Bab 3

Setelah menenangkan Ratna, Junanto menatapku dengan dingin. "Aku tahu kamu selalu nggak suka karena aku diam-diam menikahinya dan melahirkan anak dengannya. Kamu bisa melampiaskan amarahmu padaku, karena aku memang salah nggak memberitahumu sebelumnya."

"Tapi kamu nggak boleh menyakiti Ratna. Dia sudah cukup kasihan dengan kondisi kesehatannya yang buruk."

"Dia hanya meminta satu kesempatan untuk menjadi seorang ibu, apa itu salah? Kenapa dia harus menanggung lampiasan amarah darimu?"

Junanto menunjukku dengan mawah dan melanjutkan, "Kamu harus minta maaf pada Ratna hari ini!"

Aku berusaha menahan tubuhku yang gemetar.

Dan berkata dengan suara serak, "Kalau begitu, apa salahku?"

"Apa yang kulakukan padanya?"

Junanto terdiam sejenak, memandang mataku yang memerah karena menahan tangis.

"Sudahlah, Kak Jun. Meski hampir mati jatuh dari tangga tadi ... "

"Aku nggak menyalahkan kakak, aku juga nggak perlu dia meminta maaf padaku."

"Kalian akan menikah ke depannya, aku nggak mau jadi alasan kalian bertengkar."

Junanto menghela napas dan menatap Ratna dengan penuh kasih sayang, "Ratna, kamu memang terlalu pengertian. Kadang hal itu membuatku sangat tak tega melihatmu."

Lalu, Junanto kembali menatapku dengan dingin, "Intinya, kamu hanya iri pada Ratna. Kamu nggak bisa menerima bahwa dia lebih bahagia darimu."

"Hari ini, karena Ratna membelamu, kamu nggak perlu minta maaf."

"Tapi, kalau kamu berani menyakitinya lagi ke depannya, aku nggak akan memaafkanmu."

Junanto menggendong Ratna, lalu sebelum pergi, dia berkata lagi dengan nada kecewa, "Kamu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan adikmu."

Ruang tamu menjadi sunyi, hanya tersisa aku seorang.

Aku memandang kosong ke arah daun-daun kering yang berjatuhan di luar jendela.

Pada akhirnya, aku tidak bisa menahan tangis dan berjongkok, menutupi wajahku dengan kedua tangan.

Ini terakhir kalinya ...

Terakhir kalinya aku menangisi Junanto.

Sore itu, Junanto mengunggah sebuah status di Instagram.

Isinya adalah sembilan foto.

Foto dari berbagai sudut rumah baru mereka.

Captionnya, "Setiap ruangan, setiap furnitur, setiap dekorasi di sini, semuanya aku pilih dengan sepenuh hati. Hanya ingin memberikan rumah yang nyaman dan hangat untuk bayiku."

Kolom komentar langsung penuh dengan ucapan selamat.

"Selamat Pak Jun sudah mendapat momongan!"

Ternyata Pak Jun dan Ratna sudah menikah ya? Selamat ya!"

"Punya suami sebaik Kak Jun, istrimu pasti sangat bahagia! Iri sekali!"

"Untuk pernikahan kalian tiga bulan lagi, aku akan datang meski harus membatalkan urusan bisnis besar."

Namun, di tengah ucapan selamat itu, tiba-tiba Ratna berkomentar, "Jangan salah paham semuanya, ini bukan rumah Kak Jun, tapi rumahku."

Komentar itu membuat suasana di kolom komentar menjadi canggung.

Aku memecahkan suasana dengan menulis, "Aku mengundurkan diri dari permainan segitiga ini, selamat berbahagia untuk kalian berdua."

Usai mengirimnya, aku tidak peduli lagi dengan apapun yang mereka katakan.

Aku langsung menghapus kontak Junanto dan Ratna dari ponselku.

Tak lama kemudian, Junanto meneleponku.

"Yenny, kamu sudah cukup buat keributan, belum?"

Aku menjawab dengan tenang, "Aku nggak sedang ribut."

Dia berkata dengan suara penuh emosi, "Komentar yang kamu tulis di unggahanku itu jelas mencemarkan nama Ratna."

"Kamu sengaja memberi kesan bahwa dia adalah orang ketiga, 'kan? Apa kamu puas begitu?"

"Kalau kamu terus memfitnahnya, aku nggak akan menikah denganmu!"

Mendengar ucapannya yang dingin dan tanpa perasaan, hatiku terasa hampa, seperti air mati yang tidak lagi beriak.

"Jun, dari mana kepercayaan dirimu berpikir bahwa aku masih menginginkan barang bekas sepertimu?"

s

Bab 4

Aku memutuskan teleponnya.

Mungkin kata-kata barang bekas telah melukai Junanto, dia meneleponku berkali-kali.

Aku tidak mengangkatnya, dia mulai mengirim pesan-pesan panjang.

Namun, aku tetap tidak menggubrisnya.

Sepuluh hari lagi, aku akan menikah dengan Richie.

Pada akhirnya, semua orang ini hanyalah bagian dari masa laluku.

Di sisa waktu ini, aku hanya ingin menjalani hari-hari dengan tenang tanpa drama apapun. Namun, siapa sangka Ratna melakukan sesuatu yang menghancurkan batas kesabaranku. Dia menjatuhkan kotak abu jenazah ayahku ke lantai.

Abu itu berserakan.

Alih-alih merasa bersalah, dia membiarkan kucing peliharaannya kencing di atas abu itu.

Kemudian, dia menatapku dengan wajah penuh kepuasan.

"Kak, lihat, abu ini bisa jadi pasir untuk kuncingku!"

Seketika, kesedihan dan kemarahanku yang selama ini kupendam meledak.

Aku langsung mengambil tongkat baseball yang ada di belakang pintu dan mengayunkannya ke arah Ratna.

Aku memukulnya sekali, wajahnya pucat dan dia berteriak ketakutan, sambil lari menjauh.

"Yenny! Kamu benar-benar sudah gila! Berani-beraninya memukul adikmu sendiri?!"

Kemunculan ibuku menjadi penyelamat bagi Ratna.

Dengan wajah ketakutan, dia bersembunyi di belakang ibuku.

Dia terisak berkata, "Aku takut, bu, kakak mau membunuhku!"

Ibu berdiri melindunginya seperti seekor induk ayam yang melindungi anaknya. Dengan suara keras, dia memarahiku, "Kamu sudah cukup keterlaluan membuli adikmu biasanya, aku selalu menganggapnya masalah sepele dan tak memedulikannya. Tapi, kamu sudah kelewat batas kali ini!"

Dia adalah ibuku, tapi selalu berada di pihak yang berseberangan denganku, membela seorang anak angkat yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengannya.

Tidak ada yang lebih menyakitan daripada itu.

Dengan air mata membasahi wajahku, aku menatap ibu dan berkata dengan suara gemetar, "Dia menjatuhkan kotak abu ayah!"

"Itu ayah! Ayahku! Kenaapa?! Kenapa dia melakukan itu?"

“Padahal aku sudah cukup sabar selama ini, tapi kenapa masih menghancurkan kenangan terakhir ayahku?"

Kenapa ibu nggak pernah mencintaiku?

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B48877" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B48877
Salin

Tunanganku Menikah dengan Adikku

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya