Logo
THE MAFIA: MARIJUANA
THE MAFIA: MARIJUANA

THE MAFIA: MARIJUANA

71 Bab
Tamat
Dalam THE MAFIA: MARIJUANA, Daphne Madison menjadi agen ganda demi membalas dendam pada pembunuh saudarinya. Ia menawarkan kesetiaan pada musuhnya, Casillas Rodriguez. Simak kisah penuh intrik dalam mafia novel ini melalui layanan web novel yang menyajikan romance stories mendebarkan.
Bab 1 dari THE MAFIA: MARIJUANA

***

Las Vegas, Nevada, 19.41 PDT

Dor! Dor!

Telinga Daphne berdenging saat mendengar dua buah peluru terlepas dan menembus jantung seorang wanita berambut cokelat kemerahan yang langsung tersungkur bersimbah darah. Suasana di ruangan itu langsung sepi, tanpa suara.

“Daphne,” panggil seorang pria berambut hitam sembari menyerahkan pistol jenis Desert Eagle. Dia Edgar David Ruthen. Salah satu mafia dari dua mafia berpengaruh di Las Vegas, bahkan namanya telah terkenal di dunia mafia yang gelap.

“Ya, Tuan.” Gadis yang dipanggil namanya itu langsung melangkah dan mengambil pistol yang dipakai untuk menembak saudari kembarnya itu.

“Fabian,” panggil Edgar lagi.

“Ya, Tuan.” Pria berusia empat puluh satu tahun yang berada satu langkah di belakang Edgar itu pun mengangguk.

“Bereskan dia. Terserah kau mau membuang atau menguburnya. Pastikan dia benar-benar mati. Well, pasti sudah mati, karena aku menembaknya tepat di jantung,” ujar Edgar dengan seringai lebar, membuat orang-orang yang ada di sana bergidik ngeri, kecuali satu orang yang tampak tak tergoyahkan. “Daphne,” panggil Edgar dengan suara lembut.

“Ya, Tuan.” Daphne mengangguk kecil.

“Aku telah menembak saudari kembar mu. Dia merepotkan, tak sepertimu.”

“... ya, Tuan. Maaf dan terima kasih,” ucap Daphne hampir tanpa emosi. Bagi orang normal, ini bukan saat yang tepat untuk mengucapkan maaf dan terima kasih. Namun, inilah Daphne Madison.

Edgar menatapnya dengan rinci. “Kau tidak menangis?”

“Tidak, Tuan.” Daphne balas menatap Edgar dengan berani. “Tidak ada alasan bagi saya untuk menangis,” tambahnya membuat pria berambut cokelat itu tertawa terbahak-bahak, merasa puas dengannya.

Edgar menepuk bahu Daphne dengan bangga dan tak lupa, seringainya.

“Kau luar biasa, Daphne. Kau tak gentar bahkan setelah aku menembak mati saudari kembar mu,” ujar Edgar masih dengan sisa-sisa tawanya, lalu dia berdeham singkat. “Karena aku baik hati, ku izinkan kau mengantar jalang itu untuk terakhir kalinya.”

Daphne terdiam. Memandang tubuh bersimbah darah itu tanpa berkedip. Sejujurnya, dia sedang berusaha sangat keras untuk tak menunjukkan kesedihan ataupun kemarahannya di hadapan Edgar. Dan itu cukup sulit, mengingat Edgar telah membunuh satu-satunya keluarga yang dia punya tepat di depan matanya. Gadis itu menatap Edgar yang memegang dagunya.

“Jawab aku, Daphne.” Edgar mengintimidasi.

“Ya, Tuan. Terima kasih,” ujar Daphne mengangguk pelan.

Sudah cukup dengan jawaban Daphne yang memuaskannya, Edgar melepaskan dagu Daphne dan berjalan melewati gadis itu, namun Daphne sama sekali tak menoleh. Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai pun terdengar menyayat hati. Satu per satu orang di sana pergi dengan perasaan takut dan segan pada Edgar yang bisa membunuh anak buahnya kapanpun dan di mana pun ketika dirasanya salah dan mengganggu.

Daphne memandang mayat saudari kembarnya di depan sana, kemudian menghela napas panjang ketika pintu besi ditutup, menyisakan dirinya dan Fabian di ruangan berbau anyir itu.

“Daphne,” panggil Fabian pelan.

“Aku tahu, Fabian. Aku sudah tahu kalau ini akan terjadi karena Stephanie mengharapkan hal yang bodoh. Aku sudah memperingatinya berulang kali.” Daphne menghampiri saudari kembarnya dan berjongkok di sana. “Bagaimana bisa dia dengan bodohnya berharap pada Edgar? Dia hanya melakukan hal yang sia-sia. Dia dan bayi di perutnya, mati begitu saja. Bahkan sampai detik akhir pun, dia masih bodoh.”

‘Dan lebih bodohnya lagi, aku tak bisa menyelamatkan kalian,’ batin Daphne melanjutkan.

Fabian mengerutkan alis. Di matanya, Daphne terlihat seperti seorang gadis yang tak berperasaan, tetapi mempesona di saat bersamaan. Dia menggeram gusar menahan hasrat ingin mencabuli tubuh seksi yang keras kepala itu, setidaknya sekali.

“Kau ingin menguburnya?” tanya Fabian menghampiri.

“Tidak.” Daphne membalikkan tubuh Stephanie yang tersungkur. Dia menyentuh dada kanan saudarinya yang memiliki dua buah peluru dan bersimbah darah dengan tatapan membara. “Danau Powell akan menjadi tempat yang indah untuk Stephanie dan bayinya.”

***

Tidak ada kata merepotkan untuk membuang mayat di Danau Powell bagian hulu untuk Daphne dan Fabian. Itu sudah menjadi salah satu tugas mereka karena kebiasaan Edgar yang brutal.

“Bantu aku memasukkan Stephanie ke dalam tong, Fabian,” ujar Daphne membuka pintu penumpang, mengeluarkan saudari kembarnya yang tak lagi bernapas dari dalam sana. Sementara Fabian pergi ke mobilnya lebih dahulu dan mengambil tong yang telah disiapkan olehnya dan Daphne sebelum berangkat ke Danau Powell.

“Kau serius, Daphne?” tanya Fabian sembari membawa tong berukuran besar.

“Serius.” Daphne menarik Stephanie yang cukup berat. “Cepat bantu aku. Kita tak punya banyak waktu,” tambahnya.

“Baiklah.” Fabian membantu Daphne memasukkan Stephanie ke dalam tong yang ditutup rapat setelahnya. “Ku pikir kau akan mengubur atau mengkremasinya. Bukankah itu lebih baik untuk Stephanie?”

“Kau tahu dengan pasti, Fabian. Hasilnya akan sama.” Daphne bersandar pada tong yang sudah dalam posisi berdiri. “Kalau aku menguburnya, Edgar bisa saja akan memintamu atau orang lain untuk menggali kuburan dan membuang mayat Stephanie, atau yang lebih parah, tubuhnya akan dicincang untuk makanan anjing kesayangannya. Kalau dikremasi, hanya akan menarik perhatian orang-orang di sekitar. Selain itu, bau dari tubuh yang terbakar pasti akan tercium. Jadi, untuk apa bekerja dua kali?”

“Er, baiklah.” Sudut bibir Fabian berkedut. Daphne mengatakannya dengan sangat mudah. “Terima kasih?” ujarnya ragu-ragu.

Daphne merotasikan mata. “Tidak sepertimu,” ujarnya. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung mendorong tong tersebut ke danau dan menatapnya dengan sayu. “Beristirahatlah dengan tenang, Stephanie, Baby.”

“Hanya seperti itu?” tanya Fabian mengerutkan kening. “Seingatku, kau dekat dengan Stephanie. Tidak ada ucapan perpisahan yang hangat?”

“Mengharap apa kau dariku?” celetuk Daphne mendengus kasar. “Kalau kau mau, lakukan saja sendiri,” sambungnya berjalan menyusuri tepi danau.

“Daphne, kau mau ke mana?” tanya Fabian sedikit berteriak.

“Jalan-jalan,” jawab Daphne.

“Dengan pakaian seperti itu?” tanya Fabian mengkhawatirkan Daphne. Gadis cantik itu hanya menggunakan kemeja berwarna putih yang telah bersimbah darah dan celana pendek hitam dengan rambut yang diikat tinggi.

“Tidak usah mengkhawatirkanku. Kalau sudah selesai mengucapkan perpisahan hangat dengan Stephanie, pulanglah ke markas. Sampaikan pada Edgar kalau aku sedang memata-matai pergerakan Rodriguez.”

“Rodriguez bergerak lagi?” tanya Fabian tak jadi mendoakan ketenangan Stephanie. Dia lebih tertarik pada pergerakan Rodriguez yang dikatakan Daphne.

“Memangnya kapan dia pernah berhenti?” Daphne berbalik menghadap pria yang masih lajang itu. “Tidak jadi?”

“Apanya?” tanya Fabian dengan sudut alis yang terangkat sebelah.

“Perpisahan hangat yang kau katakan itu,” jawab Daphne segera.

Fabian menoleh ke arah danau yang permukaannya tak tenang karena tertiup oleh angin. “Dia sudah cukup mendapatkannya darimu.”

“Lalu, pulanglah,” ujar Daphne menunjuk mobil Fabian dengan dagunya. “Aku tak butuh kau, Fabian.”

Pria itu mendengus kasar dengan tangan yang berkacak di pinggang menunjukkan rasa congkaknya. Namun, itu tidak cukup karena seluruh mafia di Las Vegas pun tahu kalau Daphne lebih congkak daripadanya. “Kau memang luar biasa, Daphne.”

“Aku tahu. Pergilah! Wajahmu memuakkan,” ketus Daphne berdecak kecil. “Tuhan pun malas melihatnya.”

“Bicara apa kau? Tuhan sudah tak melihat kita lagi. Terlalu banyak pekerjaan buruk yang kita lakukan,” sahut Fabian tertawa miris.

“Banyak omong. Ku bilang, pergi!” seru Daphne mendelik tajam.

“Suasana hatimu sangat buruk, Daphne. Inikah sisi aslimu?” tanya Fabian melangkah maju. Membelai helaian rambut Daphne yang tak ikut terikat.

Daphne seketika merinding. Dia melirik tangan yang memegang helaian rambutnya itu dengan dingin.

“Mau ku patahkan tanganmu, Fabian? Aku lebih daripada mampu,” ujar Daphne sangat tak bersahabat.

“Astaga ... baiklah,” putus Fabian menyerah, lalu mundur beberapa langkah. Pria itu masih sayang pada dirinya dan dia tersenyum lebar. “Aku akan melaporkannya pada Edgar sesuai dengan yang kau katakan.”

Daphne menjawab dengan anggukan singkat. Dia menarik napas panjang dan menatap lurus pada Fabian.

“Jangan berjalan-jalan terlalu lama. Kau bisa sakit.”

“Bukan urusanmu, Fabian.”

Pria itu tertawa masam. Dia melihat ke danau sekali lagi. “Semoga Stephanie tenang di sana,” ujarnya pada akhirnya.

Napas Daphne tercekat. Rasa panas menggelitik tenggorokannya. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Kalau begitu, aku pergi,” ujar Fabian melangkah ke mobil yang terparkir tepat di depan mobil Daphne.

Dan Daphne memperhatikan kepergian Fabian, hingga hanya tersisa dirinya di tepi Danau Powell.

Tubuh Daphne langsung meluruh di tepi danau. Dia meringkuk, memeluk dirinya yang kesepian dan dilingkupi emosi buruk dalam dinginnya malam.

“Stephanie bodoh! Sudah ku katakan, jangan pernah memberikan hatimu pada Edgar! Kau berbohong! Kau ingkar janji! Kau meninggalkanku sendirian di dunia ini!” seru Daphne melampiaskan semua kekecewaannya. Namun, di balik itu, dia lebih kecewa dan marah pada dirinya sendiri karena gagal melindungi satu-satunya keluarga yang dia miliki.

Daphne menelungkupkan wajah dan menangis terisak-isak. “Kalau kau mendengarkan ku untuk kabur, kau takkan berakhir seperti ini, Stephanie ... kau membuatku menjadi kakak dan bibi yang sangat buruk,” ujarnya sendu, penuh penyesalan di tepi danau.

———

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Dangerous Girl
Dangerous Girl
Dalam Dangerous Girl, Aliya bertransformasi menjadi dewi kematian demi membalas dendam atas kematian orang tuanya. Ikuti misi penuh aksi dan misteri story ini saat ia menyusun teka-teki pembunuh sambil mencari Samudra. Baca romance novel penuh intrik ini sekarang di web novel kami.
DI ATAS RANJANG MAFIA
DI ATAS RANJANG MAFIA
Dalam DI ATAS RANJANG MAFIA, Michele, bos mafia kebal rasa sakit, menemukan Meghan sebagai satu-satunya wanita yang bisa memicu sensasinya. Terobsesi, ia menculik Meghan demi ambisinya. Temukan kisah penuh aksi dalam mafia romance ini bagi Anda yang ingin read novels online gratis.
Istri yang Dihancurkan Mereka
Istri yang Dihancurkan Mereka
Dalam Istri yang Dihancurkan Mereka, seorang komposer kehilangan karier dan warisan ibunya akibat pengkhianatan suami dan putranya demi wanita lain. Novel modern ini mengikuti misinya melarikan diri dari sangkar obsesi. Baca kisah romance penuh aksi balas dendam ini di webnovel kami.
KEMBALINYA RATU MAFIA
KEMBALINYA RATU MAFIA
Dalam KEMBALINYA RATU MAFIA, Diandra Safaluna harus bertahan hidup setelah dikhianati keluarga suaminya. Menyamar sebagai ART demi merebut kembali haknya, kisah mafia novel ini penuh aksi balas dendam dan rahasia. Baca kelanjutan romance novel seru ini hanya di platform web novel kami.
Kembalinya Sang Penguasa
Kembalinya Sang Penguasa
Dalam Kembalinya Sang Penguasa, Red Everlasting Dragon memulai misi balas dendam setelah orang tuanya tewas dan adiknya diculik. Mystery novel penuh aksi ini mengikuti petualangan sang legenda menghancurkan musuhnya. Baca adventure story ini di platform web novel terbaik sekarang.
Legenda Tombak Halilintar
Legenda Tombak Halilintar
Dalam Legenda Tombak Halilintar, Riki yang dikenal sebagai player lemah bangkit setelah mendapat Dragon Spear. Melalui elemen LitRPG novels ini, ia menjalankan misi menyelamatkan dunia dan keluarga. Simak aksi serunya dalam fantasy novel penuh petualangan di Sky Legend.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Selamanya Tawananmu
Selamanya Tawananmu
Reporter Nina berhasil memenangkan kepercayaan bos mafia Leon Mann dan menjatuhkannya. Tiga bulan kemudian, Nina kembali bertemu Leon di gala stasiun TV, hanya untuk mendapati pria itu telah berubah menjadi Chase Kane, sosok dengan reputasi tanpa cela. Melalui penyelidikan, Nina memastikan Chase adalah Leon dan curiga pria itu ingin balas dendam. Saat berhadapan dengan tipu muslihat yang rumit ini, Nina merasa tak berdaya di hadapan Leon yang licik. Tanpa pilihan lain, ia harus mempertaruhkan segalanya untuk melancarkan serangan balasan.
Ahli Waris dari Dunia Bawah
Ahli Waris dari Dunia Bawah
Dikubur hidup-hidup oleh penipu, ahli waris itu menyerahkan tubuhnya pada arwah pendendam. Di hadapan publik, hantu itu mengungkap semua kebusukan keluarganya dan konspirasi sang penipu, lalu membalas tanpa ampun. Penipu itu tumbang, keluarganya juga dilanda penyesalan abadi. Akhirnya, dengan damai jiwa ahli waris itu berpamitan dan beristirahat dengan tenang.
Janji yang Hancur
Janji yang Hancur
Saat berseteru dengan ayahnya, Yuli bertemu Hendri yang selalu mendukungnya. Ia jatuh cinta, tapi di hari pemeriksaan tahu ayah dan suaminya menikah. Melihat kenyataan itu, ia melepaskan dan menerima tawaran tuan tajir Kota Laut, Heri.
Konspirasi sang Istri
Konspirasi sang Istri
Demi anak dalam kandungannya, Fera mengubah dirinya menjadi Nyonya Pratama yang kaya. Lima tahun kemudian, Yoga kembali dengan amnesia. Untuk memastikan keselamatan putranya di masa depan, Fera berpura-pura punya perasaan yang dalam dengan Yoga. Namun, ingatan Yoga perlahan kembali dan kebenaran mulai terungkap.
CEO Huo Bersikeras Menikahiku
CEO Huo Bersikeras Menikahiku
Dalam tiga hari, aku pasti harus membatalkan pertunangan ini, tetapi pria ini tetap bersikeras untuk menikah denganku? Petualangan keliling duniaku akan terhenti...
Dia Pilih Susah, Aku Pilih Bahagia
Dia Pilih Susah, Aku Pilih Bahagia
Terlahir kembali setelah dikhianati dan dibunuh oleh keluarganya, Cassie kini mendapatkan kesempatan kedua. Saat orang tuanya bercerai, kakaknya yang juga terlahir kembali memilih sang ayah yang miskin namun berjanji akan sukses. Sementara itu, Cassie memilih mengikuti ibunya ke dalam kehidupan mewah. Kini, Cassie hidup bahagia dan dicintai semua orang, sementara kakaknya hanya menunggu kesuksesan yang tak kunjung nyata dan berakhir menyedihkan.