Bab 1
Dario berbisik menyebut namanya 999 kali dalam tidurnya.
Namun, tak pernah menyebut namaku.
Lima tahun aku memberikan segalanya untuk Dario Mahardika, pewaris salah satu dinasti mafia terkuat di Aropa. Aku mengubah rumahnya menjadi rumah yang hangat, mengingat setiap detail cerobohnya yang terlewat, bahkan meninggalkan mimpiku menjadi seniman, dengan harapan bahwa suatu hari, dia akan memilihku.
Namun, setiap kali Arisa muncul, kesetiaan Dario bergeser padanya. Malam itu, ketika kuah sop yang panas melukai lenganku, dia segera melindungi Arisa dari goresan yang nyaris tak meninggalkan bekas. Di depan umum, pandangannya tak pernah tertuju padaku, selalu mengarah kepada Arisa.
Aku hanya istri di atas kertas, tetapi bukan dalam kenyataan.
Jadi aku pergi. Hanya dengan sebuah koper, surat cerai yang dia tanda tangani tanpa sadar, dan sebuah rahasia yang tak pernah kuberi tahu padanya, yaitu aku sedang hamil tiga bulan.
Saat dia sadar, semuanya sudah terlambat. Perceraian itu nyata. Berkas klinik itu nyata, dan ketika dia menyadarinya, aku sudah lenyap.
Sekarang, pria yang dulu menguasai kota dengan dingin itu menghancurkan dunia untuk menemukanku. Dia punya tentara, uang, dan seribu permintaan maaf yang tak pernah dia ucapkan saat aku masih menjadi istrinya.
Namun, aku bukan lagi wanita yang memohon kasih sayang. Aku seorang ibu. Seorang seniman. Seorang pejuang.
Pertanyaannya bukan apakah Dario bisa menemukanku.
Akan tetapi, apakah ketika dia berhasil, aku akan membiarkannya kembali ke kehidupan yang pernah dia hancurkan.
Dario berbisik menyebut nama Arisa 999 kali dalam tidurnya.
Namun, tak pernah menyebut namaku.
Angka-angka itu terukir dalam diriku, tajam seperti pecahan kaca. Mereka adalah bukti dari semua yang selama ini kuberitahukan pada diriku sendiri bahwa seberapa besar pun aku memberi, itu tak akan pernah cukup. Arisa bukanlah bayangan yang bisa kuhapus. Dia adalah awal dan akhir baginya.
Namun, aku tidak menemukan kebenaran itu dalam satu malam. Kebenaran itu datang perlahan, diam-diam, menumpuk di setiap malam yang kuhabiskan dalam kesunyian di dalam Kediaman Mahardika.
Setiap malam terasa sama. Aku menata hidangan favorit Dario di meja. Dibumbui persis seperti yang dia suka, panas sempurna saat dihidangkan.
Aku menyiapkan bak mandi dengan kelopak mawar dan menyalakan lilin yang dulu dia bilang dia sukai.
Aku pun memoles sepatunya hingga berkilau di dekat pintu.
Lalu, tepat pukul sembilan, pintu depan terbuka. Dario Mahardika, ahli waris salah satu dinasti mafia paling berkuasa di Aropa melangkah masuk. Kehadirannya memenuhi ruangan, tetapi matanya sama sekali tidak menatapku.
Aku menyingkap jaketnya dari bahu, menata sepatunya di dekat kaki, lalu bertanya pelan, "Makan malam dulu atau mandi dulu?"
"Mandi dulu." Dario berkata, tetapi matanya masih fokus pada ponselnya.
Saat Dario muncul dengan mengenakan jubah mandi, aku memberikan pakaiannya, menata meja lagi, dan mengantarkan makanan keluar sekali lagi. Dia menggulir layar ponselnya dengan tampak terganggu, cahaya layar memantul di mata gelapnya. Lalu aku melihatnya walau hanya sesaat. Nama itu muncul di bagian atas layar, berkelip sekejap.
Arisa.
Aku berpaling, pura-pura tidak melihat. Tepat pada saat itu ponselku bergetar. Nama yang muncul membuat napasku terhenti, yaitu Nyonya Tiana.
"Viona." Suaranya terdengar pelan dan letih. "Apa kamu benar-benar akan meninggalkan Dario?"
Pandanganku tertuju ke arah taman, di mana bunga lili putih mekar di bawah langit malam. Suaraku bergetar, tetapi aku memaksa kata-kata itu keluar.
"Kamu tahu kebenarannya, Ibu. Aku mencintainya sejak awal. Itu sebabnya aku menikah dengannya. Tapi cinta saja tidak cukup. Apalagi ketika hatinya selalu milik orang lain."
Nyonya Tiana menghela napas, suaranya berat oleh rasa bersalah.
"Aku tahu betapa sakit hatimu. Aku pernah berharap pengorbananmu bisa menggerakkan hatinya, tapi… hatinya tak pernah goyah. Jika kamu masih ingin melanjutkan studi ke luar negeri, atau memulai hidup baru di tempat lain, aku akan mengaturnya. Kamu sudah terlalu banyak membuang waktu untuknya."
Lima tahun. Lima tahun penuh pengorbanan, menumpahkan seluruh diriku ke dalam sebuah pernikahan yang dibangun di atas bayang-bayang. Aku menutup mata dan berbisik, "Ya. Tolong, bantu aku pergi. Aku ingin semua ini berakhir."
Saat panggilan itu berakhir, bunga lili di luar jendela sudah mulai layu, merunduk dalam gelap malam. Persis seperti janji-janji yang dulu kupertahankan dengan susah payah, tetapi kini perlahan pudar.
Aku tak pernah ditakdirkan untuk Dario. Aku hanyalah gadis miskin yang beasiswanya ditanggung Keluarga Mahardika, diambil dari kehampaan hidup sebagai sebuah kebaikan. Dulu aku datang untuk mengucapkan terima kasih. Aku begitu lugu dan tulus.
Namun, aku malah jatuh cinta ketika pertama kali melihat Dario Mahardika yang memesona, tak tersentuh, dikagumi.
Ketika Arisa meninggalkannya, akulah yang tetap di sisinya. Aku berpikir, jika aku memberinya cukup cinta, aku bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Arisa.
Jadi aku memasak, membersihkan, mengingat setiap detail kecil yang terlupakan. Suatu kali, dia bilang padaku bahwa dia belum pernah melihat bintang jatuh. Aku pun mencari gunung tertinggi, tempat sempurna untuk menatap meteor melintas di langit. Aku menunggunya di bawah langit yang dingin.
Namun, dia tak pernah datang.
Dia malah bersama Arisa.
Dan kemudian, ketika pernikahan Arisa hancur, dia terbang melintasi lautan untuk memberinya hadiah secara diam-diam. Bunga, pernak-pernik, hadiah kecil yang bisa membuatnya tersenyum. Aku tahu. Aku selalu tahu.
Ketika Dario menabrakkan mobilnya karena tergesa-gesa ingin menemui Arisa, aku duduk di samping ranjang rumah sakitnya selama tiga malam tanpa tidur. Dan ketika akhirnya dia bergerak, bibirnya bergerak, berbisik menyebut nama Arisa terus-menerus.
Sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali.
Tak sekalipun Dario menyebut namaku.
Sekarang, Arisa telah kembali. Dario pun utuh lagi.
Sementara aku?
Akhirnya aku bebas untuk pergi.
Akan tetapi, setelah lima tahun penuh pengorbanan dan kesunyian...
Bisakah aku benar-benar meninggalkan pria yang dulu kucintai lebih dari impianku sendiri?
Dan takkan pernah menoleh ke belakang lagi?
Bab 2
"Kamu lagi telepon siapa?"
Suara Dario memecah keheningan di ambang pintu dapur.
Aku tersentak, ponsel masih di tangan. Sesaat, napasku tersangkut. Lalu kuletakkan ponsel itu ke dalam saku dan memaksakan wajah tetap tenang.
"Bukan siapa-siapa," gumamku.
Malam itu, saat vila tenggelam dalam kesunyian, aku berbaring di sampingnya, terjaga, menatap langit-langit. Napasnya tenang, dingin, seolah dia sedang tidur di samping orang asing. Mungkin memang itulah artiku baginya.
Keesokan paginya, meja makan tertata rapi dengan sarapan ala Barat yang kubuat dengan cermat. Dario mengerutkan kening begitu melihatnya.
"Kamu tahu aku benci ini. Jadi ngapain masak ini?"
Aku menunduk, mengambil sepotong steik dengan garpu, lalu mengunyahnya perlahan.
"Di kulkas cuma tinggal ini," jawabku tenang.
Padahal itu bohong. Aku sudah mengisi kulkas dengan bahan impor Negara Atala. Semuanya hanya untuk dia. Akan tetapi, aku sedang berlatih menjalani hidup tanpanya. Jauh dari sini, dan hanya bergantung pada diriku sendiri.
Dario tak menyadarinya. Matanya terus melirik ke arah ponsel di samping piringnya. Saat bergetar, dia langsung meraihnya. Bibirnya melengkung, tipis tetapi jelas terlihat. Siapa pun dia, Arisa adalah wanita yang bisa menghantui pesan-pesannya. Dia bisa melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan. Dia bisa membuat Dario tersenyum.
Aku diam mematung, lalu perlahan mendorong setumpuk kertas yang kubawa selama berbulan-bulan melintasi meja.
"Dario," kataku pelan. "Ayo kita bercerai."
Dia bahkan tak mengangkat pandangannya. Pena di tangannya bergerak mengikuti arah yang kutunjuk, sementara tangan satunya tetap menari di atas keyboard membalas pesan Arisa.
"Mm," gumamnya tanpa benar-benar memperhatikan.
Dadaku sakit, tetapi anehnya aku tak terkejut. Begitulah dia selalu bersamaku, dingin, acuh tak acuh, tak pernah benar-benar menjadi milikku.
Ketika akhirnya dia mendorong kursinya hendak pergi, aku tak mampu menahan diri.
"Dario, kamu tahu tidak aku barusan tanya apa?"
Dia berhenti sejenak, tampak bingung. "Bukankah itu soal kontrak pasokan untuk kiriman anggur baru? Kamu sudah tanya berkali-kali minggu ini."
Aku tertawa pelan, pahit. Dia tidak ingat. Bahkan dia tidak benar-benar mendengarkanku.
"Tidak apa-apa," bisikku. "Sama sekali tidak apa-apa lagi."
Sore itu, aku pergi ke kebun anggur sendirian. Para manajer menyambutku dengan hangat, tetapi aku hanya membalas dengan senyum sopan. Aku bukan datang untuk urusan bisnis lagi. Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Aku akan pergi ke Aropa," kataku, suaraku ringan hampir terdengar acuh tak acuh.
Mereka tampak terkejut, lalu lega. "Kamu pantas mendapatkan awal yang baru," ucap salah satu dari mereka dengan lembut. "Tapi… bagaimana dengan Dario? Hubungan jarak jauh…" Dia berhenti sejenak, menggelengkan kepala.
"Ini bukan soal jarak jauh." Aku meletakkan map yang sudah ditandatangani di atas meja. "Kami sudah bercerai."
Keheningan yang menyusul terasa berat, tetapi tidak menyakitkan. Salah seorang dari mereka menghela napas, seolah mengiyakan apa yang selama ini mereka curigai.
"Kalau dia benar-benar peduli, dia tak akan pernah meninggalkanmu di bayang-bayang sepanjang ini. Pergi darinya… itu adalah hal terkuat yang pernah kamu lakukan."
Aku memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu meresap perlahan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa lega.
Ya. Meninggalkannya adalah kebebasan.
Di seberang kota, aku tahu Dario masih tertawa menatap ponselnya, masih tersenyum untuk wanita lain tanpa pernah menyadari bahwa tanda tangannya pagi itu bukan untuk kerajaannya, tetapi untukku.
Untuk akhir dari pernikahan kami.
Bab 3
Setelah pulang dari kebun anggur, aku langsung naik ke lantai atas menuju ruang ganti, lalu mulai mengemasi koperku.
Saat itulah aku baru sadar… betapa sedikitnya barang yang sebenarnya kumiliki.
Hanya beberapa gaun yang dulu dipaksa diberikan oleh ibunya Dario saat aku pertama kali menikah ke Keluarga Mahardika. Lima tahun berlalu, dan suamiku belum pernah sekalipun memilihkan sesuatu untukku. Tidak sehelai gaun, tidak seutas syal, bahkan tidak sekeping perhiasan kecil.
Ketika semua sudah tertata dalam koper, mataku terhenti pada tumpukan hadiah yang dulu kupilih dengan hati-hati untuknya. Jam tangan, manset, buku catatan kulit. Semuanya masih terbungkus rapi, belum pernah disentuh, tersusun di sudut ruangan seperti peninggalan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku memasukkannya ke dalam kotak, bukan dengan air mata, melainkan dengan tangan yang tenang, lalu memanggil tukang loak untuk membawanya pergi.
Setiap usaha, setiap senyum kecil, setiap momen di mana aku mencoba memperbaiki jarak di antara kami, semuanya kini telah berubah menjadi debu.
Saat aku hendak melangkah kembali ke dalam vila, suara klakson tajam memecah keheningan.
Sebuah mobil hitam mengilap berhenti di depan halaman. Pintu terbuka, dan seorang wanita turun dari sana. Serina Mahardika, adik perempuan Dario memakai gaun sutra merah, penuh gaya dan penghinaan.
Tatapannya melirik truk yang menjauh, lalu beralih padaku. Tawanya terdengar nyaring, terlatih.
"Sudah kuduga. Entah gadis mana, menjual barang-barang suaminya demi uang receh. Menyedihkan."
Dulu mungkin aku akan diam, menahan diri demi kedamaian keluarga. Namun, hari ini tidak.
Aku menatapnya dengan tenang, suaraku datar tetapi tegas.
"Tidak semua barang di rumah ini milik kakakmu, Serina. Sebagian adalah milikku dan aku tidak menyimpan sesuatu yang sudah tidak diinginkan."
Senyumnya sempat goyah sesaat, sebelum dia kembali menegakkan wajah sinisnya. Dia melangkah mendekat, suaranya merendah penuh bisa.
"Berhentilah berpura-pura. Arisa yang benar-benar dia cintai sudah kembali. Kamu hanya pengganti sementara."
Napasku tertahan, tetapi aku tetap menatap matanya tanpa mundur. Lalu seseorang turun dari mobil Dario.
Itu adalah Arisa.
Dia mengenakan gaun putih sederhana tanpa perhiasan, tetapi kecantikannya memancar alami. Jenis kecantikan yang tak membutuhkan berlian untuk memikat perhatian. Saat itu aku mengerti kenapa pandangan Dario tak pernah berhenti mencarinya.
"Serina." Suara lembut Arisa memecah ketegangan. Dia menepuk pelan lengan Serina. "Jangan berkata begitu. Viona tetap kakak iparmu."
Namun, Serina hanya mendengus.
"Kakak ipar? Jangan bercanda. Kakakku terbang melintasi lautan hanya untukmu, bukan untuk dia. Semua hadiah, semua perjalanan, semuanya untukmu, Arisa. Dan dia tahu itu."
Lalu Serina menatapku lagi, nada suaranya tajam seperti pecahan kaca.
"Lalu? Apa yang kamu tunggu? Bawa koper Arisa masuk. Kakakku bilang dia akan tinggal di sini."
Aku menatap koper-koper itu, lalu kembali menatap Serina. Dengan tenang, aku melangkah ke samping dan membuka pintu vila lebar-lebar.
"Biarkan staf yang mengurusnya."
Langkah tumitnya bergema keras di lantai marmer, tetapi sebelum kata-kata lain sempat terlontar, pintu utama kembali terbuka.
Dario berjalan masuk.
Tatapannya menyapu ruangan, dan ketika matanya menemukan Arisa di sofa, ekspresinya berubah. Ketegangan itu melunak menjadi sesuatu yang hampir lembut.
Dario melangkah menghampiri, melewatkanku seolah aku tak ada. Suaranya rendah, tenang, melindungi.
"Apartemenmu sudah lama tak ditempati. Tidak layak untukmu. Tinggallah di sini untuk sementara sampai selesai direnovasi."
Udara di sekelilingku tiba-tiba terasa sesak.
Arisa menggigit bibirnya ragu. "Dario… mungkin sebaiknya jangan. Ini rumahmu bersama Viona. Aku tidak mau mengganggu."
Sebelum dia sempat berdiri, tangan Dario menahan bahunya, mantap dan lembut.
"Tidak apa-apa. Tinggallah. Viona tidak keberatan. Dia orangnya… pengertian."
Kata-katanya menancap tajam, meski Dario tak bermaksud menyakitiku. Baginya, aku adalah istri yang sabar, selalu mengalah. Namun bagiku, ucapannya terdengar seperti pemaksaan.
Aku memaksa tersenyum tipis. Suaraku keluar lebih lembut dari yang kukira.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Arisa, anggap saja rumah ini rumahmu juga."
Karena dalam hati, aku tahu sesuatu yang selama ini tidak mau ku akui.
Rumah ini memang miliknya.
Pria itu pun miliknya.
Dan aku… tak pernah benar-benar punya tempat di sini.
Namun, kali ini, aku tidak akan memohon.
Tidak akan menangis, tidak akan memaksa, tidak akan bersaing.
Biarlah mereka memiliki cinta mereka, keluarga mereka, kerajaan mereka yang dibangun di atas darah dan kesetiaan.
Aku akan pergi tanpa membawa apa pun.
Karena kadang, tidak membawa apa pun jauh lebih berharga daripada hidup sebagai bayangan yang tak pernah dianggap ada.