Logo
Warisan Sang Monster
Warisan Sang Monster

Warisan Sang Monster

80 Bab
Tamat
Dalam novel romance Warisan Sang Monster, Alexander Volkov menyamar jadi gelandangan demi mencari sensasi. Ia bertemu Elara yang berjuang demi putrinya. Sang penguasa billionaire ini menawarkan bantuan medis asalkan Elara menjadi kekasih bayarannya. Baca kisah modern novel penuh pengorbanan ini.
Bab 1 dari Warisan Sang Monster

Pagi di lantai seratus. Udara terasa tipis, seolah-olah semua bunyi dari kota di bawah sana telah disaring hingga yang tersisa hanyalah dengung AC sentral yang mahal dan keheningan yang dingin.

Alexander Volkov berdiri di depan jendela yang terbentang dari lantai ke langit-langit, menyeruput kopi hitamnya-kopi terbaik yang bisa dibeli dengan uang, tapi rasanya tetap saja, cuma kopi. Di bawah sana, kota Manhattan tampak seperti peta mainan, seolah-olah dia bisa menjulurkan tangan dan menghancurkan beberapa blok tanpa ada konsekuensi apa pun. Dan secara metaforis, memang begitu.

Dia punya segalanya. Benar-benar segalanya. Bukan hanya uang; uang itu cuma alat. Dia punya kontrol. Dia punya pengaruh. Satu kata dari mulutnya bisa membuat harga minyak melonjak, atau menghancurkan reputasi konglomerat yang sudah dibangun selama tiga generasi.

Tapi hari ini, seperti ribuan hari sebelumnya, Alexander hanya merasa... bosan.

Bukan bosan yang santai, melainkan bosan yang menghancurkan jiwa. Seperti melihat lukisan yang sama setiap hari, meskipun lukisan itu adalah karya master tak ternilai harganya. Setelah kau memiliki setiap karya seni di dunia, setiap pulau pribadi, setiap model mobil eksklusif, apa yang tersisa?

Alexander meletakkan cangkir itu di meja marmer, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar di ruangan seluas lapangan basket ini.

"Siapa yang akan datang hari ini?" tanyanya, suaranya serak-mungkin karena dia jarang sekali berbicara dengan manusia secara langsung.

Viktor, tangan kanannya yang tegar dan pendiam, muncul dari bayangan seperti hantu profesional. "Tuan Volkov, jadwal pagi ini padat. Pertemuan dengan Senator Graham. Kemudian, panggilan video dengan Dewan Eropa mengenai konsolidasi energi di Timur. Setelah makan siang, rapat dewan darurat untuk menyelesaikan akuisisi Synergo Corp yang tertunda."

Alexander menghela napas. Semua itu terdengar seperti daftar belanjaan yang membosankan. Akuisisi. Konsolidasi. Senator. Mereka semua hanya boneka yang menunggu dirinya menggerakkan tali.

"Batalkan Synergo," perintah Alexander.

Viktor tidak berkedip. "Batalkan, Tuan? Ini adalah penawaran terbesar kuartal ini. Harga saham mereka akan ambruk."

"Biar saja ambruk," kata Alexander, memutar cincin platinum di jarinya. "Aku tidak tertarik lagi. Aku sudah tahu bagaimana akhirnya. Aku sudah tahu rasa kemenangannya."

Viktor membuat catatan di tabletnya. "Baik. Apakah ada instruksi lain, Tuan?"

Alexander kembali menatap kota di bawah. Rasa puas tidak pernah bertahan lebih dari dua puluh empat jam. Kenikmatan terakhirnya adalah ketika dia memenangkan lelang lukisan Rembrandt yang hilang. Puas selama satu hari, kemudian lukisan itu hanya menjadi debu berharga di gudang bawah tanahnya.

Apa yang bisa dia beli yang belum dia miliki? Apa yang bisa dia taklukkan yang belum takluk?

Kebebasan.

Kebebasan yang nyata. Anominimitas.

"Viktor," ucapnya, setelah keheningan panjang. "Aku akan menghilang untuk sementara waktu."

Viktor hanya menunggu, mengetahui bahwa perintah gila apa pun yang akan keluar pasti harus dilaksanakan.

"Aku ingin menjadi... tidak ada siapa-siapa," lanjut Alexander, senyum tipis-pertama kalinya hari itu-melintas di wajahnya. "Aku ingin tidur di pinggir jalan. Aku ingin orang-orang tidak tahu siapa aku. Aku ingin merasakan sesuatu yang nyata, Viktor. Rasa lapar, rasa dingin, rasa takut. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan satu triliun dolar."

Viktor menyusun rencana dalam kepalanya. Pengamanan tersembunyi, jalur pelarian. "Saya bisa menyiapkannya, Tuan. Sebuah vila tersembunyi di Skotlandia, tanpa koneksi internet. Itu akan memberi Tuan privasi total."

"Bukan itu yang kumau, bodoh," desis Alexander, sedikit geli. "Aku tidak ingin bersembunyi dari dunia. Aku ingin bersembunyi di dunia. Aku ingin menjadi gelandangan. Dan jangan ada pengawal. Jika aku ketahuan, seluruh permainan ini selesai."

Dan begitulah, dengan satu perintah yang tidak masuk akal, Alexander Volkov, pria yang memegang tali kekang dunia, memutuskan untuk menukar emasnya dengan debu.

Tiga hari kemudian, Alexander duduk di bangku taman yang kotor, jaket tebal yang dibelinya di toko loak terasa kasar dan menusuk kulitnya. Janggut tipis yang dia biarkan tumbuh terasa gatal. Dia sudah meninggalkan dompet, kartu, dan segala bentuk identitas. Dia bahkan menanggalkan jam tangan mahal yang selalu menjadi ekstensi lengannya.

Dia sekarang hanyalah Alex-seorang pria tanpa latar belakang, tanpa tujuan, dan, yang paling penting, tanpa kekuasaan.

Hari pertama terasa mengerikan. Bau selokan, udara lembap, tatapan sinis dari pejalan kaki yang melewatinya. Dia, Alexander Volkov, diabaikan. Itu adalah sensasi aneh yang hampir memabukkan. Orang-orang tidak tahu mereka baru saja melewati orang yang bisa membeli seluruh jalur taman itu hanya untuk membangun patung dirinya sendiri.

Dia lapar. Bukan rasa lapar yang bisa disembuhkan dengan panggilan ke koki pribadi. Ini adalah rasa lapar yang menggerogoti, membuat perutnya berdenyut. Dia telah bersumpah untuk tidak menggunakan uangnya-dia hanya akan hidup dari apa yang dia temukan atau dapatkan.

Pagi ini, dia berhasil mendapatkan sepotong roti tawar keras dari tempat sampah di belakang toko roti. Rasa roti itu, meskipun basi, jauh lebih nyata, lebih berkesan, daripada semua makanan gourmet yang dia santap di restoran bintang lima. Ini adalah hadiah dari perjuangan, bukan hak yang sudah pasti.

Alexander memperhatikan seorang wanita yang datang setiap pagi. Taman ini adalah jalur yang ramai, tetapi dia selalu tampak berbeda. Dia tidak terburu-buru seperti orang kantoran, tetapi dia juga tidak santai seperti orang yang liburan. Dia bergerak dengan kelelahan yang konstan, seperti seseorang yang membawa beban yang tak terlihat.

Wanita itu bernama Elara.

Elara Senja menarik napas dalam-dalam, aroma roti panggang dan kopi pahit dari restoran tempat dia bekerja menempel di pakaiannya. Pagi itu dingin sekali, dan kelelahan seolah-olah sudah merayap masuk ke tulangnya, bukan lagi sekadar otot yang pegal.

Dia baru saja menyelesaikan shift paginya yang brutal: membersihkan tumpahan, melayani sekelompok turis yang rewel, dan harus menahan diri agar tidak menangis saat melihat tagihan medis di ponselnya.

Putrinya, Lily. Hanya nama itu yang membuatnya terus berjalan. Lily adalah satu-satunya cahaya, satu-satunya alasan dia tidak menyerah pada kegelapan yang mengelilinginya. Gadis kecilnya berjuang melawan penyakit kronis. Setiap batuk, setiap demam ringan, adalah teror yang nyata bagi Elara.

Keluarganya sudah lama menganggapnya aib. Di mata mereka, putrinya adalah sebuah kesalahan, beban, dan Elara harus membayar mahal untuk 'dosa' yang tidak pernah dia sesali seumur hidupnya. Sejak diusir, dia hanya punya dirinya sendiri dan keyakinan bahwa dia harus menjadi benteng terakhir Lily.

Dia berjalan melalui taman, membiarkan dinginnya udara sedikit membersihkan paru-parunya dari bau minyak goreng. Ini adalah ritualnya: sepuluh menit ketenangan sebelum dia kembali ke apartemen kecil, membereskan Lily, dan bersiap untuk shift malam.

Di tangannya, Elara memegang sebungkus kecil. Isinya sepotong roti yang dia ambil dari sisa sarapan pelanggan dan sepotong keju yang dia 'curi' dari kulkas dapur-bukan mencuri dalam arti sebenarnya, tetapi mengambil apa yang akan dibuang.

Dia tadinya berencana memakannya dalam perjalanan pulang, tapi pandangannya jatuh pada pria baru di bangku tua di bawah pohon maple.

Pria itu sudah ada di sana selama tiga hari. Dia terlihat muda, tapi wajahnya kotor dan letih. Yang aneh, dia tidak terlihat seperti gelandangan biasa. Gelandangan di sini sering berteriak atau mabuk. Pria ini hanya diam, matanya mengikuti pergerakan burung gereja dengan intensitas aneh, seperti dia sedang mempelajari rumus fisika yang rumit. Dia terlihat lebih tersesat daripada miskin.

Elara tahu betul rasanya tersesat.

Dia memperlambat langkahnya, keraguan merangkak di hatinya. Itu adalah makan siangnya. Namun, dia ingat wajah Lily, kurus dan pucat, yang selalu menerima kebaikan sekecil apa pun dengan mata berbinar. Lily pasti ingin dia berbagi.

"Hei," panggil Elara pelan, berdiri beberapa langkah darinya.

Alexander, atau 'Alex' si gelandangan, mendongak.

Mata Alexander menangkapnya. Itu adalah tatapan yang tidak dia harapkan. Bukan jijik, bukan belas kasihan, atau bahkan penghinaan. Itu adalah tatapan lelah yang memahami, namun masih memiliki percikan api perjuangan yang luar biasa.

Alexander menatap tangannya yang memegang roti basi. Dia terkejut. Tiga hari penuh, dia hanya menerima tatapan jijik atau ketakutan. Kali ini, dia mendapat sapaan dan, tampaknya, hadiah.

Elara merasa canggung, tapi dia maju satu langkah.

"Aku tahu ini tidak banyak," katanya, suaranya pelan tapi tegas. "Sisa keju dan sedikit roti. Tapi kurasa kau terlihat lebih membutuhkannya daripada aku."

Dia mengulurkan bungkusan itu. Tangannya kapalan karena mencuci piring, tapi gerakannya lembut dan tanpa pamrih.

Alexander melihat keju yang menguning dan roti yang sudah agak keras. Di balik penyamarannya, dia tersenyum. Sesuatu di dalam dirinya berdesir, sesuatu yang terasa asing, namun menyenangkan. Sebuah kejutan. Kekuatan miliaran dolar di dompetnya tidak pernah memberinya kejutan sekecil ini.

Dia mengulurkan tangannya yang kasar, mengambil bungkusan itu. Sentuhan kulit mereka sebentar, hanya sekejap mata, tapi Elara merasakan perbedaan suhu-kulitnya sendiri dingin, sedangkan tangan pria itu terasa lebih hangat.

"Terima kasih," bisik Alexander. Itu adalah kata yang tidak pernah dia ucapkan dengan ketulusan selama bertahun-tahun. Biasanya, "terima kasih" adalah formalitas, formalitas yang mengharuskan pihak lain membalasnya dengan ucapan "sama-sama" yang terdengar seperti "kau harus berterima kasih karena aku mengizinkanmu melakukan ini."

Elara menggeleng, senyum tipis, cepat, dan menghilang, seperti pantulan cahaya di air.

"Jangan mati kelaparan, ya," katanya, setengah bercanda, setengah serius.

Alexander mengangguk. Dia membuka bungkusan itu dan menggigit roti. Keju itu terasa asin, teksturnya aneh, tapi dia memakannya. Itu adalah makanan terbaik yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Kenapa? Karena itu adalah makanan yang diberikan, bukan makanan yang dibeli.

Elara berbalik, melanjutkan perjalanannya. Setiap langkahnya menunjukkan bahwa dia tidak punya waktu untuk berlama-lama.

Namun, Alexander memanggilnya, sesuatu yang tidak terduga keluar dari mulutnya. "Tunggu."

Elara berbalik lagi, alisnya terangkat karena terkejut.

"Siapa namamu?" tanyanya.

"Elara," jawabnya. "Kau?"

"Alex."

Hanya itu. Pertukaran nama yang singkat. Elara mengangguk kecil. "Sampai jumpa, Alex."

"Sampai jumpa," balas Alexander.

Alexander memandang kepergian Elara, sampai wanita itu menghilang di balik kerumunan di halte bus.

Dia menghabiskan keju dan roti itu sampai remah-remah terakhir. Alexander Volkov, penguasa dunia, baru saja diselamatkan dari kelaparan oleh seorang pelayan restoran yang pasti sama laparnya dengan dirinya. Ironi ini begitu tajam, begitu pedih, sehingga itu hampir membuatnya tertawa.

Ini, akhirnya, adalah sesuatu yang nyata.

Kenyataan Elara adalah kotak kecil yang lembap. Kamar apartemennya, yang terletak di lantai empat tanpa lift, selalu berbau obat-obatan, lilin aroma murahan, dan kekhawatiran yang tebal.

Dia membuka kunci pintu dan disambut oleh suara batuk yang pelan dari balik selimut.

"Mama sudah pulang?" suara kecil Lily terdengar, serak.

"Sudah, Sayang. Mama membawakanmu kejutan," Elara bergegas masuk.

Lily, berusia tujuh tahun, adalah keindahan yang rapuh. Wajahnya kurus, tapi matanya besar, bersinar dengan kecerdasan yang tidak sesuai dengan usianya. Dia duduk di tempat tidur, boneka usang di pangkuannya.

"Kejutan apa?"

"Lihat ini," Elara mengeluarkan mainan kecil, sebuah mobil-mobilan dari toko barang bekas. "Untuk pahlawan Mama."

Mata Lily langsung berbinar. Momen kecil kebahagiaan itu, seolah-olah dia telah memenangkan lotre, adalah hadiah Elara yang sebenarnya.

Elara merawat Lily, memberinya obat-obatan, dan mencoba memaksanya untuk menghabiskan sedikit sup yang dia siapkan kemarin. Saat Lily tertidur, Elara duduk di meja dapur yang reyot. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat tagihan dari rumah sakit lagi.

Kali ini, jumlahnya tidak masuk akal. Ini bukan hanya masalah biaya harian, ini masalah operasi. Jika Lily tidak mendapatkan operasi secepatnya, kondisi kronisnya akan memburuk, dan... Elara tidak bisa memikirkan kata-kata itu.

Dia juga menemukan surat resmi di kotak pos. Surat dari pengacara keluarga ayahnya. Mereka akan menuntut hak asuh penuh. Alasan mereka klasik, kejam, dan menghina: Elara tidak mampu memberikan perawatan medis yang stabil dan lingkungan yang memadai. Mereka akan menggunakan kemiskinan Elara sebagai senjata untuk mengambil Lily darinya.

Dunia Elara seolah runtuh. Dia tidak punya apa-apa lagi untuk dijual. Tidak ada jam kerja ekstra yang bisa dia ambil. Dia sendirian melawan dinosaurus finansial.

"Tidak," bisik Elara, mencengkeram surat itu hingga kertasnya berkerut. "Aku tidak akan kehilangan dia."

Elara merasa seperti air mata akan membanjiri matanya, tapi dia tidak membiarkannya. Air mata adalah kemewahan yang tidak bisa dia bayar.

Dia harus mencari jalan keluar. Uang tunai dalam jumlah besar, dan cepat. Tapi dari mana? Restoran? Lelucon macam apa ini?

Di bangku taman yang sama, malam itu, Alexander tidak bisa tidur. Udara lebih dingin dari yang dia perkirakan. Rasa sakit menjalar dari punggungnya yang menyentuh kayu keras. Tapi rasa sakit itu, anehnya, adalah kejutan yang menyenangkan. Ini adalah konsekuensi langsung dari keputusannya, bukan hasil dari rapat dewan yang menjemukan.

Namun, pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh rasa dingin atau lapar. Pikirannya dipenuhi oleh Elara.

Kenapa wanita itu memberinya makanan? Dia terlihat sangat kelelahan, sangat miskin. Setiap inci dari dirinya berteriak tentang perjuangan, namun dia rela berbagi. Kebajikan itu begitu murni, tidak terkotori oleh motif tersembunyi.

Dia teringat tatapan mata Elara-ada kesedihan yang dalam di sana, tapi juga ketangguhan baja.

Alexander, yang bisa membeli seluruh jalur Manhattan, merasa seperti dia telah menerima pelajaran paling berharga dalam hidupnya dari seorang pelayan restoran yang lelah.

Dia memutuskan bahwa dia tidak bisa hanya bermain-main di taman ini. Dia harus mencari tahu siapa Elara. Apa bebannya. Kenapa dia tampak begitu hancur, namun begitu kuat?

Viktor telah menyiapkan jalur darurat. Hanya satu nomor sekali pakai yang harus dia hubungi jika ada krisis atau jika dia ingin kembali. Awalnya, dia mengira dia akan menggunakannya karena bosan, atau kedinginan.

Malam itu, Alexander mengeluarkan ponsel sekali pakai yang disembunyikan di lipatan jaketnya.

Dia tidak menelepon untuk meminta makanan atau tempat tidur. Dia menelepon Viktor untuk meminta data.

"Viktor," ucapnya, suaranya kembali ke nada komando yang dingin. "Aku punya proyek baru. Seorang wanita bernama Elara Senja. Aku ingin semua yang bisa kau temukan. Alamat, pekerjaan, riwayat kesehatan keluarganya, detail pertempuran hak asuh apa pun. Aku ingin laporan lengkap di meja kerjaku pada pukul 08:00 besok pagi. Dan ingat, aku tidak ingin ada yang tahu bahwa aku yang meminta ini."

Di ujung telepon, Viktor tidak bertanya mengapa seorang gelandangan di taman tahu nama seorang pelayan restoran. Dia hanya berkata, "Sudah dicatat, Tuan Volkov."

Alexander memutuskan bahwa penyamarannya sudah cukup. Dia sudah mendapatkan kebebasan yang dia cari. Sekarang, sudah waktunya untuk memulai permainan baru. Dan dalam permainan baru ini, dia tidak akan bermain sebagai Alex si gelandangan. Dia akan bermain sebagai Alexander Volkov, sang Raja.

Elara Senja memberinya keju basi dan roti keras, menyelamatkannya dari rasa lapar.

Alexander Volkov akan memberinya kekayaan tak terbatas, menyelamatkannya dari jurang kemiskinan dan kehilangan, tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal.

Keesokan harinya, saat fajar menyingsing, Alexander Volkov yang baru saja mandi, berbau maskulin dengan cologne mahal, dan mengenakan setelan jas tiga potong yang dipesan khusus, duduk di kantornya.

Di meja marmer itu, terdapat tumpukan berkas yang ditandai sebagai 'SENJA, ELARA'.

Viktor menyajikan kopi, kali ini Alexander meminumnya seperti orang haus.

"Ringkasan, Viktor," perintah Alexander, menatap foto Elara di berkas itu. Foto itu diambil saat dia melayani di restoran, senyum palsu yang dipaksakan untuk pelanggan.

"Elara Senja, 27 tahun. Pekerjaan: pelayan di 'The Downtown Diner'. Tinggal di apartemen sewaan kecil. Riwayat keluarga: diusir dua tahun lalu setelah melahirkan putrinya, Lily. Tidak ada sumber dukungan finansial lain."

"Putrinya?"

"Lily Senja, 7 tahun. Menderita penyakit jantung bawaan yang parah, membutuhkan operasi dalam waktu dua bulan. Biaya operasi melebihi satu juta dolar. Mereka tidak memiliki asuransi yang memadai."

Alexander mengatupkan rahangnya. Satu juta dolar. Itu adalah uang receh bagi dirinya. Harga dari sepatu kulit yang dia kenakan saat ini.

"Hak asuh?"

"Ayah Lily, Daniel Hartono, berasal dari keluarga Hartono yang kaya raya. Keluarga Hartono menolak Elara sebagai pasangan Daniel, tetapi mereka ingin mengambil alih Lily untuk menyelamatkan 'nama baik' keluarga dan memberikan perawatan medis yang memadai. Proses pengadilan sudah dimulai. Elara tidak memiliki representasi hukum yang kuat," jelas Viktor.

Alexander menutup berkas itu dengan pelan. Suara kertas tebal yang bergesekan terasa memekakkan telinga.

Dia mengingat kebaikan hati Elara. Dia mengingat roti basi itu. Dia mengingat mata yang lelah namun penuh api perjuangan.

Dia menemukan tantangan yang sesungguhnya. Bukan akuisisi perusahaan, tapi menyelamatkan seorang wanita dari kehancuran total. Dia akan menggunakan kekuasaannya untuk sesuatu yang belum pernah dia lakukan: menukar kebaikan dengan penyelamatan.

"Viktor, cari Hartono itu. Hentikan semua tuntutan hukum mereka, beli semua aset yang mereka miliki jika perlu, lumpuhkan mereka secara finansial. Aku ingin mereka menghilang dari kehidupan Elara," perintah Alexander.

"Sudah dicatat. Dan Nona Senja?"

Alexander tersenyum. Senyum itu tidak menjanjikan kebaikan, melainkan kepemilikan. Senyum sang Raja yang baru saja menemukan harta karun tersembunyi.

"Bawakan dia ke hadapanku. Atur pertemuan. Dalam skenario ini, aku adalah Malaikat Penyelamatnya. Tapi dia harus tahu, tidak ada yang gratis di dunia Alexander Volkov. Tidak bahkan kebaikan. Aku akan memberinya semua yang dia butuhkan untuk menyelamatkan putrinya."

Alexander berdiri dan berjalan kembali ke jendela, menatap kota dengan mata yang tajam dan haus. Rasa bosan itu sudah lama hilang. Kini yang ada hanya kegembiraan.

"Dan syaratnya?" tanya Viktor, sudah siap dengan pena dan kertas.

"Syaratnya sederhana, Viktor. Dia akan menjadi milikku. Kekasih bayaranku. Aku ingin dia di sampingku, di mana pun aku berada, selama aku menginginkannya. Untuk satu malam panas, dan setelah itu, kepatuhan total sampai aku selesai dengan permainanku. Aku akan membeli waktu dan dirinya. Bayarannya adalah nyawa putrininya. Aku ingin melihat apakah perjuangan dalam mata itu bisa dipertahankan di bawah lapisan sutra dan emas."

Viktor mengangguk. Dia tahu betul, Alexander Volkov tidak pernah main-main.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

A-PD170
A-PD170
Dalam novel modern A-PD170, Winnie menghadapi kehancuran setelah dipermalukan tunangannya. Demi bertahan hidup, ia nekat mengklaim mengandung anak Dion, sang paman yang berkuasa. Ikuti kisah billionaire romance novels ini tentang pernikahan kesepakatan yang penuh intrik dan rahasia besar.
Atasanku Menggodaku
Atasanku Menggodaku
Baca Novel Online Atasanku Menggodaku, sebuah novel romantis miliarder modern. Kisah dimulai saat sang bos genit tidak sengaja menguasai remote pengontrol gairah karyawannya dan menyetelnya ke tingkat maksimum. Bisakah dia bertahan dari godaan intens ini?
DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO
DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO
Pasca diceraikan karena dianggap mandul, dokter Felicia Hera memulai hidup baru di genre romance modern ini. Setelah lima tahun menghilang dengan rahasia besar, ia kembali dipertemukan dengan pasien billionaire yang kini menjadi direktur rumah sakitnya dalam billionaire romance novels ini.
DINIKAHI KONGLOMERAT
DINIKAHI KONGLOMERAT
Dalam romance novel DINIKAHI KONGLOMERAT, Sinta menghadapi teror dan hinaan kasta setelah menerima lamaran Tuan Muda Ashraf. Di tengah tekanan keluarga, ia berjuang membuktikan martabatnya. Baca kisah billionaire romance books ini untuk melihat perjuangan Sinta meraih takdirnya.
ISTRI ORANG
ISTRI ORANG
Dalam novel ISTRI ORANG, Ayana terjebak hubungan terlarang dengan Javier, bosnya yang penuh rahasia. Di balik genre billionaire romance ini, Javier ternyata hanya memanfaatkan Ayana demi balas dendam pada suaminya. Temukan kisah pengkhianatan dan intrik dalam web novel populer ini.
Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia
Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia
Dalam romance novel Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia, Bella meninggalkan Laskar setelah dikhianati demi wanita lain. Tiga tahun berlalu, ia kembali sebagai maestro sukses. Kini sang billionaire menyesal dan berusaha mengejarnya dalam kisah penuh intrik di web novel ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Bayangan yang Selalu Kau Cari
Bayangan yang Selalu Kau Cari
Gavin jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Liora dan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Liora. Suatu malam, setelah Liora mabuk, mereka tanpa sengaja tidur bersama. Maka dimulailah empat tahun kehidupan Gavin. Sekretaris di siang hari, kekasih di malam hari. Sampai akhirnya cinta pertama Liora, Rafael, kembali ke negara itu. Gavin akhirnya menyadari sepenuhnya bahwa Liora tidak pernah mencintainya. Setelah kepergian Gavin, Liora sangat menyesali perbuatannya.
Takdir yang Direbut Kembali
Takdir yang Direbut Kembali
Di kehidupan sebelumnya, Nura Galih dipaksa menjadi selir suami kakaknya yang sedang mengandung, namun ia kehilangan nyawa saat kakaknya melahirkan. Di kehidupan kedua, Nura melangkah hati-hati, berhasil meluluhkan hati Juno Malik yang berkuasa, dan menjadi istri sahnya. Dia merebut kembali kedudukan sebagai putri sah, menyingkirkan semua lawan, hingga orang-orang yang kejam hanya bisa menjerit putus asa.
Pesta Kekuasaan
Pesta Kekuasaan
Niki, yang sebenarnya adalah pria terkaya di dunia, menjalani kehidupan sederhana sebagai suami rumah tangga bersama istrinya, Bunga. Saat dia hampir mengungkapkan identitas sejatinya dan berniat membagikan kekayaan serta kekuasaannya kepada Bunga, Bunga malah menceraikannya dan memandang rendah Niki. Niki sadar bahwa dia telah salah mengira Bunga sebagai cinta sejatinya. Kemudian, dia bertemu dengan Elsa, seorang wanita yang mencintainya apa adanya, bukan karena kekayaan atau kekuasaannya. Dengan tekad yang kuat, Niki memutuskan untuk mengambil kembali semua yang sebelumnya akan diberikan pada Bunga dan memilih untuk membagikannya dengan Elsa. Ia meninggalkan Bunga dengan penuh penyesalan.
Api yang Membara: Saudara Tiri Pembalapku
Api yang Membara: Saudara Tiri Pembalapku
Demi menghidupi ibunya yang sakit dan menghadapi tekanan dari ayah tirinya yang kasar, Elle terpaksa bekerja sebagai penari hiburan di dunia balap jalanan ilegal. Tanpa diduga, dia bertemu dengan pembalap jalanan juara dunia yang ditakuti dan diidolakan banyak orang—yang ternyata adalah saudara tirinya sendiri. Pertemuan mereka yang semula hanya kebetulan, perlahan berkembang menjadi hubungan yang rumit dan penuh gejolak. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan rahasia yang belum terungkap, Elle harus memilih antara hati, harga diri, dan masa depannya.
Mengubah Nasib: Pertaruhan
Mengubah Nasib: Pertaruhan
Di kehidupan sebelumnya, Sergio tergila-gila dengan putri sopir, Felicia. Sejak kuliah, dia terus mengejar Felicia hingga akhirnya mereka menikah. Tapi Felicia terus memikirkan William, dan mereka membuat Sergio terkena diabetes karena makanan hingga meninggal. Sebelum meninggal, Sergio juga sempat melihat pengakuan cinta mendalam dari Sabrina yang dulunya juga gemuk. Setelah terlahir kembali, Sergio kembali ke pesta ulang tahun William dan melihat Felicia menggunakan trik yang sama, memanfaatkan dirinya sebagai mesin uang. Kali ini, Sergio memutuskan untuk mengubah takdirnya. Ia membongkar kebusukan Felicia di depan umum, dan menyatakan cintanya pada Sabrina. Sergio dan Sabrina bertaruh untuk memenangkan kompetisi model, dengan tujuan untuk mempermalukan Felicia dan William.
Suami Saya yang Bodoh Menjadi Miliarder
Suami Saya yang Bodoh Menjadi Miliarder
Dia awalnya adalah seorang miliarder, namun sebuah kecelakaan menyebabkan dia kehilangan ingatan dan cacat. Diselamatkan oleh seseorang, dia memutuskan untuk menikahi cucu dari orang yang menyelamatkannya, sebagai rasa terima kasih. Namun, ketika dia terbangun, dia sangat membencinya, bahkan mengajukan gugatan cerai. Akhirnya, dia mendapatkan kembali ingatannya dan mendapatkan kembali statusnya sebagai miliarder. Lima tahun kemudian, dia datang menemuinya bersama anak mereka.