Bab 1

Setelah sahabatku, Melinda Bosna, membuktikan bahwa pacarku yang ke-20 adalah seorang bajingan, aku akhirnya setuju untuk dijodohkan dan akhirnya menikah dengan seorang anak orang kaya, Aldi Noran.

Kemudian saat menghadiri pesta seorang teman, Melinda memberikan kue yang sudah setengah dia makan ke depan Aldi sambil berkata, "Kak Aldi, kue ini terlalu manis buatku. Kakak bisa membantuku memakannya?"

Setelah kuhentikan, alih-alih merasa salah, Melinda justru berkata dengan santai, "Kenapa kamu ribut-ribut begini? Aku cuma lagi mengetes sifat suamimu!"

"Kita 'kan sudah bersahabat selama belasan tahun! Kamu nggak mungkin berpikir aku naksir suamimu, 'kan?"

Aku yang dulu pasti percaya.

Sayangnya, aku ini terlahir kembali.

Aku balas mengambil kue di atas meja dan menempelkannya ke wajahnya. "Memangnya kamu siapa, hah? Sampai-sampai kamu berhak menguji sifat orang lain!"

"Kamu itu cuma putri sopirku! Ngapain juga kamu sok jadi sosialita!"

"Aku tahu kamu bukan cuma tertarik pada suamiku, tapi kamu juga sudah mencari cara untuk tidur dengannya!"

Saat aku berkata seperti itu, teman-temanku pun mengerumuni kami. Wajah Melinda tampak begitu malu, dia membutuhkan waktu beberapa menit untuk kembali normal seperti biasa. Dia buru-buru menyeka kue dari wajahnya sambil bertanya dengan nada tajam, "Agnes, kok kamu bilang begitu sih?"

"Kalau bukan karena aku yang membuktikan ke-20 orang itu adalah bajingan selama ini, kamu mana mungkin bisa menikah dengan Kak Aldi sekarang?"

Aldi refleks mengernyit seperti yang kuduga. Dia memang tahu aku punya mantan, tetapi dia tidak tahu bahwa jumlahnya sangat mengejutkan.

Aku pun tersenyum menatap Melinda sambil menyahut, "Dulu setiap kali aku punya pacar, kamu pasti sok menguji mereka dengan memamerkan implan dadamu itu! Itu sebabnya setiap dua bulan sekali aku pasti ganti pacar. Bukannya itu normal?"

"Lagi pula, aku belum pernah tidur dengan mantan pacarku, tapi kamu pasti sudah pernah tidur dengan beberapa orang, 'kan?"

Sebenarnya, Melinda adalah putri sopir keluargaku. Waktu aku masih SD, sopir itu meninggal saat mencoba menyelamatkan ayahku. Satu-satunya harapannya adalah agar semoga Keluarga Sanara dapat memperlakukan putrinya dengan baik.

Ayahku adalah orang yang tahu berterima kasih. Dia tidak hanya mensponsori Melinda selama bertahun-tahun, tetapi juga mengizinkannya tinggal bersama di rumah kami.

Kami pun segera menjadi sahabat yang saling berbagi. Aku juga tidak pernah mengomentari hobinya yang sering mengunggah namaku demi memberikan kesan bahwa dia adalah seorang wanita kaya dan terkenal.

Masalahnya, tidak kusangka dia justru tidak menghargaiku yang secara tulus memperlakukannya sebagai sahabatku.

Di kehidupan yang sebelumnya, Melinda yang iri padaku karena menjadi menantu keluarga kaya pun menyebarkan gosip tentang aib hidupku. Demi menyenangkannya, ke-20 mantanku bekerja sama untuk mempermalukanku. Mereka bahkan memotretku dalam kondisi tidak berbusana.

Aku yang tidak tahan dengan semua tekanan itu akhirnya bunuh diri dengan melompat dari gedung.

Sesaat sebelum aku meninggal, aku baru mengetahui bahwa selama ini Melinda berpura-pura menjadi putri kandung Keluarga Sanara untuk merayu pacarku. Dia selalu berpura-pura tidak bersalah setelah melakukan itu semua. "Agnes, aku benar-benar nggak tahu bakal jadi seperti ini. Aku cuma mengatakan beberapa hal kepadanya, tapi tidak kusangka sifat aslinya akan keluar."

"Tapi, syukurlah. Setidaknya dia orang seperti apa 'kan jadi ketahuan. Kamu nggak seharusnya bersama bajingan seperti itu."

Setelah berkata seperti itu, Melinda juga tidak ikut campur lagi seolah-olah memang semua mantan pacarku-lah yang salah.

Kembali memikirkan semua ini membuatku merasa ingin muntah.

Melinda pun menatap Aldi dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menggigit bibirnya dan berkata dengan sedih, "Nggak kok! Sejak kecil aku dididik dengan keras dan punya jam malam, mana mungkin aku begitu?"

"Aku bahkan belum punya pacar sampai sekarang ...."

Sama seperti kehidupan sebelumnya, Melinda sibuk menampilkan diri sebagai seorang sosialita lugu.

Aku benar-benar muak melihat aktingnya yang menjijikkan itu, jadi aku bangkit berdiri hendak pergi.

Namun, Aldi menarikku kembali ke tempat duduk. "Agnes, sudahlah, Melinda 'kan juga nggak berniat jahat. Dia hanya bercanda dan aku juga nggak tertipu. Tenang saja, aku bukan pria bajingan."

Kata-kata ini terdengar sangat familiar. Wajar saja, mana mungkin tidak ada seorang pun di antara ke-20 mantanku yang bersumpah bahwa dia bukan seorang bajingan?

Sepertinya, Melinda sudah berhasil.

Akan tetapi, kali ini aku ingin melihat apakah Melinda mampu menghadapi konsekuensi dari hancurnya pernikahanku dengan Aldi!

Bab 2

Aldi adalah satu-satunya pewaris Keluarga Noran, jadi tentu saja teman-temanku menghormatinya dan menasihatiku, "Iya, Agnes, kamu 'kan sudah resmi menikah dengan Tuan Muda Aldi. Masa kamu khawatir Tuan Muda Aldi akan mengkhianatimu?"

"Iya, iya, menurutku Melinda juga cuma khawatir denganmu."

"Bukannya Melinda itu sahabat yang selalu kamu banggakan? Mana mungkin dia tega menyakitimu?"

"Kamu punya suami dan sahabat yang kaya. Kami semua saja iri padamu, jadi kamu juga harus berpuas hati."

Aku mengepalkan tanganku dan menggertakkan gigiku dengan kesal, tetapi aku menahan amarahku dan duduk kembali.

Melinda pun mengangkat alisnya ke arahku dengan bangga, lalu duduk di sebelahku dan dengan sengaja meletakkan tas kulitnya yang terbuat dari kulit buaya edisi terbatas di atas meja.

Begitu teman-temanku melihat tas itu, mereka langsung berseru dengan heboh, "Wah, Melinda! Ternyata kamu yang dapat tas ini!"

"Ya ampun! Tas ini cuma ada tiga buah di seluruh dunia dan salah satunya milik orang terkaya di kota ini. Jangan-jangan kamu ...."

Melinda mungkin tidak menyangka tas ini semahal itu, jadi dia langsung menyahut dengan sombong, "Ah, ini bukan apa-apa. Aku punya banyak tas seperti ini di rumah."

Rasanya aku mau tertawa terbahak-bahak.

Jelas-jelas tas ini milik ibuku, kenapa bisa-bisanya dia yang pakai?

Di kehidupan yang sebelumnya, Melinda mencuri perhiasan ibuku dan menyewakannya demi mendapatkan uang agar dia bisa terus berpura-pura menjadi seorang sosialita.

Seorang teman pun menatapku dengan curiga, lalu beralih ke Melinda. "Tapi, bukannya Keluarga Noran menikah dengan keluarga terkaya itu? Kalau kamu adalah putri dari keluarga terkaya itu, bukannya itu berarti Agnes ...."

Dia berhenti bicara sebentar, lalu bertanya lagi dengan suara pelan, "Apa benar gosip di luar yang mengatakan kalau Agnes cuma putri angkat dari keluarga terkaya itu?"

"Iya, iya, katanya keluarga itu mengadopsi putri sopir mereka sebagai bentuk balas budi!" timpal yang lain. "Katanya mereka memperlakukan putri angkat mereka seperti putri kandung. Sepertinya, yang dimaksud itu Agnes, ya."

"Demi balas budi, pernikahan putri kandung yang membahagiakan itu sampai direlakan. Wah, benar-benar nggak paham lagi."

"Ya ampun, apa sih yang mereka pikirkan? Masa iya mereka menikahkan putri angkat mereka? Itu sama saja merendahkan Keluarga Noran!"

"Menurutku, Melinda serasi sekali dengan Tuan Muda Aldi!"

Ekspresi Melinda sontak berubah. Bagaimanapun juga, Aldi dan aku melakukan pernikahan dadakan. Dia tidak tahu bahwa hubungan kami hanya sebatas kontrak.

Ekspresi Aldi juga langsung berubah menjadi lebih serius. Sudah pasti harga dirinya terpukul.

Aku pun mengeluarkan ponselku dan menelusuri sebuah aplikasi. "Hmm, sepertinya aku pernah banyak selebgram kota ini menggunakan tas ini ...."

Aku sengaja berhenti sejenak dan melihat ke arah Melinda. "Tapi, mereka semua mengaku sebagai putri dari keluarga yang kaya dan berkuasa itu .... Apa jangan-jangan kalian bergiliran menyewa tas ini?"

Wajah Melinda sontak menjadi pias. Dia menatapku seolah-olah ingin memakanku hidup-hidup.

Wajar saja. Aku yang dulu begitu bodoh sampai-sampai tidak akan mempermalukannya di depan umum seperti ini, tetapi juga berterima kasih padanya karena sudah "menguji" sifat pasanganku.

Saat teman-teman kami mulai menjadi ragu, Melinda pun menjadi marah dan mengambil gunting di meja depan. Dia menggunting-gunting tas itu sambil berseru, "Tas ini milikku! Kenapa kamu menuduhku? Nih, kamu nggak bisa komentar apa-apa kalau kugunting-gunting seperti ini, 'kan!"

Semua orang sontak terkesiap, tidak ada yang berani berbicara. Tas kulit buaya bernilai miliaran itu hancur berkeping-keping.

Aku pun mendecakkan lidahku sambil berujar mengejek, "Wah, guntinganmu rapi sekali. Kamu sudah memikirkan cara untuk memberi tahu ibuku?"

Melinda sontak menjadi panik, gunting yang dia pegang pun terjatuh dan melukai tangannya.

Melinda sontak menjerit dengan kesakitan, darah mengucur keluar.

Dia langsung menangis dengan tersedu-sedu sambil menatapku dengan sedih. "Sudah puas kamu, Agnes?"

Aldi buru-buru memegang tangan Melinda dan mengisap darah yang mengucur, lalu membalutnya dengan tisu dan mengajak Melinda keluar. "Ayo ke rumah sakit."

Namun, aku hanya duduk diam. Aldi pun berujar dengan marah, "Agnes, Melinda bukan cuma sahabatmu, tapi juga adikmu! Tega-teganya kamu begini kepadanya?"

"Kamu adalah istriku sekarang, jadi aku melakukan ini demi reputasi Keluarga Noran! Aku akan memberi tahu ayahku soal ini! Kamu renungkan perbuatanmu baik-baik!"

Bab 3

Aku berjalan keluar dengan santai, sementara Aldi membantu Melinda naik ke kursi di samping sopir.

Setelah itu, Aldi langsung menginjak pedal gas dan melaju pergi bahkan tanpa melirik ke arahku.

Aku berjalan mengelilingi mal untuk membunuh waktu, lalu pulang ke rumah Keluarga Noran.

Begitu aku pulang, aku langsung melihat Melinda yang sedang duduk di sofa di ruang tamu. Ekspresinya terlihat gembira.

Saat melihatku pulang, dia pun memijat pelipisnya sambil berkata, "Agnes, Kak Aldi mengundangku untuk tinggal sebentar di sini sampai lukaku sembuh. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

Aku meletakkan barang yang kubawa dan bertanya dengan nada mengejek, "Kamu sudah nggak punya batas privasi, ya?"

"Agnes! Ngapain kamu di sini!" tegur Aldi dengan dingin. "Apa mungkin Melinda akan terluka kalau bukan karena kamu menakut-nakutinya?"

"Dia akan tinggal beberapa lama di sini untuk memulihkan diri! Kamu yang menyebabkan semua ini, jadi kamu juga yang harus merawatnya!"

Ah, aku mengerti. Aldi berharap aku, sang putri kandung dari keluarga kaya ini, melayani Melinda?

Aku pun mengambil tas tanganku lagi dan mulai berjalan keluar. "Oke, aku nggak akan mengganggu kalian. Aku pulang ke rumah orangtuaku saja."

"Kamu!" Aldi sontak terdiam. Melinda yang berdiri di belakangnya pun memasang ekspresi sedih seolah-olah aku mengasihaninya, lalu berkata dengan lembut, "Sudahlah, Agnes, ini juga bukan masalah besar. Aku nggak butuh permintaan maafmu."

"Kak Aldi itu pria baik-baik. Kuharap kamu bisa menyayanginya dengan sepenuh hati."

Ekspresi Aldi sontak terlihat lembut, ekspresi yang belum pernah kulihat semenjak kami menikah.

Dia memegangi tangan Melinda sambil memerintahkan kepala pelayan, "Bibi Alma! Tolong bersihkan kamar di lantai dua dan siapkan segala sesuatu yang Melinda inginkan!"

Setelah itu, dia menoleh ke arahku dan berkata dengan tidak sabar, "Kamu tunggu di sini! Aku akan membereskan semua ini denganmu ketika aku kembali!"

Aku refleks tertawa. "Oke, kutunggu di sini. Aku mau lihat siapa yang ingin menyelesaikan masalah dengan siapa."

"Kalau kamu sebegitunya mencintai putri sopirku, nanti kuminta orangtuaku untuk memberikannya kepadamu!"

Melinda sontak terhuyung, matanya tampak berkaca-kaca dan dia berkata dengan terisak, "Agnes, aku tahu kamu masih marah padaku. Tapi, aku begini karena aku benar-benar menganggapmu sebagai sahabat dan juga saudaraku."

"Kalaupun kamu nggak bisa memahamiku, kamu nggak seharusnya menuduhku begini ...."

Aku mungkin akan termakan tipu dayanya jika bukan karena terlahir kembali.

Aku pun bangkit berdiri dan menatap Aldi yang sedang melindungi Melinda dalam pelukannya, lalu berkata dengan nada mengejek, "Kamu bilang Aldi itu pria baik-baik? Bukannya dia lagi sibuk memelukmu sekarang? Masa iya kamu masih menganggapnya pria baik-baik?"

"Jangan-jangan yang kamu sebut bajingan itu hanyalah pria yang mau tidur denganmu seperti semua mantanku dulu?"

"Agnes!" Aldi menunjuk ke arahku dengan marah. "Melinda baru saja membuatku mendengar rekaman obrolan itu! Dia nggak ada hubungannya dengan mantanmu!"

"Dia hanya mengobrol santai saja, lalu menyadari kalau mereka menyimpan niat jahat! Dia justru berbaik hati mengingatkanmu!"

"Lalu, kamu! Kamu sebenarnya semurahan apa sampai-sampai punya mantan sebanyak itu!"

Melinda menangis diam-diam di sampingnya dan berkata dengan suara pelan, "Ini bukan salah Agnes, Kak Aldi. Aku memang nggak seharusnya terlalu ikut campur dengan urusannya."

Aldi memegang bahu Melinda dengan lembut sambil berkata dengan nada menghina, "Dia itu cuma putri angkat keluargamu, dia nggak terlahir dengan pembawaan sebagai seorang putri kaya."

"Keluarga Sanara benar-benar sudah meremehkan Keluarga Noran! Masa iya mereka membiarkan bajingan yang bahkan nggak tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri menjadi menantu Keluarga Noran!"

Lihat, ini adalah bajingan ke-21 yang berhasil Melinda buktikan kepadaku. Kali ini aku sangat berterima kasih pada Melinda.

Aku pun duduk menyilangkan kaki, lalu bertanya dengan santai, "Jadi, kamu mau membatalkan pertunangan ini sekarang?"

Aldi dan Melinda sontak tertegun.

Sedari dulu, Melinda hanya berani berpura-pura menjadi aku untuk merusak hubunganku. Mana mungkin dia berani memutuskan untuk membatalkan pertunangan seperti ini?

Aldi pun tersadar dari keterkejutannya dan berkata dengan tegas, "Baguslah kalau kamu tahu diri! Posisi sebagai istriku itu sama sekali nggak ditujukan untuk wanita berjiwa bebas sepertimu!"

"Kalau kamu tahu diri, cepat pergi dari sini dan jangan mengotori rumah Keluarga Noran lagi!"

"Sembarangan saja bicara!" Begitu Aldi selesai bicara, suara bentakan marah pun terdengar dari luar. "Membatalkan pertunangan? Kamu nggak berhak memutuskan soal itu!"

Semua orang refleks melihat ke arah sumber suara. Ayahku, Roman Sanara, berjalan masuk dengan ekspresi cemberut. Di belakangnya ada ibuku dan orangtua Aldi yang sama-sama terlihat kesal.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B40332" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B40332
Salin

Aku dan "Sahabatku"

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya