Bab 2
Aku pun panik. Aku mencoba mendesaknya dengan lirih, "Stephen ...."
Stephen mengernyit dan akhirnya bergerak. Aku merasa lega.
Tiba-tiba, terdengar suara sedih seorang wanita. "Stephen, siapa dia? Kamu mau menikahi wanita lain?"
Seketika, ekspresi Stephen membeku. Tangannya yang memegang cincin bergetar. Cincin akhirnya terjatuh dan menimbulkan dentingan nyaring.
Aku dan Stephen sama-sama menoleh untuk menatap wanita itu. Wanita itu tidak lain adalah cinta pertama Stephen, Maggie. Dia telah kembali.
Asal tahu saja, hingga sekarang foto Maggie masih digantung di atas ranjang Stephen.
"Maggie, kamu sudah kembali? Apa ini mimpi?" tanya Stephen.
Maggie menatapku, lalu menatap Stephen. Dia berkata dengan tegas, "Kalau kamu menikahi wanita ini, aku bakal pergi untuk selamanya."
Mata Maggie berkaca-kaca. "Apa kamu tahu betapa menderitanya aku? Aku akhirnya pulih dari amnesiaku dan kembali. Kamu nggak merindukanku selama aku hilang?"
Tanpa ragu sedikit pun, Stephen langsung mengempaskan tanganku dan menghampirinya. Aku pun menghentikan. "Stephen, hari ini acara tunangan kita. Apa kita bisa menyelesaikannya dulu?"
Tanpa menoleh, Stephen menyahut, "Audrey, kamu seharusnya tahu kamu cuma wanita pengganti. Aku bakal memberimu kompensasi. Yang jelas, acara tunangan hari ini nggak bisa dilanjutkan lagi."
Aku menggenggam pergelangan tangan Stephen dengan keras kepala. "Tapi, aku hamil ...."
Stephen menoleh. Yang terlihat di sorot matanya bukan kegembiraan, melainkan ketidakpedulian. "Kok bisa? Bukannya aku suruh kamu makan pil kontrasepsi?"
Seketika, keberanian yang telah kukumpulkan hancur begitu saja. Dengan mata memerah, aku menjelaskan, "Waktu itu kamu mabuk berat. Aku nggak sempat makan."
Stephen terkekeh-kekeh dan menekan daguku. "Kenapa? Kamu begitu menginginkan posisi ini ya? Kamu sampai mulai bohong."
Tatapan Stephen kepadaku dipenuhi kebencian. Dia meneruskan, "Aku nggak pernah tahu kamu sematre ini. Katakan saja mau berapa. Yang jelas acara tunangan dibatalkan."
Stephen menarik dasinya dengan kesal. Aku memohon, "Gimana kalau aku bilang caramu ini bakal membunuhku?"
Stephen menatapku dengan dingin, seolah-olah tidak pernah mengenalku. "Kalau begitu, kamu mati saja."
Usai mengatakan itu, Stephen langsung berlari ke arah Maggie dan memeluknya. Aku bisa melihat provokasi pada tatapan wanita itu. Dia seperti mentertawakan tiga tahunku yang terbuang sia-sia.
Aku sontak terduduk lemas di lantai. Aku hanya bisa menyaksikan orang-orang memberi ucapan selamat kepada mereka. Orang-orang mengatakan mereka serasi dan ditakdirkan untuk bersama.
Aku bertanya kepada sistem, "Bukannya dia sudah menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan dunia ini? Kenapa tiba-tiba kembali?"
Aku tahu Maggie punya misi. Kami sama. Hanya saja, misiku lebih sulit karena Stephen dan Maggie adalah teman masa kecil, bahkan Maggie adalah cinta pertama Stephen.
Kini, misiku gagal.
Bab 3
Aku seharusnya dibunuh karena gagal menjalankan misi. Namun, karena kemunculan mendadak Maggie, aku diberi kesempatan lagi oleh sistem.
Aku belum mencari Maggie, tetapi wanita ini sudah mencariku. Kami bertemu di sebuah kafe. Ini adalah kafe yang sering didatangi Stephen dan Maggie. Di sini, mereka berciuman layaknya tidak ada siapa pun di sekitar.
Di sini juga, Maggie dilamar Stephen. Jelas sekali, wanita ini ingin menunjukkan posisinya kepadaku.
Sebenarnya Maggie cantik. Matanya yang bulat membuatnya terlihat seperti anak kucing yang lugu. Pantas saja, Stephen tidak bisa melupakannya.
"Kenapa kamu belum mati?" tanya Maggie sambil melipat lengannya di depan dada.
Aku bertanya balik, "Misimu sudah selesai. Kenapa malah kembali? Jangan-jangan kamu jatuh cinta benaran pada Stephen?"
Sorot mata Maggie berubah untuk sesaat. Kemudian, dia terkekeh-kekeh. "Mana mungkin aku jatuh cinta pada tokoh dalam cerita."
"Kalau begitu, ngapain kamu kembali?"
Maggie tertawa jahat, tidak sesuai dengan penampilannya yang terlihat lugu. "Aku cuma nggak suka mangsaku diincar orang lain. Kalaupun aku mati, dia hanya boleh mencintaiku."
Ekspresiku tampak dingin. "Dia tersiksa setiap malam karena kamu. Entah berapa kali dia mencoba bunuh diri. Kalau nggak ada aku, dia mungkin sudah mati sejak awal. Sebenarnya apa posisinya di hatimu? Atas dasar apa kamu bicara begitu?"
Sekalipun Stephen hanya tokoh dalam cerita, dia tidak seharusnya dipermainkan seperti ini.
"Memangnya bisa apa lagi? Jangan-jangan, kamu menyukainya?" balas Maggie.
Aku mengamatinya dengan saksama, mencoba mencari emosi yang terluapkan. Kemudian, aku menjawab, "Ya, aku menyukainya."
Senyuman Maggie menjadi makin lebar. "Itu artinya, kamu kalah telak. Percaya atau nggak, aku bisa membuatnya menamparmu."
Tiba-tiba, Maggie menampar wajah sendiri. Saat berikutnya, Stephen muncul di depan pintu kafe. Maggie langsung berlari ke arah Stephen sambil menangis, lalu bersandar di pelukannya.
Wanita itu mengadu, "Aku cuma mengajaknya ketemu. Dia nggak mau dengar penjelasanku dan langsung menamparku. Maaf, aku nggak seharusnya kembali dan merebut posisinya."
Wajah Stephen menjadi suram. Dia berdiri di hadapanku. Tanpa menanyakan apa pun, dia sontak melayangkan tamparan ke wajah kananku. Tenaganya sangat besar. Wajahku terasa perih, bahkan telingaku berdengung.
"Audrey, jangan nggak tahu diri. Kamu cuma pengganti Maggie. Maggie sudah kembali, jadi kamu harus mundur. Masa nggak ngerti?"
Aku memegang wajahku. Air mata tak kuasa berlinang. Samar-samar, aku seperti melihat sosok itu.
Saat itu, sosok itu memelukku sambil menghiburku, "Jangan nangis lagi. Ini salahku. Aku nggak seharusnya meninggalkanmu sendiri di sana. Maaf. Kalau kamu nangis lagi, aku cuma bisa tampar wajahku sendiri supaya kamu nggak sedih lagi."
Seketika, aku tersadar. Stephen bukan pria itu. Tamparan ini telah mengenyahkan imajinasiku.
Aku bangkit dan menghampiri Maggie. Stephen segera menarik Maggie ke belakangnya, seolah-olah aku adalah binatang buas. Namun, musuhku bukan hanya Maggie.
Aku mengangkat tanganku dan menampar Stephen. Wajah Stephen sontak menyamping. Alisnya berkerut. Jas hitam yang dipakainya membuat wajahnya terlihat makin suram.
Namun, aku sama sekali tidak takut. Aku menatap matanya yang diliputi amarah sambil tersenyum sinis.
Bab 4
"Tadi kamu menamparku, sekarang aku menamparmu. Kita seri." Kemudian, aku menghampiri Maggie dan bertanya dengan tersenyum, "Apa seru merebut target orang?"
Tebersit kepanikan pada tatapan Maggie. Aku tidak memberinya kesempatan untuk mundur. Aku langsung menampar sisi lain wajahnya. Sebelum dia sempat menangis, aku berbalik dan hendak pergi.
Tiba-tiba, seseorang mendorongku dengan kuat. Perutku tidak sengaja membentur sudut meja. Rasanya sakit sekali. Aku memegang perutku dengan lemas dan berusaha untuk duduk.
Ketika menoleh, aku melihat Stephen menatapku dengan tatapan dingin dan berujar, "Kamu boleh memukulku. Tapi, kamu bakal mati kalau berani memukul Maggie."
Aku pun tersenyum sinis. "Terima kasih, aku nggak perlu repot-repot melakukan aborsi lagi. Selamat juga, kamu membunuh anakmu sendiri."
Bibir Stephen lantas memucat. Tubuhnya gemetaran. Sementara itu, aku kehilangan kesadaran. Hal terakhir yang kulihat adalah darah. Di telingaku, aku mendengar Stephen memanggil namaku.
....
Stephen sangat menyukai anak kecil. Sejak aku melakukan perjalanan dimensi ke dunia novel, aku mempelajari banyak hal tentangnya.
Aku melihat seperti apa hubungannya dengan Maggie. Stephen sering memeluk Maggie sambil membujuk, "Kelak kamu harus melahirkan banyak anak untukku. Anak laki-laki akan tampan dan tenang sepertiku, anak perempuan akan cantik dan imut sepertimu. Paling sedikit, kita harus punya tiga atau empat anak!"
Sistem juga pernah bertanya kepada Maggie, "Misi berhasil. Stephen telah jatuh cinta padamu. Kamu bisa memilih untuk tinggal atau pergi. Apa pun keputusanmu, hadiah telah dikirim ke akunmu."
Maggie malah menyahut, "Mana mungkin aku jatuh cinta pada tokoh dalam novel. Aku nggak bakal melakukan hal sebodoh itu. Buang-buang waktuku saja."
Yang diinginkan Maggie hanya uang. Di matanya, perasaan Stephen hanya sesuatu yang bisa dipermainkan.
....
Aku siuman dan memandang langit-langit. Sebuah nyawa kecil menghilang begitu saja dari tubuhku, membuat hatiku terasa agak hampa.
Untungnya, tidak ada Stephen di sini. Aku langsung keluar dari rumah sakit tanpa memedulikan larangan dokter.
Aku membuka ponselku, lalu mendapati Stephen mentransfer uang untukku. Seharusnya itu adalah kompensasi darinya. Aku mengembalikan uang itu kepadanya.
Kemudian, aku naik taksi ke pinggir laut. Di tengah angin sepoi, aku mengirim pesan suara kepada Stephen. Itu adalah rekaman saat aku dan Maggie mengobrol di kafe. Hanya saja, aku memotongnya sedikit.
Aku juga mengiriminya video. Itu adalah rekaman saat Maggie mencari orang untuk menculiknya. Orang itu merekamnya supaya ada bukti bahwa semua ini adalah rencana Maggie.
Maggie mengira aku adalah pemula. Sayangnya, dia tidak tahu pengalamanku jauh lebih banyak darinya. Entah sudah berapa kali aku melintasi dimensi. Aku jauh lebih memahami pria darinya, bahkan lebih pintar memanfaatkan serta menciptakan peluang.
Kadang, pria tidak bisa membedakan cinta dan hasrat. Bagi mereka, kehilangan sesuatu yang telah lama dimiliki adalah pukulan yang sangat fatal.
Mulai hari ini, aku akan menghilang dari hidup Stephen. Aku langsung memblokir kontak Stephen.
Dulu Maggie adalah cinta sejati Stephen, tetapi sebentar lagi posisinya akan tergantikan. Bagaimanapun, manusia lebih menyukai sesuatu yang tidak bisa didapatkannya.