Bab 2
Aku menekan emosi di dalam hati, tak ingin terus berdebat dengan mereka, sama sekali tidak ada artinya.
Aku menatap Hubert, dengan nada tenang, "Bukannya kalian sedang menungguku? Aku agak lapar, bisa bawakan kue itu untukku?"
Suasana seketika menjadi hening, bagaikan suara jarum jatuh pun seakan bisa terdengar.
Beberapa orang saling bertukar pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.
Yuna bahkan tertawa sampai mengeluarkan air mata. "Menunggumu? Memangnya kamu pantas?"
Dia menjauhkan kue itu menjauh dan menunjuk papan penyambutan itu, "Lihat baik-baik, kami sedang menunggu Nyonya Fusman, kamu tahu siapa dia?"
Tentu saja aku tahu. Karena orang itu adalah aku sendiri.
Orang-orang pun menimpali.
"Vadya, jangan bermimpi, beraninya kamu mau curi kue Nyonya Fusman. Jadi pembawa sandal Nyonya Fusman saja kamu nggak pantas!"
"Katanya Leandro dingin dan tegas dalam mengambil keputusan bisnis, tapi punya karakter yang sangat romantis. Dia nggak menikah selama ini hanya demi menunggu istrinya sekarang."
"Semua orang bilang, kalau mau menyenangkan Leandro, lebih baik menyenangkan istrinya. Dia adalah kesayangan hati Leandro ...."
Mendengar semua omongan itu, aku tak tahan untuk tersenyum tipis.
Menikah tiga tahun, Leandro bukan hanya berhasil mengelola perusahaan, nama besarnya sebagai suami yang memanjakan istri juga makin dikenal hingga banyak membuat wanita iri, sementara para pria hanya bisa berdecak tanpa bisa melakukan apa-apa.
Yuna yang biasanya paling suka mengumpulkan gosip para taipan bisnis, kini ikut pamer, "Katanya dulu Leandro demi menyenangkan istrinya, membeli sebuah cincin dengan permata besar sebagai simbol cinta abadi, nilainya 10 miliar, membuat semua wanita di dunia iri setengah mati!"
Yuna berhenti sejenak, lalu tiba-tiba melihat cincin di jari tanganku dan berseru, "Tunggu dulu! Itu 'kan cincinnya!"
Suasana sekitar jadi hening, semua orang menahan napas, menatap cincinku.
Hubert tiba-tiba meraih tanganku, meneliti dengan saksama.
"Tiruan ini cukup mirip," cibirnya. "Siapa yang memberimu? Anak miskin mana yang berusaha sekuat itu?"
Aku melepaskan tangannya, tersenyum tipis, jemariku perlahan mengusap cincin itu.
Ini adalah hadiah Valentine pertamaku dari Leandro, juga adalah hadiah yang dia berikan saat dia melamarku.
Bukan perhiasan termahal yang dia berikan padaku, tapi di hatiku nilainya tak tergantikan.
Bagiku, ini adalah lambang cinta, namun bagi mereka, sesuatu yang bahkan tak berani mereka bayangkan.
Melihatku tidak panik atau malu, pupil mata Hubert menyempit. Dia tiba-tiba meraih tanganku, lalu dengan kasar menarik cincin itu keluar dari jariku.
Aku kurang waspada, dan dia berhasil mengambilnya.
Yuna menerima cincin itu dari tangan Hubert, lalu memutar-mutarnya di telapak tangannya.
"Memang lebih halus dari tiruan yang kubeli, tapi aku masih punya harga diri. Aku takkan memakai barang palsu keluar rumah lalu ditertawakan orang."
"Atau jangan-jangan ... Vadya, kamu ini tamu kehormatan yang baru pulang dari luar negeri, istri Leandro yang legendaris itu?"
Ucapannya segera disambut tawa terbahak-bahak dari semua orang.
Dalam pandangan mereka, itu benar-benar terlalu konyol.
Siapa Leandro? Pemimpin kelas dunia yang terkenal tajam dan tegas.
Sedangkan aku? Hanya mantan pacar buangan Hubert tiga tahun lalu.
Mereka bahkan tak bisa membayangkan aku dan Leandro disebut dalam satu kalimat.
Yuna melempar-lempar cincin di tangannya, lalu dengan seenaknya berkata, "Vadya, tiruan ini aku suka. Jual saja padaku. Berapa pun kamu beli, aku akan bayar dua kali lipat."
Aku khawatir dia merusak cincin itu, buru-buru berkata, "Kembalikan cincinku, ini adalah hadiah dari Leandro ...."
Belum selesai bicara, Hubert segera menamparku keras, membuat kepalaku terpelintir, mulutku penuh rasa darah.
"Diam!" Dia menggertakkan gigi. "Nama Leandro, apa kamu pantas sembarangan sebut? Berani bikin gosip punya hubungan dengan beliau, apa kamu mau mencelakakan aku?"
Anak buah Hubert pun menatapku dengan marah, seolah aku sudah melakukan dosa tak terampuni.
"Kamu tahu nggak apa yang kamu ucapkan barusan? Ini satu-satunya kesempatan kami memberi kesan baik pada Nyonya Fusman! Kebetulan kantor pusat akan inspeksi cabang dalam negeri, apa kamu mau hancurkan masa depan Hubert?"
"Hubert susah payah duduk di posisi eksekutif, kamu cuma mantan pacar miskin, apa pantas berpura-pura jadi Nyonya Fusman?"
Aku menghapus darah di sudut bibir, perlahan menoleh, menatap Hubert.
Mungkin tatapanku terlalu menusuk, Hubert mengernyit, matanya menampakkan kegelisahan.
Yuna juga menyadarinya. Dia segera menudingku sambil meninggikan suaranya, "Vadya, kamu benar-benar tak tahu berterima kasih! Hubert sudah bersedia menampungmu, jangan nggak tahu diri dan jangan keterlaluan!"
"Meski kamu masih ada dendam pada Hubert, kamu nggak bisa balas dendam dengan cara begini!"
Mendengar itu, aku seakan kembali ke tiga tahun lalu.
Apa pun yang kulakukan, Yuna selalu menafsirkan maksudku secara salah, sengaja merendahkanku di hadapan Hulbert.
Awalnya, Hubert akan membelaku dan memarahi Yuna.
Tapi kemudian, Hubert justru ikut memarahiku sejalan dengan perkataan Yuna.
Seperti sekarang, Hubert segera mencaci, "Perempuan pencemburu!"
Namun kali ini, dia melirik bajuku, tidak melanjutkan makiannya seperti dulu.
Setelah hening sejenak, Hubert mengeluarkan kartu bank, lalu melemparkannya ke wajahku.
"Mengingat hubungan kita di masa lalu, kali ini aku tak akan perhitungkan. Ada 1 miliar di kartu ini, sandinya tanggal lahirmu. Ambil dan belilah beberapa pakaian yang layak. Kalau nggak mau antar makanan untuk anak, beberapa hari lagi akan kucarikan pekerjaan terhormat lainnya."
"Tenang, sekarang aku eksekutif perusahaan, uang sejumlah ini sama sekali tak ada artinya bagiku."
Aku menatap kartu bank itu, lalu menatap wajah Hubert yang penuh kesombongan.
Di bawah tatapan terkejut semua orang, aku perlahan menepis kartu itu, kemudian mengambil kembali cincinku dari tangan Yuna.
"Simpan uangmu," kataku dingin. "Aku nggak kekurangan uang. Kalau uangmu banyak, sumbangkan saja ke anak miskin."
Bab 3
Aku mengabaikan wajah Hubert yang memerah, lalu berbalik melangkah pergi dengan cepat.
Namun aku baru berjalan beberapa langkah ketika dia tiba-tiba menarikku, lalu dengan suara dingin bertanya,
"Vadya, sampai sekarang kamu masih mau keras kepala denganku? Kamu itu cewekku. Jadi wajar saja pakai uangku, tidak usah sok sombong. Aku tuh mengerti sekali apa isi hatimu itu?"
Aku menatap matanya dengan teguh, "Perlu kuingatkan, tiga tahun lalu, saat kamu usir aku dari gedung pernikahan, kita sudah putus."
Mendengar kata "mengerti", saat ini aku teringat pada wajah Leandro.
Dia tidak pernah bilang apa-apa, tapi selalu ingat dengan jelas apa kesukaanku.
Aku suka aroma segar mawar tiap pagi, jadi dia tiap hari selalu meletakkan sebuket bunga di depan jendela.
Aku suka kopi susu, dia selalu mengingatkan sekretarisnya membuatkan kopi susu untukku.
Bahkan kebiasaanku yang takut dingin pun dia ingat dengan baik. Dia selalu menyiapkan syal dan sarung tangan untukku.
Kalau Leandro tahu pria di depanku berkata dia mengerti diriku, aku sih cuma bisa berdoa atas keselamatan pria di depan ini.
Hubert tampaknya salah paham, melirik Yuna lalu menunjukkan ekspresi mengerti.
"Kamu masih suka ngambek? Sudahlah, tiga hari lagi Grup Fusman akan mengadakan jamuan penyambutan tahunan untuk Pak Leandro yang kembali ke dalam negeri. Banyak orang hebat dalam dunia bisnis akan hadir. Waktu itu aku akan membawamu untuk merasakan gimana rasanya ada di kalangan atas yang sebenarnya."
"Tapi kamu harus ganti pakaian kampungan ini, jangan sampai mempermalukan diriku."
Belum sempat dia selesai bicara, aku segera menolak dengan sopan, "Nggak perlu, terima kasih."
Ditolak lagi, Hubert jadi agak gusar, giginya bergemeletuk karena ditekan kuat.
"Vadya, sekarang kamu makin berani, tapi tetap saja tak bisa mengubah jiwamu yang miskin itu."
"Kalau kamu nggak mau ikut, aku akan mengajak Yuna. Jangan menyesal nanti!"
Mendengar itu, mata Yuna segera berbinar, buru-buru berkata,
"Hubert, kasihkan saja kartu bank itu padaku, aku pasti akan berdandan cantik, nggak akan mempermalukanmu."
Tak ingin terus berurusan dengan mereka, aku berbalik pergi, meninggalkan satu kalimat.
"Semoga tiga hari lagi, kalian masih bisa percaya diri seperti ini."
Setelah melangkah cepat keluar dari aula penjemputan dan menghirup udara segar di luar, rasa mual yang lama tertekan di perutku barulah agak mereda.
Tiga tahun lalu, orang tuaku mengaturku untuk menikah demi aliansi keluarga. Di tengah tekanan mereka, aku berniat menempuh jalan pintas dengan memohon pada Hubert, pacarku yang sudah tujuh tahun bersamaku, agar mau menikah denganku.
Hubert setuju.
Tapi siapa sangka, di aula pernikahan aku bukan hanya melihat Hubert, tapi juga Yuna, sahabat masa kecilnya.
"Anak Yuna butuh seorang ayah, aku harus menikah dengannya dulu. Setelah keluarga Yuna tenang, aku akan menikahimu."
"Ini semua demi kesehatan mental anak, jangan salah paham."
Memandangi sosoknya menggandeng Yuna masuk ke aula pernikahan, aku benar-benar kehilangan semua harapanku.
Malam itu juga, aku menyetujui pernikahan aliansi yang diatur orang tua.
Sebulan kemudian, aku menikah dengan Leandro. Setahun kemudian, aku melahirkan anak pertama. Sekarang ini, anak kedua pun hampir lahir.
Kalau bukan karena pulang menjenguk orang tua kali ini, seumur hidup aku takkan pulang ke negara ini, apalagi bertemu Hubert.
...
Tiga hari kemudian, aku merias wajah dengan tipis, mengenakan pakaian longgar, lalu datang sendiri ke lokasi jamuan perusahaan.
Saat melihatku, mata Hubert segera berbinar, tersenyum penuh kepuasan.
"Mulutmu bilang nggak datang, tapi tubuhmu jujur sekali."
"Tapi kalau kamu mau mengejarku kembali, setidaknya harus tahu etika kalangan atas. Di acara seperti ini, paling nggak kamu harus mengenakan gaun malam, bukan celana seperti itu. Lihat sekelilingmu, apa ada yang berpakaian sepertimu?"
Aku tak peduli dengan sikap Hubert yang mendadak penuh dengan narsisme itu, ingin segera melewatinya menuju tempat dudukku.
Namun dia segera mengadangku dengan nada kesal ....
"Vadya, aku sedang bicara denganmu, kamu nggak dengar? Tempat duduk warna putih kita ada di dekat pintu, kamu mau ke mana?"
Aku menepis tangannya, lalu menjawab dingin, "Itu tempat dudukmu, sedangkan tempat dudukku ada di sana."
Mengikuti arah telunjukku, Hubert menatap kursi warna emas di aula jamuan, wajahnya mendadak berubah masam.
Haley menatapku dengan sinar matanya yang jahat, lalu menunjukku sambil berseru.
"Vadya, bagaimana kamu bisa menyelinap masuk? Kamu bahkan berani memakai model tiruan dari cincin Nyonya Fusman, kamu memang sengaja bikin keributan, 'kan?"
Suaranya begitu nyaring, seketika menarik semua perhatian ke arahku.
Bab 4
Orang-orang mulai berbisik.
"Cincin yang dipakainya ... bukankah tiruan dari cincin 'Cinta Sejati Abadi' yang dibeli Leandro dengan harga fantastis untuk istrinya?"
"Ini adalah penampilan publik pertama Nyonya Fusman, wanita ini pakai barang palsu, bukankah ini provokasi?"
Seorang pria berpakaian jas mengernyit dan bertanya,
"Hubert, wanita ini temanmu?"
Melihatku yang terus-menerus tidak menoleh, Hubert menarik dasi pria itu, lalu berkata dengan nada dingin, "Bukan!"
Mendengar itu, Yuna segera bersemangat, mengangkat dagu sambil berseru,
"Cepat lepaskan cincinnya, lalu pergi!"
Aku menatapnya tenang. Ingin meyakinkan diri aku bertanya, "Kamu benar-benar mau aku pergi?"
Sikapku yang tenang membuatnya makin marah. Dalam benaknya, aku seharusnya menangis terisak, membungkuk minta maaf, lalu memohon agar dirinya tidak mengusirku.
Tatapan mata Yuna berubah tajam, lalu berteriak, "Bermain peran apa lagi, cepat lepaskan cincin itu!"
Detik berikutnya, Yuna datang menarik cincinku.
Aku menghindar saat tangannya akan meraih, lalu diriku mundur dua langkah.
Tapi tiba-tiba ada seseorang di belakang yang mengulurkan kaki, membuatku terjatuh.
Tanganku menopang lantai, aku terhuyung jatuh, seolah dunia di sekitarku berputar.
Yuna tertawa sinis, sepatu tumit tingginya menekan tanganku dengan keras, lalu dia melepas cincin itu. Setelah berhasil merebutnya, dia melemparkan cincin itu dengan keras ke lantai.
"Sampah macam ini, cuma bajingan murahan sepertimu yang anggap itu harta!"
Lenganku yang diinjak terasa kesakitan yang luar biasa, punggung tanganku sudah luka dan berlumuran darah.
Aku hanya terpaku melihat cincin yang permatanya retak.
"Angkat dia! Buang keluar!" Yuna perintah dengan angkuh.
Hadirin pesta disekeliling segera bergerak mendekat.
Saat seseorang hampir mencengkeram tanganku dan kakiku, aku menahan sakit dan berseru,
"Berhenti, aku istri Leandro!"
"Plak!"
Sebelum kalimatku selesai, Yuna menamparku keras.
"Masih pura-pura terus! Kamu mau lagi menyebarkan gosip jadi selingkuhan Leandro? Siapa kamu sampai berani?"
Setelah itu, Yuna belum puas, menamparku sekali lagi.
Wajahku panas terbakar, aku menggertakkan gigi, kemarahan dingin menyala di dadaku.
Kali ini pulang, aku sebenarnya tak ingin ambil pusing dengan Yuna.
Karena aku hamil dan tak bisa marah, tak perlu menghiraukannya.
Tapi sekarang aku bersumpah, aku akan membuatnya menyesal!
Hubert berjongkok di depanku, mencoba menyentuh luka di pergelanganku, tapi tanpa sadar aku segera menghindar.
Wajahnya berubah dingin, "Vadya, sudah cukup keributanmu?"
"Kamu pakai cincin palsu itu dan datang ke acara seperti ini berpakaian begini, bukankah itu cuma untuk menarik perhatianku, menaklukkan hatiku kembali?"
"Asal kamu sekarang mohon padaku, aku bisa menolong, membiarkanmu tetap di sisiku."
Aku tak bisa menahan tawa sinis. "Hubert, kamu terlalu tinggi hati."
Hubert mengerutkan kening, hendak berbicara, lalu suasana tiba-tiba menjadi hening.
Orang-orang di sana merapikan pakaian, menatap pintu masuk jamuan.
Hubert buru-buru menarikku berdiri, berbisik, "Leandro segera datang, sebaiknya kamu bertingkah sopan!"
"Asalkan kamu bisa berperilaku baik, aku bisa saja memberimu kesempatan untuk kembali padaku."
Aku bosan berbicara, hanya menekan luka yang masih sakit, merasa jengkel melihat pria di depanku.
Saat itu, lampu di pintu masuk aula menyala.
Sambil menggendong anak kami, Leandro berjalan perlahan dikelilingi perhatian para tamu.
Begitu masuk, anak kecil itu meronta turun dari pelukan ayahnya. Tingkahnya yang lincah dan menggemaskan segera menarik perhatian seluruh ruangan.
Dia menoleh ke kiri dan ke kanan di aula, matanya yang besar menatap para hadirin, membuat setiap orang seolah merasakan berkah yang luar biasa dari pandangannya.
Hubert tiba-tiba menoleh kepadaku, "Vadya, asalkan kamu nggak lagi cemburu dan mengusik Yuna, aku bisa memaafkan minggatnya kamu selama tiga tahun."
"Tapi kamu harus memberiku seorang anak, anak yang bahkan lebih manis daripada dia."
Aku tak sempat menanggapi, karena pandanganku bertemu suami dan anak yang berada di tengah kerumunan.
Mata mereka seketika berbinar.
Beberapa saat kemudian, Leandro menggandeng anak itu dan berjalan segera ke arahku.