Bab 4
Bagaimana rasanya, enak?
Pintu akhirnya tertutup, untuk terakhir kalinya Vina melihat wajah suaminya sebelum ia melihat wajah pria lain.
Wanita itu menarik napas panjang sebelum ia memulainya. Hati kecilnya berkata tidak, namun rasa cintanya yang teramat besar kepada sang suami, membuat wanita itu melakukan hal yang gila. Berhubungan badan dengan pelayannya.
Udara di kamar itu memang dingin, tapi bagi Vina, rasanya masih sangat panas. Sepanas hatinya yang ingin segera keluar dari kamar ini.
Hingga akhirnya, suara berat seorang pria memanggil wanita itu.
"Bu Vina, mari minum dulu!"
Ramli menawarkan minum untuk wanita itu. Minuman yang sudah disediakan khusus untuk mereka.
Rangga sengaja memesan bir untuk mereka berdua.
Vina menoleh dengan wajah dingin.
Sesungguhnya wanita itu tidak pernah ingin melakukan hal gila ini. Tapi tuntutan dari suami dan keluarganya, membuatnya nekad untuk menerobos dosa paling terlarang yang konon katanya, rasanya sangat nikmat dari pasangan sah.
"Bu Vina tidak minum?" tawar Ramli lagi.
Wanita itu memegangi kepalanya yang pusing, merutuki dirinya yang saat ini terjebak dalam hubungan yang rumit.
Ramli tahu apa yang ada di dalam hati wanita itu. Ia juga tidak serta-merta memaksanya untuk mau berhubungan dengan dirinya.
"Bu Vina sedih, ya? Apa Bu Vina menyesal dengan perjanjian kita? Jika Bu Vina menyesal, saya tidak keberatan untuk membatalkan kerjasama kita dan uangnya akan saya kembalikan saja ke Pak Rangga!"
"Jangan! Kamu tidak usah melakukan itu. Aku tidak akan membatalkan kerjasama kita. Aku cuma butuh waktu sebentar, tolong! Kepalaku sangat pusing sekali. Bisa kah kamu biarkan aku tenang dulu!" mohon Vina.
Ramli mengangguk dan mengerti. Pria itu pun tidak akan bertanya macam-macam lagi. Hanya saja ia merasa kasihan melihat kondisi Vina yang kurang fit malam ini.
Bagaimana bisa wanita itu menerima benihnya dengan baik jika Vina dalam keadaan seperti itu.
"Maaf Bu Vina. Saya lihat Bu Vina kurang enak badan. Kalau Bu Vina mau, saya bisa bantu pijitin kepala dan area leher. Biasanya otot-otot di daerah itu suka tegang dan bikin pusing! Dulu, waktu di desa saya sering mijitin kepala Emak saya yang suka pusing, setelah saya pijit katanya udah nggak pusing lagi dan sembuh!" tawar Ramli yang masih bersikap hormat seperti pelayan Vina biasanya, meskipun penampilannya saat itu terkesan sangat macho dan gagah.
Sejenak, Vina berpikir, apa yang dikatakan oleh Ramli ada benarnya.
Tidak ada salahnya jika ia meminta bantuan kepada pria itu untuk memijit kepalanya.
"Beneran kamu bisa mijitin kepala?" jawab Vina. Ramli mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau Bu Vina tidak percaya, bisa dicoba sekarang!" jawab Ramli percaya diri.
Vina menggerakkan bola matanya ke kanan-kiri untuk memastikan dirinya mengizinkan sang pelayan menyentuh kepalanya.
Setelah beberapa saat setelah berpikir, Vina pun setuju bersedia untuk dipijit.
"Oke, silakan dipijit! Terus, aku harus duduk di mana?" jawab wanita itu tampak memilih posisi yang tepat.
"Bu Vina duduk di situ saja, biar saya yang naik ke ranjang!" jawab Ramli bersiap untuk naik di atas ranjang ukuran Big size itu.
"Oke!" Vina masih duduk di tempatnya.
Lalu, perlahan Ramli naik dan memposisikan dirinya di belakang sang majikan.
Aroma harum dari tubuh Vina cukup membuat konsentrasi Ramli sedikit terganggu.
Wangi itu sangat lembut namun membuat hidung ingin sekali menciumnya lebih dalam.
"Tubuh Bu Vina sangat harum, pasti wanita ini sangat pandai merawat dirinya. Astaga, kulitnya sangat mulus tanpa cela. Kalau aku jadi suaminya, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain menatap kecantikannya apalagi sampai berhubungan badan. Pak Rangga memang suami yang sangat aneh!" batin Ramli.
Vina belum merasakan tangan Ramli memijit kepalanya, wanita itu pun langsung protes sambil menoleh ke samping.
"Ramli, kenapa lama sekali? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya dengan tegas.
Ramli terkesiap, lamunannya buyar seketika saat suara Vina memanggilnya.
"Emmm iya Bu, maaf! Saya cuma kagum sama ibu. Bu Vina sangat mencintai Pak Rangga rupanya, sampai-sampai Bu Vina harus mau berada di kamar ini bersama saya!" kata Ramli.
Vina menghela napas dan kali ini ia tidak ingin membicarakan itu lagi.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin bicara tentang itu. Cepat pijitin, udah pusing banget ini!" desak Vina yang bersiap untuk mendapatkan pijitan spesial dari sang pelayan.
"I-iya, Bu!"
Tangan kekar Ramli, mulai menyentuh kepala Vina.
Lalu menekannya pelan-pelan, pria itu tahu di mana titik saraf untuk meringankan sakit kepala.
Tangannya turun ke bawah, tepatnya di pangkal leher sebelah luar.
"Ahhhh lumayan juga pijatan tangan Ramli, kepala jadi nggak tegang lagi!" gumam Vina sambil menikmati pijatan lembut itu.
Vina semakin memejamkan matanya saat pijitan Ramli membuatnya sangat rileks.
Hingga akhirnya, entah kenapa pijatan tangan Ramli tiba-tiba membuat Vina sedikit gugup. Pasalnya, pria itu memijit dengan sangat lembut dan begitu dekat, apalagi saat tangan Ramli menekan pangkal lehernya lalu turun ke pundak dan dada bagian atas.
Kedua bola mata Vina melirik ke bawah di mana tangan besar Ramli hampir saja sampai pada dua gundukan kenyal miliknya.
Napasnya mulai tak beraturan, seolah Ramli tahu di mana letak titik-titik syaraf yang bisa membuat rileks bahkan keenakan.
"Bagaimana rasanya Bu, enak?" bisik pria itu di telinga Vina.
BERSAMBUNG
Bab 5
Pelukan
Vina membuka matanya dan langsung melepaskan tangan Ramli dari pundaknya. Tentu saja Ramli sangat terkejut dengan sikap Vina yang tiba-tiba pergi.
"Sudah cukup! Terima kasih banyak atas pijitin nya, sekarang udah agak mendingan!" kata wanita itu sambil duduk sedikit menjauh dari Ramli.
Ramli sendiri juga tidak bisa memaksa majikannya. Pria itu pun ikut duduk di ranjang yang sama namun mereka saling berjauhan.
"Maaf jika saya sudah membuat Bu Vina merasa tidak nyaman," kata Ramli merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, santai saja!" jawab Vina yang sejatinya ia juga sangat gugup.
"Baiklah, saya akan berusaha untuk santai, lalu...setelah ini kita ngapain lagi? Apa kita segera ke tujuan utama? Bikin anak?"
Kata-kata Ramli langsung membuat Vina meremang, bulu kuduknya berdiri, bukan karena ada setan, tapi kata-kata Ramli terasa menghantui pikiran melebihi seekor setan.
"Emmm gimana, ya! Jujur, aku tuh nggak bisa nafsu dengan pria lain selain sama suamiku sendiri. Jadi, aku minta maaf jika nanti aku nggak bisa bayangin wajahmu, karena hanya suamiku yang selalu ada di pikiranku!" kata Vina terus terang.
Ramli tertawa dan bisa memahami ucapan istri majikannya.
"Tidak apa-apa, Bu Vina. Saya sangat mengerti sekali. Tapi, saya akan usahakan untuk membuat Bu Vina senyaman mungkin, saya juga tidak mungkin menyakiti Anda. Saya akan melakukannya sesuai request, jika Anda minta slow, oke saya bisa. Anda minta kecepatan sedang-sedang saja, saya juga tidak keberatan. Bahkan, Anda minta full tenaga, saya juga tidak masalah sama sekali!"
Kata-kata Ramli cukup membuat Vina tertawa kecil.
Rasanya aneh saja, untuk membicarakan hal tabu itu terasa seperti memesan ojek.
Ramli melihat Vina tertawa kecil, pria itu pun garuk-garuk pelipisnya, apa salah dengan ucapannya?
Bukankah ia dibayar untuk menghamili istri orang?
Seharusnya ia harus bisa memberikan pelayanan yang senyaman mungkin untuk Vina. Agar wanita itu tidak trauma misal mereka melakukan hubungan intim lagi jika kehamilan belum berhasil.
"Kenapa ketawa, Bu? Ada yang lucu, ya?" tanya Ramli sambil mengulum senyumnya.
Vina menegakkan kepalanya, sejenak wanita itu tersenyum hingga menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.
Beda sekali dengan gigi Ramli yang berwarna putih keruh bahkan cenderung kekuningan karena terlalu banyak minum kopi dan merokok.
"Astaga, apa yang sedang terjadi pada kita, Ramli? Ini sangat tidak masuk akal, bukan? Lucu sekali!" kata Vina sambil menggelengkan kepalanya.
Ramli ikut tertawa, "Entahlah, Bu. Saya juga tidak menyangka bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini dari Pak Rangga. Menghamili Anda adalah sesuatu yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, sepertinya kita sama-sama membutuhkan hal ini. Bu Vina ingin anak, dan saya ingin membiayai anak-anak saya di desa!" kata Ramli yang seketika menarik perhatian Vina untuk membicarakan anak-anak pria itu.
"Anak-anakmu tinggal sama neneknya?" tanya Vina. Ramli mengangguk lemah.
"Ohhh, lalu, apa kamu tidak ingin menikah lagi? Kamu masih muda dan kuat, pasti banyak wanita yang ingin menjadi istrimu!" kata Vina lagi.
Ramli menundukkan wajahnya sambil menggelengkan kepala. "Saya berjanji tidak akan menikah lagi. Almarhum istri saya adalah wanita terakhir dalam hidup ini, saya hanya fokus membesarkan anak-anak, itulah kenapa saya merantau ke Jakarta dan kebetulan bertemu dengan Pak Rangga saat beliau dikejar-kejar preman."
Ramli mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. "Beliau membawa saya ke rumah kalian dan dipercaya sebagai kepala pelayan. Sungguh, ini adalah kehormatan untuk saya, sampai akhirnya, saya harus melakukan sesuatu yang sangat besar yakni... Dibayar untuk menghamili istrinya!"
"Memang tidak sesuai dengan hati kecil saya, tapi rengekan anak kedua yang ingin dibelikan sepeda, membuat hati saya goyah, terpaksa saya harus menerima tawaran Pak Rangga. Maafkan saya, Bu!" ungkap Ramli yang seketika membuat Vina merasa kasihan.
"Iya, aku juga seperti itu. Rasanya ini sangat mustahil ya, kan? Tapi, Papa terus mendesakku untuk segera punya anak. Jika tidak, Papa akan memecat suamiku dari jabatannya dan aku tidak ingin itu terjadi, aku sangat menyayangi suamiku. Kamu ngerti perasaanku, kan?" balas Vina yang tanpa sadar wanita itu menangis.
Melihat wanita yang sedang menangis, membuat jiwa melankolis seorang Ramli luluh.
Pria berotot itu tak tega melihat Vina bersedih, reflek pria itu bergerak mendekat dan duduk di samping Vina.
"Aku takut sekali, Ram! Takut kehilangan semuanya!" Vina makin sesenggukan. Sontak, Ramli memeluk wanita itu untuk menenangkannya.
Dan entah kenapa, Vina langsung menyandarkan kepalanya pada dada besar sang pelayan. Seakan-akan ia merasa mendapatkan ketenangan ketika berada di dalam pelukan pria itu.
BERSAMBUNG
Bab 6
Tawaran kenikmatan
Tak sadar jika dirinya sedang bersandar di dada Ramli, Vina nampak begitu nyaman, seolah dirinya lupa jika sedang bersama seorang pelayan.
Perlahan Ramli mengusap lengan wanita itu, memberikannya kenyamanan karena ia tahu jika Vina sama seperti dirinya. Terpaksa melakukan itu demi sebuah hal yang sangat mereka sayangi.
Sadar jika dirinya berada di pelukan pelayan itu, Vina segera mengangkat wajahnya dan sedikit menjauh dari Ramli.
"Ma-maaf, aku tadi tidak bermaksud...!"
"Tidak apa-apa, Bu. Bagaimana kalau kita minum dulu. Setelah itu kita mulai. Waktu kita cuma sebentar, kata Pak Rangga hanya dua jam tidak lebih!" potong Ramli sambil menuangkan bir ke dalam sebuah gelas.
"Maaf, aku tidak minum bir!" sahut Vina menolak.
"Dicoba sedikit, Bu. Nggak seburuk yang Bu Vina kira. Saya juga kurang terlalu suka jika berlebihan. Paling cuma dua gelas saja untuk menghangatkan tubuh. Tapi, Bu Vina nggak minum juga tidak apa-apa, toh nanti saya yang akan menghangatkan ibu!" kata Ramli tanpa dosa.
Vina memutar bola matanya saat mendengar ucapan pelayan itu.
Wanita itu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan.
Rangga memberikan waktu sampai jam sembilan malam.
Tentu saja masih ada waktu satu setengah jam untuk adaptasi sebelum melakukan aktivitas utama.
Sejenak Vina melihat wajah Ramli yang kali ini aura gagahnya sangat terlihat.
Ternyata pelayan yang biasa bekerja di rumahnya itu tidak terlalu buruk rupa. Ia melihat pria itu meneguk segelas bir dengan santainya seolah rasa minuman itu biasa-biasa saja seperti air putih.
"Bu Vina mau? Jangan bengong lihatin saya terus, ah saya jadi malu. Kalau mau biar saya ambilkan!" tawar Ramli ketika ia melihat Vina yang sedang menatapnya.
Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya Vina mencoba sedikit minuman beralkohol itu.
Siapa tahu bisa membuat pikirannya rileks sebelum dieksekusi oleh sang pelayan.
"Boleh, tapi sedikit saja, jangan banyak-banyak!" jawab Vina. Ramli tersenyum senang, lalu pria itu menuangkan bir ke dalam gelas dengan takaran sebanyak seperempat gelas.
Setelah itu, Vina menerimanya dan berusaha untuk meminumnya meskipun ia ragu.
Sejenak ia mencium aroma alkohol yang cukup kuat, kemudian memalingkan wajahnya karena ia tidak terbiasa dengan minuman seperti itu.
"Baunya gini amat, kayak bau kencing kuda!" gerutu Vina.
Ramli tertawa kecil mendengar ucapan sang majikan. "Memang seperti itu, Bu. Dicoba saja pelan-pelan, nanti juga akan terbiasa!"
Vina kembali mendekatkan bibir gelas itu pada bibirnya. Aroma alkoholnya memang sangat menyengat. Vina menahan napas ketika ia hendak meminumnya.
Sedangkan Ramli, pria itu tampak tersenyum melihat bagaimana majikannya belajar minum bir.
Ramli sendiri juga heran, wanita sosialita seperti dia bagaimana bisa tidak suka dengan minuman seperti itu.
Perlahan namun pasti, Vina berusaha untuk meminum bir tersebut. Sambil memejamkan matanya dan menahan napas, wanita itu mulai memasukkan minuman beralkohol itu ke dalam mulutnya.
Baru saja seteguk, Vina merasa mulutnya sangat getir dan pahit. Wanita itu spontan menyemburkannya tepat di depan Ramli. Sehingga membuat baju pria itu basah oleh semburan bir dari mulut Vina.
"Hah, maaf! Aku nggak sengaja, rasanya nggak enak banget, cuih!" Vina sontak melihat baju Ramli yang basah karena ulahnya sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa maklum!" Ramli melihat bajunya yang basah separuh. Pria itu terpaksa melepas kemejanya yang basah.
Melihat Ramli yang sudah bertelanjang dada, wanita itu tercengang kala melihat bentuk badan pria itu nyaris sempurna bak dewa Yunani.
"Oh my god! Dia cuma pelayan, tapi badannya bisa sehat bugar seperti itu. Nggak kayak badan Mas Rangga yang perutnya buncit. Ramli badannya kokoh banget, udah pasti tenaganya juga nggak kaleng-kaleng!" gumam Vina yang hampir saja terhipnotis oleh pesona sang pelayan.
"Nggak, nggak! Aduhhh, ngapain juga mikirin tuh pelayan. Pelayan ya tetap akan menjadi pelayan, nggak ada yang bisa nandingi Mas Rangga! Astaga, bagaimana bisa aku hamil anak pria ini, terus nanti gimana hasil cetak muka anakku, bisa sial kalau muka dan kulitnya kayak dia!" Vina merutuki dirinya sendiri yang hampir tergoda dengan kegagahan Ramli.
Setelah Ramli melepaskan pakaiannya, pria itu sekalian melepaskan celananya, mengingat waktunya cuma sebentar.
Sontak, apa yang dilakukan pria itu membuat Vina terperanjat.
"Ramli, kenapa celananya dilepas juga?" sahut wanita itu sambil memalingkan wajahnya.
Bagaimana tidak, kini Ramli hanya mengenakan celana dalam model sederhana.
Bak binaraga yang sedang berdiri menampilkan otot-ototnya yang kekar. Vina menelan ludahnya susah-susah saat tubuh atletis itu berdiri nyata di hadapannya. Perut kotak-kotak bak roti sobek serta otot-otot di tubuhnya yang sangat seksi. Menunjukkan pesona Ramli yang gagah dan sangat menggairahkan.
Dengan santainya, Ramli menjawab pertanyaan Vina. "Waktu kita tidak banyak, Bu. Kita belum pemanasan, masa ujug-ujug langsung dimasukin, nanti Bu Vina menjerit kesakitan, saya tidak mau itu terjadi. Sebisa mungkin saya akan membuat Bu Vina merasa nyaman dan juga keenakan!"
Jawaban Ramli yang serius dan konyol lagi-lagi membuat Vina membulatkan matanya.
"Heh, keenakan ya...!" Vina mulai gugup setelah Ramli berbicara demikian. Ramli kembali tersenyum, lalu pria itu berjalan mendekati istri majikannya.
"Bukan cuma keenakan, Bu Vina bisa minta request kenikmatan yang seperti apa, mau berteriak nikmat, kejang-kejang enak, atau berkali-kali klimaks? Semuanya saya bisa!" Tawaran Ramli sangat-sangat menggiurkan dan makin membuat jantung Vina berdetak semakin kencang.
BERSAMBUNG