Bab 3

Aku tidak memedulikannya dan langsung melangkah pergi ke rumah duka. Setelah menunjukkan KTP, aku akhirnya melihat jasad ibuku. Dia didorong keluar dari lemari pendingin dan seluruh tubuhnya sudah kaku.

Aku langsung berlutut di hadapannya, lalu membuka kain putih yang menutupinya dengan tangan gemetar. Saat melihat wajah yang familier itu, aku merasa sekujur tubuhku langsung membeku. Aku hanya bisa mengeluarkan suara tercekat, tetapi tidak bisa menangis atau meluapkan perasaanku. Hatiku sangat sakit dan terasa bagaikan akan meledak.

Aku menggenggam tangannya erat-erat. Tangannya sangat dingin dan kaku, sepenuhnya berbeda dari sepasang tangan lembut dan hangat dalam ingatanku.

Aku teringat sebelum pernikahanku, Ibu memelukku sambil berkata dengan lembut, “Akhirnya ada orang yang mencintai Sienna. Mulai sekarang, meski Ibu sudah tiada, akan ada orang yang bisa menjagamu.”

Pada saat itu, kami tidak menyangka Levin akan memilih Lestari. Ini semua salahku. Aku yang terlalu naif. Aku kira dengan berada di sisinya, aku bisa memenangkan hatinya dengan pengorbananku selama ini. Aku benar-benar terlalu memandang tinggi diriku, juga merendahkan posisi Lestari di hatinya.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, staf rumah duka yang mengingatkanku, “Bu Sienna, sudah? Waktunya sudah habis.”

Aku melangkah mundur, lalu mengangguk sambil menahan isakanku. Aku melihat jasad ibuku dimasukkan ke krematorium. Ketika keluar lagi, yang tersisa hanyalah sekotak abu. Aku memegang kotak abu itu dengan kening berkerut.

Ibu terikat di kota kecil ini selama hidupnya dan tidak pernah ke luar kota. Harapan terbesarnya adalah melihat aku menemukan pasangan yang baik.

Hanya saja, sekarang, aku bahkan tidak mampu membelikan makam yang layak. Aku tidak memiliki begitu banyak uang tunai. Setelah menjual apa yang bisa dijual, uang yang terkumpul sekitar 60 juta.

Seorang staf tiba-tiba berlari menghampiriku dan berkata, “Bu Sienna, ada yang sudah keluarkan banyak uang untuk menukar makam yang kamu pesan dengan makam yang lebih berkelas di sana. Lokasinya sangat bagus!”

Aku pun tertegun dan bertanya, “Apa katamu? Siapa orangnya?”

“Dia belum pergi, kayaknya namanya Levin.”

Begitu mendengar hal ini, aku langsung berjalan ke area kantor di depan. Saat melihat Levin, aku tanpa sadar mengepalkan tanganku dan berseru, “Levin, apa sebenarnya maumu?”

Levin menatapku sambil menjawab, “Sienna, ini niat baikku. Terimalah. Dengan begitu, hatiku juga akan terasa lebih baik.”

“Nggak usah. Kami hanyalah orang biasa. Kami nggak mampu terima kebaikanmu.”

Wajah Levin yang tampan tiba-tiba menjadi tajam. Dia berkata, “Sienna, kenapa kamu begitu dramatis? Cuma sebuah resepsi pernikahan, ‘kan? Aku juga nggak berharap ibumu meninggal. Tapi, dia pada dasarnya memang sakit. Bisa nggak kamu berhenti permasalahkan hal ini?”

Ucapan ini terdengar sangat tidak berperasaan karena keluar dari mulutnya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab, “Sudah kubilang, kamu berutang nyawa padaku. Aku nggak akan maafkan kamu. Jadi, kamu nggak usah sok baik!”

Saat Ibu masih hidup, Levin tidak pernah menjenguknya. Sampai keadaan Ibu kritis, Levin baru mengatakan ingin bertemu dengannya.

Levin juga yang memutuskan segala sesuatu mengenai pernikahan kami. Dia sama sekali tidak peduli pada tradisi yang dikatakan Ibu dan hanya menganggap ini adalah kesempatan untuk memperluas koneksinya. Oleh karena itu, baru tidak ada orang yang peduli pada hidup dan mati kami.

Mendengar ucapanku, Levin pun berseru marah, “Sienna, jangan nggak tahu diri! Dia itu ibu mertuaku. Aku harus biarkan dia istirahat dengan tenang. Memangnya kamu tega melihatnya dikuburkan di tempat yang begitu menyedihkan?”

Tanpa menunggu jawabanku, Levin langsung merebut kotak abu di tanganku dan menyerahkannya pada staf di samping sambil memberi perintah, “Langsung kubur saja!”

Kemudian, dia berkata pada sekretarisnya, “Suruh semua eksekutif Grup Yuardi datang dan hubungi juga media!”

Aku pun mengeratkan kepalan tanganku dan berseru, “Levin, mau apa lagi kamu? Upacara pemakaman ibuku bukan sesuatu yang bisa kamu gunakan untuk mempromosikan perusahaanmu! Ini urusanku sendiri!”

Bab 4

“Sienna, aku cuma mau tebus kesalahanku.” Levin berkata dengan suara berat, “Aku yang salah atas apa yang terjadi di pernikahan kita. Aku nggak seharusnya meninggalkanmu sendiri. Yang dikatakan Lestari benar. Biar bagaimana pun, kamu itu istri yang kuakui kepada publik. Aku harus kasih tanggapan. Kalau nggak, hidupmu ke depannya akan sangat sulit.”

“Jadi, ini juga ide Lestari?” tanyaku sambil mendongak untuk menatapnya.

Levin mengangguk dan menjawab, “Lestari juga memikirkanku. Kamu harus tahu ....”

“Cukup!” Aku menyela, “Tak disangka, seorang presdir seperti Pak Levin bisa berpikir begitu menyeluruh karena mendengar arahan seorang gadis. Levin, kalau kamu benar-benar merasa bersalah padaku, jangan ikut campur dalam hal ini lagi, oke?”

Levin mengerutkan keningnya dan menjawab, “Kenapa kamu punya prasangka seburuk itu terhadapnya? Di hari pernikahan ....”

“Jangan ungkit soal pernikahan kita lagi! Ibuku meninggal di hari itu dan itu akan tinggalkan rasa sakit di hatiku selamanya! Aku nggak ingin memaafkanmu! Aku hanya harap kamu bisa jaga jarak denganku. Kita pisah baik-baik, ya? Kamu nggak usah peduli sama urusanku. Kita akhiri saja pernikahan ini. Untung juga kita belum buat akta nikah. Kalau nggak, kita masih harus urus perceraian lagi.”

Aku sangat bersyukur aku dan Levin tidak langsung membuat akta nikah. Ini juga karena bantahan kuat Lestari. Aku tahu dia berbuat begitu karena takut aku benar-benar menjadi istri Levin dan dia tidak bisa membalikkan situasinya kelak. Jadi, dia baru membujuk Levin untuk menunda membuat akta nikah.

Sekarang, aku merasa gembira, tetapi Levin malah merasa tidak senang. Aku tidak peduli pada perasaannya dan langsung mengambil kotak abu itu dari tangannya. Namun, dia malah menahannya dengan kuat.

“Kita putuskan begini saja. Setelah upacara pemakaman ini, aku akan kembalikan kebebasanmu.”

Aku tidak bisa berdebat dengannya. Jadi, aku langsung berlutut di depannya. Melihat aku berbuat begitu, dia langsung tercengang.

“Pak Levin, aku mohon kembalikan kebebasanku. Ibuku seharusnya nggak mau diperalat kamu seperti ini, juga nggak ingin mengadakan upacara pemakaman mewah seperti instruksimu. Dia itu cuma ibuku seorang! Levin, aku mohon padamu. Tolong kabulkan permintaanku demi aku yang sudah pernah donorkan sumsum tulang belakangku 2 kali!”

Kepalaku terasa pusing. Sejak mendonorkan sumsum tulang belakang, aku masih belum sempat beristirahat dan langsung datang ke tempat ini. Sekarang, seluruh tenagaku sudah terkuras habis.

Levin menatapku dengan ekspresi yang lebih santai. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering. Aku melirik ponselnya dan melihat nama Lestari. Firasat buruk seketika merayapi hatiku.

Seusai menerima telepon itu, Levin berubah menjadi seperti semula dan berkata dengan tegas, “Kita putuskan begini saja. Jangan dilanjutkan lagi. Sienna, istirahatlah dengan baik. Serahkan sisanya padaku.”

Levin menyerahkan kotak abu itu kepada orang di sisinya, lalu menyeretku masuk ke mobil. Dia tidak peduli pada reaksiku dan membawaku kembali ke vila.

Baru saja aku turun dari mobil, Lestari buru-buru menghampiriku dan berkata, “Sienna, akhirnya kamu pulang juga. Aku bilang ke Levin kami harus tebus kesalahan kami terhadap Bibi. Jadi, biarkan aku yang urus upacara pemakaman kali ini, ya?”

Dia benar-benar membuatku marah hingga kepalaku terasa sangat pusing. Aku pun melangkah mundur dengan terhuyung-huyung dan seluruh tubuhku juga mulai berkeringat dingin.

“Levin, kenapa kamu harus menghinaku seperti ini? Apa salahku padamu hingga kamu harus berbuat begitu?” ucapku. Kemudian, aku memeluk diriku sendiri dan berjongkok. Keringat dingin masih tidak berhenti membasahi tubuhku.

Di sisi lain, Lestari langsung menangis dan bertanya, “Kamu menyalahkanku? Aku juga nggak mau begini!”

Levin berkata dengan tidak senang, “Sienna, cukup! Meski sakit, Lestari tetap berpikir untuk menghiburmu. Bisa nggak kamu jangan ribut lagi!”

Untuk sesaat, aku bahkan berpikiran untuk langsung mati saja.

“Apa dengan aku mati, kalian baru mau melepaskanku? Begitu, Levin?” tanyaku sambil menatapnya dengan tatapan kosong.

Levin pun tertegun. Selanjutnya, dia langsung membelalak dan terlihat panik.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B43736" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B43736
Salin

Tersadar dari Mimpi, Aku Memutuskan untuk Meninggalkannya

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya