Bab 1
Video lamaran pacar dan sekretaris viral, semuanya pada bilang romantis dan terharu.
Sekretaris pun memposting menyatakan cinta [Akhirnya aku bersamamu, untungnya aku tidak menyerah, Tuan Willy, mari kita bersama menjalani sisa hidup.]
Komentar penuh dengan [Romantis kali, CEO dan sekretaris, pasangan yang aku ngeship ini paling so sweet!]
Aku dengan tenang menutupi halaman website dan mencari pacar untuk minta penjelasan.
Tetapi mendengar percakapan dia dengan temannya, “Mau gimana lagi, kalau aku tidak menikah dengannya, dia akan dipaksa sama keluarganya dan menikah dengan orang yang tidak dia sukai.”
“Bagaimana dengan Sarah? Dia baru pacarmu yang sebenarnya, kamu nggak takut dia marah kah?”
“Emang kenapa kalau marah? Sarah sudah bersamaku selama 7 tahun, dia tidak akan meninggalkanku.”
Lalu, aku menikah di hari yang sama dengannya.
Mobil pengantin berpapasan lewat, di saat pengantin wanita lagi bertukaran bunga pernikahan, melihat aku di dalam mobil pengantin, dia benar-benar terpukul.
“Ma, aku menerima pernikahan yang diatur keluarga.”
Ruang tamu yang gelap, suaraku yang lembut terdengar kosong dan mati rasa.
Mama kaget saat mendengar aku menerima pernikahan: “Bukannya kamu kemarin masih nggak mau? Kenapa ini tiba-tiba setuju? Sarah, pernikahan ini bukanlah main-main, pernikahan keluarga ini tidak penting, mama hanya mau kamu bahagia, kamu harus pikirkan baik-baik, jangan impulsif.”
Mendengar perkataan mama, aku merasa mataku berkaca-kaca.
“Ma, sudah aku pikirkan dengan baik, kalian sudah bisa siapkan acara pernikahan.”
Mama tahu aku lagi sedih, diam sebentar lalu menghiburku.
“Kamu sudah pacaran begitu lama dengan Willy, tapi dia tidak mau secara resmi mengumumkan hubungannya denganmu, tidak mau bertemu orang tua, aku dan papamu tahu kalau kalian nggak bakal lama.”
Perkataan mama seperti jarum menusuk ke hatiku.
Ternyata, orang samping begitu jelas, yang bodoh hanyalah aku.
“Adam ini calon yang aku sama papamu sudah bantu nilaiin, pasangan yang papa mama bantu cariin, kepribadian dan latar belakang keluarga pasti sangat bagus, Sarahku pantas mendapatkan yang terbaik.”
Aku menarik nafas dalam-dalam: “Terima kasih ma, aku percaya pandangan mama sama papa.”
Mama melanjut lagi: “Dua hari ini, mau aku aturin untuk kalian bertemu dulu?”
“Nggak perlu ma, kalian langsung siapin acara saja.”
Menutup telepon, Willy tidak tahu sejak kapan sudah muncul di belakangku, tangannya membawa kue dan dengan bingung menanyaku:
“Acara pernikahan apa? Siapa yang mau menikah?”
Aku, aku yang sudah mau menikah.
Aku menjawabnya di dalam hati, perkataan sudah sampai di tepi mulut, tapi tidak kuucapkan.
Aku dengan tenang menggelengkan kepala, “Nggak, teman saja.”
Setelah ku jawab, aku menyadari ekspresinya jadi lebih santai.
Tiba-tiba hatiku terasa pahit.
Tadi dia begitu cemas, apa karena kira aku mau paksa dia nikah? atau dikiranya aku tahu kalau dia sama sekretarisnya Gina mau menikah?
“Kubawain kue yang paling kamu suka, mau makan sekarang?”
Dulu, Willy pulang kerja, dia selalu membawakan makanan yang enak.
Walaupun banyak rasa yang nggak cocok, aku tetap merasa terharu.
Karena menurutku, selalu diingatin dan dibeliin makan sama orang tersuka, jauh lebih penting dari rasa makanan tersebut.
Tapi sekarang melihat kue ini, aku merasa penuh dengan sindiran.
Baru tadi saja, aku melihat semua postingan Gina yang awalnya hanya privat, baru melihat beberapa saja, aku sudah tidak mau melihatnya lagi.
Sekarang, aku baru tahu betapa konyolnya diriku.
Ternyata kue ini kesukaan Gina.
Bukan hanya kue ini, kacang-kacangan dan cemilan lainnya semua kesukaan Gina.
Yang paling menyedihkan adalah aku baru tahu kebiasaan Willy setelah pulang kerja bawa makanan untukku itu dimulai setelah Gina masuk kerja.
Willy, jadi saat kamu lagi memberiku makan, kamu menganggap aku ini siapa? Sarah atau Gina?
Aku menelan kepahitanku, dengan tenang berkata:
“Aku tidak suka makan yang manis, terlalu eneg, lain kali jangan beli lagi.”
Willy tidak menyangka reaksiku bisa begini, tatapannya kelihatan sedikit terkejut:
“Kok bisa? Biasanya kamu makan juga kok.”
Sudah bersama begitu lama, kalau dia benaran peduli samaku, mana mungkin tidak tahu kesukaanku?
Beberapa kata kalau diulang berkali-kali akan capek, akhirnya hanya bisa mengalah.
Aku tidak mau berdebat lagi hanya kasih alasan: “Belakangan ini seleraku sudah berubah.”
Bab 2
Beberapa hari ini, Willy sepertinya sangat sibuk sampai lupa hari ulang tahunku.
Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.
Dia sepertinya tiba-tiba teringat, demi menebus kesalahannya, dia membeli tiket pertunjukan musikal yang paling aku suka.
Pertunjukan ini sangatlah populer, sangat susah untuk mendapat tiketnya, aku sendiri saja tidak mendapati, jadi aku menerima ajakannya saat dia bilang ada tiket.
Tetapi di hari pertunjukannya, aku tidak melihat kedatangannya melainkan melihat Gina memposting tiket di sosial medianya.
Dua tiket.
[Melihat konser di saat bosan, memiliki seseorang yang bisa kamu panggil kapan saja untuk menemanimu bersenang-senang benaran sangat menyenangkan.]
Walaupun tidak kelihatan wajahnya, tetapi tangan yang ada bekas luka di dalam foto itu, jelas-jelas adalah Willy.
Bekas luka di tangannya itu karena menolongku.
Seketika aku merasa diriku seperti badut.
Saat aku berdiri di luar kehujanan karena takut dia terjadi sesuatu, dia sedang berada di kursi VIP bersama sekretarisnya melihat konser.
Air hujan yang dingin jatuh ke wajah, hatiku dan tubuh perlahan-lahan menjadi dingin.
Saat ini, mama mengirimkan pesan bilang pernikahan dijadwalkan 2 minggu lagi, kalau aku merasa terlalu mepet, bisa diundurin lagi.
Aku menggelengkan kepala: “Nggak perlu ma, ikuti yang sekarang saja.”
Hujan deras membuat lalu lintas macet total, aku sudah menunggu lama pun tidak kedapatan mobil.
Telepon Willy saat ini baru datang: “Kamu kenapa nggak di rumah?”
Aku dengan suara yang sangat datar menjawabnya, “Aku sekarang di tempat pertunjukan musikal.”
Dia sepertinya sudah teringat, lalu diam sebentar, “Maaf, tadi sore ada urusan, kamu tunggu di sana, aku pergi jemput kamu.”
Aku tidak menolaknya, karena aku tahu dia tidak akan datang.
Detik selanjutnya, Gina memposting lagi:
[Takut aku demam karena kehujanan, suami CEO membuatkan aku teh kunyit, pria yang lagi masak paling ganteng, mau langsung menikahinya!]
Fotonya adalah punggung Willy yang sedang sibuk di depan kompor.
Aku hanya sekilas melihatnya, lalu dengan tenang keluar dari halaman tersebut.
Hujan deras ini membuat aku demam.
Aku dengan alasan tidak mau nularin ke Willy, pindah ke kamar tamu.
Bisa-bisanya Willy meninggalkan kerja, hanya di rumah untuk merawatku.
Aku jadi tidak terbiasa, “Hanya flu ringan saja, lagi pula aku sudah dewasa bisa menjaga diriku sendiri, kamu pergi kerja saja.”
Dia dengan tatapan aneh melihatku sebentar.
“Bukannya dulu kamu paling berharap aku bisa nemanin kamu saat sakit? Hari ini kenapa aneh kali?
Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan emosiku, lalu dengan senyum paksa: “Dulu aku terlalu kekanak-kanakan, sekarang sudah enggak lagi.”
Willy dengan mata penuh kekhawatiran melihatku: “Sarah, kamu baik-baik saja kan?”
“Iya, pergilah.”
Dia masih merasa aku aneh, tapi nggak tahu mana yang aneh, lalu hanya bisa menatapku dengan penuh perhatian dan menghela nafas:
“Kalau gitu kamu istirahat dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku.”
Sesudah dia pergi, aku menghela nafas lega, lalu berbaring dan tidur lagi.
Setelah bangun, aku melihat mama mengirimkan rencana pernikahan yang sangat rinci.
Selain itu, mengirimkan 10an jenis gaun pernikahan untuk aku pilih.
Aku menggeser fotonya, lalu perbesar dan fokus memilih, sampai Willy muncul pun nggak sadar.
Dia menarik handphoneku dan melemparnya ke samping, dengan tidak senang mengerutkan dahinya:
“Ngapain kamu lihat gaun pernikahan?”
Aku kira dia sudah tahu aku mau menikah, jadi mau sekalian jelasin semuanya saja.
Tapi kata-kata selanjutnya, membuat aku merasa betapa konyolnya pemikiranku.
“Sarah, kamu ini lagi paksa nikah kah? Aku sudah bilang aku akan menikah denganmu, jadi jangan gunakan cara-cara ini untuk kodein aku, terlihat sangat tidak pantas.”
Bab 3
“Kamu salah paham, aku bukan......”
Tapi dia mengangkat tangannya dengan maksud tidak mau dengar penjelasan dariku”
“Aku masih ada urusan, aku pergi dulu, aku saranin jangan lakukan hal-hal begini yang bisa menguras perasaanku padamu.”
Pintu tertutup dengan sangat keras, seketika seluruh kamar jadi hening sekali.
Aku berdiri di tempat cukup lama, lalu tetawa diriku sendiri.
Willy, perasaanmu padaku masih sisa berapa banyak? Masih ada yang bisa dikuras?”
Kalau dulu, aku pasti akan susah tidur karena sedih dia salah paham, sekarang aku sudah dengan cepat menenangkan diri.
Lanjut melihat hal yang berkaitan dengan pernikahan yang dikirim mama.
Sebelum keluar, aku melihat tanda merah yang ada di status teman, lalu melihat Willy yang tidak pernah upload, memposting sesuatu.
[Kamu begitu baik, tentu harus aku nikahi dan bawa pulang baru bisa tenang]
Fotonya adalah foto Gina dan undangan pernikahan mereka.
Nggak sampai 1 menit, ada teman kami yang komentar:
[Bang, pengantinnya ganti orang?]
Jadi, uploadan terbaru Willy langsung hilang, tetapi muncul di sosial media Gina.
Lalu telepon dari Willy masuk.
Kalau dulu, aku akan menyimpan foto tadi lalu meneleponnya untuk meminta penjelasan dan kami pasti berantam baru bisa selesai.
Tapi kali ini, sampai teleponnya mati pun nggak aku angkat.
Anehnya, melihat postingan ini, aku tidak merasa sedih, mungkin saja sudah mati rasa.
Reaksi pertamaku adalah hari pernikahan mereka sama denganku, kebetulan sekali.
Saat Willy sampai di rumah, aku sudah tidur.
Dia dengan pelan membuka pintu dan jalan ke samping kasurku.
“Sarah, sudah tidur? Tadi aku telepon kenapa nggak angkat?”
Punggungku berhadapan dengannya, lalu kujawab: “Ketiduran tadi, nggak kedengaran.”
Willy menghela nafas legas lalu membungkukkan badan untuk mendekatiku, mengulurkan tangannya mau melihat suhu di dahiku: “Masih panas?”
Begitu dia mendekat, tercium aroma parfum manis wanita membuatku mual hampir saja muntah.
Aku langsung geser ke samping, menghindari sentuhannya.
Tangannya terhenti di udara, penuh dengan kebingungan.
Bertanya dengan hati-hati: “Sarah, apakah kamu sudah melihat sesuatu?”
Aku memasukkan tubuhku ke dalam selimut dengan suara yang teredam: “Enggak, hanya nggak enak badan saja, aku sudah mau tidur.”
Tidur ini pulas sampai esok paginya, aku sudah merasakan lebih enakan.
Menyemangati diri mulai membereskan barang, sedikit sedikit menghapus jejakku di dalam rumah ini.
Aku baru menyadari, aku membeli banyak barang pasangan, awalnya Willy masih pakai.
Tapi nggak tahu sejak kapan, barang-barang itu dibuangnya di sudut sampai penuh dengan debu.
Aku membereskan semua barang yang tidak berguna ini dan buang ke tong sampah.
Ada satu album isinya adalah foto aku sama Willy saat bermain ke berbagai tempat, kartu pos yang kami kumpulkan bersama, tiket kereta yang digunakan saat perjalanan jauh, dan surat yang ditulisnya untukku.
Album ini penuh dengan kenangan aku sama Willy selama beberapa tahun ini.
Hanya saja, semenjak ada Gina, album ini tidak ada tambahan foto baru lagi.
Saat Willy pulang, aku sedang melempar album ini ke dalam api, dia datang dengan penuh amarah, berusaha mengambil album yang di dalam api.
Tanpa memperdulikan rasa sakit terbakar di tangannya, dengan ekspresi marah menanyaiku: “Kamu gila kah? Kamu nggak tahu betapa pentingnya albummu ini? Kenapa mau bakarin?”
Willy jarang kali marah samaku, ini pertama kali dia dengan keras berbicara samaku.
Rasa peduli di dalam matanya itu fakta, tetapi dia membohongiku mau menikah sama orang lain itu juga fakta.
Aku tidak mau berantam dengannya, jadi kujawab: “Album itu sudah berjamur dan berulat, isi album ini ada cadangannya, nanti buat yang baru lagi saja.”
Mendengar perkataanku, dia baru meredakan amarahnya.
Saat membantunya mengoles obat, Willy melihatku lalu berkata: “Sarah, aku lihat belakangan ini, kamu sepertinya tidak terlalu baik, apa karena tekanan kerja terlalu berat? Aku sudah bantu pesanin liburan pribadi, kamu pergilah jalan-jalan untuk rileks.”