Bab 2
Aldi adalah satu-satunya pewaris Keluarga Noran, jadi tentu saja teman-temanku menghormatinya dan menasihatiku, "Iya, Agnes, kamu 'kan sudah resmi menikah dengan Tuan Muda Aldi. Masa kamu khawatir Tuan Muda Aldi akan mengkhianatimu?"
"Iya, iya, menurutku Melinda juga cuma khawatir denganmu."
"Bukannya Melinda itu sahabat yang selalu kamu banggakan? Mana mungkin dia tega menyakitimu?"
"Kamu punya suami dan sahabat yang kaya. Kami semua saja iri padamu, jadi kamu juga harus berpuas hati."
Aku mengepalkan tanganku dan menggertakkan gigiku dengan kesal, tetapi aku menahan amarahku dan duduk kembali.
Melinda pun mengangkat alisnya ke arahku dengan bangga, lalu duduk di sebelahku dan dengan sengaja meletakkan tas kulitnya yang terbuat dari kulit buaya edisi terbatas di atas meja.
Begitu teman-temanku melihat tas itu, mereka langsung berseru dengan heboh, "Wah, Melinda! Ternyata kamu yang dapat tas ini!"
"Ya ampun! Tas ini cuma ada tiga buah di seluruh dunia dan salah satunya milik orang terkaya di kota ini. Jangan-jangan kamu ...."
Melinda mungkin tidak menyangka tas ini semahal itu, jadi dia langsung menyahut dengan sombong, "Ah, ini bukan apa-apa. Aku punya banyak tas seperti ini di rumah."
Rasanya aku mau tertawa terbahak-bahak.
Jelas-jelas tas ini milik ibuku, kenapa bisa-bisanya dia yang pakai?
Di kehidupan yang sebelumnya, Melinda mencuri perhiasan ibuku dan menyewakannya demi mendapatkan uang agar dia bisa terus berpura-pura menjadi seorang sosialita.
Seorang teman pun menatapku dengan curiga, lalu beralih ke Melinda. "Tapi, bukannya Keluarga Noran menikah dengan keluarga terkaya itu? Kalau kamu adalah putri dari keluarga terkaya itu, bukannya itu berarti Agnes ...."
Dia berhenti bicara sebentar, lalu bertanya lagi dengan suara pelan, "Apa benar gosip di luar yang mengatakan kalau Agnes cuma putri angkat dari keluarga terkaya itu?"
"Iya, iya, katanya keluarga itu mengadopsi putri sopir mereka sebagai bentuk balas budi!" timpal yang lain. "Katanya mereka memperlakukan putri angkat mereka seperti putri kandung. Sepertinya, yang dimaksud itu Agnes, ya."
"Demi balas budi, pernikahan putri kandung yang membahagiakan itu sampai direlakan. Wah, benar-benar nggak paham lagi."
"Ya ampun, apa sih yang mereka pikirkan? Masa iya mereka menikahkan putri angkat mereka? Itu sama saja merendahkan Keluarga Noran!"
"Menurutku, Melinda serasi sekali dengan Tuan Muda Aldi!"
Ekspresi Melinda sontak berubah. Bagaimanapun juga, Aldi dan aku melakukan pernikahan dadakan. Dia tidak tahu bahwa hubungan kami hanya sebatas kontrak.
Ekspresi Aldi juga langsung berubah menjadi lebih serius. Sudah pasti harga dirinya terpukul.
Aku pun mengeluarkan ponselku dan menelusuri sebuah aplikasi. "Hmm, sepertinya aku pernah banyak selebgram kota ini menggunakan tas ini ...."
Aku sengaja berhenti sejenak dan melihat ke arah Melinda. "Tapi, mereka semua mengaku sebagai putri dari keluarga yang kaya dan berkuasa itu .... Apa jangan-jangan kalian bergiliran menyewa tas ini?"
Wajah Melinda sontak menjadi pias. Dia menatapku seolah-olah ingin memakanku hidup-hidup.
Wajar saja. Aku yang dulu begitu bodoh sampai-sampai tidak akan mempermalukannya di depan umum seperti ini, tetapi juga berterima kasih padanya karena sudah "menguji" sifat pasanganku.
Saat teman-teman kami mulai menjadi ragu, Melinda pun menjadi marah dan mengambil gunting di meja depan. Dia menggunting-gunting tas itu sambil berseru, "Tas ini milikku! Kenapa kamu menuduhku? Nih, kamu nggak bisa komentar apa-apa kalau kugunting-gunting seperti ini, 'kan!"
Semua orang sontak terkesiap, tidak ada yang berani berbicara. Tas kulit buaya bernilai miliaran itu hancur berkeping-keping.
Aku pun mendecakkan lidahku sambil berujar mengejek, "Wah, guntinganmu rapi sekali. Kamu sudah memikirkan cara untuk memberi tahu ibuku?"
Melinda sontak menjadi panik, gunting yang dia pegang pun terjatuh dan melukai tangannya.
Melinda sontak menjerit dengan kesakitan, darah mengucur keluar.
Dia langsung menangis dengan tersedu-sedu sambil menatapku dengan sedih. "Sudah puas kamu, Agnes?"
Aldi buru-buru memegang tangan Melinda dan mengisap darah yang mengucur, lalu membalutnya dengan tisu dan mengajak Melinda keluar. "Ayo ke rumah sakit."
Namun, aku hanya duduk diam. Aldi pun berujar dengan marah, "Agnes, Melinda bukan cuma sahabatmu, tapi juga adikmu! Tega-teganya kamu begini kepadanya?"
"Kamu adalah istriku sekarang, jadi aku melakukan ini demi reputasi Keluarga Noran! Aku akan memberi tahu ayahku soal ini! Kamu renungkan perbuatanmu baik-baik!"
Bab 3
Aku berjalan keluar dengan santai, sementara Aldi membantu Melinda naik ke kursi di samping sopir.
Setelah itu, Aldi langsung menginjak pedal gas dan melaju pergi bahkan tanpa melirik ke arahku.
Aku berjalan mengelilingi mal untuk membunuh waktu, lalu pulang ke rumah Keluarga Noran.
Begitu aku pulang, aku langsung melihat Melinda yang sedang duduk di sofa di ruang tamu. Ekspresinya terlihat gembira.
Saat melihatku pulang, dia pun memijat pelipisnya sambil berkata, "Agnes, Kak Aldi mengundangku untuk tinggal sebentar di sini sampai lukaku sembuh. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
Aku meletakkan barang yang kubawa dan bertanya dengan nada mengejek, "Kamu sudah nggak punya batas privasi, ya?"
"Agnes! Ngapain kamu di sini!" tegur Aldi dengan dingin. "Apa mungkin Melinda akan terluka kalau bukan karena kamu menakut-nakutinya?"
"Dia akan tinggal beberapa lama di sini untuk memulihkan diri! Kamu yang menyebabkan semua ini, jadi kamu juga yang harus merawatnya!"
Ah, aku mengerti. Aldi berharap aku, sang putri kandung dari keluarga kaya ini, melayani Melinda?
Aku pun mengambil tas tanganku lagi dan mulai berjalan keluar. "Oke, aku nggak akan mengganggu kalian. Aku pulang ke rumah orangtuaku saja."
"Kamu!" Aldi sontak terdiam. Melinda yang berdiri di belakangnya pun memasang ekspresi sedih seolah-olah aku mengasihaninya, lalu berkata dengan lembut, "Sudahlah, Agnes, ini juga bukan masalah besar. Aku nggak butuh permintaan maafmu."
"Kak Aldi itu pria baik-baik. Kuharap kamu bisa menyayanginya dengan sepenuh hati."
Ekspresi Aldi sontak terlihat lembut, ekspresi yang belum pernah kulihat semenjak kami menikah.
Dia memegangi tangan Melinda sambil memerintahkan kepala pelayan, "Bibi Alma! Tolong bersihkan kamar di lantai dua dan siapkan segala sesuatu yang Melinda inginkan!"
Setelah itu, dia menoleh ke arahku dan berkata dengan tidak sabar, "Kamu tunggu di sini! Aku akan membereskan semua ini denganmu ketika aku kembali!"
Aku refleks tertawa. "Oke, kutunggu di sini. Aku mau lihat siapa yang ingin menyelesaikan masalah dengan siapa."
"Kalau kamu sebegitunya mencintai putri sopirku, nanti kuminta orangtuaku untuk memberikannya kepadamu!"
Melinda sontak terhuyung, matanya tampak berkaca-kaca dan dia berkata dengan terisak, "Agnes, aku tahu kamu masih marah padaku. Tapi, aku begini karena aku benar-benar menganggapmu sebagai sahabat dan juga saudaraku."
"Kalaupun kamu nggak bisa memahamiku, kamu nggak seharusnya menuduhku begini ...."
Aku mungkin akan termakan tipu dayanya jika bukan karena terlahir kembali.
Aku pun bangkit berdiri dan menatap Aldi yang sedang melindungi Melinda dalam pelukannya, lalu berkata dengan nada mengejek, "Kamu bilang Aldi itu pria baik-baik? Bukannya dia lagi sibuk memelukmu sekarang? Masa iya kamu masih menganggapnya pria baik-baik?"
"Jangan-jangan yang kamu sebut bajingan itu hanyalah pria yang mau tidur denganmu seperti semua mantanku dulu?"
"Agnes!" Aldi menunjuk ke arahku dengan marah. "Melinda baru saja membuatku mendengar rekaman obrolan itu! Dia nggak ada hubungannya dengan mantanmu!"
"Dia hanya mengobrol santai saja, lalu menyadari kalau mereka menyimpan niat jahat! Dia justru berbaik hati mengingatkanmu!"
"Lalu, kamu! Kamu sebenarnya semurahan apa sampai-sampai punya mantan sebanyak itu!"
Melinda menangis diam-diam di sampingnya dan berkata dengan suara pelan, "Ini bukan salah Agnes, Kak Aldi. Aku memang nggak seharusnya terlalu ikut campur dengan urusannya."
Aldi memegang bahu Melinda dengan lembut sambil berkata dengan nada menghina, "Dia itu cuma putri angkat keluargamu, dia nggak terlahir dengan pembawaan sebagai seorang putri kaya."
"Keluarga Sanara benar-benar sudah meremehkan Keluarga Noran! Masa iya mereka membiarkan bajingan yang bahkan nggak tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri menjadi menantu Keluarga Noran!"
Lihat, ini adalah bajingan ke-21 yang berhasil Melinda buktikan kepadaku. Kali ini aku sangat berterima kasih pada Melinda.
Aku pun duduk menyilangkan kaki, lalu bertanya dengan santai, "Jadi, kamu mau membatalkan pertunangan ini sekarang?"
Aldi dan Melinda sontak tertegun.
Sedari dulu, Melinda hanya berani berpura-pura menjadi aku untuk merusak hubunganku. Mana mungkin dia berani memutuskan untuk membatalkan pertunangan seperti ini?
Aldi pun tersadar dari keterkejutannya dan berkata dengan tegas, "Baguslah kalau kamu tahu diri! Posisi sebagai istriku itu sama sekali nggak ditujukan untuk wanita berjiwa bebas sepertimu!"
"Kalau kamu tahu diri, cepat pergi dari sini dan jangan mengotori rumah Keluarga Noran lagi!"
"Sembarangan saja bicara!" Begitu Aldi selesai bicara, suara bentakan marah pun terdengar dari luar. "Membatalkan pertunangan? Kamu nggak berhak memutuskan soal itu!"
Semua orang refleks melihat ke arah sumber suara. Ayahku, Roman Sanara, berjalan masuk dengan ekspresi cemberut. Di belakangnya ada ibuku dan orangtua Aldi yang sama-sama terlihat kesal.