Bab 3

“Kamu salah paham, aku bukan......”

Tapi dia mengangkat tangannya dengan maksud tidak mau dengar penjelasan dariku”

“Aku masih ada urusan, aku pergi dulu, aku saranin jangan lakukan hal-hal begini yang bisa menguras perasaanku padamu.”

Pintu tertutup dengan sangat keras, seketika seluruh kamar jadi hening sekali.

Aku berdiri di tempat cukup lama, lalu tetawa diriku sendiri.

Willy, perasaanmu padaku masih sisa berapa banyak? Masih ada yang bisa dikuras?”

Kalau dulu, aku pasti akan susah tidur karena sedih dia salah paham, sekarang aku sudah dengan cepat menenangkan diri.

Lanjut melihat hal yang berkaitan dengan pernikahan yang dikirim mama.

Sebelum keluar, aku melihat tanda merah yang ada di status teman, lalu melihat Willy yang tidak pernah upload, memposting sesuatu.

[Kamu begitu baik, tentu harus aku nikahi dan bawa pulang baru bisa tenang]

Fotonya adalah foto Gina dan undangan pernikahan mereka.

Nggak sampai 1 menit, ada teman kami yang komentar:

[Bang, pengantinnya ganti orang?]

Jadi, uploadan terbaru Willy langsung hilang, tetapi muncul di sosial media Gina.

Lalu telepon dari Willy masuk.

Kalau dulu, aku akan menyimpan foto tadi lalu meneleponnya untuk meminta penjelasan dan kami pasti berantam baru bisa selesai.

Tapi kali ini, sampai teleponnya mati pun nggak aku angkat.

Anehnya, melihat postingan ini, aku tidak merasa sedih, mungkin saja sudah mati rasa.

Reaksi pertamaku adalah hari pernikahan mereka sama denganku, kebetulan sekali.

Saat Willy sampai di rumah, aku sudah tidur.

Dia dengan pelan membuka pintu dan jalan ke samping kasurku.

“Sarah, sudah tidur? Tadi aku telepon kenapa nggak angkat?”

Punggungku berhadapan dengannya, lalu kujawab: “Ketiduran tadi, nggak kedengaran.”

Willy menghela nafas legas lalu membungkukkan badan untuk mendekatiku, mengulurkan tangannya mau melihat suhu di dahiku: “Masih panas?”

Begitu dia mendekat, tercium aroma parfum manis wanita membuatku mual hampir saja muntah.

Aku langsung geser ke samping, menghindari sentuhannya.

Tangannya terhenti di udara, penuh dengan kebingungan.

Bertanya dengan hati-hati: “Sarah, apakah kamu sudah melihat sesuatu?”

Aku memasukkan tubuhku ke dalam selimut dengan suara yang teredam: “Enggak, hanya nggak enak badan saja, aku sudah mau tidur.”

Tidur ini pulas sampai esok paginya, aku sudah merasakan lebih enakan.

Menyemangati diri mulai membereskan barang, sedikit sedikit menghapus jejakku di dalam rumah ini.

Aku baru menyadari, aku membeli banyak barang pasangan, awalnya Willy masih pakai.

Tapi nggak tahu sejak kapan, barang-barang itu dibuangnya di sudut sampai penuh dengan debu.

Aku membereskan semua barang yang tidak berguna ini dan buang ke tong sampah.

Ada satu album isinya adalah foto aku sama Willy saat bermain ke berbagai tempat, kartu pos yang kami kumpulkan bersama, tiket kereta yang digunakan saat perjalanan jauh, dan surat yang ditulisnya untukku.

Album ini penuh dengan kenangan aku sama Willy selama beberapa tahun ini.

Hanya saja, semenjak ada Gina, album ini tidak ada tambahan foto baru lagi.

Saat Willy pulang, aku sedang melempar album ini ke dalam api, dia datang dengan penuh amarah, berusaha mengambil album yang di dalam api.

Tanpa memperdulikan rasa sakit terbakar di tangannya, dengan ekspresi marah menanyaiku: “Kamu gila kah? Kamu nggak tahu betapa pentingnya albummu ini? Kenapa mau bakarin?”

Willy jarang kali marah samaku, ini pertama kali dia dengan keras berbicara samaku.

Rasa peduli di dalam matanya itu fakta, tetapi dia membohongiku mau menikah sama orang lain itu juga fakta.

Aku tidak mau berantam dengannya, jadi kujawab: “Album itu sudah berjamur dan berulat, isi album ini ada cadangannya, nanti buat yang baru lagi saja.”

Mendengar perkataanku, dia baru meredakan amarahnya.

Saat membantunya mengoles obat, Willy melihatku lalu berkata: “Sarah, aku lihat belakangan ini, kamu sepertinya tidak terlalu baik, apa karena tekanan kerja terlalu berat? Aku sudah bantu pesanin liburan pribadi, kamu pergilah jalan-jalan untuk rileks.”

Bab 4

Gerakan tangan yang sedang mengoles obat jadi terhenti, aku mengangkat kepala dan melihatnya: “Aku sendiri saja? Kamu nggak ikut?”

Willy menghela nafas, dengan sedikit menyesal berkata: “Kerjaanku terlalu sibuk, tidak bisa kutinggalin, lain kali baru kutemanin ya?”

Tapi Willy, kita sudah tidak ada lain kali lagi.

Aku menundukkan kepala lanjut mengoles obat: “Kantor sana mungkin nggak gampang untuk izin.”

“Ini tidak perlu kamu hirauin, aku akan mengurusnya.”

Aku bersikeras berkata: “Tapi aku tidak mau pergi.”

Ucapannya terkesan tidak bisa ditolak: “Dengarin, aku sudah pesan tidak bisa dibatal.”

Aku tidak menjawabnya, hatiku hanya terasa dingin.

Aku teringat semalam saat aku setengah sadar mendengar Willy menelpon dengan orang lain:

“Aku tidak berniat memberitahunya, bisa berapa lama aku menutupinya ya berapa lama lah.”

“Untuk jaga-jaga, mendekat acara pernikahan, aku akan pesanin liburan untuknya.”

Orang yeng mendengarnya menghela nafas: “Lalu? Dia jadi selingkuhanmu?”

Mendengarnya, Willy lama tidak menjawabnya, menghisap rokok dalam-dalam lalu mengeluarkan asap rokok.

Seperti sudah berlalu 1 abad lamanya, dia baru perlahan-lahan berkata: “Untuk itu nanti baru lihat lagi.”

Hatiku terasa sangat sakit, aku baring di kasur, membiarkan air mata mengalir, merasa selama 7 tahun ini sangatlah konyol.

Willy, aku sepertinya tidak pernah mengenalimu.

Kalau sudah tidak suka, kenapa tidak terus terang bilang, melainkan memilih berbohong.

Apakah takut aku gangguin? Jadi gunakan cara ini supaya aku jauh dari kalian dan tidak merusak acara pernikahan kalian.

Sebenarnya tidak perlu sesusah gitu.

Willy, aku akan sesuai kemauanmu, selamanya hilang dari duniamu.

Aku menanya: “Pesawatnya kapan?”

“Dua hari lagi.”

Aku senyum, “Baik, aku pergi.”

Willy mendengarnya, kelihatan dia menjadi lega lalu mengulurkan tangan mau memegang kepalaku.

Aku dengan santai menghindarinya.

Dia terdiam sebentar lalu dengan senyum berkata: “Sebelum berangkat, kita harus makan bersama dulu.”

Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk.

Besok, kebetulan adalah anniversary ke tujuh kami.

Berpamitanlah dengan baik, menjelaskan semuanya, membuat hubungan ini mulai dan berakhir di hari yang sama.

Esoknya, aku sudah sampai di restoran yang janjian dengan Willy, dia juga datang dengan tepat waktu, hanya saja sampingnya ada Gina.

“Kak Sarah, kebetulan aku sama Pak Willy ada urusan di sekitar sini, jadi barengan datang, tidak mengganggu kalian kan?”

Aku menggelengkan kepala, hanya merasa kecewa, sepertinya makan malam perpisahan terakhir ini tidak bisa membuat hubungan kami diakhiri dengan baik.

Willy memesan makanan yang tidak terlalu berminyak dan asin.

Gina melihatnya, tidak bisa menahan senyumnya berkata: “Pak Willy, makanan yang kamu pesan terlalu hambar, apakah cocok dengan selera Kak Sarah?”

Willy tidak memperdulikannya menjawab: “Kamu lagi mens, tidak boleh makan pedas.”

Sambil bilang, dia memanggil pelayan menyuruhnya mengangkat minuman dingin yang di depan Gina, dan bawain teh jahe dengan gula merah.

Gina mengerucutkan bibirnya dan mengeluh Willy terlalu banyak mengatur.

Willy dengan penuh kasih sayang mengetuk dahinya: “Kalau aku tidak peduli samamu, nanti perutmu sakit, kamu yang akan menangis.”

Gina menjulurkan lidah, “Mana ada separah gitu, kamu yang terlalu berlebihan.”

Mereka berdua bercanda mesra seperti tidak ada orang di samping mereka, aku hanya dengan dingin melihatnya, hatiku pun tenang sampai tidak ada goyangan lagi.

Saat lagi makan, tiba-tiba terdengar ada yang teriak kebakaran.

Seketika orang-orang jadi rusuh dan berlari ke luar.

Aku baru berdiri, langsung melihat ada orang yang dengan cepat melewatiku.

Lalu melihat Willy memeluk Gina dengan erat di dalam pelukannya, langsung membawanya jalan ke luar.

Seketika, aku seperti melihat remaja yang umur 18 tahun, di kondisi yang sama juga, saat itu, orang yang di dalam pelukannya masih aku.

Sesudah sampai di tempat yang aman, Willy baru sadar lalu membalikkan kepalanya dan melihat aku yang berdiri tidak jauh darinya, matanya penuh dengan kebingungan:

“Aku tadi terlalu buru-buru, aku bukan sengaja......”

Aku dengan senyum memotongnya, “Nggak papa, aku ngerti.”

Hari yang ditentukan Willy untuk liburanku sudah tiba, dan aku sudah menyiapkan koperku dari jauh-jauh hari.

Setelah kupastiin kamar ini tidak ada jejakku lagi.

Aku langsung membawa koperku pergi.

Aku tentu tidak pergi liburan, melainkan pulang ke rumah papa mama untuk siap-siap menikah, karena hari pernikahanku juga sudah mau tiba.

Dan Willy sibuk dengan Gina mencoba baju pengantin, jadi tidak ada waktu untuk memikirkanku.

Hari pernikahan pun sudah tiba, aku juga pertama kali melihat calon pasanganku Adam.

Pandangan papa mamaku benaran sangat bagus, orangnya lebih ganteng dari foto, baik dari segi tubuh ataupun penampilan, semuanya sangat sempurna.

Rombongan penjemputan sangatlah megah, aku duduk di dalam mobil, sepanjang jalan sangatlah ramai dan semangat.

Di saat berpapasan lewat dengan satu mobil pengantin, kedua mobil serentak berhenti untuk kedua pengantin wanita bertukar bunga pernikahan.

Jendela mobil perlahan-lahan turun, di dalam mobil seberang, Willy dan aku saling bertatapan.

Seketika dalam matanya muncul badai besar, dengan suara yang bergetar dan nggak percaya: “Sarah, kok kamu?”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B28086" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B28086
Salin

Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya