Bab 2

Di layar ponsel, terlihat seorang pria dan wanita tanpa busana, menampilkan adegan yang tidak pantas.

Federic menatap layar dengan penuh nafsu, sementara tangannya terus bergerak tanpa henti.

Tak disangka, Federic malah bersembunyi di kamar mandi larut malam untuk melakukan hal seperti ini?

Aku menatapnya lama, sudah cukup lama aku tidak berinteraksi dengan pria. Entah kenapa, melihat pemandangan ini membuat hatiku berdebar tak terkendali.

Namun, rasa ingin buang air masih mendesakku. Saat diriku hendak berbalik untuk pergi, tiba-tiba sepasang tangan besar memelukku dari belakang.

"Kakak juga di sini?"

Jantungku langsung berdegup kencang, seolah-olah melewatkan beberapa ketukan.

Rasa malu karena ketahuan mengintip bercampur dengan sensasi mendebarkan, membuat tubuhku seketika melemas dan jatuh ke pelukan Federic.

Aku spontan merangkul lehernya, tapi langsung sadar bahwa gerakan itu terasa tak pantas. Aku pun buru-buru melepaskan tanganku kembali.

Sementara Federic semakin berani. Dia menggigit lembut cuping telingaku dari belakang, napas hangatnya menyapu leherku, membuat tubuhku memanas seketika.

"Kak Wendy, aku mau ... "

Aku berusaha keras mendorongnya, tapi semakin aku melawan, semakin erat pelukannya.

Tangannya sudah bergerak ke pahaku. Karena masih menahan buang air, sensasi geli yang menjalar dari pangkal paha terasa berkali-kali lipat lebih intens, menggoda seluruh tubuhku.

Otakku benar-benar kosong, aroma maskulin yang begitu kuat membuatku hampir tak bisa bernapas.

Di bawah gempurannya, pertahananku perlahan runtuh. Tapi tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki menggema di lorong kosong.

Dalam kepanikan, aku buru-buru mendorong Federic menjauh.

Mendengar langkah kaki itu, Federic pun perlahan kembali tenang.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung keluar dari kamar mandi, berpura-pura tak terjadi apa-apa dan cepat-cepat kembali ke ruang jaga.

Begitu menutup pintu, kakiku melemas. Aku bersandar pada pintu dan merosot ke lantai.

Jantungku masih berdegup kencang. Saat tanganku menyentuh bagian bawah tubuhku, aku baru menyadari bahwa di antara kedua pahaku sudah basah.

Kejadian barusan begitu menegangkan hingga aku kehilangan kendali.

Aku buru-buru mengambil tisu untuk membersihkannya sedikit, lalu merangkak ke ranjang. Ranjang yang empuk membuat tubuhku perlahan rileks dan mataku pun semakin berat.

Namun, di tengah kantukku, samar-samar mendengar pintu ruang jaga terbuka. Langkah kaki perlahan mendekatiku.

Aku ingin membuka mata untuk melihat siapa itu, tapi kelopak mataku terasa begitu berat, tubuhku juga terasa kaku dan pegal, tak bisa digerakkan sama sekali.

Orang itu berdiri di samping ranjang, lalu dengan kasar menarik selimutku dan menindih tubuhku.

Dalam keadaan setengah sadar, akhirnya aku bisa melihat wajah pria itu.

Dia adalah Federic!

Dia menekan kedua lenganku, lalu menciumi setiap bagian kulitku, seolah sedang menikmati hidangan lezat.

"Ugh ... "

Aku panik dan ingin berteriak, tapi suaraku tak bisa keluar. Aku hanya bisa pasrah dalam kendalinya.

"Tok tok tok ... " Saat aku hampir larut dalam perasaan tak berdaya itu, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang keras, membuatku langsung tersentak bangun.

Aku menunduk dan terkejut, braku sudah melorot setengah, hampir memperlihatkan seluruh dadaku.

"Kak Wendy! Buka pintunya!"

Mendengar suara itu, aku langsung melompat turun dari ranjang, berjalan dengan kepala pusing dan membuka pintu ruang jaga.

Setelah kembali ke dalam, aku merasa sangat bingung. Aku mengambil gelas besar di meja dan meneguk air sampai habis.

Jadi semua itu hanya mimpi!

Tapi kenapa rasanya begitu nyata? Bahkan sensasi sentuhannya pun masih bisa kurasakan dengan jelas.

Aku duduk termenung di tepi ranjang sejenak, lalu keluar untuk mencuci muka. Namun, saat baru keluar dari ruang jaga, aku bertabrakan dengan Federic.

Bab 3

Saat itu, Federic tidak mengenakan atasan, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kencang dan berisi. Dia terlihat begitu kuat dan maskulin.

Aku hanya melirik sekilas, lalu buru-buru menundukkan kepala, merasa canggung dan tak berani menatapnya lagi.

"Halo Kak Wendy!"

Federic menyapaku dengan santai, seolah-olah kejadian semalam sama sekali tidak pernah terjadi.

Aku hanya mengangguk singkat. Saat ini, aku hanya ingin segera pergi, menjauh darinya.

Namun, tubuh Federic yang besar menghalangi jalanku. Saat tak ada orang di sekitar, dia membungkuk mendekat dan berbisik di telingaku.

"Kak Wendy, maaf ya ... kejadian semalam. Tapi aku tahu kamu juga menginginkannya. Aku akan datang menemuimu malam ini, jangan lupa bukakan pintu untukku ... "

Usai bicara begitu, dia berbalik hendak pergi, tapi sebelum benar-benar pergi, dia malah menepuk bokongku dengan usil.

Aku terdiam di tempat, wajahku langsung memanas dan pikiranku terasa kacau.

Setelah beberapa saat berdiri linglung di luar, aku berjalan kembali ke ruang jaga seperti zombie tanpa jiwa.

Bagaimana ... kalau coba saja? Lagipula, aku sudah menahan diri begitu lama. Sesekali melepaskan diri, sepertinya tidak ada salahnya!

Tapi, seorang wanita tidak bisa serendah itu! Jika hal ini sampai ketahuan, aku pasti akan jatuh ke dalam jurang tanpa dasar!

Sepanjang hari, aku tidak bisa fokus melakukan apapun. Kata-kata Federic terus terngiang-ngiang di kepalaku dan dua suara bertentangan di dalam hatiku terus berdebat satu sama lain.

Pada akhirnya, setelah pergolakan batin yang begitu lama, aku kalah oleh hasratku sendiri.

Setelah makan malam, aku mulai membongkar lemari mencari pakaian yang cocok.

Setelah mencari beberapa saat, akhirnya aku menemukan rok super pendek dan tanktop tipis.

Aku menutup rapat pintu ruang jaga, lalu melepas semua pakaian yang kupakai, bersiap menggantinya dengan baju yang baru saja kupilih.

Namun, saat melihat bayanganku di cermin, sejenak aku terdiam.

Wanita dalam cermin itu memiliki lekuk tubuh yang indah, dengan bentuk tubuh yang masih kencang dan menggoda. Dari setiap bagian tubuhnya, terpancar pesona seorang wanita dewasa.

Namun, siapa yang tahu? Wanita ini sudah lebih dari setahun tidak merasakan sentuhan seorang pria. Setiap malam yang dilaluinya selalu ditemani kesepian dan kehampaan.

Aku segera mengenakan pakaian itu. Saat melihat bayanganku lagi di cermin, aku tersenyum puas.

Sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu.

Dari dalam ruang jaga, aku bisa mendengar suara para pria bercanda di lorong. Tatapanku terus menerus melirik ke arah jam dinding, berharap waktu bisa berlalu lebih cepat.

Akhirnya, tiba saatnya pintu asrama dikunci. Aku segera menutup pintu utama dan menyuruh para pria di lorong untuk kembali ke kamar mereka.

Setelah kembali ke ruang jaga, aku membiarkan pintunya sedikit terbuka. Jantungku mulai berdebar semakin kencang, membayangkan Federic yang akan datang sebentar lagi.

Namun, satu jam berlalu ... dua jam berlalu ... tiga jam berlalu ...

Lorong sudah sepi, tapi Federic tetap tidak muncul. Menunggu itu benar-benar melelahkan.

Hingga akhirnya, aku mulai mengantuk dan tertidur di ranjang.

Namun, belum lama aku tertidur, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu yang berputar pelan.

Aku membuka mata dan di depan pintu ... Federic berdiri di sana tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.

Tanpa berkata apa-apa, dia langsung masuk, mengangkat selimutku, lalu menyelinap ke dalamnya. Bibirnya langsung menempel pada bibirku.

Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, menarikku semakin erat ke dalam pelukannya.

Sambil terengah-engah, aku bisa merasakan tangannya mulai bergerak menuju pangkal pahaku.

Astaga ... ini benar-benar akan terjadi!

Aku menutup mata dengan gugup, aku sudah menunggu begitu lama!

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B67264" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B67264
Salin

Wanita Satu-satunya di Asrama Pria

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya