Bab 4

Erik tinggal di kamar Yuki sepanjang malam.

Sebenarnya, Sena tidak terlalu perhatikan masalah ini. Mbak Nur, seorang pelayan yang membawanya ke taman belakang pagi-pagi sekali dan memberitahunya informasi penting ini.

"Nyonya, harap lebih waspada!" Mbak Nur berkata dengan cemas, "Yuki, si pelakor itu terlihat jelas ingin menggodai Tuan Muda! Kamu tidak tahu apa yang dia kenakan tadi malam... Aduh! Aku malu melihatnya!"

Sena tersenyum lembut, "Kamu terlalu banyak berpikir, Nona Yuki dan Erik tumbuh besar bersama. Erik sangat mementingkan Nona Yuki, jangan katakan hal-hal buruk tentang Nona Yuki lagi di masa depan. Erik bakal kesal kalau mendengarnya."

Mbak Nur tercengang, dia menatap Sena dengan ekspresi aneh, lalu bertanya dengan ragu, "Nyonya, ada apa denganmu?"

"Aku baik-baik saja." Sena tersenyum lembut dan berkata, "Aku sangat baik."

Senyuman itu bagaikan topeng yang melekat pada wajahnya.

Sena akan tetap tersenyum dan tidak akan menangis lagi.

"Tidak! Ada yang salah denganmu hari ini!" Mbak Nur mengumpat, "Dulu, saat memanggil Tuan Muda, kamu selalu memanggil dengan penuh kasih sayang, tapi sekarang terdengar asing!"

Sena menundukkan bulu matanya tanpa mengatakan apa pun.

Sebenarnya, saat pertama kali bersama Erik, Sena tidak pernah memanggilnya Erik. Dia selalu memanggilnya Kak Erik seperti teman-temannya.

Kemudian, saat pertama kali berhubungan seks, Erik mendorongnya ke ranjang, menutup matanya dengan kain hitam, lalu menjambak rambutnya sambil mengerahkan tenaga, memaksa Sena untuk memanggilnya Erik.

Sena selalu menyangka panggilan ini merupakan sesuatu yang mesra bagi mereka berdua dan hanya dia yang boleh memanggilnya seperti itu.

Sena bahkan diam-diam merasa senang untuk waktu yang lama.

Baru kemarin ketika mendengar Yuki memanggil Erik, Sena tiba-tiba menyadarinya.

Pantas saja Erik menutup matanya malam itu.

Sebab, mata Sena paling tidak mirip dengan Yuki.

Namun, suaranya mirip, jadi Erik memintanya untuk memanggilnya Erik, berulang-ulang hingga dia pingsan.

"Mbak Nur, hal terpenting ketika bekerja di keluarga kaya adalah bekerja lebih banyak dan kurangi bicara." Sena menepuk bahu Mbak Nur dengan lembut dan mengingatkannya dengan bijaksana, "Jangan katakan hal-hal buruk tentang Nona Yuki lagi."

Dia akan segera pergi, Yuki akan menggantikannya dan menjadi nyonya keluarga ini.

Kalau menyinggung Yuki, Mbak Nur pasti akan dihukum.

Setelah memberi instruksi pada Mbak Nur, Sena naik ke atas untuk mengambil surat perceraian, kemudian datang ke ruang kerja Erik.

Erik sedang menangani pekerjaannya. Ketika melihat Sena datang, dia mendengus dingin, "Sudah tahu bersalah?"

"Ya." Sena berkata dengan tenang. Kalau Erik merasa dia bersalah, Sena akan mengakuinya.

Hanya sisa beberapa hari lagi, Sena terlalu malas untuk berdebat dengannya.

"Bukannya bagus kalau mengerti lebih awal? Ngapain harus berbuat masalah?" kata Erik dengan kesal. Dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah dari laci dengan acuh tak acuh, lalu melemparkannya ke Sena, "Ini hadiah ulang tahunmu. Buka dan lihatlah."

Sena ingin menolak, tetapi dia tahu kalau dia menolak, Erik pasti akan marah lagi.

Sena ingin memintanya menandatangani surat perceraian, jadi sebaiknya jangan menyinggungnya.

Jadi, Sena menerima hadiah itu tanpa berkata apa-apa.

Ponsel Erik tiba-tiba berdering, Sena tanpa sengaja melirik layar dan melihat kalau Yuki yang meneleponnya.

Erik melirik Sena, lalu mengeluarkan headphone dari laci dan memakainya.

Dia menekan tombol jawab, senyuman segera muncul di wajahnya yang dingin.

Nada bicaranya pun menjadi lebih lembut, tidak acuh tak acuh seperti saat menghadapi Sena.

Sena menyerahkan surat perceraian, "Tanda tangani."

Erik menandatanganinya tanpa melihat.

Kemudian dia melanjutkan obrolan di telepon dengan Yuki sambil tersenyum di wajahnya.

Sena mengerutkan kening, dia ragu sejenak lalu berkata, "... Apa kamu tidak perlu melihatnya?"

"Tidak perlu." Erik berkata dengan tidak sabar, "Bukankah ini tentang mengundang ahli dari luar negeri untuk merawat ibumu? Kamu bisa mengurusnya sendiri. Kalau ada dokumen yang perlu ditandatangani, berikan saja pada Rudy dan suruh dia berikan padaku. Kalau tidak ada urusan penting, jangan selalu meneleponku. Terakhir kali kamu terus meneleponku, membuatku melewatkan beberapa panggilan penting."

Bab 5

Ibu Sena telah meninggal seminggu yang lalu.

Ibunya menderita kanker otak stadium lanjut. Meskipun Erik mengatur agar dia dirawat di rumah sakit terbaik dalam negeri, kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari.

Saat-saat dia sadar semakin pendek. Sering kali, ibunya bahkan tidak bisa mengenali siapa Sena.

Dokter yang merawatnya mengatakan kalau pembedahan harus segera dilakukan dan tidak bisa ditunda lagi. Kalau tidak, ibunya Sena mungkin sulit untuk bertahan hidup lebih dari seminggu.

Sena tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi dia menelepon Erik untuk meminta sarannya.

Sena menelepon tiga kali berturut-turut, tetapi panggilannya selalu ditutup. Saat mengangkat panggilan, Erik malah memarahinya, "Kenapa kamu meneleponku? Aku sedang sibuk, jangan buat masalah!"

Dokter yang merawatnya tahu kalau Sena adalah Nyonya Muda dari Keluarga Rosli, jadi dia menyarankan agar Erik mengundang ahli dari luar negeri dan melakukan konsultasi medis dengan ahli dalam negeri. Dengan cara ini, tingkat keberhasilan operasi ibunya Sena akan lebih tinggi.

Sena mengucapkan terima kasih kepada dokter, lalu mengambil ponselnya, duduk menunggu di koridor rumah sakit, akhirnya tiba di pukul enam malam.

Ini waktu biasanya Erik pulang kerja.

Sena mengumpulkan keberanian dan menghubungi Erik lagi.

Erik tidak menjawab, jadi Sena mengira dia sedang lembur. Tidak masalah, dia bisa menunggu lagi.

Kali ini Sena menunggu sedikit lebih lama, dia menelepon pada pukul dua belas, tetapi panggilan tidak terhubung.

Sena tertegun sejenak, lalu menyadari kalau dia telah diblokir oleh Erik.

Selama seminggu berikutnya, Erik tidak pulang ke rumah. Panggilan telepon tidak bisa dihubungi, Erik juga tidak membalas pesan. Ibunya Sena tertunda dan kehilangan waktu terbaik untuk operasi...

'Apakah Erik sesibuk itu?'

'Kenapa Erik yang begitu sibuk masih sempat memilih hadiah dan memesan kue ulang tahun untuk Yuki?'

Tidak sanggup memikirkannya lagi, Sena putuskan untuk memejamkan matanya, dia menahan tangannya yang gemetar, lalu mengambil surat perceraian, berbalik dan meninggalkan ruang kerja.

Siang harinya, Mbak Nur menyiapkan banyak hidangan lezat, tetapi Iren yang baru datang segera mencari masalah bahkan sebelum dia duduk.

"Sena, bukankah sebelumnya kamu selalu masak? Kenapa kamu tidak masak hari ini?" Iren sengaja bertanya, "Apa karena Kak Yuki pindah ke sini, kamu merasa dirimu begitu mulia hingga tidak mau masak untuknya?"

Mendengar ini, wajah Erik tampak menjadi suram. Dia menatap Sena dengan dingin sambil menunggu jawabannya.

Sungguh ironis kalau memikirkannya. Sebagai istrinya, Sena bahkan tidak punya hak untuk menolak memasak untuk wanita idamannya...

"Semua masakan yang aku kuasai cukup pedas." Sena menunduk dan berkata, "Selera Nona Yuki lebih tawar, aku khawatir dia tidak terbiasa."

"Bukannya bisa memasak tanpa cabai?" Iren masih tidak puas.

"Iren, jangan begini. Sena adalah kakak iparmu, kamu harus menghormatinya." Yuki ikut campur untuk menenangkan suasana, "Dan menurutku masakan Mbak Nur juga enak banget..."

Di tengah-tengah perkataannya, Yuki tiba-tiba mengerutkan kening, lalu menekan perutnya dan menunjukkan ekspresi kesakitan.

"Yuki, ada apa denganmu?" Erik terkejut dan bergegas untuk memapah Yuki.

"Erik, perutku sakit banget." Wajah Yuki pucat, dia terjatuh dalam pelukan Erik, ekspresinya lemas tapi cantik.

Erik mengerutkan kening, "Kenapa mendadak sakit perut?"

Iren yang berdiri di samping malah menunjukkan ekspresi menemukan sesuatu. Dia menunjuk Sena sambil berkata, "Ah! Aku tahu! Pantas saja kamu menolak untuk memasak, ternyata kamu mau meracuni Kak Yuki. Kamu merasa bersalah, jadi sengaja tidak masuk dapur!"

Bab 6

Penuduhan ini muncul begitu saja, Sena pun merasa tidak berdaya, "Aku tidak ke dapur seharian, bagaimana mungkin aku punya kesempatan untuk meracuni Nona Yuki?"

"Kamu tidak masuk ke dapur, bukan berarti kamu tidak bisa menyuap orang-orang di dapur untuk meracuni Kak Yuki." Iren mencibir, "Saat datang ke sini pagi tadi, aku kebetulan melihatmu dan Mbak Nur sedang menyelinap di taman. Entah apa yang sedang kalian rencanakan secara diam-diam... Sekarang kupikir-pikir, ternyata kalian sedang membahas tentang bagaimana meracuni Kak Yuki, 'kan?"

"Astaga! Nona Iren, jangan asal omong." Mbak Nur berkata, "Aku hanya seorang pelayan, bagaimana mungkin berani meracuni seseorang?"

"Lalu apa yang kalian bicarakan di taman pagi ini?" tanya Iren bersikeras.

"Aku…" Mbak Nur melirik Sena secara diam-diam, dia tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Erik dan Yuki ada di sini, bagaimana dia bisa mengulangi perkataan pagi ini di hadapan mereka?

"Kamu tidak bisa jawab, 'kan? Ternyata benar, ada masalah di antara kalian!" Iren berkata dengan bangga, "Kak Yuki, haruskah aku melapor polisi untukmu? Menaruh racun dalam makanan, itu sama saja dengan melakukan pembunuhan!"

Ketika mendengar mau melapor polisi, ekspresi Iren langsung menjadi lebih menyakitkan. Dia memegang tangan Erik dan berteriak, "Erik, sakit banget! Apa aku akan mati? Aku takut banget..."

Melihat Yuki kesakitan, Erik tidak peduli dengan hal lain. Dia menggendong Yuki dan bergegas ke luar, "Siapkan mobil! Segera pergi ke rumah sakit!"

Sebelum pergi, dia memelototi Sena dan berkata, "Aku akan menghajarmu saat aku kembali!"

Mbak Nur, yang sudah berusia lima puluhan, menangis terisak karena ketakutan, "Nyonya Muda, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak meracuni Nona Yuki, aku benaran tidak melakukannya."

"Aku ke sini untuk bekerja dan mendapatkan uang pensiunan, tidak mungkin aku melakukan kejahatan!"

Sena tahu bukan Mbak Nur yang melakukannya.

Namun, orang yang memasak itu Mbak Nur, kalau Mbak Nur tidak menuduh orang lain, Erik tidak akan melepaskannnya.

"Nanti Erik pulang, kalau dia menginterogasimu, katakan saja aku yang memerintahkanmu." Sena berkata dengan tenang, "Tidak apa-apa, jangan takut, tolak saja semua kesalahan padaku."

"Mana boleh?" Mbak Nur berkata dengan cemas, "Nyonya, kita jelas tidak melakukan apa-apa, kita tidak boleh mengakuinya!"

Sena tersenyum tak berdaya, dia telah memahami segalanya akhir-akhir ini. Tak peduli apakah dia mengakuinya atau tidak, Erik telah menganggap Sena sebagai pelakunya. Baik dia mengakuinya atau tidak, hasilnya akan sama saja.

Kalau begini, lebih baik mengorbankan dirinya, agar Mbak Nur tidak terlibat.

"Lakukan saja sesuai perkataanku." Nada bicara Sena sangat tegas, "Jangan khawatir, aku punya rencana, aku tidak akan terjadi apa-apa."

Setelah menghabiskan sepanjang malam di rumah sakit, Erik akhirnya mengantar Yuki kembali di pagi hari.

Begitu kembali, Erik mulai menyalahkannya, "Sena, kamu cukup pintar. Kamu tahu kalau Yuki alergi kacang, kamu menggiling kacang menjadi bubuk dan taburkan ke dalam buburnya... Apa kamu tahu kalau aku telat mengantarnya ke rumah sakit, Yuki pasti sudah meninggal!"

"Mbak Nur sudah mengakui kalau kamu yang memerintahkannya. Apa lagi yang ingin kamu katakan? Aku akan memberimu kesempatan, ayo katakan kenapa kamu melakukan ini?!"

Sena mengangkat kepalanya dan melirik Yuki dengan acuh tak acuh.

Wajah Yuki pucat, dia berbaring di ranjang dan berkata dengan lemah, "Sena, aku tidak percaya kamu akan menyakitiku. Kamu pasti punya alasan, 'kan?"

Sena tersenyum lembut, dia menatap langsung ke tatapan Yuki dan berkata dengan tenang, "Terima kasih atas kepercayaanmu, aku memang tidak menyakitimu. Aku juga tidak tahu kenapa Mbak Nur menuduhku... Bagaimana kalau melapor polisi dan meminta mereka untuk menyelidikinya. Kata-kataku tidak bisa dipercaya, tetapi hasil penyelidikan polisi harusnya bisa dipercaya."

Ambil Kembali Hatiku

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya