Bab 1

"Ramli, hamili istriku, aku akan membayarmu dua puluh kali lipat dari gajimu!"

Ramli, duda anak tiga dari desa, terpaksa bekerja untuk CEO kaya. Namun, kedua majikannya terus bertengkar karena lima tahun ini, mereka tidak dikaruniai anak. Ramli yang butuh uang, tepaksa harus melakukan kerjasama. Perlahan, Vina mulai merasa nyaman dan ketagihan dengan sang pelayan. Hingga akhirnya mereka terjebak dalam hubungan yang sangat rumit. Apalagi saat Vina tahu sang suami telah mengkhianati dirinya dengan memiliki selingkuhan.

Yang lebih mengejutkan adalah, Ramli sebenarnya bukan pelayan biasa hingga semua orang terkejut!

Bersedia membantu

"Dua puluh juta, apa masih kurang?"

Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka.

Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak.

"Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.

Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.

Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.

Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung.

"Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya.

Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah.

"Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya.

"Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas.

Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan.

"Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu.

"Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya.

Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.

Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.

Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.

Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.

Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya.

Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah.

"Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana.

Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.

Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.

"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung.

Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya.

Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas.

Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya.

"Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri.

"Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga.

Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru.

"Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas.

Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama.

Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu.

Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu.

"Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos.

"Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil.

BERSAMBUNG

Bab 2

. Ramli versi tampan

Ramli garuk-garuk kepalanya, sebagai seorang duda, tentunya ia juga harus menjaga nama baiknya sebagai duda yang baik dan tidak nakal. Ia datang ke rumah Vina dan suaminya karena permintaan Rangga sendiri sebagai balas budinya kepada Ramli, karena telah menyelamatkan Rangga dari serangan preman-preman.

"Iya, saya tahu diri, Pak. Saya cuma pelayan di rumah ini. Pekerjaan saya cuma beres-beres dan mengamankan rumah Anda. Ya, aneh aja kalau saya disuruh melakukan itu sama Bu Vina. Apa nanti Bu Vina tidak jijik sama saya? Habis main sama Pak Rangga yang ganteng dan bening, eh tiba-tiba main sama saya, muka kek codot gini. Takutnya Bu Vina malah lari sebelum eksekusi!" kata pria itu.

Rangga tertawa lepas mendengar ucapan Ramli yang lucu. Sedangkan Vina, wanita itu tampak datar dan cenderung cemberut.

Apa yang dikatakan oleh Ramli ada benarnya, mana bisa ia menikmati sebuah percintaan jika pasangannya seperti Ramli.

"Ramli, Ramli, kamu ada-ada saja. Sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Istriku sudah setuju dan targetku, bulan depan kamu harus sudah menghamilinya, sekarang dia sedang dalam masa subur. Jika kamu setuju, hari ini aku pesankan kamar hotel, kita pergi ke hotel sama-sama, kamu dan Vina bisa melakukannya di sana. Tapi, aku memberimu waktu tidak lebih dari dua jam, setelah itu kamu harus sudah selesai dan keluar dari kamar itu, bagaimana?" tawar Rangga yang terdengar di luar nalar.

Hanya demi sebuah karir, pria itu tega membuat istrinya disentuh oleh laki-laki lain.

"Di hotel, sekarang?" Ramli membulatkan matanya.

"Kenapa? Kamu tidak bisa?" sambung Rangga dengan menautkan kedua alisnya.

"Kenapa harus di hotel? Di rumah kan bisa, Pak?" jawab Ramli memberi pilihan lebih mudah.

"Ya bisa juga sih, masalahnya sekalian aku ketemu dengan klien, jadi aku tunggu kalian di lobi hotel, setelah dua jam, kalian harus sudah selesai, dan kita pulang seperti biasa!" jawab Rangga.

"Harus malam ini, Pak? Aduh, apa tidak terlalu cepat? Masih ada hari esok dan esoknya lagi!" Ramli bertanya lagi untuk memastikannya.

"Bukankah lebih cepat lebih baik? Mumpung istriku sedang masa subur," sambung Rangga.

"Ya, iya sih, Pak. Masalahnya apa Bu Vina setuju. Kalau saya sih terserah, nurut saja!" jawab Ramli patuh. Lalu, Rangga menoleh pada sang istri.

"Bagaimana, sayang? Apa kamu sudah siap malam ini?" tanya Rangga sambil tersenyum meyakinkan istrinya.

"Hah, entahlah, Mas. Aku bingung! Harus dengan si Ramli, ya? Nggak bisa gitu sama Lee Min Ho atau Shahrukh Khan? Biar semangat kalau main. Benihnya juga udah premium. Masa main sama pelayan, pasti nanti anaknya item dan dekil!" jawab Vina yang sudah bisa membayangkan bagaimana Ramli menyentuh dirinya.

Sengaja ia menghibur dirinya sendiri karena malam ini, Ramli, pria dari kampung itu akan menyentuhnya. Memberikannya benih yang akan tumbuh di rahimnya.

"Sudah, tidak apa-apa. Ramli juga tidak seburuk yang kamu kira. Kamu merem aja nggak usah lihat mukanya. Ingat tujuan awal kita adalah punya anak, oke!" kata Rangga yang terus merayu istrinya untuk bersedia pergi ke hotel.

"Ya udahlah, terserah kamu. Tapi aku minta, Ramli didandani dulu, biar nggak kayak orang desa. Setidaknya dia sedikit kelihatan beda lah. Masa datang ke hotel dengan baju dia yang enggak banget!" pinta Vina yang sudah hafal dengan bagaimana penampilan Ramli sehari-hari.

Setelah mendengar permintaan istrinya, Rangga melihat penampilan Ramli dari atas sampai bawah. Memang terkesan sangat sederhana bagi pria seusia dirinya.

"Oh, itu bisa diatur. Kamu tidak perlu khawatir! Sebelum kita pergi, aku akan mengubah penampilan Ramli sesuai keinginanmu, yang penting kamu nyaman!" kata Rangga.

Rangga pun menyodorkan surat perjanjian kerjasama untuk Ramli dengan tanda tangan di atas materai. Isi perjanjian kerjasama itu terdiri dari poin-poin penting.

Bahwasannya, setelah Vina dinyatakan hamil, maka Ramli tidak boleh berhubungan lagi dengan Vina dengan alasan apa pun.

Kedua, anak yang dikandung Vina dari benih Ramli, akan menjadi anak biologi Rangga secara hukum.

Dan yang paling penting adalah, Ramli tidak boleh mengambil hak asuh atau mengklaim dirinya sebagai ayah biologis dari anak Vina nanti jika sudah dewasa.

Rangga akan memberikan uang muka secara langsung di hadapan Ramli dan sisanya akan dibayar setelah Vina dinyatakan positif hamil. Dan Ramli wajib menyembunyikan kerja sama itu untuk selamanya.

Setelah membaca beberapa persyaratan tersebut. Ramli pun bersedia untuk tanda tangan di atas materai. Jika salah satu syarat itu dilanggar, maka Rangga akan memprosesnya secara hukum atau memberikan pelajaran kepada Ramli dan keluarga beserta ketiga anaknya.

Sebuah tanda tangan telah dibubuhkan di atas kertas bermaterai yang berisi perjanjian tersebut.

Tanpa ada ikatan pernikahan, Rangga meminta Ramli untuk menghamili istrinya.

"Deal!"

Akhirnya, perjanjian kerjasama itu telah dibuat. Selanjutnya, sesuai permintaan Vina, Rangga membawa Ramli pergi ke sebuah salon untuk merubah penampilan pria itu.

Di sisi lain, Vina juga bersiap untuk pergi. Demi sang suami, ia rela melakukan apa saja agar rumah tangganya tetap utuh, karena ia sangat mencintai suaminya.

Vina berangkat bersama suaminya, sedangkan Ramli, pria itu akan menyambut kedatangan Rangga dan Vina di hotel. Karena ia sudah pergi terlebih dahulu ke salon dan setelah dari sana, Ramli langsung datang ke hotel yang sudah disepakati.

"Sudah selesai! Uwuuuu ini beneran kan pembantunya Pak Rangga? Duh ternyata cakep juga, yak! Macho eim!" ucap pegawai salon yang takjub melihat perubahan Ramli setelah dipermak.

Pria itu terlihat lebih keren macho dengan setelan celana panjang warna hitam dan kemeja berwarna marun. Warna kulit pria itu keluar auranya. Usianya jauh terlihat lebih muda. Ia yang biasa sibuk membersihkan rumah majikannya, hari ini Ramli terlihat seperti bos besar dengan gaya tatanan rambutnya yang stylish.

Postur tubuhnya pun sangat mendukung sekali. Lengan pendek kemeja marun itu dilipat ke atas sehingga menunjukkan otot-otot lengannya yang kekar. Belum lagi dada bidangnya yang sempurna. Wanita mana yang tidak akan melirik Ramli dalam mode tampan.

Jam setengah tujuh malam, Ramli sudah datang di hotel, ia menunggu kedatangan majikannya yang akan datang sebentar lagi di halaman hotel.

Siapa sangka, kehadiran Ramli di hotel itu menjadi pusat perhatian para wanita yang melihatnya. Tak jarang mereka menyapa dan meminta foto bersama, bak Ramli adalah seorang artis.

Tak berselang lama, Rangga dan Vina tiba di hotel yang sudah dipesan untuk malam di mana Ramli akan mentransferkan benihnya langsung ke dalam rahim Vina.

Pasangan suami-istri itu tampak terkejut saat melihat ada beberapa wanita yang berkerumun di halaman hotel.

"Ada apa ya, Mas?" tanya Vina penasaran.

"Entahlah, mungkin ada artis yang datang, biasalah!" jawab Rangga menebak.

"Si Ramli kemana coba, kok jam segini belum datang juga!" imbuh Rangga sambil menghubungi nomor Ramli.

Rupanya, panggilan itu langsung tersambung ke ponsel Ramli yang sedang dikerubuti oleh banyak wanita.

Ramli segera menerima telepon dari majikannya.

"Permisi, permisi, saya mau angkat telpon!" pamit Ramli keluar dari kerumunan wanita yang mengitarinya.

"Halo, Pak. Anda di mana?" Ramli mencari-cari keberadaan sang majikan yang belum ia ketahui keberadaannya.

"Aku ada di depan lobi hotel, kamu di mana?" balas Rangga sambil melihat ke arah luar di mana ada kerumunan wanita di sana. Memastikan keberadaan Ramli.

"Astaga, bikin bete aja. Kayak nungguin artis saja!" gerutu Vina yang sejatinya ia tidak mood untuk berangkat.

Siapa sangka, Rangga melihat ada seorang pria yang sedang melambaikan tangan kepadanya.

"Paakkk! Saya di sini!!"

Suara Ramli seketika membuat Rangga dan Vina menoleh.

"Itu Ramli??" Vina yang semula terlihat bete, tiba-tiba wanita itu membulatkan matanya saat melihat sosok pria yang mirip sekali dengan Ramli. Namun, dalam versi tampan.

BERSAMBUNG

Bab 3

Matikan lampunya

Ramli segera berlari ke arah Rangga dan Vina. Malam ini, pria itu terlihat sangat kharismatik, berwibawa dan pastinya lebih macho dan seksi dari penampilannya yang sehari-hari.

Benar kata pelayan salon, Ramli terlihat seperti bos besar ala-ala mafia. Wajahnya yang tegas dengan tatapan matanya yang tajam, semakin membuat penampilan Ramli lebih memukau dari Rangga.

"Ramli? Kenapa mukanya jadi beda?" gumam Vina terkejut dan pangling.

Wanita itu yang semula tidak terlalu memperhatikan wajah sang pelayan, hari ini entah kenapa wajah Ramli tidak bosan untuk dipandang.

Tapi tetap saja, Vina tak ingin menjatuhkan dirinya. Ia masih menganggap Ramli adalah pria desa yang menjadi pelayannya. Dan baginya hanya Rangga pria paling tampan dan tidak ada yang menandinginya.

Rangga melihat kedatangan Ramli.

Lalu setelah Ramli sampai di depan mereka. Pria itu mengajak Ramli untuk masuk ke dalam hotel.

"Maaf, Pak Rangga, Bu Vina. Tadi saya tidak melihat kalau Bapak sama ibu sudah datang," ucap Ramli sambil menundukkan kepalanya layaknya seorang pelayan.

"Tidak apa-apa, lagipula aku dan istriku baru saja datang. Ayo kita masuk, aku akan daftar dan cek in!" jawab Rangga sambil menggandeng istrinya masuk ke dalam hotel.

Ramli mengangguk dan berjalan di belakang mereka.

Sementara itu, Vina yang berjalan di samping sang suami, sejenak ia menoleh ke belakang di mana Ramli sedang berjalan mengikuti mereka.

Ramli tersenyum sambil mengangguk saat Vina menoleh padanya. Vina langsung memalingkan wajahnya dan menatap ke arah depan.

"Issh, kenapa aku noleh sih. Dasar bodoh!" gerutu Vina yang saat itu sedang memakai gaun berwarna hitam dengan siluet A line dengan belahan sampai ke paha, menunjukkan bentuk tubuhnya yang ramping bak gitar spanyol. Rambutnya yang panjang disanggul ke atas, memamerkan leher jenjangnya yang seksi dan menggoda.

Ramli melihat penampilan sang majikan yang sangat menggoda. Sebagai pria normal apalagi seorang duda, tentu saja Ramli dibuat menelan ludah melihat kecantikan dan keanggunan istri majikannya.

"Wanita secantik ini, bagaimana bisa Pak Rangga tega menyerahkann pada pelayan miskin seperti aku! Kasihan sekali, harusnya dia disayang suaminya, tapi suaminya malah membayar pria lain untuk menghamilinya. Aku sendiri tidak bisa nolak, kebutuhan anak-anakku paling utama. Maafkan bapak anak-anakku, ini semua bapak lakukan demi kalian. Pekerjaan yang sangat mudah, bikin adek untuk kalian. Tapi, nanti adek kalian akan dibawa sama mereka!" gumam Ramli dalam hatinya.

Sesampainya di meja resepsionis, Rangga segera mendaftar untuk cek in menggunakan identitasnya sendiri. Ia memesan kamar VVIP untuk istri dan pelayanannya.

Setelah ia memesan kamar, Rangga membawa Ramli dan istrinya untuk pergi ke kamar.

Di lantai atas nomor 201 adalah kamar VVIP yang akan dibuat sebagai tempat untuk mentransfer benih Ramli ke rahim Vina.

Rangga membuka kunci pintu dengan menggesek kartu khusus untuk pembuka pintu kamar tersebut.

Pintu pun terbuka, Rangga membawa masuk istri dan pelayan pria itu.

Kamar yang luas dan dipenuhi oleh fasilitas mewah. Ramli tercengang saat melihat kemewahan kamar kelas atas itu.

Sesuai permintaan Vina, Rangga ingin istrinya merasa nyaman saat berhubungan intim dengan pelayannya.

Entahlah, seolah rasa cemburu itu sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Rangga. Pria itu justru memberikan fasilitas yang mewah saat istri dan pelayan rumahnya akan melakukan aktivitas gila yang biasa dilakukan oleh suami istri.

"Waduh, Pak. Kamarnya besar sekali. Kamar ini lebih luas dibandingkan rumah saya di desa!" kata Ramli yang baru pertama kali masuk ke dalam kamar hotel mewah.

"Ya, jika tugasmu berhasil, kamu bisa membangun rumah yang lebih besar dari kamar hotel ini. Pasti anak-anakmu sangat senang, ayahnya sukses dan bisa membangun rumah baru di desa!" kata Rangga.

Sesekali pria itu melihat ke arah jam tangan. Hari itu ia juga sedang ada janji dengan kliennya untuk makan malam di hotel itu.

Vina sendiri masih menggandeng tangan suaminya seolah ia tidak mau ditinggal pergi oleh sang suami. Rasanya sangat tidak nyaman berada di dalam satu ruangan dengan pria lain.

Sungguh, sebenarnya Vina merasa sangat takut.

"Baiklah, aku tinggal sekarang. Klien kita sudah menunggu di lantai bawah. Baiklah sayang, aku tinggal sebentar ya, setelah aku dan Mr. Edward selesai makan malam, kita akan segera pulang. Dan tentunya kamu juga sudah selesai dengan Ramli!" kata Rangga sebelum pria itu pergi.

"Tapi, Mas! Aku takut!" jawab Vina yang terlihat gugup.

"Jangan takut! Anggap saja kamu sedang bercinta denganku, bayangkan wajahku saja, bila perlu matikan lampunya, oke!" ucap Rangga meyakinkan sang istri.

Ramli sendiri masih terpesona dengan desain kamar hotel mewah itu. Sebagai orang desa, tentunya desain mewah itu tidak pernah ia jumpai di sekitar tempat tinggalnya.

Akhirnya setelah berhasil merayu istrinya, Rangga keluar dari kamar. Meninggalkan sang istri berdua saja dengan sang pelayan.

"Daaah, aku pergi dulu. Ingat kata-kataku! Bayangkan wajahku dan matikan lampunya!" Kalimat terakhir sebelum Rangga menutup pintu.

BERSAMBUNG

Ah! Mantap Mas Ramli

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya