Bab 1
Pada malam saat Nash sedang berkencan dengan selingkuhannya, Quinn meninggal dunia secara tragis.
Raja Neraka memberinya waktu tujuh hari untuk kembali ke dunia demi menuntaskan keinginannya.
Quinn hanya memiliki satu permintaan. Bercerai dengan Nash, mengakhiri semua hubungan di masa lalu. Mau itu hidup ataupun mati, dia berharap mereka tidak pernah bertemu lagi.
Pukul 9 malam, Quinn diseret masuk ke gang oleh penjahat, sementara Nash sedang menemani selingkuhannya menonton pertunjukan drone.
Pukul 9.10 malam, Quinn disiksa dan dinodai oleh penjahat, sementara Nash sedang menyatakan cinta dengan penuh perasaan kepada selingkuhannya.
Pukul 10 malam, Quinn ditikam sampai mati dan dibuang ke selokan, sementara Nash sedang bercinta dengan selingkuhannya.
Tepat tengah malam, roh Quinn kembali ke rumah dan berpapasan dengan Nash yang baru selesai mandi.
Mata mereka bertemu. Nash mengernyit sambil bertanya, "Kok bisa sampai begini?"
Saat ini, rambut Quinn berantakan, pakaiannya robek, kulitnya penuh luka, matanya merah, dan wajahnya pucat pasi.
Quinn menatapnya lama, baru akhirnya berkata, "Nash, ayo kita cerai."
Alis Nash yang indah semakin berkerut. "Quinn, cuma masalah sepele, perlu sampai cerai?"
Quinn menunduk dengan ekspresi hampa, mengulang sekali lagi.
Nash menatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata.
Beberapa saat kemudian, dia menghela napas dan memeluk Quinn. "Sudahlah, Quinn. Aku tahu aku salah karena menurunkanmu di tengah jalan, tapi kenapa sih kamu harus keras kepala begitu? Aku sama Sachi cuma main-main. Posisi istri sah itu tetap milikmu, nggak ada yang bisa rebut posisimu."
Meskipun sudah mandi, tubuh Nash masih menyisakan aroma parfum wanita, menusuk hati Quinn perlahan-lahan seperti duri.
Semalam, Quinn tahu bahwa Nash selingkuh. Yang paling menyakitkan, selingkuhannya adalah murid miskin yang dibiayai oleh Quinn selama tujuh tahun!
Di dalam mobil, mereka bertengkar hebat. Nash marah dan malu, lalu sengaja mengantar Quinn ke tempat sepi dan menyuruhnya turun. Setelah itu, bencana pun terjadi.
Setelah meninggal, roh Quinn pergi ke akhirat. Karena semasa hidup dia banyak berbuat kebaikan, Raja Neraka memberinya kesempatan untuk kembali ke dunia selama tujuh hari demi menyelesaikan keinginannya.
Sekarang, satu-satunya keinginan Quinn adalah menceraikan Nash.
Hatinya begitu sakit hingga mati rasa. Air mata tak terasa sudah membanjiri wajah. Dia mendorong Nash. "Waktu kita jadian di umur 17 tahun, aku pernah bilang, kalau suatu hari kamu berkhianat, aku akan pergi tanpa ragu. Kamu juga pernah janji. Ini masalah prinsip."
Saat disiksa hingga mati, penjahat menikamnya 17 kali, seolah-olah setiap tikaman sedang mengejek betapa naif dirinya saat berusia 17 tahun.
Nash langsung kehilangan kesabaran, tatapannya tajam memancarkan kilatan dingin. "Prinsip apaan! Omongan remaja mana bisa dianggap serius!"
"Kamu lihat sendiri anak-anak orang kaya itu, mana ada yang nggak punya simpanan? Aku ini sudah baik banget, selama ini cuma setia sama kamu! Lagian, yang paling kucintai itu kamu. Sama dia cuma cari sensasi baru doang. Masa aku nggak boleh cari pelampiasan sekali saja?"
Quinn menatapnya dengan kecewa. Tangannya yang dingin mengepal erat sampai memutih. "Kalau aku bilang aku sudah mati, kamu percaya nggak? Sekarang, satu-satunya keinginanku cuma ingin bercerai."
Nash tertawa saking marahnya. "Quinn, kamu harus banget ngarang cerita buat nipu aku?"
"Aku ...." Quinn hendak menjawab, tetapi pintu kamar tiba-tiba terbuka. Sachi muncul dengan gaun tidur seksi, kulitnya penuh bekas cupang.
Melihat Quinn menatapnya tajam, Sachi langsung bersembunyi di belakang Nash. Dengan suara lirih, dia berucap, "Kak Quinn, soal aku sama Kak Nash, itu memang salahku. Tapi orang seperti Kak Nash yang punya status, punya simpanan itu hal biasa."
"Tenang saja, Kak Nash tetap paling sayang Kak Quinn! Aku nggak pernah berani mengincar posisi istri sah!"
Quinn tidak berkata apa-apa, pandangannya tertuju ke dalam kamar tidur. Tempat tidur yang baru dirapikannya kemarin pagi, kini tampak sangat berantakan.
Dia tak kuasa tersenyum mencela. "Air susu dibalas air tuba, menarik sekali."
Menggunakan uangnya, tidur dengan suaminya, bahkan gaun tidur yang dipakai juga miliknya.
Sachi langsung berkaca-kaca. "Kak Quinn ...."
"Cukup!" Nash memijat pelipisnya dengan kesal. "Kamu tenangin diri dulu."
Usai mengatakan itu, dia membawa Sachi pergi. Brak! Pintu ditutup. Quinn seketika merasa lemas, terduduk di lantai.
Di dinding seberang, tergantung foto pernikahan mereka. Di foto itu, senyuman mereka sangat cerah.
Quinn menatapnya dan melamun. Dia tak mengerti, kenapa Nash yang dulu mencintainya dengan sepenuh hati bisa berubah secepat ini.
Bab 2
Malam itu, Nash tidak pulang.
Quinn berendam di dalam bak mandi, menggosok tubuhnya berulang kali, berusaha keras menghapus semua jejak kotor yang menempel. Sayangnya, meskipun kulitnya sampai lecet dan berdarah, semua yang terjadi semalam tetap seperti pisau yang menyayat dirinya tanpa henti.
Quinn menangis sampai pingsan. Dalam kesadarannya yang samar, dia merasakan sepasang tangan hangat mengangkatnya.
"Quinn!" Suara yang familier terus memanggil namanya.
Quinn membuka matanya dengan susah payah, mendapati bahwa entah sejak kapan Nash telah kembali. Wajahnya yang biasanya dingin kini penuh kepanikan.
"Quinn, jangan tidur! Aku bawa kamu ke rumah sakit!"
Quinn menatapnya. Dalam kesadaran yang lemah, dia seolah-olah merasa dirinya kembali ke masa lalu.
Saat mereka berusia 17 tahun, gempa besar melanda ibu kota. Saat balok beton kelas mereka ambruk, Nash mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya.
Mereka terjebak di reruntuhan selama lima hari penuh. Tak ada setetes air pun yang masuk ke tubuh mereka. Quinn bahkan mulai berhalusinasi, kehilangan keinginan untuk bertahan hidup.
Namun, Nash terus menyemangatinya, memanggil-manggilnya saat dia hampir tertidur.
Setelah lolos dari maut, mereka pun bersama. Saat itu, Quinn yakin hubungan mereka yang sudah melewati batas antara hidup dan mati, akan abadi. Apa pun rintangannya, mereka pasti bisa melewatinya.
Yang tak dia sangka, di tahun ketiga pernikahan mereka, Nash berselingkuh.
Saat Quinn sadar, dia sudah berada di rumah sakit. Begitu membuka mata, dia melihat Nash sedang tertidur di pinggir ranjangnya.
Pakaian yang dipakainya masih sama seperti kemarin. Wajahnya pucat, kantong matanya hitam. Dia tampak sangat letih.
Quinn menatapnya lama, lalu perlahan mengangkat tangan untuk menyentuh pipinya. Nash langsung terbangun. Begitu melihat Quinn sadar, dia langsung memeluknya erat-erat.
"Quinn, kamu buat aku ketakutan setengah mati! Untung kamu nggak kenapa-napa! Kemarin aku nggak seharusnya bicara seperti itu ke kamu!"
Pagi tadi saat Nash pulang ke rumah, dia menemukan Quinn terbaring di dalam bak mandi. Mata terpejam, air dingin yang mengelilinginya sampai berubah merah. Saat itu, Nash hampir kehilangan akal sehatnya.
Air mata jatuh satu per satu. Quinn mendorongnya sambil tersenyum pucat. Dengan suara terisak, dia memohon, "Nash, kita ngobrol baik-baik ya?"
Nash langsung mengangguk. "Oke! Kita ngobrol baik-baik! Tapi, kamu jangan pernah lakuin hal bodoh lagi ya?"
"Sebenarnya semalam aku ...."
Tiba-tiba, ponsel Nash berdering. Dia melihatnya sekilas, lalu langsung mematikan. Ekspresinya tampak agak canggung. "Quinn, kamu ngomong saja."
Saat berikutnya, ponselnya berbunyi lagi. Quinn sempat melirik dan melihat nama kontak di layar, "Sachi Sayang".
Dalam sekejap, semua energi dalam tubuhnya hilang. "Nggak apa-apa, angkat saja. Aku lagi capek. Mau istirahat dulu," katanya pelan sambil kembali berbaring.
Nash menatapnya sejenak, lalu diam-diam keluar dari ruang rawat.
Beberapa detik kemudian, Quinn menerima pesan dari nomor tak dikenal.
[ Berani ke basemen? ]
Quinn mengepalkan tangan dengan erat. Awalnya dia ingin mengabaikannya, tetapi kakinya malah membawanya ke sana.
Di basemen, Sachi mencengkeram lengan baju Nash sambil menangis tersedu-sedu. "Apa aku boleh mempertahankan anak ini? Ini anak pertama kita, aku nggak mau gugurin!"
Nash mengerutkan kening, suaranya dingin. "Aku dan Quinn bahkan belum punya anak. Mana mungkin kamu punya duluan. Setelah aku dan Quinn punya anak, kamu mau lahirin berapa pun silakan."
Sachi menangis semakin keras. "Tapi, aborsi itu sakit! Aku takut! Waktu kamu tidur sama aku, kamu bilang mau tanggung jawab!"
Nash hanya bisa menghela napas, lalu memeluknya sambil membujuk, "Aku temani kamu nanti. Terus, aku beliin kamu beberapa apartemen. Aku kasih semua yang kamu mau."
Sachi memeluk leher Nash. "Aku mau kamu lamar aku sekali saja. Kalau nggak bisa nikah benaran, pura-pura nikah nggak apa-apa, 'kan?"
Nash diam, keningnya berkerut. Sachi langsung cemberut. "Kamu ini nggak pernah tepati janji!"
"Ya, ya, aku janji deh!" Melihat gadis itu begitu sedih, hati Nash pun luluh.
Sachi langsung tersenyum cerah. "Cincin dan gaunnya harus sama kayak yang kamu kasih ke Kak Quinn ya!"
"Oke, nggak masalah."
"Aku juga mau ke kastel!"
"Ya, ya, terserah kamu."
Bab 3
Nash tersenyum penuh kasih. Dia menatap bibir merah merona Sachi. Tanpa bisa menahan diri, dia mengangkat dagunya dan menciumnya.
Ciuman mereka semakin dalam, lalu akhirnya mereka masuk ke mobil. Tak lama kemudian, mobil itu mulai bergoyang.
Quinn bersembunyi di balik tiang, wajahnya pucat pasi. Dia menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara sedikit pun, sementara air matanya jatuh deras.
Nash menghamili Sachi. Padahal dia selalu berkata bahwa wanita yang paling dia cintai adalah Quinn, tetapi sekarang dia justru bersedia mengulang semua kenangan spesial mereka untuk wanita lain!
Saat itu, Quinn sangat ingin menerobos keluar dan berteriak marah, tetapi pada akhirnya dia hanya membalikkan badan dan pergi.
Quinn sendiri bahkan tak tahu bagaimana dia bisa meninggalkan tempat itu. Dia tidak kembali ke rumah sakit, melainkan berjalan tanpa arah di sepanjang jalan.
Tak jauh dari sana, berdiri kantor pusat Grup Peak. Layar elektronik besar di gedung itu tengah memutar ulang sebuah rekaman dari dua tahun lalu.
Itu adalah rekaman pernikahan yang membuat semua wanita di ibu kota iri setengah mati. Sebuah kastel romantis, anak-anak pembawa bunga yang manis, dan wajah Nash serta Quinn yang berlinang air mata bahagia.
Semua itu terasa seperti baru terjadi kemarin.
Quinn terus menatap layar itu, sampai air matanya jatuh lagi. Saat ini, sebuah pesan masuk. Dari Nash.
[ Quinn, ada rapat mendadak di kantor. Malam ini aku nggak bisa pulang. Besok kita ngobrol baik-baik ya. ]
Air matanya jatuh di atas layar ponsel. Quinn hanya bisa tersenyum pahit. Besok? Namun, waktunya sudah tidak banyak.
Dulu sebelum tahu Nash berselingkuh, dia sering menerima pesan-pesan seperti ini. Katanya rapat mendadak. Mungkin sebenarnya, semua rapat mendadak itu hanyalah kedok untuk bersama Sachi.
Quinn membalas.
[ Rapat sama Sachi? ]
Status pesan langsung berubah menjadi "sedang mengetik", tetapi lama dibalas. Setelah beberapa menit, Nash akhirnya menjawab.
[ Jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau nggak percaya, kamu bisa tanya ke asistenku. ]
Quinn tak membalas lagi. Beberapa detik kemudian, Sachi mengirim pesan.
[ Quinn, kamu pasti dengar obrolan kami di basemen tadi, 'kan? Jujur saja, cepat atau lambat aku pasti gantiin posisimu. Sekarang, separuh hati Kak Nash sudah buat aku. ]
[ Aku masih muda, lebih tahu cara memuaskan dia! Kalau kamu nggak mau jadi istri buangan, mending kamu sendiri yang minta cerai deh! ]
Kemudian, disusul beberapa foto. Stoking yang sobek dan bungkusan kondom yang sudah dibuka.
Tangan Quinn gemetar saat membaca pesan itu. Dia memang ingin bercerai dengan Nash setelah kematiannya, tetapi itu tidak berarti dia bisa menerima penghinaan seperti ini!
Guruh terdengar menggelegar. Hujan turun deras. Air menetes dari dagu Quinn yang pucat, tidak jelas mana air mata dan mana air hujan.
Akhirnya, dia mengirim pesan kepada Nash.
[ Nash, kita cerai saja. ]
Sesampainya di rumah, malam sudah larut. Quinn berbaring di sofa, tubuhnya terasa sangat tidak nyaman. Sepertinya dia demam tinggi.
Dia tak bisa menahan tawa getir. Dirinya sudah meninggal, kini hanya jiwa yang tersisa, tetapi masih bisa sakit juga.
Setelah duduk sebentar, dia memaksakan diri untuk berdiri, lalu naik ke atas kursi dan mengambil foto pernikahan dari dinding.
Jari-jarinya yang halus menyentuh dengan lembut, lalu tanpa ragu mengambil gunting dan merobek foto itu hingga hancur!
Foto itu dibuang begitu saja. Kemudian, dia mengeluarkan semua album dan bingkai yang berisi foto-foto bersama Nash. Setiap foto digunting hingga menjadi serpihan.
Setelah itu, dia mulai mengumpulkan semua hadiah dari Nash. Yang mahal dijual murah lewat aplikasi barang bekas, sementara yang buatan tangan dihancurkan dan dibuang ke tempat sampah.
Pada akhirnya, Quinn melangkah ke ruang galeri pribadi di rumah. Di balik etalase kaca, tergantung gaun pengantin yang dikenakan dulu. Dia menatapnya sejenak, lalu mengangkat gunting dan mengguntingnya hingga tak berbentuk lagi.
Cincin dengan berlian pink seukuran telur merpati yang dirancang khusus oleh Nash sendiri pun digenggam lama oleh Quinn. Harganya puluhan miliar. Setelah menatap untuk waktu yang lama, Quinn melemparkannya ke dalam kloset.
Dia dan Nash memang pernah saling mencintai. Kenangan itu begitu berharga. Namun, karena itulah, dia tak ingin kenangan itu ternoda oleh orang lain. Jadi, dia memilih untuk menghancurkannya sendiri.
Setelah semuanya selesai, Quinn jatuh terduduk ke lantai dengan tubuh lemas. Tepat saat itu, Nash menerobos masuk.