong, membawa sebuah kotak beludru.

Aku membukanya. Isinya perhiasan zamrud. Langka, berkilau, berat oleh kemewahan.

Dia membersihkan tenggorokannya dengan canggung.

"Soal malam itu. Aku… terlalu fokus pada Arisa. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu. Anggap ini sebagai permintaan maafku."

Dadaku sesak. Lima tahun.

Lima tahun diam, acuh, diabaikan. Dan baru sekarang aku mendapat hadiah pertamaku darinya.

Bukan karena cinta, tetapi penebusan. Bukan untukku, tetapi untuk rasa bersalahnya terhadap Arisa.

Aku teringat ribuan hadiah yang tersimpan di kantornya, semuanya dipilih dengan cermat untuk Arisa. Tawa pahit hampir terdengar dari tenggorokanku, tetapi kutelan.

Aku sudah lama berhenti mengharapkan apa pun dari Dario Mahardika. Dan sekarang? Aku tak butuh permata itu.

Aku ragu sesaat, cukup hingga dia salah paham.

"Kalau kamu tidak suka… asistenku yang membelinya di lelang. Aku bisa cari yang lain."

Sebelum aku sempat menjawab, suara Serina terdengar saat dia masuk, menyeret Arisa bersamanya.

"Kak Dario, sudah kubilang Arisa tidak seharusnya pindah. Kamu terlalu mencintainya untuk membiarkannya pergi. Paling tidak, sering-seringlah mampir, ya?"

Dia masuk dengan Arisa di belakangnya, penuh canda riang.

Kata-katanya membeku di telingaku, lalu kotak beludru di tanganku menarik perhatiannya.

"Ya Tuhan! Dario, kamu benar-benar beli itu? Arisa tadi bilang dia sangat menyukainya!"

Hatiku jatuh.

Ternyata begitu. Bukan untukku. Tidak pernah untukku.

Pipi Arisa memerah, matanya menunduk dengan kesopanan yang dipelajari. Dan Dario ragu, pandangannya terselip ke arahnya, bukan padaku.

Zamrud itu berubah menjadi es di telapak tanganku. Hadiah pertamaku darinya, dan itu bahkan bukan milikku.

Aku menekan kotak itu ke tangan Arisa, suaraku tenang, tajam seperti memotong udara.

"Kalau itu untukmu, ambil saja."

Ruangan hening, terdiam.

Bibir Serina terbuka dengan senang, Arisa berkedip seolah tersengat, dan Dario kali ini tak menatap Arisa. Matanya menatapku, gelisah, hampir putus asa.

Namun, kerusakan sudah terjadi. Harapan sekejapku telah padam.

Di hatinya, Arisa akan selalu nomor satu. Apakah dia menyebutnya cinta atau kesetiaan, tak ada bedanya. Bagiku, rasanya sama saja.

Dan dalam kesunyian itu, aku tahu sesuatu telah bergeser tak bisa kembali.

Aku bukan wanita yang sama lagi.

Saat dia goyah, aku teguh.

Saat dia melekat pada Arisa, aku sudah melepaskan setiap ikatan yang menahanku di sini sedikit demi sedikit, diam-diam, tanpa riuh.

Paspor sudah siap, sketsaku digulung dan disembunyikan, tanggal-tanggal tertanam di pikiranku seperti hitungan mundur yang hanya aku dengar.

Dunianya bisa runtuh di sekelilingnya, tetapi aku tak akan menoleh ke belakang. Bukan karena lapar, bukan karena rasa bersalah, bahkan bukan karena cintanya. Karena apa pun yang mengikatku pada Dario Mahardika telah terbakar menjadi abu.

Bab 7

Seminggu kemudian, akta cerai itu tiba.

Aku sudah resmi bukan lagi istri Dario. Setidaknya di atas kertas.

Belum ada yang tahu. Tidak Dario. Tidak saudara-saudaranya. Tidak juga para pemangsa yang mengelilingi kami di kalangan sosial. Hanya Tiana yang tahu. Untuk semua orang lain, aku masih Nyonya Mahardika. Tapi bagiku, semuanya sudah berakhir. Aku menghitung hari, melipat hidup lamaku ke dalam koper yang tak seorang pun sadar sudah mulai kupersiapkan untuk pergi.

Tepat ketika aku menarik risleting terakhir, terdengar ketukan di pintu. Asisten Dario berdiri di sana, membawa gaun adibusana. Pesan itu jelas. Aku diharapkan hadir di acara keluarga. Sekali lagi, pertunjukan terakhir.

Aku menatap gaun itu dan hampir tertawa.

Secara hukum, aku bebas. Secara emosional, aku sudah pergi. Namun, malam ini, aku tetap akan mengenakan status sebagai istrinya. Karena Tiana, ibunya, selalu memperlakukanku dengan baik, dan masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan sebelum benar-benar menghilang.

Ruang pesta bersinar dengan lampu gantung emas dan tawa yang tipis seperti kaca rapuh. Anggur berkilau di gelas kristal, janji-janji hancur setiap kali bersulang. Dan Arisa berdiri di tengah semuanya, memesona, dikagumi, tak tersentuh.

Para sosialita mengepungnya seperti ngengat pada api.

"Arisa, Dario pasti terobsesi sama kamu," kata salah satu dengan kagum.

"Kalung zamrud itu dibeli langsung dari Satheby. Dia memperjuangkannya habis-habisan."

"Dan ingat waktu di sekolah? Dia menunggumu setiap hari. Saat kamu mengabaikannya seminggu, dia hampir gila, minta saran ke semua orang hanya untuk mendapatkanmu kembali…"

Tawa mereka bergema seperti pecahan kaca.

Dan aku berdiri di sana, tak terlihat, memegang rahasiaku, yaitu akta cerai yang tersembunyi, pengetahuan bahwa aku akan segera menghilang, meninggalkan mereka semua.

Aku berdiri di pinggir, tak terlihat, mendengarkan orang asing menceritakan pengabdian suamiku pada wanita lain.

Aku mengeluarkan ponsel, menghitung waktu menuju penerbangan. Tiga jam. Jika aku berangkat sekarang, aku bisa sampai tepat waktu.

Namun, keheninganku justru membuat mereka melihatku seperti orang lemah. Tak lama kemudian, Serina dan rombongannya mendekat, senyum mereka manis tetapi penuh sindiran.

"Viona." Serina bersuara manis. "Bertahun-tahun menikah dengan kakakku, apa yang bisa kamu tunjukkan? Berdiri di sini, melihat dia bersama wanita yang benar-benar dicintainya."

"Jangan menipu diri sendiri deh. Dia menikahimu hanya karena Arisa pergi. Kamu hanya pengganti, penutup luka yang hanya bisa disembuhkan Arisa."

"Kamu seharusnya pergi bertahun-tahun lalu."

Aku berbalik pergi. Tak ada waktu untuk melayani kebiadaban mereka. Namun, salah satu dari mereka mendorongku dengan keras.

Dunia berputar.

Aku menabrak menara gelas anggur di belakang. Pecahan kaca berdering, cairan emas tumpah ke gaun, serpihan menoreh kulit. Dingin anggur bercampur dengan panas darah.

Desahan terkejut terdengar di kerumunan.

Dari panggung, mata Dario langsung tertuju padaku. Matanya membelalak, lalu beberapa detik kemudian, dia sudah di sisiku, menahan tubuhku seolah aku bisa hancur begitu saja.

"Viona!" Suaranya serak, panik. "Siapa yang menyentuhnya?!"

Tak seorang pun berani menjawab.

Amarahnya membara di seluruh ruang pesta. "Panggil dokter. Sekarang!" Genggamannya padaku tak goyah. Seolah bisa menambatkanku pada dirinya dengan paksa. Tangannya bergetar di kulitku yang berdarah, rahangnya menegang menahan amarah. Sesaat, aku hampir percaya dia peduli padaku. Bahwa di dalam hati pria ini, mungkin masih ada tempat untukku.

Hingga seorang pengawal berlari masuk, terengah-engah.

"Tuan Dario, Nona Arisa kesakitan. Katanya perutnya sakit. Dia menangis hebat."

Dario membeku. Tangannya menegang menahanku.

"Apa parah?"

"Dia hampir tidak bisa berdiri," kata pengawal itu.

Matanya melompat-lompat antara aku yang berdarah di pelukannya, dan Arisa yang rapuh dan sedang menangis di ruangan lain.

"Viona, aku..."

Aku tahu apa yang akan dia katakan sebelum kata itu keluar.

Aku melepaskan diri, suaraku tenang dan menusuk.

"Pergi. Dia rapuh. Selalu begitu. Dan kamu selalu memilihnya."

Dia terhenti, ketenanganku menghantamnya lebih keras daripada kemarahan apa pun.

"Viona…"

"Jangan khawatir. Aku bisa mengurusnya."

Dan seperti biasa, dia melakukan yang selalu dia pilih. Dia memilih Arisa, meninggalkanku berdiri di pecahan kaca, mendengar janji setengah hati, "Aku akan menebusnya nanti," sebelum berlari ke sisi Arisa.

Kerumunan hanya melihat satu hal, yaitu aku yang ditinggalkan lagi.

Bisik-bisik mereka lebih menyakitkan daripada luka di kulitku.

"Kasihan, ya. Bertahun-tahun, Dario tak pernah mencintainya."

"Dia seharusnya bersyukur Arisa ke luar negeri. Kalau tidak, dia takkan pernah memakai cincin itu sama sekali."

Aku meminjam ruang tunggu untuk membersihkan darah dan membalut lukaku.

Tak seorang pun memperhatikan saat aku menyelinap pergi.

Di vila, aku mengemas barang terakhir. Di meja makan, aku menaruh dua benda, yaitu surat perceraian yang sudah ditandatangani, dan akta cerai yang menandakan semuanya selesai.

Koperku sudah menunggu di pintu. Tanganku menyentuh perut dan aku berhenti sejenak.

Tiga bulan.

Anak di dalam perutku tak akan pernah merasakan sentuhan ayahnya. Dan Dario tak akan pernah tahu bahwa malam ini dia sudah kehilangan lebih dari sekadar seorang istri.

Saat aku membuka pintu, Serina muncul, terengah-engah.

"Kakakku mengirim obat untukmu. Jangan tanya kenapa. Seharusnya dia bersama Arisa, tapi dia menyuruhku mencarimu. Aku cari ke mana-mana..." Dia memutar mata bergumam, "Sejujurnya, ini tidak masuk akal. Seharusnya dia peduli sama Arisa, bukan kamu. Kenapa dia…?"

Gumamnya berhenti saat matanya melihat koperku.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Jelas, 'kan?" jawabku dengan tenang. "Aku pergi. Kakakmu sudah punya Arisa. Dia tak butuh aku lagi."

Dia meraih lenganku, panik. "Tidak… tidak, kamu bercanda, 'kan? Kamu terlalu mencintainya. Ini pasti trik, 'kan? Dia takkan membiarkanmu pergi!"

"Serina." Aku menoleh ke meja. "Kalau gitu, lihat surat ini."

Matanya tertuju pada akta cerai. Warna memudar dari wajahnya. Dia tergagap mundur, bergumam, "Tidak… ini tidak mungkin. Kamu… kamu tak mungkin benar-benar pergi…"

Aku melangkah melewatinya, roda koper bergesekan dengan marmer.

Lima tahun lalu, aku meninggalkan mimpiku demi Dario Mahardika.

Malam ini, aku akan mengambilnya kembali.

Aku tersenyum. Aku merasa ringan, bebas, tanpa beban.

"Aku akan menjalani hidup yang hanya milikku," kataku. Lebih untuk diri sendiri daripada siapa pun.

Vila itu menjulang di belakang dan penuh dengan kenangan. Namun, aku tak menoleh.

Tidak pada rumah itu.

Tidak pada wajah terkejut Serina.

Tidak pada pria yang akan terlambat menyadari apa yang telah hilang.

Dan begitu saja, aku menghilang ke kegelapan malam.

Meninggalkan nama, pernikahan, dan rahasia yang suatu hari akan sangat disesalinya.

Beberapa jam kemudian, Dario kembali. Jas digantung di lengan, mengharapkan rutinitas yang sama, yaitu suaraku, sandal di pintu. Namun, yang menyambutnya hanyalah keheningan.

"Viona?" Panggilannya bergema di seluruh rumah.

Tak ada jawaban. Pelayan kebingungan. Salah satu menunjuk lemah ke meja makan dengan surat yang sudah menunggu di atasnya. Dario melangkah cepat, meraihnya.

AKTA CERAI.

Tandatangannya sendiri, yang tidak ingat kapan dia bubuhkan. Sertifikat resmi yang sudah final.

Rahangnya mengeras. "Tidak mungkin."

Lalu matanya menangkap folder kedua. Map polos dengan tulisan klinik.

Dia membukanya. Huruf hitam itu bertuliskan RSIA Florance. Pasien: Viona Nandita. Minggu keberapa, perkiraan tanggal lahir, catatan pengawasan ketat.

Hamil. Viona telah membawa anaknya. Dia pergi bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai ibu dari kehidupan yang bahkan belum Dario ketahui.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tangan Dario bergetar.

"Viona…" bisiknya menggores udara kosong.

Rumah itu tak memberi jawaban.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B59173" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B59173
Salin

Anak Rahasia Sang Kepala Mafia

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya