Bab 1
Pada tahun kelima pertunanganku dengan Gavin, ketika kami sudah berencana untuk menikah, cinta pertamanya kembali. Semua janjinya padaku tidak lagi berlaku.
Demi cinta pertamanya, dia merasa muak pada setiap tindakanku. Aku sadar bahwa aku tidak berarti apa-apa di hadapan cinta pertamanya.
Aku yang merasa lelah pun memutuskan untuk menyerah dan merestui mereka. Aku juga sepenuhnya menghilang dari kehidupan Gavin. Namun, dia menyesali perbuatannya dan mencariku sambil menangis ....
"Nenek, keputusanku sudah bulat. Aku mau akhiri pertunanganku dengan Gavin. Aku akan tinggalkan Kota Beika setelah merayakan ulang tahunmu."
Setelah mendengar ucapan Nayla Sonata, Anita pun menghela napas.
"Nenek tahu Gavin sangat keterlaluan belakangan ini dan kamu sudah disakiti. Nenek hargai semua usahamu selama bertahun-tahun. Nenek rasa, Gavin juga bukannya sama sekali nggak peduli padamu. Dia cuma masih belum nyadar."
"Mungkin kalau kamu tunggu sedikit lebih lama lagi, dia akan berpaling padamu? Kamu benar-benar mau akhiri pertunangan ini? Masih ada sepuluh hari sebelum ulang tahunku. Kamu nggak mau pertimbangkan ulang?" tanya Anita.
Nayla menggeleng dan menjawab dengan tegas, "Perjanjian lima tahun kita akan segera berakhir."
Ketika berusia tujuh tahun, ibunya Nayla menikahi keturunan Keluarga Hartono yang kaya dan membawanya bersama. Anggota Keluarga Hartono memukul dan menindasnya, tetapi ibunya hanya menyuruhnya untuk bersikap bijak dan pengertian.
Pada ulang tahun Nayla yang ketujuh, dia dipaksa makan banyak makanan laut yang membuatnya alergi serius. Jika Anita tidak membawanya ke rumah sakit, dia mungkin telah meninggal. Setelahnya, Anita juga bersuara mengenai hal ini di depan umum sehingga kehidupan Nayla di Keluarga Hartono tidak begitu menyedihkan lagi.
Nayla selalu merasa berterima kasih. Jadi, ketika Anita mengusulkan agar dia bertunangan dengan cucunya, Gavin Winowa, lalu merawat, menemani, dan menarik Gavin keluar dari keterpurukan dengan status sebagai tunangan Gavin, dia langsung setuju.
Sebab, ini adalah sesuatu yang Nayla impikan. Dia mencintai Gavin. Sayangnya, dia baru menyadari sekarang bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Dia sudah terlalu lelah dan ingin menyerah.
Pada tahun kedua kuliah, Elina Pandora, pacarnya Gavin itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Bahkan informasi identitasnya juga dihapus. Gavin yang tidak bisa menerima hal ini pun menggunakan segala cara dan kekuatan untuk menemukannya.
Akan tetapi, Elina menghilang begitu saja. Gavin tidak dapat menemukannya di mana pun. Dalam keterpurukannya, dia pun berangsur-angsur mengalami penyakit mental.
Keluarga Winowa tentu saja tidak tega melihat putra tunggal mereka menjadi orang gila. Jadi, Anita pergi menemui Nayla.
"Bantulah Nenek selamatkan Gavin. Jadilah tunangan Gavin, lalu tarik dia keluar dari keterpurukan ini. Nenek nggak akan minta kamu korbankan seluruh hidupmu, cuma lima tahun. Setelah lima tahun, nggak peduli gimana pun situasi Gavin, kalau kamu mau akhiri pertunangan ini, Nenek akan mendukungmu tanpa syarat. Anggap saja itu sebagai balasan atas budi Nenek terhadapmu selama ini, oke?"
Nayla langsung setuju tanpa ragu. Sebab, dia mencintai Gavin, putra tunggal Keluarga Winowa.
Saat pertama kali Nayla tiba di rumah Keluarga Hartono, Jowel memaksanya untuk berlutut dan berebut makanan dengan anjing. Gavin yang menghentikan Jowel dan membelanya.
Di sekolah, orang-orang mengejek Nayla adalah anak haram. Gavin juga yang menegur orang-orang itu, lalu memberi tahu semua orang bahwa Nayla ada di bawah perlindungannya.
Bahkan ketika ibu kandung Nayla melupakan ulang tahunnya, Gavin tetap ingat dan menyiapkan kue ulang tahun serta hadiah untuknya. Bagi Nayla, jatuh cinta pada Gavin sama alaminya dengan bernapas. Sejak Gavin menyelamatkannya dari kandang anjing, Gavin telah menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Setelah bertunangan dengan Gavin, Nayla memperlakukannya bagaikan harta yang paling berharga. Dia merawat Gavin dengan baik dan menemaninya setiap hari. Intinya, dia menyayangi Gavin dengan sepenuh hati dan khawatir terjadi apa-apa terhadapnya.
Apa pun yang ingin Gavin lakukan, Nayla akan selalu mendukungnya tanpa syarat.
Hal yang paling dikuasai Nayla sebenarnya adalah menulis kode. Namun, demi memberi Gavin kehidupan terbaik, dia mengikuti keinginan Keluarga Winowa dan bekerja keras untuk belajar bisnis supaya bisa mengelola perusahaan.
Meskipun semua orang menganggap Nayla hanyalah beban dan wanita licik yang akan melakukan apa saja demi uang Keluarga Winowa, Nayla sama sekali tidak peduli.
Pada tahun kedua pertunangan, situasi Gavin membaik di bawah perawatan Nayla. Gavin pun mencari seorang influenser kecil yang mirip Elina dan membawanya ke mana-mana. Gavin juga merawatnya dengan baik.
Gavin meminta ayahnya, Raditya untuk menghabiskan uang dan sumber daya bagi influenser itu, tetapi malah ditolak. Dia pun langsung pergi menemui Nayla.
Nayla melakukan segala sesuatu sesuai keinginan Gavin. Pada saat itu, semua orang di kota ini menertawakan Nayla karena sudah diselingkuhi. Namun, Nayla tidak peduli dengan semua itu. Dia percaya bahwa suatu hari nanti, Gavin akan melihat ketulusannya dan tersentuh karenanya.
Gavin akhirnya memutuskan hubungan dengan influenser itu. Dia berjanji pada Nayla bahwa dia telah menyadari perasaannya dengan jelas dan akan memilih orang di depannya mulai sekarang.
Saat itu, Nayla sangat gembira. Dia mengira bahwa ketulusan dapat meluluhkan hati yang paling tertutup sekalipun. Dia juga merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling bahagia di dunia.
Sampai Elina yang menghilang tiba-tiba kembali. Sejak hari itu, Gavin pun berubah. Dia menemani Elina mengelilingi Kota Beika dari pagi hingga larut malam. Dia juga menemani Elina pergi bertamasya tanpa mengatakan apa-apa.
Jika Nayla tidak menelepon, Gavin tidak akan ingat untuk membalas pesannya selama sepuluh hari atau bahkan setengah bulan. Setelah Nayla menelepon, satu-satunya tanggapan yang didapatkannya juga hanyalah ketidaksabaran dan omelan Gavin.
Nayla perlahan-lahan menyadari bahwa usahanya selama bertahun-tahun hanyalah lelucon. Tidak peduli seberapa lama dia menemani Gavin, dirinya tetap tidak dapat dibandingkan dengan Elina. Berhubung begitu, dia memilih untuk mundur dan merestui mereka.
Bab 2
Setelah berpamitan dengan Anita, Nayla pulang ke rumah. Begitu memasuki pintu, dia mendengar suara orang bermesraan yang samar dari ruang tamu.
Tubuh Nayla langsung menegang. Namun, dia tidak dapat menahan diri dan melangkah masuk. Alhasil, dia melihat dua orang yang sedang berpelukan dan berciuman di sofa. Salah satunya adalah tunangannya, Gavin.
Nayla berdiri memaku di tempat. Hatinya terasa sangat sakit.
Elina tersenyum dan bertanya, "Bermesraan di rumahmu memang terasa mendebarkan. Tapi, memangnya kamu nggak takut tunanganmu marah?"
Gavin memeluknya dan menjawab dengan malas, "Ini masih bukan apa-apa. Kamu nggak tahu betapa dia mencintaiku. Meski kita melakukan sesuatu yang lebih intim, dia juga nggak akan marah."
Nayla merasa seolah-olah ada angin dingin yang bertiup melalui lubang besar yang menganga di hatinya. Dia pun menertawakan dirinya sendiri. Apa karena dirinya mencintai Gavin, Gavin dapat menyakitinya tanpa ampun?
Nayla bukannya tidak bisa marah, melainkan tidak tega untuk marah pada Gavin. Namun, dia juga adalah manusia yang tetap bisa merasa sakit saat terluka.
Nayla menenangkan diri, lalu melangkah masuk dengan langkah yang berat. Kedua orang di sofa itu melihatnya dan masih berpelukan.
Gavin memerintahnya seperti biasa, "Elina sudah minum alkohol. Masakkan semangkuk sup pereda mabuk untuknya."
Nayla menyahut dengan sabar, "Kita sudah tunangan. Kalau kamu bersama wanita lain seperti ini, itu akan berdampak buruk pada perusahaan. Aku juga nggak bisa menjelaskannya kepada Nenek dan yang lain."
Gavin tiba-tiba marah. "Jangan pakai nama Nenek, Ayah, dan Ibu untuk menggertakku! Kalau bukan karena tekanan dari mereka, aku nggak mungkin bertunangan denganmu! Aku akan selalu menunggu Elina kembali!"
Nayla merasa hatinya seperti sudah diremas sesuatu hingga dia harus mengangkat tangan untuk menutupi dadanya yang sakit.
Gavin berkata dengan tidak sabar, "Kamu sangat sehat, jangan berpura-pura lagi. Pergi masakkan semangkuk sup pereda mabuk! Jangan buat aku ulangi kata-kata yang sama untuk yang ketiga kalinya."
Nayla tersenyum ironis dalam hati. Tanpa mengatakan apa-apa, dia berbalik dan pergi ke dapur.
Setelah Elina menghilang dan Gavin tidak dapat menemukannya, Gavin pun mulai mabuk-mabukan. Jadi, Nayla secara khusus meminta seorang koki untuk mengajarinya cara membuat sup pereda mabuk yang menyehatkan perut. Setelah memasaknya, dia akan menyuapi Gavin.
Seberapa lama Gavin tenggelam dalam mabuk-mabukan, selama itu pula Nayla memasakkan sup pereda mabuk untuknya. Keterampilannya memasak sup itu bahkan lebih baik daripada koki profesional.
Setelah berpisah dengan influenser itu, Gavin berjanji pada Nayla bahwa dia tidak akan pernah membiarkan Nayla memasak sup pereda mabuk lagi. Sekarang, Gavin malah memintanya memasak sup pereda mabuk untuk Elina.
Untungnya, semuanya akan berakhir dalam beberapa hari.
Nayla berpura-pura tidak mendengar suara di ruang tamu. Dia dengan cepat memasak sup, lalu menaruhnya di mangkuk dan hendak mengeluarkannya.
Tiba-tiba, terdengar suara Elina dari belakang berkata, "Kamu nggak benar-benar kira aku akan minum apa yang kamu masak, 'kan?"
Nayla berbalik dan melihat Elina yang memasang ekspresi provokatif. Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Elina melangkah maju, meraih sup pereda mabuk itu, dan menuangkannya ke tubuhnya sendiri. Kemudian, dia membuang mangkuknya ke lantai hingga pecah berteriak kesakitan.
Pada detik berikutnya, Gavin bergegas masuk dan bertanya, "Ada apa?"
Dia melihat sup yang membasahi tubuh Elina dan mangkuk di lantai, lalu memaki tanpa berpikir panjang, "Kalau kamu nggak mau masak, ya sudah. Kenapa kamu malah memasaknya dan menyiram Elina? Nayla, aku nggak nyangka ternyata kamu itu wanita yang begitu kejam!"
Setelahnya, Gavin memapah Elina keluar untuk berganti pakaian tanpa menoleh ke belakang.
Elina berujar, "Gavin, dia itu tunanganmu. Wajar saja dia nggak senang sama aku. Jangan marah."
Gavin malah makin marah. "Waktu kami tunangan, dia tahu aku mencintaimu. Apa haknya untuk nggak senang sama kamu?"
Nayla menatap keadaan dapur yang berantakan dengan tatapan kosong sambil mendengar kedua orang itu naik ke lantai atas. Namun, dalam hatinya, dia merasa bahwa Anita salah. Gavin tidak pernah peduli padanya.
Pada hari pertama Elina kembali, Nayla seharusnya langsung tahu diri dan menyerahkan posisinya kepada Elina, bukannya lanjut berada di sisi Gavin dan membuatnya benci.
Untungnya, masih belum terlambat bagi Nayla untuk mengambil keputusan lain saat ini. Setelah merayakan ulang tahun Anita, Nayla akan meninggalkan Kota Beika sepenuhnya dan tidak akan pernah kembali lagi.
Bab 3
Nayla membersihkan dapur, lalu naik ke lantai atas dan bersiap kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ketika membuka pintu kamar, dia malah melihat Elina berbaring di tempat tidurnya dengan mengenakan piama. Sementara itu, Gavin duduk di sampingnya dan membantunya mengoleskan obat.
Melihat Nayla masuk, Gavin memberi perintah, "Kamu tidur saja di ruang tamu."
Nayla menjawab dengan getir, "Ini kamarku."
Gavin berkata dengan dingin, "Elina harus tinggal di kamar terbaik. Kamu yang siram dia dengan sup mendidih. Menyerahkan kamar ini adalah bentuk permintaan maaf."
Gavin telah memvonisnya. Nayla pun tersenyum getir dan bertanya, "Jadi, dia yang pakai bajuku juga adalah bentuk permintaan maaf?"
Gavin menjawab dengan sangat tidak sabar, "Kan aku yang beli piama ini! Ini cuma sebuah baju, kenapa kamu harus permasalahkan hal sepele ini? Kamu sengaja mau usir Elina dari rumah ini, 'kan?"
Gavin lanjut mencibir, "Kalau begitu, aku justru akan biarkan dia tinggal di sini, juga tinggal di sini setiap hari!"
Elina menarik tangan Gavin. "Jangan begini."
Gavin menyahut dengan lembut, "Jangan khawatir, dia memang sudah seharusnya diberi pelajaran sejak lama."
Nayla melihat Gavin membungkuk dan mendekati Elina yang duduk di tempat tidur. Pemandangan ini sangat menusuk hatinya. Namun, dia sudah sangat lelah saat ini hingga tidak ingin mengatakan sepatah kata pun lagi.
"Nayla, kamu dengar apa yang kubilang?"
Nayla mengangguk dengan kaku. "Oke."
Gavin sepertinya tidak menduga reaksi ini dan bertanya, "Apa kamu bilang?"
Nayla berujar dengan acuh tak acuh, "Aku akan ambil beberapa pakaian ganti."
Kemudian, dia berjalan ke ruang ganti.
Gavin juga berjalan masuk dan berkata dengan nada agak canggung, "Elina itu tamu. Kamu yang salah karena sudah menyiraminya dengan sup pereda mabuk."
Nayla tidak menanggapi ucapan itu dan hanya mengiakannya.
Namun, Gavin malah marah dan berseru, "Mau ngambek? Aku paling benci lihat tampangmu yang kayak orang bosan hidup dan minta dihibur!"
Kemudian, Gavin berbalik dan berjalan keluar. Dia duduk di kepala tempat tidur dan mengobrol bersama Elina dengan suara kuat.
"Besok kita mau main ke mana? Gimana kalau kita kunjungi kampus? Sudah lima tahun, entah kucing yang kita pelihara itu masih ada di sana atau nggak."
Seusai mengemasi pakaiannya dan berjalan keluar, Nayla tiba-tiba melihat dua anting safir di lemari kaca. Itu adalah hadiah ulang tahun yang dibeli Gavin untuknya setelah mengusir influenser itu.
Gavin dengan sungguh-sungguh berjanji bahwa dirinya tidak akan pernah membuat Nayla sedih lagi. Jika dia lupa, Nayla boleh mengeluarkan kedua anting itu dan dia pasti akan berubah. Namun, janji itu sudah berulang kali diingkarinya sejak Elina kembali. Meskipun mengeluarkan anting itu sekarang, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri, 'kan?
Nayla mengeluarkan kedua anting itu dari lemari kaca, lalu menggenggamnya. Ketika melewati kamar tidur, dia melihat Elina mendekatkan diri ke telinga Gavin dan meletakkan satu tangan di bahunya. Mereka terlihat seperti sedang berciuman dengan penuh gairah.
Nayla mengabaikan rasa sakit hati yang tidak seharusnya dirasakannya sambil berjalan keluar dengan tenang. Dia membuang anting itu ke tempat sampah dan berbalik untuk pergi ke kamar tamu.