Bab 6
Zakki tahu neneknya melakukan itu dengan sengaja, lalu dia melirik ke arah Annika.
Annika tidak menunjukkan rasa sayangnya pada Zakki.
Annika menemani wanita tua itu sebentar, lalu dia berdiri. "Aku akan membuat kue lapis."
Saat Annika pergi, senyum wanita tua itu pudar dan tubuhnya bersandar ke belakang.
"Zakki, ada apa dengan Shilla itu? Kamu hanya perlu menjaganya, untuk apa kamu menyalakan kembang api seperti itu? Jangan sampai istrimu cemburu."
“Kamu juga harus menjaga Annika baik-baik. Jangan bersikap seperti nggak ada masalah apa-apa.”
"Kalau kamu terus bersikap dingin, dia akan lari.”
…
Zakki hanya mengucapkan beberapa patah kata dan tidak menjelaskan soal kembang api itu. Mungkin itu adalah ulah Sekretaris Dania!
Setelah mengobrol cukup lama, Annika datang sambil membawa camilan.
Zakki menoleh dan menatap Annika. Pakaian Annika masih bersih dan rapi meskipun dia baru selesai memasak. Dia tampak cantik dan bermartabat, seperti seorang wanita bangsawan.
Zakki merasa agak bosan.
Namun, wanita tua itu sangat menyukai Annika. Dia mencicipi camilan buatan Annika dan berkata, "Zakki, dua tahun lagi usiamu 30. Biasanya umur segitu orang-orang sudah punya dua anak. Kapan kamu akan memberiku cicit?"
Annika tidak mengatakan apa-apa.
Zakki melirik ke arah Annika dan mengambil kue lapis yang ada di meja. "Annika masih muda, kami masih mau menikmati waktu berdua dua tahun lagi!"
Wanita tua itu memiliki hati yang jernih, tetapi sulit ditebak.
…
Mereka makan malam di Kediaman Ruslan, lalu pulang saat sudah sangat larut.
Zakki mengencangkan sabuk pengamannya dan melirik ke arah Annika. Annika memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela mobil.
Wanita itu tampak cerah dan cantik meskipun dalam cahaya redup.
Zakki menatapnya cukup lama, lalu menginjak gas.
Bantley hitam itu melaju dengan mulus dan lampu di kedua sisinya terus berkedip. Zakki ingin membicarakan sesuatu dengan Annika, jadi dia tidak mengemudi dengan cepat.
Lima menit kemudian, Zakki berkata dengan pelan, "Besok aku akan membawa ayahmu ke Rumah Sakit Ruslan. Aku akan meminta tim medis terbaik untuk merawatnya. Lalu … kalau kamu ingin meminta uang, beri tahu aku saja."
Nada suaranya cukup lembut, terdengar seperti sedang berkompromi.
Dia tidak mencintai Annika. Dia merasa khawatir karena Annika sudah mulai melawannya, tetapi dia tidak berniat melepaskan istrinya .... Hal ini akan menimbulkan masalah bagi hidupnya dan saham Grup Ruslan.
Dia harus membiasakan diri!
Selain itu, penampilan dan tubuh wanita itu luar biasa. Setidaknya Zakki merasa mereka berdua cocok dalam urusan ranjang.
Ketika tiba di lampu merah persimpangan, Zakki melirik ke arah Annika.
Dia memegang setir dan melanjutkan, "Sekretaris Dania nggak akan datang ke rumah lagi. Kamu boleh memakai perhiasan itu sesuka hati, aku akan menjelaskannya padanya."
Annika mendengarkan dengan tenang.
AC di dalam mobil itu sangat dingin, jadi Annika memeluk dirinya sendiri agar tidak menggigil.
Dia telah menikah dengan Zakki selama tiga tahun dan tahu banyak tentang sifat Zakki. Sejujurnya, apabila Zakki berkompromi seperti ini, Annika akan sangat terbantu .... Seharusnya Annika merasa bersyukur, tapi dia tidak!
Zakki mengatakan banyak hal, tetapi dia tidak menyebut Shilla sama sekali. Jadi, jika Annika menyetujuinya, Shilla akan tetap muncul dalam kehidupan mereka di masa depan ... dan tidak ada yang akan berubah.
Annika sudah lelah dan tidak ingin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.
Dia menolak dengan tegas. "Nggak perlu, dokter ayahku sekarang sudah cukup baik."
Zakki mengerti maksud jawaban tersebut, Annika menolak tawarannya dan bersikeras untuk bercerai. "Annika, jangan lupa bahwa kita menandatangani perjanjian saat kita menikah. Kalau kita bercerai, kamu nggak akan mendapat sepeser pun," ujar Zakki marah.
“Aku tahu!” jawab Annika dengan cepat.
Kesabaran Zakki pun habis dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dua puluh menit kemudian, ketika mobil sudah masuk ke vila tempat mereka tinggal, Zakki menghentikan mobilnya perlahan dan berkata kepada penjaga pintu, "Tutup gerbangnya, jangan biarkan seekor lalat pun keluar."
Penjaga itu curiga dan ingin bertanya, tetapi Zakki sudah pergi.
Tak lama kemudian, Zakki memarkir mobilnya di tempat parkir di depan vila.
Setelah mobil itu berhenti, Annika melepaskan sabuk pengamannya dan hendak keluar dari mobil. Akan tetapi, mobil itu tiba-tiba dikunci oleh Zakki.
Bab 7
Annika memegang pintu mobil dan mencoba membukanya.
Suasana di dalam mobil itu sangat mencekam.
Zakki langsung pergi ke Kediaman Ruslan begitu dia pulang dari perjalanan bisnis, jadi dia merasa agak lelah. Dia meletakkan satu tangan di kemudi dan mengusap alisnya dengan tangan yang lain. "Mau sampai kapan kamu mau cari masalah?"
Sampai saat ini, Zakki masih mengira bahwa Annika hanya ingin mencari masalah dengannya.
Sikap Annika menjadi makin dingin, dia duduk tegak dan melihat ke depan mobil. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan lembut, "Zakki, aku serius! Aku nggak mau bersamamu lagi."
Zakki tiba-tiba menoleh dan menatap Annika.
Zakki adalah pria yang sangat tampan. Annika dulu sangat terobsesi dengan wajah ini, tetapi sekarang dia tidak merasakan apa pun ….
Zakki menatap Annika dengan tajam dan melepaskan sabuk pengamannya dengan satu tangan. "Keluar dari mobil!"
Dia membuka kunci mobil tersebut.
Annika segera turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang masuk vila. Di bawah cahaya redup, punggungnya tampak tegak, dia benar-benar bertekad untuk bercerai.
Zakki merokok sebentar sebelum turun dari mobil. Kemudian, dia naik ke lantai atas.
Mereka berpisah dalam keadaan buruk.
Malam itu, Annika tidur di kamar tamu dan Zakki malas membujuknya. Zakki mengenakan piamanya dan berbaring. Kemudian, dia merasa sangat hampa ketika tidak ada orang di sampingnya.
Di masa lalu, sedingin apa pun sikap Zakki, Annika suka memeluknya dari belakang saat tidur ….
Di pagi hari, cahaya matahari menyinari kamar tidur itu.
Zakki merasa sangat silau, lalu dia mengulurkan tangannya untuk menghalangi sinar matahari. Pada akhirnya, dia terbangun.
Dia mendengar suara dari lantai bawah.
Dia mendengar bahwa para pelayan sedang menyiapkan sarapan. Biasanya, Annika melakukan ini dengan para pelayan. Annika juga menyiapkan sendiri sarapan untuk Zakki.
Suasana hati Zakki sudah membaik. Dia turun dari tempat tidur dan berganti baju di ruang ganti.
Kemudian, dia menyadari sesuatu.
Koper Annika menghilang.
Zakki membuka lemari dan menyadari bahwa Annika telah mengambil beberapa pakaian yang sering dia kenakan.
Dia memperhatikan lemari itu tanpa bersuara selama beberapa detik, lalu dia menutupnya. Kemudian, dia memilih jas dan mengenakannya. Setelah mencuci muka, dia memakai arlojinya dan turun ke bawah. Ketika dia melihat pelayan, dia bertanya dengan santai, "Nyonya di mana?"
"Pagi tadi, Nyonya pergi dengan membawa koper, dia tidak menelepon sopir," jawab pelayan itu dengan hati-hati.
"Dia benar-benar serius!"
Zakki mengabaikannya, dia duduk di meja makan untuk menyantap kopi hitam dan roti panggang gandum seperti biasanya.
Matanya tertuju pada berita di surat kabar.
Skandal antara dia dan Shilla sangat menghebohkan dan judul beritanya sangat menarik perhatian. Zakki melihatnya cukup lama, lalu bertanya kepada pelayan di sampingnya dengan lembut, "Apa Nyonya membaca koran sebelum pergi?"
"Nyonya pergi tanpa sarapan!" jawab pelayan dengan jujur.
Zakki menatap pelayan itu, lalu dia menelepon Sekretaris Dania. "Cepat urus berita yang ada di koran!" ujarnya.
Dania mengucapkan beberapa patah kata dan hendak menutup telepon.
Zakki merapikan dasi dan berkata dengan lembut, "Lalu, coba periksa di mana Annika menjual cincin kawin itu. Aku harus mendapatkannya sebelum jam empat sore."
Sekretaris Dania tertegun.
"Tidak mungkin! Nyonya Ruslan sangat mencintaimu, bagaimana mungkin dia menjual cincin kawinnya?" ujarnya.
Zakki tidak menjawab dan langsung menutup telepon.
Dia melempar ponselnya ke meja makan. Setelah melihat berita itu, dia sama sekali tidak nafsu makan.
…
Annika pulang ke rumah orang tuanya. Saat itu, Shinta sedang memasak sup untuk dikirimkan ke rumah sakit.
Ketika melihat Annika, Shinta sangat terkejut.
Shinta menunjuk ke arah koper dan berkata dengan nada tidak senang, "Suami istri mana yang nggak pernah bertengkar? Wajar saja kalau pria sesekali melirik wanita lain. Shilla itu tampak lusuh dan kakinya lumpuh. Aku sudah mencari tahu tentang wanita itu, dia nggak akan memengaruhi statusmu sebagai istri."
"Status apa yang kumiliki dengan Zakki!"
Annika mentertawakan dirinya sendiri sambil mengemas sup ayam ke dalam termos. "Aku akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ayah."
Shinta menatap Annika.
Shinta menyeka tangannya dengan lap dan berkata dengan jengkel, "Ayahmu mungkin akan sangat marah kalau kamu mau bercerai! Annika ... jangan keras kepala! Kalau kamu benar-benar menceraikan dia, apa kamu yakin bisa bertahan hidup? Keluarga Chandra benar-benar kesulitan saat ini, apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkannya?"
Bab 8
Annika perlahan menutup termos.
Setelah mengencangkan tutupnya, dia menundukkan kepala dan berkata dengan lembut, "Pasti ada jalan! Uang dari penjualan cincin kawin cukup untuk membayar pengobatan Ayah selama setengah tahun dan biaya pengacara Kakak .... Aku akan menjual rumah ini. Aku juga akan bekerja untuk menghidupi keluarga ini."
Setelah mengatakan itu, mata Annika berkaca-kaca.
Rumah ini adalah peninggalan ibunya, dia tidak pernah berniat menjualnya sesulit apa pun situasi keluarganya sebelumnya.
Shinta tercengang.
Dia tidak ingin membujuknya lagi, tetapi dia masih tidak setuju.
Annika menangkan dirinya, lalu mereka berdua pergi ke rumah sakit.
Setelah menjalani perawatan, kondisi Denny Chandra sudah mulai stabil. Akan tetapi, hatinya masih gundah, dia memikirkan masa depan putra sulungnya, Satya.
Annika tidak menyebutkan perceraian untuk saat ini.
Sore harinya, dokter yang merawat datang untuk melakukan pemeriksaan.
Jony Handika adalah seorang dokter ahli bedah otak yang masih berusia muda. Dia sangat tampan dan menawan, tinggi badannya 185 cm.
Setelah memeriksa pasien, dia melirik ke arah Annika dan berkata, "Kita bicara di luar."
Annika tercengang.
Dia segera meletakkan barang-barang di tangannya dan berkata dengan lembut kepada Denny, "Ayah, aku keluar sebentar."
Beberapa saat kemudian, mereka berdua berjalan ke koridor yang sepi.
Ketika melihat Annika gugup, Jony menyunggingkan senyum yang meyakinkan.
Kemudian, Jony menundukkan kepalanya dan melihat catatan medis. "Aku sudah berdiskusi dengan beberapa direktur Departemen Bedah semalam. Kami merekomendasikan agar Pak Denny menerima perawatan rehabilitasi yang sesuai dengan kondisinya. Kalau tidak, dia akan sulit untuk kembali ke kondisi semula. Hanya saja biayanya agak mahal, kira-kira 300 juta per bulan."
Nominal 300 juta itu sangat besar bagi Annika saat ini.
Namun, dia berkata tanpa ragu-ragu, "Kami setuju untuk menjalani perawatan."
Jony menutup catatan medisnya dan menatap Annika diam-diam.
Sebenarnya, mereka sudah saling kenal sebelumnya, tetapi Annika sudah lupa.
Ketika Annika masih sangat muda, Jony tinggal di sebelah rumahnya. Jony ingat bahwa setiap malam musim panas, teras di luar kamar tidur Annika diterangi oleh bintang-bintang kecil. Annika selalu duduk di sana dan merindukan ibunya.
"Kak Jony, apakah Ibu akan kembali?" tanya Annika.
Jony tidak tahu dan tidak bisa menjawab. Saat Jony menatap Annika sekarang, dia ingat ketika dia kembali ke rumah tiga tahun lalu dan mendengar berita pernikahan Annika. Jony mengira Annika menikah karena cinta, tetapi ternyata Annika tidak bahagia.
Zakki bersikap dingin pada Annika dan memperlakukan Annika dengan kasar.
Saat Jony hendak berbicara, terdengar suara dingin dari seberang. "Annika."
Itu adalah Zakki.
Zakki mengenakan kemeja abu-abu tua dan jas hitam, sepertinya dia datang dari kantor. Dia berjalan mendekat, sepatu kulitnya berderap kencang di koridor.
Zakki menghampiri Jony dan Annika.
Dia mengulurkan tangannya dan berkata dengan nada mencibir,
"Kak Jony, sudah lama tidak bertemu!"
Jony melihat tangan di depannya, tersenyum ringan, lalu menjabat tangannya. "Pak Zakki, tumben sekali ke sini."
Setelah berjabatan tangan, Zakki melepaskan tangan Joni, lalu menoleh ke arah Annika. "Kamu mau menjenguk Ayah?"
Kedua pria itu sama-sama menyimpan dendam.
Annika tidak ingin berurusan dengan Zakki di depan Dokter Jony, jadi dia mengangguk dan berkata, "Dokter Jony, saya pergi dulu."
Jony tersenyum tipis.
Annika dan Zakki berjalan menuju bangsal, mereka sama sekali tidak mengatakan apa pun.
Karena Annika ingin bercerai, dia tidak lagi berusaha menyenangkan Zakki seperti sebelumnya.
Ketika sudah dekat dengan pintu bangsal, Zakki tiba-tiba meraih pergelangan tangan Annika yang kurus dan menekannya ke dinding sambil menatapnya dengan tajam.
Jony tadi menatap Annika seperti seorang pria yang menatap seorang wanita.
Zakki menyentuh wajah Annika yang putih dan halus dengan lembut.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Zakki dengan suara serak.
Annika ingin melepaskan diri, tetapi Zakki mendorongnya dengan kuat.
Tubuh kedua orang itu berdekatan hingga akhirnya bersentuhan.