Bab 3

Setelah pulang dari kebun anggur, aku langsung naik ke lantai atas menuju ruang ganti, lalu mulai mengemasi koperku.

Saat itulah aku baru sadar… betapa sedikitnya barang yang sebenarnya kumiliki.

Hanya beberapa gaun yang dulu dipaksa diberikan oleh ibunya Dario saat aku pertama kali menikah ke Keluarga Mahardika. Lima tahun berlalu, dan suamiku belum pernah sekalipun memilihkan sesuatu untukku. Tidak sehelai gaun, tidak seutas syal, bahkan tidak sekeping perhiasan kecil.

Ketika semua sudah tertata dalam koper, mataku terhenti pada tumpukan hadiah yang dulu kupilih dengan hati-hati untuknya. Jam tangan, manset, buku catatan kulit. Semuanya masih terbungkus rapi, belum pernah disentuh, tersusun di sudut ruangan seperti peninggalan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku memasukkannya ke dalam kotak, bukan dengan air mata, melainkan dengan tangan yang tenang, lalu memanggil tukang loak untuk membawanya pergi.

Setiap usaha, setiap senyum kecil, setiap momen di mana aku mencoba memperbaiki jarak di antara kami, semuanya kini telah berubah menjadi debu.

Saat aku hendak melangkah kembali ke dalam vila, suara klakson tajam memecah keheningan.

Sebuah mobil hitam mengilap berhenti di depan halaman. Pintu terbuka, dan seorang wanita turun dari sana. Serina Mahardika, adik perempuan Dario memakai gaun sutra merah, penuh gaya dan penghinaan.

Tatapannya melirik truk yang menjauh, lalu beralih padaku. Tawanya terdengar nyaring, terlatih.

"Sudah kuduga. Entah gadis mana, menjual barang-barang suaminya demi uang receh. Menyedihkan."

Dulu mungkin aku akan diam, menahan diri demi kedamaian keluarga. Namun, hari ini tidak.

Aku menatapnya dengan tenang, suaraku datar tetapi tegas.

"Tidak semua barang di rumah ini milik kakakmu, Serina. Sebagian adalah milikku dan aku tidak menyimpan sesuatu yang sudah tidak diinginkan."

Senyumnya sempat goyah sesaat, sebelum dia kembali menegakkan wajah sinisnya. Dia melangkah mendekat, suaranya merendah penuh bisa.

"Berhentilah berpura-pura. Arisa yang benar-benar dia cintai sudah kembali. Kamu hanya pengganti sementara."

Napasku tertahan, tetapi aku tetap menatap matanya tanpa mundur. Lalu seseorang turun dari mobil Dario.

Itu adalah Arisa.

Dia mengenakan gaun putih sederhana tanpa perhiasan, tetapi kecantikannya memancar alami. Jenis kecantikan yang tak membutuhkan berlian untuk memikat perhatian. Saat itu aku mengerti kenapa pandangan Dario tak pernah berhenti mencarinya.

"Serina." Suara lembut Arisa memecah ketegangan. Dia menepuk pelan lengan Serina. "Jangan berkata begitu. Viona tetap kakak iparmu."

Namun, Serina hanya mendengus.

"Kakak ipar? Jangan bercanda. Kakakku terbang melintasi lautan hanya untukmu, bukan untuk dia. Semua hadiah, semua perjalanan, semuanya untukmu, Arisa. Dan dia tahu itu."

Lalu Serina menatapku lagi, nada suaranya tajam seperti pecahan kaca.

"Lalu? Apa yang kamu tunggu? Bawa koper Arisa masuk. Kakakku bilang dia akan tinggal di sini."

Aku menatap koper-koper itu, lalu kembali menatap Serina. Dengan tenang, aku melangkah ke samping dan membuka pintu vila lebar-lebar.

"Biarkan staf yang mengurusnya."

Langkah tumitnya bergema keras di lantai marmer, tetapi sebelum kata-kata lain sempat terlontar, pintu utama kembali terbuka.

Dario berjalan masuk.

Tatapannya menyapu ruangan, dan ketika matanya menemukan Arisa di sofa, ekspresinya berubah. Ketegangan itu melunak menjadi sesuatu yang hampir lembut.

Dario melangkah menghampiri, melewatkanku seolah aku tak ada. Suaranya rendah, tenang, melindungi.

"Apartemenmu sudah lama tak ditempati. Tidak layak untukmu. Tinggallah di sini untuk sementara sampai selesai direnovasi."

Udara di sekelilingku tiba-tiba terasa sesak.

Arisa menggigit bibirnya ragu. "Dario… mungkin sebaiknya jangan. Ini rumahmu bersama Viona. Aku tidak mau mengganggu."

Sebelum dia sempat berdiri, tangan Dario menahan bahunya, mantap dan lembut.

"Tidak apa-apa. Tinggallah. Viona tidak keberatan. Dia orangnya… pengertian."

Kata-katanya menancap tajam, meski Dario tak bermaksud menyakitiku. Baginya, aku adalah istri yang sabar, selalu mengalah. Namun bagiku, ucapannya terdengar seperti pemaksaan.

Aku memaksa tersenyum tipis. Suaraku keluar lebih lembut dari yang kukira.

"Tentu saja aku tidak keberatan. Arisa, anggap saja rumah ini rumahmu juga."

Karena dalam hati, aku tahu sesuatu yang selama ini tidak mau ku akui.

Rumah ini memang miliknya.

Pria itu pun miliknya.

Dan aku… tak pernah benar-benar punya tempat di sini.

Namun, kali ini, aku tidak akan memohon.

Tidak akan menangis, tidak akan memaksa, tidak akan bersaing.

Biarlah mereka memiliki cinta mereka, keluarga mereka, kerajaan mereka yang dibangun di atas darah dan kesetiaan.

Aku akan pergi tanpa membawa apa pun.

Karena kadang, tidak membawa apa pun jauh lebih berharga daripada hidup sebagai bayangan yang tak pernah dianggap ada.

Bab 4

Sepertinya Dario takut dia berubah pikiran dan pergi. Tanpa menunggu lama, dia langsung memerintahkan staf untuk memindahkan koper Arisa ke kamar tamu terbesar.

Serina bahkan tak berusaha menyembunyikan kepuasannya.

"Lalu apa lagi yang kamu tunggu? Makan malam tidak akan masak sendiri. Dan jangan lupa, Arisa tidak bisa makan pedas. Buat masakan biasa saja."

Kata-kata itu terdengar begitu biasa. Karena memang akulah yang selalu berada di dapur. Bukan karena dipaksa, tetapi karena aku ingin rumah ini terasa seperti rumah sungguhan. Dulu aku percaya, kalau aku bisa mengisinya dengan kehangatan, aroma roti baru, semangkuk sop panas, mungkin bisa melunakkan sikap dingin Dario, mungkin bisa menjembatani jarak di antara kami.

Namun, entah sejak kapan, cintaku berubah jadi kebiasaan mereka. Dario makan tanpa komentar, Serina mengkritik tanpa ragu, dan para staf selalu pulang lebih awal, yakin aku yang akan menyelesaikan semuanya. Pengabdian yang dulu kulakukan dengan cinta, kini tak lagi terlihat.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku menggeleng.

"Aku tidak bisa."

Suasana ruangan mendadak hening. Dahi Dario berkerut, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari bibirku. Dalam ingatannya, aku tak pernah berkata tidak.

Sebelum dia sempat bicara, Arisa menatapku dengan mata yang berkilat lembap.

"Ini salahku. Aku tidak seharusnya datang. Aku tidak bisa berharap Nona Viona yang mengurus semuanya."

Dia hendak berbalik menuju tangga, tetapi tangan Dario cepat menahan pergelangan tangannya.

"Ini bukan karena kamu."

Tatapannya lalu beralih padaku, menuntut jawaban.

"Kamu bilang tidak marah. Lalu ini apa?"

Aku hanya mengangkat tanganku pelan. Dua jariku terbalut perban putih bersih.

"Aku terluka. Tanganku terbakar. Jadi… aku tidak bisa masak untuk sementara."

Kebohongan kecil. Namun, keputusan di baliknya jauh lebih besar. Aku tidak terbakar, aku lelah.

Kontrakku dengan rumah ini, dengan hidup seperti ini, hampir berakhir. Aku sudah muak mencoba mendapatkan penghargaan lewat hidangan yang bahkan tak lagi mereka rasakan.

Keheningan menebal. Serina mengerutkan kening.

"Kamu bisa bilang lebih awal. Apa kamu mau kami kelaparan sekarang?"

Nada suaranya menusuk, tetapi Arisa cepat menenangkan dengan sentuhan lembut di lengannya.

"Jangan begitu, Serina. Dario…" Suaranya melunak, sarat nostalgia, "Kamu masih ingat bistro kecil di Swess, dekat kampus dulu? Yang punya sop krim enak itu. Kita sering sembunyi ke sana setelah kelas, ingat? Kamu selalu pesan roti tambahan."

Dia tertawa kecil, menundukkan kepala seolah larut dalam kenangan.

Dan wajah Dario langsung melunak. Senyum yang jarang muncul, kini kembali terlihat.

"Tentu saja. Aku akan membawamu ke sana."

Waktunya sempurna. Aku pun hilang dari pandangan mereka, seperti bayangan yang tak lagi penting.

Dalam perjalanan, mobil penuh dengan tawa dan kenangan yang tak bisa kumiliki. Arisa duduk di depan, memperbaiki lipatan lengan jas Dario dengan gerakan akrab yang terlalu alami. Serina ikut tertawa, menambah keceriaan yang asing di telingaku.

Aku duduk di samping jendela, menatap kota yang berlari di luar kaca. Dunia mereka terasa hangat… tetapi tertutup rapat.

Di tengah perjalanan, Arisa menoleh padaku, tersenyum manis tetapi canggung.

"Maaf, Nona Viona. Kami tidak bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja… kamu tidak ada di masa itu."

Bukan hanya masa lalu. Aku tahu aku juga tidak akan ada di masa depan mereka.

Aku hanya mengangguk pelan dan menyandarkan kepala. Dari kaca spion, mata Dario sempat menangkap pantulan wajahku. Ada seberkas kebingungan di sana. Mungkin untuk pertama kalinya, dia sadar aku agak tidak peduli.

Di restoran, aku pamit ke kamar mandi. Air dingin memercik di kulitku, menenangkan panas yang menekan di balik mataku.

Lima tahun pernikahan. Lima tahun memasak, merawat, mencintai. Aku telah menuangkan seluruh diriku untuk rumah ini, sampai tak tersisa apa pun. Arisa memancarkan vitalitas, Serina penuh percaya diri. Sedangkan aku? Aku hanya tampak seperti arwah. Ada, tetapi tak terlihat.

Saat kembali ke meja, hidangan sudah tersaji. Dario sedang berbicara pada pelayan. "Tolong tanpa bawang putih. Arisa tidak suka."

Dia masih mengingat semua tentangnya. Bahkan sekarang.

Lalu, seolah baru teringat akan keberadaanku, dia menoleh sekilas.

"Dan kamu? Ada yang tidak bisa kamu makan?"

Lima tahun dan ini pertama kalinya dia bertanya.

"Makanan laut," jawabku datar.

Makan malam pun dimulai. Dario nyaris tak menyentuh piringnya. Dia sibuk mencelupkan roti ke dalam sop krim, lalu meletakkannya di depan Arisa dengan hati-hati. Tangan mereka bersentuhan. Arisa tertawa lembut dan tatapan mata Dario lembut.

Sementara aku hanya makan diam-diam, setiap suapan terasa hambar seperti menelan abu.

Lalu tiba-tiba, kekacauan terjadi. Dari meja sebelah terdengar suara bentakan. Kursi bergeser, seseorang berteriak. Seseorang meraih panci baja berisi sop panas.

Dalam sekejap panci itu terbalik dan sop isinya yang mendidih menyembur ke depan.

Dario langsung bergerak melindungi Arisa di dalam pelukannya.

Dan aku?

Aku bahkan tidak sempat bereaksi.

Panas itu datang bagai gelombang, menyapu tubuhku dan membakar.

Bab 5

Sop panas menyembur ke lenganku sebelum aku sempat menghindar.

Rasa sakit yang membakar menyayat kulitku, seperti ribuan jarum menembus dalam satu waktu. Tenggorokanku terkunci. Aku bahkan tak mampu berteriak.

"Viona!"

Untuk pertama kalinya, suara Dario terdengar panik. Dia mendorong Arisa ke samping dan berlari ke arahku, meraih lenganku dengan wajah tegang.

"Kamu terbakar. Sial, kita harus ke rumah sakit sekarang!"

Aku menatapnya di tengah kabut rasa sakit. Bibirku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.

Lalu terdengar jeritan melengking.

"Oh Tuhan, Arisa, kamu juga terluka!"

Dario terdiam. Perhatiannya langsung berpaling.

Beberapa tetes sop krim panas memang mengenai pergelangan tangan Arisa, tetapi hanya meninggalkan sedikit kemerahan di kulitnya yang pucat. Meski begitu, ekspresi Dario tampak seolah seluruh dunia runtuh di depan matanya.

Arisa menggeleng pelan, menahan air mata yang nyaris jatuh.

"Tidak apa-apa. Tolong lihat Viona dulu. Dia yang lebih parah."

Nada suaranya bergetar, penuh kepedulian yang terdengar tulus, tetapi justru kelembutannya membuat Dario makin menggenggam erat tangannya.

"Kamu memang selalu rapuh," katanya, suaranya bergetar. Tanpa menoleh padaku lagi, dia langsung mengangkat Arisa ke dalam pelukannya.

"Kita ke rumah sakit. Sekarang."

Arisa memegang lengannya erat.

"Kak, jangan buang waktu! Arisa sakit… cepatlah."

Dario sempat menatapku sekali, sekejap, penuh bayangan rasa bersalah.

"Viona… naik taksi saja. Klinik dekat dari sini. Kamu akan baik-baik saja."

Dan dia pergi.

Aku berdiri di sana, kulitku terbakar, perutku melilit. Aku hanya bisa menyaksikan bayangan mereka menghilang ke dalam gelap malam.

Para staf restoran berlarian mendekat, meminta maaf dengan wajah panik. Mereka membersihkan luka bakarku, membalutnya, memberiku obat pereda nyeri, bahkan pakaian baru untuk diganti. Namun, entah kenapa, simpati mereka terasa lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri.

Di rumah sakit, dokter menangani lepuh di lenganku dengan tenang.

"Oleskan salep ini setiap hari. Jika dirawat dengan baik, tidak akan meninggalkan bekas," katanya lembut.

Di belakangnya, dua perawat lewat sambil berbisik.

"Katanya Dario Mahardika menyewa satu lantai penuh hanya untuk Arisa. Bahkan memanggil tiga dokter kulit, padahal cuma terkena sedikit sop krim di tangan."

"Bayangkan, seberapa cintanya dia. Banyak wanita rela mati demi perlakuan seperti itu."

Mereka terkekeh pelan, lalu berlalu.

'Cinta,' pikirku getir.

Aku hampir tertawa bersama mereka.

Dia meninggalkan istrinya yang kulitnya melepuh… demi menggenggam tangan wanita lain.

Ya, Dario Mahardika memang istimewa, dalam cara yang menyakitkan.

Saat perban terakhir dipasang, aku sudah mati rasa. Di luar dan di dalam.

Begitu keluar dari rumah sakit, ponselku bergetar dan ada satu notifikasi muncul.

[Selamat. Anda diterima di Akademi Seni Florance.]

Aku terpaku. Akademi Florance, salah satu sekolah seni paling bergengsi di Aropa. Aku mendaftar dua bulan lalu, langkah nekat yang bahkan tak kusangka akan berhasil. Terlebih sekarang, saat aku sedang tiga bulan hamil.

Tanganku gemetar saat membaca kelanjutannya:

[Kehamilan bukan penghalang. Kami menghargai bakat Anda. Kami telah menunggu Anda selama bertahun-tahun, Nona Viona.]

Aku memejamkan mata. Bertahun-tahun aku menolak mereka demi Dario. Meyakinkan diriku bahwa cinta lebih berharga daripada seni. Bahwa suatu hari, dia akan melihatku.

Namun, kini… Arisa telah kembali.

Dan Akademi masih menginginkanku.

Malam itu, aku membeli kuas, arang, dan kanvas baru.

Aku menghapus debu dari bagian diriku yang telah lama aku kubur sejak menikah.

Kupikir aku akan merasa bersalah. Namun, yang kurasakan hanya kejelasan.

Keesokan paginya, aku berkata pada pengurus rumah bahwa aku akan pergi beberapa hari. Aku tidak memberi tahu Dario. Dia bahkan tidak menyadarinya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Arisa.

Sementara itu, aku menemukan sebuah teras kecil di tepi laut. Di sanalah aku mulai melukis lagi, menuangkan rasa lapar, duka, dan harapan ke atas kertas.

Setiap garis yang kutarik adalah langkah menjauh darinya.

Setiap sapuan warna adalah bukti bahwa aku masih punya masa depan, bahkan di luar bayang-bayangnya.

Tebing-tebing menjulang di atas air biru toska, bunga liar menunduk ditiup angin. Aku mendirikan kanvasku di atas teras yang sepi, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku menghirup udara yang tak berbau kekuasaan, asap, atau darah.

Kuas bergerak nyaris tanpa kendali.

Tiga hari berlalu seperti mimpi. Aku melukis sampai dunia di sekitarku menghilang. Sampai rasa nyeri di lenganku tak terasa, sampai bayangan rumah Dario tak lagi menghantuiku.

Tak ada yang menegurku. Tak ada yang memerintah.

Hanya aku, udara asin laut, dan kebebasan.

Ketika akhirnya aku menyalakan ponsel, layar dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Lebih dari seratus.

Semuanya dari Dario.

Dia belum pernah meneleponku sebelumnya.

Tidak sekali pun, selama lima tahun pernikahan kami.

Dan kini 108 kali.

Aku masih menatap layar ketika nama Serina muncul.

Begitu kuangkat, suaranya langsung melengking dari seberang.

"Viona! Ke mana saja kamu? Tahu tidak, kakakku hampir gila mencarimu! Tapi jangan salah sangka kalau kamu pikir ini akan membuatnya memilihmu, kamu bodoh. Arisa satu-satunya wanita yang pantas jadi nyonya keluarga ini!"

Sambungan terputus.

Aku menurunkan ponsel perlahan, dadaku terasa sesak.

Dario Mahardika… mencariku?

Mengamuk karena aku menghilang?

Harusnya aku tertawa. Namun, jemariku bergetar saat menatap angka di layar, 108 panggilan tak terjawab.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… dia yang mengejarku.

Dia tidak tahu.

Dia tidak tahu aku telah diterima di Akademi.

Dia tidak tahu aku mulai menyiapkan portofolio.

Dia tidak tahu aku siap pergi.

Mungkin sekarang dia panik, meronta di tengah keheningan yang kutinggalkan. Akan tetapi, itu tidak mengubah apa pun.

Lukaku telah mengeras menjadi perisai.

Hatiku tak lagi condong padanya.

Biarlah dia marah, menyesal, atau terbakar dalam reruntuhan yang dia ciptakan sendiri.

Karena aku tidak akan menoleh lagi.

Anak Rahasia Sang Kepala Mafia

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya