Bab 1
Aku tahu Stephen tidak mencintaiku.
Dia menikahiku karena aku membantunya menghalangi tikaman pisau.
Stephen yang membatalkan pernikahan karena cinta pertamanya kembali.
Namun, dia juga yang menggila saat tahu aku menggugurkan kandungan dan pergi.
Tuan muda terkaya di ibu kota, Stephen, punya cinta pertama. Nahasnya, wanita bernama Maggie itu telah meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan mobil.
Mobilnya jatuh ke dalam laut. Jenazahnya tidak ditemukan sampai sekarang.
Pada hari yang sama, aku bertemu Stephen. Patut diketahui bahwa wajahku mirip dengan wajah Maggie.
Aku tahu Stephen tidak mencintaiku. Entah berapa banyak hal konyol yang pernah kulakukan untuk pria ini.
Aku yang awalnya tidak minum alkohol, menjadi minum banyak. Aku muntah tanpa henti di ruang privatnya. Namun, dia sama sekali tidak peduli dan malah mengusirku. Dia merasa malu teman-temannya mentertawakanku.
Kemudian, Stephen tiba-tiba menyukai olahraga ekstrem. Salah satunya adalah balap mobil. Aku tahu Stephen tidak akan mati dengan balap mobil, tetapi aku tetap merasa gugup untuknya.
Demi membuat Stephen senang, aku diam-diam belajar balap mobil supaya bisa bermain dengannya.
Ketika aku mengalahkannya, tebersit keterkejutan pada sorot matanya. Namun, itu hanya sesaat. Stephen tiba-tiba berkata dengan nada datar, "Jangan ikut-ikutan balap mobil. Maggie nggak suka olahraga semacam ini."
Aku langsung berhenti. Stephen hanya ingin aku menjadi Maggie. Aku berusaha mewujudkan setiap keinginannya.
Suatu kali, Stephen mabuk dan menindihku. Dia berucap, "Audrey, nggak ada wanita yang bersedia dianggap pengganti. Kecuali, kamu nggak mencintaiku."
Aku menatap mata Stephen yang suram dengan agak terpana, lalu menyahut, "Tapi, aku mencintaimu."
Stephen tidak tertarik padaku. Dia mencium bahuku. Gerakannya kasar dan terburu-buru. Dia tidak pernah mencium bibirku karena tidak ingin mengkhianati Maggie. Padahal, entah sudah berapa kali kami berhubungan intim.
Semua kerabat dan teman Stephen tidak menyukaiku, termasuk adik kandungnya, Alyssa. Menurut Alyssa, aku hanya pengganti rendahan yang tidak pantas dipanggil namanya. Makanya, dia selalu memanggilku dengan "hei". Padahal, sikap Alyssa terhadap pelayan tidak seburuk ini.
Suatu hari, Stephen mabuk dan menyinggung sekelompok preman. Salah satu preman hendak menikamnya dengan pisau. Untungnya, ada aku yang menghalangi.
Itu sebabnya, ada bekas luka sepanjang 5 sentimeter di perutku dan aku berkesempatan menjadi bagian dari Keluarga Perdana.
Ketika aku bangun, Stephen malah tidak ada di sisiku. Namun, aku menerima pesan darinya.
[ Ibuku menyuruhku cepat nikah. Setelah tahun baru, kita cari hari baik. ]
Seingatku, hari ketika Maggie meninggal, dia hendak memilih gaun pengantin, tetapi malah diculik. Ketika Stephen mengantar uang untuk penculik, mobil Maggie sudah ditenggelamkan di laut.
Maggie meninggal karena Stephen. Maggie adalah wanita yang sangat dicintai Stephen. Bagaimana mungkin Stephen bisa melupakannya? Makanya, dia tidak mencintaiku.
Pertunangan diadakan dengan sangat sederhana. Hanya ada beberapa teman dan Alyssa. Bahkan, orang tua Stephen yang sedang tamasya di luar negeri tidak pulang untuk menghadiri pertunangan anaknya.
Para tamu menatapku dengan tatapan merendahkan. Di mata mereka, aku cuma pencuri yang merebut posisi yang seharusnya adalah milik Maggie.
Di tengah acara, aku melihat keraguan Stephen. Dia mengeluarkan cincin pertunangan, tetapi tidak sanggup memakaikannya ke jariku.
Bab 2
Aku pun panik. Aku mencoba mendesaknya dengan lirih, "Stephen ...."
Stephen mengernyit dan akhirnya bergerak. Aku merasa lega.
Tiba-tiba, terdengar suara sedih seorang wanita. "Stephen, siapa dia? Kamu mau menikahi wanita lain?"
Seketika, ekspresi Stephen membeku. Tangannya yang memegang cincin bergetar. Cincin akhirnya terjatuh dan menimbulkan dentingan nyaring.
Aku dan Stephen sama-sama menoleh untuk menatap wanita itu. Wanita itu tidak lain adalah cinta pertama Stephen, Maggie. Dia telah kembali.
Asal tahu saja, hingga sekarang foto Maggie masih digantung di atas ranjang Stephen.
"Maggie, kamu sudah kembali? Apa ini mimpi?" tanya Stephen.
Maggie menatapku, lalu menatap Stephen. Dia berkata dengan tegas, "Kalau kamu menikahi wanita ini, aku bakal pergi untuk selamanya."
Mata Maggie berkaca-kaca. "Apa kamu tahu betapa menderitanya aku? Aku akhirnya pulih dari amnesiaku dan kembali. Kamu nggak merindukanku selama aku hilang?"
Tanpa ragu sedikit pun, Stephen langsung mengempaskan tanganku dan menghampirinya. Aku pun menghentikan. "Stephen, hari ini acara tunangan kita. Apa kita bisa menyelesaikannya dulu?"
Tanpa menoleh, Stephen menyahut, "Audrey, kamu seharusnya tahu kamu cuma wanita pengganti. Aku bakal memberimu kompensasi. Yang jelas, acara tunangan hari ini nggak bisa dilanjutkan lagi."
Aku menggenggam pergelangan tangan Stephen dengan keras kepala. "Tapi, aku hamil ...."
Stephen menoleh. Yang terlihat di sorot matanya bukan kegembiraan, melainkan ketidakpedulian. "Kok bisa? Bukannya aku suruh kamu makan pil kontrasepsi?"
Seketika, keberanian yang telah kukumpulkan hancur begitu saja. Dengan mata memerah, aku menjelaskan, "Waktu itu kamu mabuk berat. Aku nggak sempat makan."
Stephen terkekeh-kekeh dan menekan daguku. "Kenapa? Kamu begitu menginginkan posisi ini ya? Kamu sampai mulai bohong."
Tatapan Stephen kepadaku dipenuhi kebencian. Dia meneruskan, "Aku nggak pernah tahu kamu sematre ini. Katakan saja mau berapa. Yang jelas acara tunangan dibatalkan."
Stephen menarik dasinya dengan kesal. Aku memohon, "Gimana kalau aku bilang caramu ini bakal membunuhku?"
Stephen menatapku dengan dingin, seolah-olah tidak pernah mengenalku. "Kalau begitu, kamu mati saja."
Usai mengatakan itu, Stephen langsung berlari ke arah Maggie dan memeluknya. Aku bisa melihat provokasi pada tatapan wanita itu. Dia seperti mentertawakan tiga tahunku yang terbuang sia-sia.
Aku sontak terduduk lemas di lantai. Aku hanya bisa menyaksikan orang-orang memberi ucapan selamat kepada mereka. Orang-orang mengatakan mereka serasi dan ditakdirkan untuk bersama.
Aku bertanya kepada sistem, "Bukannya dia sudah menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan dunia ini? Kenapa tiba-tiba kembali?"
Aku tahu Maggie punya misi. Kami sama. Hanya saja, misiku lebih sulit karena Stephen dan Maggie adalah teman masa kecil, bahkan Maggie adalah cinta pertama Stephen.
Kini, misiku gagal.
Bab 3
Aku seharusnya dibunuh karena gagal menjalankan misi. Namun, karena kemunculan mendadak Maggie, aku diberi kesempatan lagi oleh sistem.
Aku belum mencari Maggie, tetapi wanita ini sudah mencariku. Kami bertemu di sebuah kafe. Ini adalah kafe yang sering didatangi Stephen dan Maggie. Di sini, mereka berciuman layaknya tidak ada siapa pun di sekitar.
Di sini juga, Maggie dilamar Stephen. Jelas sekali, wanita ini ingin menunjukkan posisinya kepadaku.
Sebenarnya Maggie cantik. Matanya yang bulat membuatnya terlihat seperti anak kucing yang lugu. Pantas saja, Stephen tidak bisa melupakannya.
"Kenapa kamu belum mati?" tanya Maggie sambil melipat lengannya di depan dada.
Aku bertanya balik, "Misimu sudah selesai. Kenapa malah kembali? Jangan-jangan kamu jatuh cinta benaran pada Stephen?"
Sorot mata Maggie berubah untuk sesaat. Kemudian, dia terkekeh-kekeh. "Mana mungkin aku jatuh cinta pada tokoh dalam cerita."
"Kalau begitu, ngapain kamu kembali?"
Maggie tertawa jahat, tidak sesuai dengan penampilannya yang terlihat lugu. "Aku cuma nggak suka mangsaku diincar orang lain. Kalaupun aku mati, dia hanya boleh mencintaiku."
Ekspresiku tampak dingin. "Dia tersiksa setiap malam karena kamu. Entah berapa kali dia mencoba bunuh diri. Kalau nggak ada aku, dia mungkin sudah mati sejak awal. Sebenarnya apa posisinya di hatimu? Atas dasar apa kamu bicara begitu?"
Sekalipun Stephen hanya tokoh dalam cerita, dia tidak seharusnya dipermainkan seperti ini.
"Memangnya bisa apa lagi? Jangan-jangan, kamu menyukainya?" balas Maggie.
Aku mengamatinya dengan saksama, mencoba mencari emosi yang terluapkan. Kemudian, aku menjawab, "Ya, aku menyukainya."
Senyuman Maggie menjadi makin lebar. "Itu artinya, kamu kalah telak. Percaya atau nggak, aku bisa membuatnya menamparmu."
Tiba-tiba, Maggie menampar wajah sendiri. Saat berikutnya, Stephen muncul di depan pintu kafe. Maggie langsung berlari ke arah Stephen sambil menangis, lalu bersandar di pelukannya.
Wanita itu mengadu, "Aku cuma mengajaknya ketemu. Dia nggak mau dengar penjelasanku dan langsung menamparku. Maaf, aku nggak seharusnya kembali dan merebut posisinya."
Wajah Stephen menjadi suram. Dia berdiri di hadapanku. Tanpa menanyakan apa pun, dia sontak melayangkan tamparan ke wajah kananku. Tenaganya sangat besar. Wajahku terasa perih, bahkan telingaku berdengung.
"Audrey, jangan nggak tahu diri. Kamu cuma pengganti Maggie. Maggie sudah kembali, jadi kamu harus mundur. Masa nggak ngerti?"
Aku memegang wajahku. Air mata tak kuasa berlinang. Samar-samar, aku seperti melihat sosok itu.
Saat itu, sosok itu memelukku sambil menghiburku, "Jangan nangis lagi. Ini salahku. Aku nggak seharusnya meninggalkanmu sendiri di sana. Maaf. Kalau kamu nangis lagi, aku cuma bisa tampar wajahku sendiri supaya kamu nggak sedih lagi."
Seketika, aku tersadar. Stephen bukan pria itu. Tamparan ini telah mengenyahkan imajinasiku.
Aku bangkit dan menghampiri Maggie. Stephen segera menarik Maggie ke belakangnya, seolah-olah aku adalah binatang buas. Namun, musuhku bukan hanya Maggie.
Aku mengangkat tanganku dan menampar Stephen. Wajah Stephen sontak menyamping. Alisnya berkerut. Jas hitam yang dipakainya membuat wajahnya terlihat makin suram.
Namun, aku sama sekali tidak takut. Aku menatap matanya yang diliputi amarah sambil tersenyum sinis.