Bab 1
Ibunya meninggal pada hari ulang tahun Sena, tapi suaminya tidak merayakan ulang tahunnya dan tidak menghadiri pemakaman ibunya...
Dia pergi menjemput wanita idamannya di bandara.
Setelah meletakkan guci ibunya, Sena Marlim menerima panggilan telepon dari bibinya.
"Sena, ibumu telah meninggal, aku benaran khawatir kamu tinggal sendirian di sana. Bagaimana kalau kamu datang tinggal bersama bibi?"
Sena terdiam cukup lama, seolah telah membuat keputusan besar. Kemudian, dia menjawab dengan serius, "Baiklah."
"Benarkah? Aku senang sekali kamu mau datang!" Suara bibi di dalam telepon terdengar penuh kegembiraan, "Tapi, kudengar kamu sudah menikah, apakah suamimu bersedia tinggal di luar negeri bersamamu?"
Sena tersenyum ketika mendengar ini, "Jangan khawatir, kami akan segera bercerai."
Sebelum menutup telepon, tiba-tiba terdengar suara di luar pintu.
Erik Rosli pulang.
Sena melirik ke pintu, tapi dia tidak keluar untuk menyambut mereka seperti biasanya.
Pada saat ini, adiknya Erik, Iren Rosli masuk. Dia berkata dengan bangga, "Kakakku membawa Kak Yuki pulang. Kamu, si Tiruan, bakal segera diusir."
Sena mengerutkan kening, "... Tiruan?"
Ekspresi Iren menjadi semakin bangga, "Kamu akan mengerti setelah bertemu Kak Yuki."
Begitu dia selesai berbicara, Erik masuk bersama Yuki.
Sopir masuk mengikuti mereka sambil membawa banyak barang bawaan.
Yuki memegang buket besar bunga mawar di tangannya. Mawar merah itu begitu menyilaukan, hingga mata Sena berlinang tak terkendali.
Ternyata Erik masih sempat membelikannya mawar.
Selama lima tahun menikah, Erik tidak pernah memberinya bunga.
"Yuki baru saja pulang dan belum menemukan tempat tinggal, dia akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu." Erik bahkan tidak memandang Sena. Saat berbicara, matanya selalu tertuju pada Yuki, "Segera mengemas kamar tamu di sebelah kamarku, Yuki akan tinggal di sana."
Nada yang diucapkan Erik bukanlah nada negosiasi, melainkan nada perintah.
Seolah-olah mereka bukan suami istri dan Sena hanya seorang pelayan di keluarga ini. Ketika seseorang ingin tinggal di sini, tidak perlu meminta persetujuannya dan dia malah harus mengemas kamar tamu.
"Erik, aku bisa mengemas sendiri, tidak perlu merepotkan Sena." Yuki mengangkat kepalanya, akhirnya Sena melihat wajahnya.
Sena tercengang, seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak.
Pada saat ini, Sena akhirnya mengerti kata tiruan yang diucapkan Iren.
Yuki memiliki wajah yang mirip sama Sena.
Namun, Sena lebih cantik dan memiliki temperamen yang lembut, sedangkan Yuki memperlihatkan kesombongan seorang putri yang dimanjakan langit.
Ternyata begitu...
Sena tiba-tiba tersenyum, dia tersenyum sambil menyeka air mata dari sudut matanya. Ternyata begini, akhirnya dia mengerti.
Dia emang selalu kurang beruntung, Tuhan tidak pernah baik padanya. Bahkan ibu kandungnya pun meninggal pada hari ulang tahunnya.
Jadi dia tahu dirinya yang kurang beruntung itu, bagaimana bisa seberuntung itu? Baru sekali bertemu, langsung berhasil menikahi pangeran dari keluarga kaya...
Ternyata begitu...
Akhirnya semuanya masuk akal.
Ternyata dia hanya seorang pengganti.
"Kok malah menangis? Apa perlu? Kak Yuki hanya tinggal selama dua hari, apa pantas untuk menangis? Sena, kamu terlalu pelit, bukan?" cibir Iren.
Sena segera menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak ada hubungan dengan Nona Yuki..."
Namun, sebelum Sena sempat menyelesaikan kata-katanya, mata Yuki sudah berkaca-kaca, "Lupakan saja, lebih baik aku pergi saja, aku tidak ingin memengaruhi hubungan kalian."
Wajah Erik langsung dipenuhi kesuraman.
"Kamu tidak harus pergi." Erik menghentikan Yuki, lalu berkata dengan tegas, "Aku yang mengambil keputusan akhir dalam keluarga ini! Pak Usman, bawakan barang bawaan ini!"
Sopir itu mendongak, lalu melirik Sena dengan gelisah dan tidak bergerak.
Erik juga menoleh Sena.
"Apa kamu keberatan?" tanya Erik.
Bahkan ada sedikit nada mengancam dalam suaranya.
Sena terus menggelengkan kepalanya, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, "Aku tidak keberatan, aku senang Nona Yuki bisa tinggal di sini."
Dia tentu tidak keberatan.
Seseorang yang akan segera pergi, bagaimana mungkin keberatan?
Dia bakal pergi dengan anggun dan tidak pernah kembali lagi selamanya.
Bab 2
Erik menatap Sena dengan dingin, lalu tiba-tiba mencibir, "Kalau tidak keberatan, kamu bisa bantu Pak Usman membawa barang bawaan Yuki ke atas."
Mungkin karena merasa dirinya dipermalukan di depan wanita idamannya, Erik sengaja mempermalukan Sena.
Wajah Sena menjadi pucat, tetapi dia segera tersenyum lagi, "Oke."
Lalu, Sena berbalik dan mulai mengangkat barang bawaannya bersama Pak Usman.
Sena sangat patuh dan penurut, Erik seharusnya merasa puas. Namun, entah kenapa Erik merasa jengkel ketika melihatnya membawa barang bawaannya ke atas dengan begitu wajar.
Kamar segera siap dikemas, Sena hendak turun, tapi Yuki kebetulan masuk.
"Sena, terima kasih sudah mengizinkanku tinggal di sini." Yuki meraih tangan Sena, lalu mengerutkan kening dan berkata dengan kasihan, "Tanpa kamu dan Erik, aku benaran tidak tahu harus ke mana."
Yuki mengangkat punggung tangannya ke atas, mata Sena disinari cahaya yang menyilaukan.
Sena melihat cincin di jari manis Yuki persis sama dengan cincin tunangannya.
Tidak, lebih tepatnya, keduanya tidak sama persis. Berlian pada cincin Yuki lebih besar, lebih cemerlang dan berkilau.
Kalau dibandingkan, cincin tunangan Sena tampak seperti tiruan murahan.
Meskipun sudah bertekad untuk pergi, hati Sena masih merasakan sakit yang tak terkendali.
Ternyata cincin tunangannya juga merupakan tiruan murahan.
Pengganti dan tiruan... bagus sekali!
Bel pintu tiba-tiba berbunyi, seorang kurir mengantarkan kue besar.
"Wah! Siapa yang pesan kue itu?" Iren berseru, "Kak, apakah kamu pesan kue untuk Kak Yuki?"
"Ulang tahun Yuki minggu depan." Erik menjawab tanpa mendongak, "Tapi, aku memang sudah pesan kue untuknya, apakah toko kue salah mengingat waktu?"
Ketika semua orang merasa bingung, si kurir tiba-tiba berteriak, "Permisi, apakah Sena ada di sini? Penerimanya adalah Sena, kue ini dari bibimu. Bibimu tahu kalau kamu sedang mengalami masa sulit, tetapi dia tidak ingin kamu tenggelam dalam kesedihan, dia senang kamu datang ke dunia ini. Selamat ulang tahun untukmu!"
Ruang tamu tiba-tiba menjadi sunyi, semua orang menoleh ke Sena.
Erik jarang menunjukkan ekspresi bersalah, dia berkata dengan canggung, "... Hari ini ulang tahunmu, kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Ulang tahun Yuki minggu depan, Erik sudah memesan hadiah dan kue.
Namun, dia melupakan ulang tahun Sena.
Benar juga, dia hanya seorang pengganti, kenapa repot-repot mengingat semua ini?
"Ternyata hari ini ulang tahunku, aku sendiri pun lupa," kata Sena tenang, meredakan kecanggungan. "Aku tidak menyangka Bibi masih mengingatnya, aku harus meneleponnya nanti untuk mengucapkan terima kasih."
Sekalian mendesak kemajuan kepergiannya ke luar negeri, karena dia ingin pergi lebih awal.
"Erik, kamu sungguh keterlaluan, bagaimana kamu bisa melupakan ulang tahun istrimu?" Nada bicara Yuki terdengar menyalahkan, tetapi juga seperti bertingkah genit, "Sena, jangan marah... Oh ya, saat aku tiba tadi, Erik memberiku hadiah kalung berlian yang sangat indah."
"Bagaimana kalau aku jadiin kalung ini sebagai hadiah ulang tahun Erik untukmu!"
Yuki melepas kalung berlian dari lehernya dan menyerahkannya kepada Sena sambil tersenyum, "Sena, selamat ulang tahun!"
Bab 3
Kalung itu sangat indah, dengan berlian merah langka yang bertahtakan platinum berbentuk hati, melambangkan cinta yang tak tergantikan.
Sayang sekali cinta yang tak tergantikan ini bukan untuknya.
"Tidak, terima kasih." Sena menggelengkan kepalanya dan menolak sambil tersenyum, "Ini hadiah dari Erik, bagaimana aku bisa merampasnya?"
Sena tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.
Sena tidak menginginkan kalung itu, begitu juga dengan pria... yang memberikan kalung tersebut!
"Ngapain kamu bertingkah aneh?" Erik tiba-tiba marah, "Aku memang sibuk dalam pekerjaan dan melupakan ulang tahunmu. Haruskah kamu bertingkah seperti itu?"
Sena tidak mengerti apa salahnya.
Dia selalu tersenyum dan berbicara dengan sopan tanpa membuat masalah... Kenapa Erik masih belum puas?
"Aku tidak bertingkah aneh." Sena menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi lelahnya, "Erik, apa yang kamu inginkan dariku? Terima kalung itu? Kalau begitu, aku akan menerimanya."
Sena berkata sambil mengambil kalung tersebut, lalu mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yuki, "Nona Yuki, terima kasih atas hadiahmu."
Sebagai pengganti, Sena merasa dirinya telah berperilaku baik, kooperatif dan cukup menghargai Erik.
Namun, entah kenapa, setelah Sena mengambil kalung itu, Erik malah menjadi semakin marah, "Sena, kamu benaran tidak masuk akal!"
Selesai berkata, Erik membanting pintu dan pergi.
Tidak peduli Sena terima atau tidak, Erik tetap marah padanya.
Kemudian Sena mengerti bahwa tak peduli apa pun yang dia lakukan, Erik tidak akan puas.
Orang yang disayangi tidak akan bersalah, sedangkan orang yang tidak disayangi pasti selalu berbuat salah.
Kue ulang tahun yang diberikan Bibi sangat besar, tetapi tidak ada seorang pun yang makan bersamanya. Sena tidak ingin menyia-nyiakan kebaikan bibinya, jadi dia memaksa diri untuk menghabiskan kue lima tingkat itu sendirian.
Setelah makan, Sena merasa kekenyangan dan muntah lumayan lama di toilet.
Sena terjatuh di lantai toilet, dia merasa konyol dan menangis sambil tertawa tanpa bersuara. Saat kecil, Sena tidak punya uang dan tidak sanggup membeli kue ulang tahun. Dia hanya bisa berdiri, sambil menatap kue-kue di dalam toko kue melalui kaca. Sekarang akhirnya dia memiliki kue yang tidak habis dimakan, tetapi dia malah memakannya hingga sakit perut dan ingin muntah...
Terkadang sesuatu harus didapatkan tepat pada saatnya.
Malam harinya, Sena mengemasi barang-barangnya dan pindah dari kamar utama.
Wanita idaman yang aslinya telah kembali, Sena sebagai penggantinya harus lebih sadar diri dan tidak boleh tidur bersama Erik lagi, agar tidak menyinggung perasaannya.
Saat sedang memindahkan barang, Yuki kebetulan bergegas keluar dari kamar sebelah. Dia mengenakan suspender yang sangat pendek dan hampir tidak menutupi apa pun, memperlihatkan bahunya yang seksi dan kakinya yang ramping.
"Sena, jangan salah paham. Bukannya Erik tidak mau kembali ke kamar tidur utama untuk menemanimu, dia hanya masih marah." Yuki berkata dengan lembut, "Jangan khawatir, kami tidak melakukan apa pun, kami hanya bermain poker."
Sena tersenyum lembut, "Kamu tidak perlu jelaskan padaku."
'Terserah kalian lakukan atau tidak, surat perceraian telah disiapkan. Aku bakal menemukan kesempatan untuk meminta Erik menandatanganinya besok.'
"Sena, kamu benaran salah paham." Yuki menggigit bibirnya, tampak sedih, "Aku dan Erik..."
Sebelum Yuki sempat melanjutkan, Sena menyelanya sambil tersenyum, "Aku tahu kalau kamu dan Erik kenal sejak kecil dan memiliki hubungan yang sangat baik. Sekarang kamu pulang, kalian sudah lama tidak bertemu, pasti punya banyak hal yang mau dibicarakan."
"Jadi kalian bisa mengobrol sepuasnya, aku tidak akan mengganggu kalian."
Selesai berkata, Sena berbalik dan pergi.
Hanya tersisa Yuki berdiri di sana, menatap Sena dengan penuh makna.