Bab 1
“Kak, kenapa bisa ada yang timbul di bagian sana? Sepertinya berbeda dengan punyaku.”
Gadis polos berusia 18 tahun yang merupakan tetanggaku itu menatap selangkanganku dengan penuh penasaran. Sorot matanya mengandung nafsu tersirat.
Aku berpura-pura bodoh. “Coba aku lihat punyamu seperti apa.”
Tak disangka, dia langsung melepas rok mini putihnya tanpa ragu sedetik pun, memperlihatkan bagian selangkangannya yang seputih salju.
“Lihat, punyaku rata. Tidak ada apa-apa di sini.”
Namaku Jhon Breyan. Selama liburan semester, aku tinggal sendirian di rumah. Hari ini aku mencoba untuk melepas nafsu di balkon.
Aku mengeluarkan alat kelaminku, memandangi para wanita muda di gedung seberang jalan dan mulai berfantasi.
Ketika aku sedang mengelus-elus diriku sendiri sambil memperhatikan seorang wanita muda yang hanya mengenakan pakaian dalam, aku tiba-tiba mendengar suara tawa yang nyaring.
Aku terkejut dan segera menyimpan alatku.
Saat menoleh ke arah suara tawa itu, aku melihat seorang gadis berusia 18 tahun yang berpenampilan polos dan manis berdiri di balkon sebelah. Dia menatapku dengan heran.
Aku pun merasa gawat karena ketahuan berbuat hal mesum seperti ini.
Tengah aku bingung harus berbuat apa, dia bertanya seperti anak kecil, “Kak, kenapa bisa ada yang timbul di bagian sana? Sepertinya beda dengan punyaku.”
Aku tertegun.
Gadis itu bermata besar dan bulat. Ekspresinya tampak begitu polos. Jangan-jangan, dia punya gangguan jiwa?
Kapan ada gadis cantik yang kurang waras pindah ke sebelah rumahku?
Sebuah ide jahat pun langsung muncul dalam benakku.
Aku berpura-pura bodoh. “Apa yang beda? Coba aku lihat punyamu seperti apa.”
Tak disangka, dia langsung melepas rok mini putihnya tanpa ragu sedetik pun, memperlihatkan bagian selangkangannya yang seputih salju.
“Lihat, punyaku rata. Nggak ada apa-apa di sini.”
Aku langsung terpana. Dia adalah salah satu dari sedikit wanita yang tidak tumbuh rambut di bagian sana. Hidungku sontak mimisan.
Melihatku mimisan, dia bertanya dengan cemas, "Kak, kenapa kamu mimisan? Apakah kamu sakit?"
Sebelum aku sempat menjawab, sebuah suara tegas terdengar dari ruangan seberang.
"Luna, kenapa kamu berdiri di sana? Cepat masuk ke dalam!"
Gadis kecil nan cantik bernama Luna pun melambaikan tangan sambil berlari. "Kak, aku nggak bisa temani Kakak lagi. Ibuku memanggilku pulang."
Aku lalu kembali ke kamar, mengambil tisu untuk menyeka hidungku.
Pikiranku terus berputar-putar tentang apa yang baru saja terjadi.
Sungguh menggairahkan! Gadis kecil yang polos itu jelas mudah ditipu.
Aku pun mulai memikirkan cara merayunya tanpa sepengetahuan siapa pun.
Semakin jauh aku memikirkannya, semakin besar api di perut bagian bawahku.
Aku duduk di sofa, siap melepaskan hasrat yang terpendam.
Namun, bel pintu malah berbunyi. Aku membuka pintu dan mendapati Luna datang bersama ibunya.
Apakah ibunya datang untuk menginterogasiku? Gimana nih?
"Maaf mengganggu. Aku tetangga baru, tinggal persis di sebelahmu."
Aku pun menjawab dengan ragu, "Salam kenal, namaku Jhon Breyan."
"Begini. Aku harus dinas selama seminggu, sementara putriku agak kurang waras."
Dia menunjuk kepalanya sendiri. "Apa kamu bisa bantu aku menjaganya? Maaf kalau merepotkanmu."
Dia menatapku malu-malu. Meskipun usianya sudah tiga puluhan, pesonanya masih begitu memikat.
Aku melihat Luna di belakangnya, jantungku berdebar kencang.
"Tentu saja! Aku akan menjaganya dengan baik."
"Terima kasih banyak." Setelah berkata begitu, dia meninggalkan Luna di rumahku, memberiku sejumlah uang, lalu bergegas pergi.
Setelah menutup pintu, aku mengamati Luna dengan saksama. Wajahnya putih dan halus. Ekspresinya sangat polos.
Tapi, buah dadanya sangat besar. Dia mengenakan seragam sekolah. Kedua kaki terbungkus stoking putih. Lugu nan seksi. Imut nan memikat.
Begitu membayangkan bisa tinggal bersamanya selama seminggu, tubuhku mulai bereaksi lagi.
Luna ternganga, menatap selangkanganku dengan terkejut.
Bab 2
“Kak, bagian bawahmu membesar lagi. Apa kamu merasa sakit?”
Dia mengulurkan tangan dan menyentuh alatku, lalu berseru, “Ah, panas banget!”
Saat tangan mungilnya yang lembut dan halus menyentuhku, darahku berdesir, seluruh tubuhku seperti terbakar.
“Jangan, jangan sentuh.” Sensasi itu hampir membuatku kehilangan kendali. Aku pun langsung menepis tangannya.
Luna menatapku dengan sedih, seperti kelinci kecil yang menyadari kesalahannya. “Maaf, Kak. Aku nggak bermaksud menyakitimu.”
Melihat tatapan polosnya, aku sangat gembira, memutuskan untuk merayunya.
“Kamu menyakitiku, jadi menurutmu apa yang harus kamu lakukan?”
Luna merasa terpojok. “Aku nggak sengaja, Kak. Menurut Kakak, apa yang harus aku lakukan?”
Aku pun memberanikan diri untuk melepas celanaku, menyisakan celana dalam.
“Kakak punya tumor di sini. Kalau kamu bisa bantu isap, Kakak nggak akan merasa sakit lagi.”
Setelah mendengar perkataanku, Luna menatap selangkanganku dengan penuh penasaran, lalu berkata, "Tumor Kakak besar sekali. Coba Kakak pegang punyaku. Punyaku rata, nggak ada apa-apa.”
Aku menelan ludah, mengulurkan tangan untuk menyentuh selangkangannya.
Teksturnya lembut dan empuk seperti roti kukus. Celahnya pun terasa sangat ketat. Dengan pegang saja bisa tahu bahwa celah itu belum pernah ditembus.
Aku pun memasukkan jariku, mendorongnya dengan kuat.
Luna tiba-tiba tersipu, mengeluarkan suara terengah-engah yang lembut.
"Ah, Kakak! Sentuhan Kakak terasa sangat nikmat. Aku merasa hangat di sekujur tubuhku.”
Gadis kecil ini mungkin memang kurang waras, tetapi dia memiliki semua reaksi fisiologis yang normal. Aku girang sekali.
Setelah menarik tanganku keluar, aku masih berpura-pura bodoh. "Benar-benar nggak ada apa-apa di sana."
Kemudian, aku langsung melepas celana dalamku. Sebuah alat besar tiba-tiba mencuat keluar, terpampang jelas di depan Luna.
“Luna yang baik, bantu kakak isap tumor ini. Setelah kamu isap, Kakak nggak akan merasa sakit lagi.”
Luna menatap alatku dengan heran, lalu berjongkok. Wajah mungilnya perlahan mendekat.
Aku bisa merasakan napasnya yang hangat. Jantungku berdebar kencang karena saking gugupnya. Tubuh terasa berdenyut tak tertahankan.
Meskipun aku sering masturbasi, aku masih perawan dan belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.
Saat Luna mendekat, kakiku lemas dan gemetar tak terkendali.
Tepat saat Luna nyaris menyentuh alatku, dia tiba-tiba berdiri dan berulang kali menggelengkan kepala.
"Kakak, tumormu terlihat sangat menakutkan. Baunya pun aneh. Aku nggak mau mengisapnya."
Penolakannya sangat tegas.
Aku hanya bisa membujuknya dengan sabar, "Kamu tega melihat kakak kesakitan? Kalau kamu bantu kakak isap, kakak akan membelikanmu es krim. Bagaimana?"
Begitu mendengar es krim, wajah Luna langsung berseri-seri. Dia menatapku dengan penuh semangat.
"Luna paling suka es krim! Luna mau Lixue!"
Lixue sangat murah. Cukup belasan ribu rupiah untuk dapat layanan isap, ini sungguh transaksi yang luar biasa.
Aku pun segera mengeluarkan ponselku untuk memesan es krim.
Tak lama kemudian, es krim datang. Luna mengisap sedotan dengan mulut kecilnya. Pemandangan ini membuatku merasa panas. Aku benar-benar ingin diisap seperti itu olehnya.
Saat dia menelan, dadanya naik turun. Payudaranya yang bulat bergoyang-goyang.
Aku pun mengulurkan tangan dan meremasnya. Tekstur lembut dan kenyal terasa jelas di telapak tanganku. Sensasinya sungguh nikmat.
Luna mundur dengan kaget. "Kakak nakal sekali! Aku sedang makan es krim, Kakak malah menggelitik aku!”
Aku meniru cara bicaranya. "Luna, kamu punya tumor di sini? Dadaku rata, nggak ada apa-apa.”
Tak disangka, dia langsung mengangkat bajunya, memperlihatkan dua payudara besar berwarna putih dengan puting berwarna merah muda. Dia benar-benar sepolos itu!
"Aku juga punya dua tumor di sini. Kalau kamu bantu isap punyaku, aku akan isap punyamu juga.”
Bab 3
Aku tak kuasa menahan diri sampai menjulurkan satu tangan lagi untuk membelainya.
Kedua puting merah bergesekan di telapak tanganku. Sensasinya sungguh luar biasa.
Tak hanya lembut, tapi juga seperti ada serat-serat halus yang berdenyut di telapak tanganku.
Aku menelan ludah, menikmati tubuh Luna dengan rakus.
Ekspresinya juga terlihat sangat menikmati sentuhanku. Dia perlahan memejamkan mata, mengembuskan napas dengan lembut.
Aku lanjut menundukkan kepala, mengisap dadanya.
Tubuhnya pun gemetar. Mulutnya berdesah. "Kakak, kenapa rasanya bisa senyaman ini? Ah!"
Aroma tubuhnya sungguh memikat. Aku gosok putingnya dengan gigiku, membuat tubuhnya gemetar semakin hebat.
Dia memelukku erat, membenamkan kepalaku dalam-dalam di dadanya.
Selesai isap, aku menekan kepalanya ke bawah selangkanganku.
Kemudian, aku mengeluarkan alatku dan menodongkannya ke depan mulut Luna.
Luna menatapku dengan mata sayu, tidak mau buka mulut.
Aku pun membuka paksa mulutnya, memaksakan alatku masuk.
Luna meronta, berusaha melepaskan diri. Tapi, aku menahan kepalanya erat-erat.
Tubuhku perlahan mulai bergerak maju mundur.
Mulutnya begitu lembut. Bungkusan hangat menyelimuti alatku.
Setiap sel di tubuhku terasa seperti akan meledak.
Luna meronta hebat hingga akhirnya berhasil melepaskan diri dari genggamanku. Dia menutup mulutnya sambil berteriak, "Kak, tumormu bau sekali. Aku nggak mau bantu kamu mengisapnya."
Setelah itu, dia berlari ke arah kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Tepat di depanku, dia melepas semua bajunya dan mulai mandi. Dia bahkan tidak menutup pintu.
Aku memperhatikan tubuhnya yang memikat dari luar pintu. Montok, putih, dan lembut.
Tetesan air perlahan mengalir di tubuhnya. Kemudian, dia memasukkan jari ke bagian bawah tubuhnya!
Dia mengelus-elus diri sendiri sambil terengah-engah.
Aku hampir terpesona. Alatku yang baru saja diisap olehnya kini membengkak luar biasa besar.
Tak lama kemudian, Luna keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang.
Wajahnya memerah, ekspresinya menunjukkan hasrat yang tak terpenuhi.
"Kak, aku merasa seperti ada semut merayap di bawah tubuhku. Rasanya sangat nggak nyaman. Apakah akan tumbuh tumor di bawah tubuhku?"
Melihatnya seperti ini, aku tak kuasa menahan diri lagi. Aku mengangkatnya dan membawanya ke atas ranjang.
Setelah dibaringkan di atas ranjang, satu tangannya masih menyentuh kelaminnya sendiri.
"Kak, sentuhan Kakak barusan terasa sangat nikmat. Apa Kakak boleh menyentuhku lagi?”
Aku meraih selangkangannya. "Kakak akan bantu kamu isap. Nanti kamu nggak akan merasa nggak nyaman lagi.”
Baru aku selesai bicara, Luna langsung membuka sendiri kedua kakinya. Aku memandangi bagian bawahnya yang mulus tanpa rambut sehelai pun.
Kemudian, aku perlahan membenamkan kepala dan menjulurkan lidah.
Berbekal pengalaman dari film yang aku tonton, aku mengisap Luna dengan rakus.
Perut bagian bawah Luna bergerak naik turun dengan cepat, kedua kakinya gemetar.
"Kak, Kakak, kenapa gatal sekali? Apa bisa lebih kuat?"
Aku tak kuasa menahan diri lagi, buru-buru menanggalkan pakaianku, lalu menindih di atas tubuh Luna.
Luna melihat alat kelaminku sambil berkata, "Kakak, tumormu menonjol, sementara tumorku berlubang. Coba Kakak lihat, apa Kakak bisa memasukkan tumormu ke dalam lubangku.”
Tentu saja aku tahu apa yang sedang aku lakukan. Ibunya baru saja memintaku untuk merawat putrinya dengan baik, aku malah memperlakukan putrinya seperti ini.
Luna sudah tidak tahan. Dia nyaris menangis.
"Kakak, tolong bantu Luna. Luna merasa sangat nggak nyaman."
Melihat bibir merahnya yang indah, aku menciumnya dengan ganas.
Saat menyentuh bibirnya, rasanya seperti ada ribuan semut merayapi tulang-tulangku, gatal tak tertahankan.
Terutama bagian bawahku, rasanya berdenyut-denyut luar biasa.
Tak peduli lagi. Aku mengangkat punggungku dan membidik klitoris Luna…