Bab 7

Karina berlari ke tepi kapal, berdiri di balik pagar dek.

Angin laut menusuk tulang, meniup tubuhnya yang kurus kedinginan.

Dia tak tahu sudah berdiri di sana berapa lama.

“Sendirian melihat laut. Kesepian sekali, Kak.”

Suara menjijikkan Yuna terdengar dari belakang, manja dan penuh rasa kemenangan.

Karina tak menoleh.

Yuna berjalan melenggok ke sampingnya, mendekat dengan sengaja. Lalu berbisik penuh racun, “Jangan mimpi, Kak. Orang yang Jerry cintai dari awal sampai akhir hanya aku.”

“Dan ayahmu yang sial itu, haha!” Dia tertawa sinis, lalu mendekatkan bibir merahnya.

“Itu salah dia sendiri. Mobilku yang semewah itu datang, dia nggak bisa lihat? Mati juga pantas. Setidaknya dia ngggak menghalangi jalanku lagi.”

Setiap kata itu seperti besi panas, menempel di luka terdalam Karina, membakar habis sisa-sisa kewarasan.

Gambaran sang ayah yang mendorongnya ke tepi untuk menyelamatkannya, langsung menyeruak. Seluruh kebencian, rasa sakit, dan dendam meledak seketika.

“Yuna!” Karina membelalak, mata merah menyala, tubuhnya gemetar.

“Kau pembunuh!”

Dipenuhi amarah yang mengaburkan akal sehat, dia mengangkat tangan dan menampar wajah Yuna sekuat tenaga.

Namun di mata Yuna, kilatan licik muncul. dia tak menghindar, bahkan menangkap pergelangan tangan Karina secara tepat.

Lalu dengan gerakan yang direncanakan, Yuna menjatuhkan tubuhnya ke belakang secara dramatis, berteriak keras, “Ah! Kakak jangan dorong aku! Tolong!”

Semuanya terjadi dalam sekejap mata.

Karina, yang masih dipegang, kehilangan keseimbangan dan ikut tertarik keluar pagar kapal.

Tubuhnya menggantung, aroma laut yang dingin dan menyengat menyapu wajahnya.

“Yuna!”

Teriakan penuh panik terdengar. Jerry datang seperti peluru.

Dia mengulurkan tangan dan menarik Yuna.

Dengan sekuat tenaga, Jerry memeluk Yuna erat-erat, memastikan wanita itu aman.

Karina, yang kehilangan tumpuan terakhir, jatuh dari kapal seperti daun gugur yang ditiup badai dan langsung menuju laut gelap nan dingin.

“Byur!”

Air laut dingin menyambut tubuhnya dengan mematikan.

Setiap tetesnya seperti jarum tajam yang menembus kulit hingga tulang.

Tubuhnya kehabisan napas karena hentakan, paru-parunya seperti terbakar.

Namun yang paling menghancurkan hatinya adalah perut bagian bawahnya berdenyut nyeri luar biasa. Rasa sakit tajam yang menusuk hingga ke tulang.

Lalu, dia merasakan hangat yang mengalir dari dalam tubuhnya, perlahan menyebar menjadi warna merah di air laut yang beku.

Dia meronta. Pandangannya kabur.

Pandangan terakhirnya adalah ....

Jerry memeluk Yuna di dek kapal, matanya penuh ketakutan dan rasa sayang pada wanita itu.

Dia bahkan tidak menoleh ke arah Karina yang terjatuh ke laut.

Dingin, gelap, dan sakit. Itulah yang terakhir menyelimuti dirinya sepenuhnya.

Bab 8

Karina kembali sadar di sebuah kamar perawatan rumah sakit yang berbau menyengat disinfektan.

Seorang perawat sedang mengganti infusnya.

“Sudah sadar? Anakmu nggak bisa diselamatkan. Tubuhmu luka cukup parah, jadi istirahatlah dengan baik.”

Jerry masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak kelelahan, bahkan sedikit panik.

Dia berusaha menggenggam tangan Karina yang tergeletak di luar selimut, dingin dan tak bernyawa.

Karina tiba-tiba menarik tangannya menjauh. Tatapannya datar dan mati, seperti air yang sudah lama menggenang tanpa riak.

Tangan Jerry membeku di udara. Dia berkata dengan suara serak, “Karina, bagaimana keadaanmu? Maaf, saat itu aku benar-benar nggak melihatmu yang juga jatuh.”

“Karena sudut pandangnya, aku hanya melihat Yuna yang akan jatuh. Aku panik, jadi .…”

Karina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan dari tangisan.

Perasaan dingin di dada menyebar luas, menjalar ke seluruh tubuh. Termasuk ke rahimnya yang kini kosong.

Bahkan kebohongannya terlihat jelas dan seadanya. Apa lagi yang tersisa untuk Karina katakan?

“Kamu istirahat dulu. Aku akan minta dokter cek ulang seluruh kondisi tubuhmu.”

Dia gelisah melihat Karina tak merespons sama sekali.

Lalu, ponselnya bergetar. Dia refleks melihat layar, alisnya langsung berkerut.

“Yuna, lengannya sedikit terluka. Emosinya juga labil. Aku ke sana sebentar, ya. Nanti aku akan kembali lagi untuk menemanimu.”

Tanpa menunggu jawaban, Jerry langsung pergi. Bahkan tanpa sempat tahu bahwa anak mereka telah ikut terkubur dalam “kecelakaan” itu.

Begitu pintu menutup, keheningan kembali menelan seluruh ruangan.

Layar ponsel Karina menyala. Pesan dari Yuna.

Terkirim beberapa foto, satu video pendek berdurasi belasan detik.

Dalam foto, Jerry sedang duduk di samping ranjang Yuna. Dia membungkuk, mengoleskan salep ke luka kecil di lengannya dengan lembut.

Dalam video itu, mereka berdua berpelukan erat dan bermesraan. Wajah Jerry jelas terlihat meski cahaya remang dan suara manja Yuna menggema. Terlihat terlalu akrab, terlalu menjijikkan.

Karina menatap layar itu mati-matian. Perutnya mual seketika.

Dia membuka selimut, mencabut jarum infus dari punggung tangannya.

Darah langsung merembes keluar. Namun, dia tak merasa sakit.

Tubuhnya lemah dan limbung, tapi dia menggigit bibir. Menahan diri, bertumpu pada dinding, selangkah demi selangkah, meninggalkan rumah sakit dengan pakaiannya sendiri.

Setiap langkah terasa seperti menginjak pisau, tapi juga membuat pikirannya semakin tajam dan tekadnya semakin kuat.

Matahari siang menyilaukan.

Dia membuka ponsel, mengirim semua bukti pemalsuan keterangan dan perlindungan Jerry terhadap Yuna ke pengacaranya.

Mata Karina bersinar terang, penuh dengan keputusan terakhir.

‘Setelah aku selesaikan proyek klien terakhir ini, aku akan putus semua hubungan dengannya besok. Dengan membawa paspor, aku akan pergi sejauh mungkin.’

Dia pulang ke studio miliknya, satu-satunya tempat yang masih bisa dia sebut miliknya sendiri.

Di tengah ruangan besar itu, berdiri rangka penopang khusus setinggi hampir empat meter, menopang satu lukisan kuno yang sangat langka dan hampir selesai diperbaiki.

Hanya tinggal menyempurnakan warna di bagian kecil.

Karina mengganti bajunya, menarik napas dalam dan perlahan naik ke atas rangka perbaikan itu.

Setiap gerakannya, menarik luka yang belum pulih. Keringat dingin membasahi dahinya. Namun, tangannya tetap stabil, matanya sangat fokus.

Seolah di dunia ini, hanya tersisa dia dan lukisan itu.

Sementara itu, Yuna yang tahu Karina telah meninggalkan rumah sakit, langsung datang ke studio.

Dia menatap sosok Karina yang lemah tapi kuat, yang sebentar lagi akan menyelesaikan karya besarnya.

Saat itu juga, melihat semua karya Karina dan mendengar Jerry makin tak tenang belakangan ini, rasa benci dan iri di hati Yuna semakin membesar.

Dia berjalan mengendap-endap masuk, seperti ular berbisa, tatapannya menatap satu titik, yaitu pada bagian sambungan rangka yang menopang tubuh Karina.

Ada beberapa baut di sana yang sudah mulai longgar.

Dengan memakai sarung tangan, Yuna diam-diam melonggarkan baut-baut itu hingga ke batas terakhir.

Karina masih sepenuhnya fokus pada sentuhan kuas di ujung jarinya.

Lalu, “Krak!”

Suara retakan kayu yang membuat bulu kuduk berdiri.

Bagian rangka penopang tempat Karina berpijak ambruk dan langsung jatuh.

Bab 9

“Ah!”

Karina tiba-tiba terjatuh, tak sempat bereaksi.

Di detik-detik saat akan jatuh, satu-satunya pikirannya bukan menyelamatkan diri, melainkan untuk menyelamatkan lukisannya!

Dia menggulingkan tubuh ke arah sebaliknya, menabrakkan badannya pada rangka perbaikan agar tidak mengenai lukisan.

“Brak!”

Rangka itu bergoyang hebat, lalu bersama tubuh Karina, terhempas keras dari ketinggian beberapa meter.

Rangka perbaikan itu menghantam dadanya dengan keras, mengenai bahu dan tulangnya. Suara tulang retak terdengar mengerikan.

Sakitnya seperti badai menyapu seluruh tubuh. Darah menyembur dari mulutnya.

Suara keras yang luar biasa menarik perhatian orang berdatangan dan Karina akhirnya tenggelam dalam gelap.

Di rumah sakit. Lagi-lagi melihat cahaya putih yang menyilaukan dan bau disinfektan menguar tajam.

Karina perlahan membuka matanya, seolah terangkat dari dasar laut beku.

Setiap sudut tubuhnya sakit dan setiap bernapas terasa seperti disayat.

Dia memutar matanya. Melihat Jerry yang duduk di samping ranjang, wajahnya panik dan lelah.

Di sebelahnya, Yuna sedang menangis tersedu.

“Karina, kamu sudah sadar? Kamu ... bagaimana keadaanmu?” tanya Jerry dengan suara bergetar, yang sulit dia kenali.

Namun Karina menatap lurus ke arah Yuna, yang wajahnya basah penuh air mata.

“Kamu, yang mengutak-atiknya, ya?” Setiap kata yang keluar dari mulut Karina bercampur rasa asin darah.

“Kakak! Kok bisa ngomong seperti itu?” Yuna menangis semakin keras, penuh kepura-puraan.

“Aku tahu kakak membenciku, tapi … aku datang hanya mau minta maaf karena soal kapal itu. Kak Jerry, percayalah padaku!”

Air mata mengalir dari wajah Yuna yang sempurna dirias, menambah aura lemah dan menyedihkan.

Jerry menatap Karina yang sekarat di ranjang, lalu memandangi Yuna yang menangis memelas dan mata penuh kepolosan.

Tatapannya ragu. Ada rasa bersalah, tapi hanya sebentar.

Akhirnya, dia memeluk Yuna erat-erat, lalu berkata pada Karina dengan suara berat, “Karina, aku tahu kamu marah, tapi kamu nggak bisa asal menuduh Yuna hanya karena kamu membencinya.”

“Dia bilang dia hanya mau minta maaf. Ini cuma kecelakaan. Mungkin karena rangka perbaikannya memang nggak kokoh.”

Dia terdiam sejenak, menatap wajah pucat Karina dan bahunya yang sudah diperban.

Nada suaranya melunak. Dia berkata, “Kamu jangan stres dulu. Fokus pada kesembuhanmu. Soal lukisan yang rusak, biar aku ganti rugi, tiga kali lipat.”

Kata-kata itu, seperti belati beku yang menusuk jantung Karina.

Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuhnya berdarah dan hampir mati dan setelah Jerry lagi-lagi memilih tanpa ragu untuk melindungi pelaku pembunuhan, yang Jerry berikan pada Karina hanyalah kalimat datar, “Aku akan ganti rugi saja.”

Dalam nilai dan pandangan Jerry, keyakinan yang selama ini dipertahankan Karina, bahkan dirinya sendiri, hanyalah sesuatu yang bisa ditukar dengan uang.

Dan air mata Yuna, adalah satu-satunya “kebenaran” yang layak dipercaya dan dilindunginya.

Karina perlahan menutup mata, tak lagi menatap dua sosok yang sedang berpelukan itu.

Diam menyelimuti seluruh kata-kata yang tak terucap, memisahkan dirinya dari dunia yang sesak itu.

Sudah cukup. Akhirnya ... benar-benar bisa mengakhiri semuanya.

Keesokan paginya.

Sinar matahari menembus tirai jendela. Jerry membawa sebuah kotak makan tertutup yang cantik dan perlahan mendorong pintu kamar perawatan.

Dia sengaja bangun sangat pagi, memasak bubur biji-bijian yang paling disukai Karina sendiri dan menyiapkan beberapa lauk yang ringan.

“Karina?” Dia melangkah pelan ke samping tempat tidur, suaranya sengaja dibuat terdengar lembut, “Aku membawakanmu sarapan, ini ....”

Saat dia membuka tirai pembatas, kata-katanya tiba-tiba terhenti. Di tempat tidur itu, Seprai terasa dingin, kosong, tak ada seorang pun.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B85739" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B85739
Salin

Yang Tersisa Setelah Segalanya Usai

Bab 7
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya