Bab 4

Sepertinya Dario takut dia berubah pikiran dan pergi. Tanpa menunggu lama, dia langsung memerintahkan staf untuk memindahkan koper Arisa ke kamar tamu terbesar.

Serina bahkan tak berusaha menyembunyikan kepuasannya.

"Lalu apa lagi yang kamu tunggu? Makan malam tidak akan masak sendiri. Dan jangan lupa, Arisa tidak bisa makan pedas. Buat masakan biasa saja."

Kata-kata itu terdengar begitu biasa. Karena memang akulah yang selalu berada di dapur. Bukan karena dipaksa, tetapi karena aku ingin rumah ini terasa seperti rumah sungguhan. Dulu aku percaya, kalau aku bisa mengisinya dengan kehangatan, aroma roti baru, semangkuk sop panas, mungkin bisa melunakkan sikap dingin Dario, mungkin bisa menjembatani jarak di antara kami.

Namun, entah sejak kapan, cintaku berubah jadi kebiasaan mereka. Dario makan tanpa komentar, Serina mengkritik tanpa ragu, dan para staf selalu pulang lebih awal, yakin aku yang akan menyelesaikan semuanya. Pengabdian yang dulu kulakukan dengan cinta, kini tak lagi terlihat.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku menggeleng.

"Aku tidak bisa."

Suasana ruangan mendadak hening. Dahi Dario berkerut, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari bibirku. Dalam ingatannya, aku tak pernah berkata tidak.

Sebelum dia sempat bicara, Arisa menatapku dengan mata yang berkilat lembap.

"Ini salahku. Aku tidak seharusnya datang. Aku tidak bisa berharap Nona Viona yang mengurus semuanya."

Dia hendak berbalik menuju tangga, tetapi tangan Dario cepat menahan pergelangan tangannya.

"Ini bukan karena kamu."

Tatapannya lalu beralih padaku, menuntut jawaban.

"Kamu bilang tidak marah. Lalu ini apa?"

Aku hanya mengangkat tanganku pelan. Dua jariku terbalut perban putih bersih.

"Aku terluka. Tanganku terbakar. Jadi… aku tidak bisa masak untuk sementara."

Kebohongan kecil. Namun, keputusan di baliknya jauh lebih besar. Aku tidak terbakar, aku lelah.

Kontrakku dengan rumah ini, dengan hidup seperti ini, hampir berakhir. Aku sudah muak mencoba mendapatkan penghargaan lewat hidangan yang bahkan tak lagi mereka rasakan.

Keheningan menebal. Serina mengerutkan kening.

"Kamu bisa bilang lebih awal. Apa kamu mau kami kelaparan sekarang?"

Nada suaranya menusuk, tetapi Arisa cepat menenangkan dengan sentuhan lembut di lengannya.

"Jangan begitu, Serina. Dario…" Suaranya melunak, sarat nostalgia, "Kamu masih ingat bistro kecil di Swess, dekat kampus dulu? Yang punya sop krim enak itu. Kita sering sembunyi ke sana setelah kelas, ingat? Kamu selalu pesan roti tambahan."

Dia tertawa kecil, menundukkan kepala seolah larut dalam kenangan.

Dan wajah Dario langsung melunak. Senyum yang jarang muncul, kini kembali terlihat.

"Tentu saja. Aku akan membawamu ke sana."

Waktunya sempurna. Aku pun hilang dari pandangan mereka, seperti bayangan yang tak lagi penting.

Dalam perjalanan, mobil penuh dengan tawa dan kenangan yang tak bisa kumiliki. Arisa duduk di depan, memperbaiki lipatan lengan jas Dario dengan gerakan akrab yang terlalu alami. Serina ikut tertawa, menambah keceriaan yang asing di telingaku.

Aku duduk di samping jendela, menatap kota yang berlari di luar kaca. Dunia mereka terasa hangat… tetapi tertutup rapat.

Di tengah perjalanan, Arisa menoleh padaku, tersenyum manis tetapi canggung.

"Maaf, Nona Viona. Kami tidak bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja… kamu tidak ada di masa itu."

Bukan hanya masa lalu. Aku tahu aku juga tidak akan ada di masa depan mereka.

Aku hanya mengangguk pelan dan menyandarkan kepala. Dari kaca spion, mata Dario sempat menangkap pantulan wajahku. Ada seberkas kebingungan di sana. Mungkin untuk pertama kalinya, dia sadar aku agak tidak peduli.

Di restoran, aku pamit ke kamar mandi. Air dingin memercik di kulitku, menenangkan panas yang menekan di balik mataku.

Lima tahun pernikahan. Lima tahun memasak, merawat, mencintai. Aku telah menuangkan seluruh diriku untuk rumah ini, sampai tak tersisa apa pun. Arisa memancarkan vitalitas, Serina penuh percaya diri. Sedangkan aku? Aku hanya tampak seperti arwah. Ada, tetapi tak terlihat.

Saat kembali ke meja, hidangan sudah tersaji. Dario sedang berbicara pada pelayan. "Tolong tanpa bawang putih. Arisa tidak suka."

Dia masih mengingat semua tentangnya. Bahkan sekarang.

Lalu, seolah baru teringat akan keberadaanku, dia menoleh sekilas.

"Dan kamu? Ada yang tidak bisa kamu makan?"

Lima tahun dan ini pertama kalinya dia bertanya.

"Makanan laut," jawabku datar.

Makan malam pun dimulai. Dario nyaris tak menyentuh piringnya. Dia sibuk mencelupkan roti ke dalam sop krim, lalu meletakkannya di depan Arisa dengan hati-hati. Tangan mereka bersentuhan. Arisa tertawa lembut dan tatapan mata Dario lembut.

Sementara aku hanya makan diam-diam, setiap suapan terasa hambar seperti menelan abu.

Lalu tiba-tiba, kekacauan terjadi. Dari meja sebelah terdengar suara bentakan. Kursi bergeser, seseorang berteriak. Seseorang meraih panci baja berisi sop panas.

Dalam sekejap panci itu terbalik dan sop isinya yang mendidih menyembur ke depan.

Dario langsung bergerak melindungi Arisa di dalam pelukannya.

Dan aku?

Aku bahkan tidak sempat bereaksi.

Panas itu datang bagai gelombang, menyapu tubuhku dan membakar.

Bab 5

Sop panas menyembur ke lenganku sebelum aku sempat menghindar.

Rasa sakit yang membakar menyayat kulitku, seperti ribuan jarum menembus dalam satu waktu. Tenggorokanku terkunci. Aku bahkan tak mampu berteriak.

"Viona!"

Untuk pertama kalinya, suara Dario terdengar panik. Dia mendorong Arisa ke samping dan berlari ke arahku, meraih lenganku dengan wajah tegang.

"Kamu terbakar. Sial, kita harus ke rumah sakit sekarang!"

Aku menatapnya di tengah kabut rasa sakit. Bibirku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.

Lalu terdengar jeritan melengking.

"Oh Tuhan, Arisa, kamu juga terluka!"

Dario terdiam. Perhatiannya langsung berpaling.

Beberapa tetes sop krim panas memang mengenai pergelangan tangan Arisa, tetapi hanya meninggalkan sedikit kemerahan di kulitnya yang pucat. Meski begitu, ekspresi Dario tampak seolah seluruh dunia runtuh di depan matanya.

Arisa menggeleng pelan, menahan air mata yang nyaris jatuh.

"Tidak apa-apa. Tolong lihat Viona dulu. Dia yang lebih parah."

Nada suaranya bergetar, penuh kepedulian yang terdengar tulus, tetapi justru kelembutannya membuat Dario makin menggenggam erat tangannya.

"Kamu memang selalu rapuh," katanya, suaranya bergetar. Tanpa menoleh padaku lagi, dia langsung mengangkat Arisa ke dalam pelukannya.

"Kita ke rumah sakit. Sekarang."

Arisa memegang lengannya erat.

"Kak, jangan buang waktu! Arisa sakit… cepatlah."

Dario sempat menatapku sekali, sekejap, penuh bayangan rasa bersalah.

"Viona… naik taksi saja. Klinik dekat dari sini. Kamu akan baik-baik saja."

Dan dia pergi.

Aku berdiri di sana, kulitku terbakar, perutku melilit. Aku hanya bisa menyaksikan bayangan mereka menghilang ke dalam gelap malam.

Para staf restoran berlarian mendekat, meminta maaf dengan wajah panik. Mereka membersihkan luka bakarku, membalutnya, memberiku obat pereda nyeri, bahkan pakaian baru untuk diganti. Namun, entah kenapa, simpati mereka terasa lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri.

Di rumah sakit, dokter menangani lepuh di lenganku dengan tenang.

"Oleskan salep ini setiap hari. Jika dirawat dengan baik, tidak akan meninggalkan bekas," katanya lembut.

Di belakangnya, dua perawat lewat sambil berbisik.

"Katanya Dario Mahardika menyewa satu lantai penuh hanya untuk Arisa. Bahkan memanggil tiga dokter kulit, padahal cuma terkena sedikit sop krim di tangan."

"Bayangkan, seberapa cintanya dia. Banyak wanita rela mati demi perlakuan seperti itu."

Mereka terkekeh pelan, lalu berlalu.

'Cinta,' pikirku getir.

Aku hampir tertawa bersama mereka.

Dia meninggalkan istrinya yang kulitnya melepuh… demi menggenggam tangan wanita lain.

Ya, Dario Mahardika memang istimewa, dalam cara yang menyakitkan.

Saat perban terakhir dipasang, aku sudah mati rasa. Di luar dan di dalam.

Begitu keluar dari rumah sakit, ponselku bergetar dan ada satu notifikasi muncul.

[Selamat. Anda diterima di Akademi Seni Florance.]

Aku terpaku. Akademi Florance, salah satu sekolah seni paling bergengsi di Aropa. Aku mendaftar dua bulan lalu, langkah nekat yang bahkan tak kusangka akan berhasil. Terlebih sekarang, saat aku sedang tiga bulan hamil.

Tanganku gemetar saat membaca kelanjutannya:

[Kehamilan bukan penghalang. Kami menghargai bakat Anda. Kami telah menunggu Anda selama bertahun-tahun, Nona Viona.]

Aku memejamkan mata. Bertahun-tahun aku menolak mereka demi Dario. Meyakinkan diriku bahwa cinta lebih berharga daripada seni. Bahwa suatu hari, dia akan melihatku.

Namun, kini… Arisa telah kembali.

Dan Akademi masih menginginkanku.

Malam itu, aku membeli kuas, arang, dan kanvas baru.

Aku menghapus debu dari bagian diriku yang telah lama aku kubur sejak menikah.

Kupikir aku akan merasa bersalah. Namun, yang kurasakan hanya kejelasan.

Keesokan paginya, aku berkata pada pengurus rumah bahwa aku akan pergi beberapa hari. Aku tidak memberi tahu Dario. Dia bahkan tidak menyadarinya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Arisa.

Sementara itu, aku menemukan sebuah teras kecil di tepi laut. Di sanalah aku mulai melukis lagi, menuangkan rasa lapar, duka, dan harapan ke atas kertas.

Setiap garis yang kutarik adalah langkah menjauh darinya.

Setiap sapuan warna adalah bukti bahwa aku masih punya masa depan, bahkan di luar bayang-bayangnya.

Tebing-tebing menjulang di atas air biru toska, bunga liar menunduk ditiup angin. Aku mendirikan kanvasku di atas teras yang sepi, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku menghirup udara yang tak berbau kekuasaan, asap, atau darah.

Kuas bergerak nyaris tanpa kendali.

Tiga hari berlalu seperti mimpi. Aku melukis sampai dunia di sekitarku menghilang. Sampai rasa nyeri di lenganku tak terasa, sampai bayangan rumah Dario tak lagi menghantuiku.

Tak ada yang menegurku. Tak ada yang memerintah.

Hanya aku, udara asin laut, dan kebebasan.

Ketika akhirnya aku menyalakan ponsel, layar dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Lebih dari seratus.

Semuanya dari Dario.

Dia belum pernah meneleponku sebelumnya.

Tidak sekali pun, selama lima tahun pernikahan kami.

Dan kini 108 kali.

Aku masih menatap layar ketika nama Serina muncul.

Begitu kuangkat, suaranya langsung melengking dari seberang.

"Viona! Ke mana saja kamu? Tahu tidak, kakakku hampir gila mencarimu! Tapi jangan salah sangka kalau kamu pikir ini akan membuatnya memilihmu, kamu bodoh. Arisa satu-satunya wanita yang pantas jadi nyonya keluarga ini!"

Sambungan terputus.

Aku menurunkan ponsel perlahan, dadaku terasa sesak.

Dario Mahardika… mencariku?

Mengamuk karena aku menghilang?

Harusnya aku tertawa. Namun, jemariku bergetar saat menatap angka di layar, 108 panggilan tak terjawab.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… dia yang mengejarku.

Dia tidak tahu.

Dia tidak tahu aku telah diterima di Akademi.

Dia tidak tahu aku mulai menyiapkan portofolio.

Dia tidak tahu aku siap pergi.

Mungkin sekarang dia panik, meronta di tengah keheningan yang kutinggalkan. Akan tetapi, itu tidak mengubah apa pun.

Lukaku telah mengeras menjadi perisai.

Hatiku tak lagi condong padanya.

Biarlah dia marah, menyesal, atau terbakar dalam reruntuhan yang dia ciptakan sendiri.

Karena aku tidak akan menoleh lagi.

Bab 6

Saat akhirnya aku kembali ke vila, para staf nyaris menangis lega.

"Bu! Syukurlah Anda kembali. Tuan Dario panik sekali beberapa hari terakhir. Apa pun yang kami lakukan tak pernah membuatnya puas. Dia tidak tidur, tidak makan…"

Suara mereka saling bertumpuk, penuh kegembiraan gugup, seolah ketidakhadiranku hampir menghancurkan seluruh rumah tangga ini.

Jadi memang begitu. Tanpaku, Dario kehilangan keseimbangan.

Akan tetapi, dia harus terbiasa. Sebentar lagi, aku akan pergi untuk selamanya, dan hidupnya hanya akan dipenuhi kesunyian yang kutinggalkan.

Aku tersenyum tipis, menenangkan staf, lalu melangkah masuk ke rumah. Vila itu gelap, tidak ada satu pun lampu yang menyala, hanya cahaya bulan yang retak menembus jendela.

Dario duduk di sofa, sosoknya seperti bayangan yang disayat cahaya pucat, profil tajamnya sulit dibaca.

Saat akhirnya dia menatapku, pandangannya terlalu lama tertahan. Suaranya rendah, menyimpan sesuatu yang tak bisa kusebutkan.

"Ke mana saja kamu?"

Aku melepas mantel, suaraku datar.

"Di pantai. Melukis."

Alisnya mengerut. "Sejak kapan kamu tertarik melukis?"

Bukan sejak kapan, tetapi selalu.

Aku dulunya murid berbakat, wanita yang pernah bermimpi ke akademi seni dan galeri, sebelum kesetiaan mengikatku pada nama Dario. Sebelum hidupku tenggelam oleh kerajaan Mahardika.

Namun, aku tak menjelaskan itu padanya. Aku hanya menuang segelas air dan menjawab ringan, "Aku menyukainya."

Dia mengusap pelipis, menghela napas.

"Soal malam di restoran, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Arisa selalu rapuh, lemah. Aku tumbuh dengan melindunginya, jadi instingku..."

Suaranya tersendat saat aku diam saja.

"Kamu juga tidak menolak waktu itu," desaknya, sedikit kesal. "Lalu kenapa tiba-tiba menghilang? Kamu tahu Arisa sudah pindah ke apartemennya sendiri. Semua… itu sudah selesai. Jangan dendam soal hal sepele."

Sampai sejauh itu dianggap sepele?

Nada suaranya penuh teguran, seolah rasa sakitku hanyalah gangguan kecil. Seolah luka bakar di lenganku tak sepenting kepura-puraan Arisa yang rapuh.

Aku tak menjawab. Aku menoleh ke tangga, tetapi suaranya memecah kesunyian lagi.

"Viona."

Aku menoleh, dan untuk pertama kalinya, kulihat dia berdiri dengan goyah.

"Aku lapar. Buatkan aku pasta."

Aku mengangkat tangan yang dibalut perban, kain kasa tampak kontras di cahaya bulan.

"Lupa ya? Tanganku masih terbakar."

Ekspresinya berubah, sekejap terlihat… hampir seperti penyesalan. Namun, aku tak menunggu lebih lama. Aku berpaling dan menaiki tangga.

Keesokan paginya, dia menghentikanku di lorong, membawa sebuah kotak beludru.

Aku membukanya. Isinya perhiasan zamrud. Langka, berkilau, berat oleh kemewahan.

Dia membersihkan tenggorokannya dengan canggung.

"Soal malam itu. Aku… terlalu fokus pada Arisa. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu. Anggap ini sebagai permintaan maafku."

Dadaku sesak. Lima tahun.

Lima tahun diam, acuh, diabaikan. Dan baru sekarang aku mendapat hadiah pertamaku darinya.

Bukan karena cinta, tetapi penebusan. Bukan untukku, tetapi untuk rasa bersalahnya terhadap Arisa.

Aku teringat ribuan hadiah yang tersimpan di kantornya, semuanya dipilih dengan cermat untuk Arisa. Tawa pahit hampir terdengar dari tenggorokanku, tetapi kutelan.

Aku sudah lama berhenti mengharapkan apa pun dari Dario Mahardika. Dan sekarang? Aku tak butuh permata itu.

Aku ragu sesaat, cukup hingga dia salah paham.

"Kalau kamu tidak suka… asistenku yang membelinya di lelang. Aku bisa cari yang lain."

Sebelum aku sempat menjawab, suara Serina terdengar saat dia masuk, menyeret Arisa bersamanya.

"Kak Dario, sudah kubilang Arisa tidak seharusnya pindah. Kamu terlalu mencintainya untuk membiarkannya pergi. Paling tidak, sering-seringlah mampir, ya?"

Dia masuk dengan Arisa di belakangnya, penuh canda riang.

Kata-katanya membeku di telingaku, lalu kotak beludru di tanganku menarik perhatiannya.

"Ya Tuhan! Dario, kamu benar-benar beli itu? Arisa tadi bilang dia sangat menyukainya!"

Hatiku jatuh.

Ternyata begitu. Bukan untukku. Tidak pernah untukku.

Pipi Arisa memerah, matanya menunduk dengan kesopanan yang dipelajari. Dan Dario ragu, pandangannya terselip ke arahnya, bukan padaku.

Zamrud itu berubah menjadi es di telapak tanganku. Hadiah pertamaku darinya, dan itu bahkan bukan milikku.

Aku menekan kotak itu ke tangan Arisa, suaraku tenang, tajam seperti memotong udara.

"Kalau itu untukmu, ambil saja."

Ruangan hening, terdiam.

Bibir Serina terbuka dengan senang, Arisa berkedip seolah tersengat, dan Dario kali ini tak menatap Arisa. Matanya menatapku, gelisah, hampir putus asa.

Namun, kerusakan sudah terjadi. Harapan sekejapku telah padam.

Di hatinya, Arisa akan selalu nomor satu. Apakah dia menyebutnya cinta atau kesetiaan, tak ada bedanya. Bagiku, rasanya sama saja.

Dan dalam kesunyian itu, aku tahu sesuatu telah bergeser tak bisa kembali.

Aku bukan wanita yang sama lagi.

Saat dia goyah, aku teguh.

Saat dia melekat pada Arisa, aku sudah melepaskan setiap ikatan yang menahanku di sini sedikit demi sedikit, diam-diam, tanpa riuh.

Paspor sudah siap, sketsaku digulung dan disembunyikan, tanggal-tanggal tertanam di pikiranku seperti hitungan mundur yang hanya aku dengar.

Dunianya bisa runtuh di sekelilingnya, tetapi aku tak akan menoleh ke belakang. Bukan karena lapar, bukan karena rasa bersalah, bahkan bukan karena cintanya. Karena apa pun yang mengikatku pada Dario Mahardika telah terbakar menjadi abu.

Anak Rahasia Sang Kepala Mafia

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya