Bab 1
Seluruh dunia tahu bahwa John cinta mati dengan istrinya. Dia menulis lagu khusus untuknya, turun tangan membuat kue untuknya, bahkan setiap kalimatnya tak lepas dari “istriku”.
Namun, Talita menemukan kenyataan pahit, ternyata John yang begitu mencintainya selingkuh.
Dia pun memanggil sistem dan mengajukan permintaan untuk keluar dari dunia ini.
[Baik, jalur pelepasan mandiri telah dibuka. Dalam lima belas hari, anda akan meninggalkan dunia ini dengan cara kematian palsu. Lokasi kematian di pantai tempat anda pernah menyelamatkan pemeran pria, dengan cara melompat ke laut seolah bunuh diri.]
[Mohon persiapkan diri anda untuk kematian ini.]
Di hari ke-15, setelah semuanya direncanakan dengan matang, dia pun pura-pura melompat ke laut dan menghilang dari kehidupan John.
Saat itulah, akhirnya John sadar dan menyesal setengah mati. Dia nyaris gila demi mencari kembali dirinya.
[Tuan sudah yakin dengan keputusan ini? Kalau anda meninggalkan dunia ini, maka tidak akan bisa kembali lagi.]
Suara sistem yang dingin terdengar sedikit ragu.
Namun, Talita menjawab dengan yakin, “Aku sudah yakin, aku mau pergi.”
[Baiklah, jalur pelepasan mandiri telah diaktifkan. Dalam lima belas hari, anda akan meninggalkan dunia ini lewat kematian palsu. Lokasi kematian di pantai tempat anda pernah menyelamatkan pemeran pria, dengan cara melompat ke laut.]
[Mohon persiapkan diri anda untuk kematian ini.]
Talita mengernyit, lalu membuka ponsel dan menghubungi pengacaranya untuk menyusun surat perceraian.
Baru saja ingin meletakkan ponsel, notifikasi muncul.
[Lagu ‘Hanya Kamu’ yang ditulis dan dinyanyikan John khusus untuk istrinya, berhasil menembus 1 miliar pemutaran!]
Jari-jarinya sedikit gemetar saat menekan notifikasi itu.
Di dalam artikel berita itu, terlampir sebuah video vlog rekaman proses John menciptakan lagu [Hanya Kamu].
Dalam video itu, John mengenakan pakaian santai, tubuh tinggi dan kaki jenjang, memeluk gitar sambil duduk di kursi roda lipat yang bisa naik turun, memetik melodi yang indah.
“Lirik dan musiknya sudah selesai, melodi ini juga terinspirasi dari istriku.”
“Aku dan dia pergi ke pantai memungut kerang. Angin laut meniup rambut panjangnya, ombak menyapu pergelangan kakinya. Dia menggulung lengan bajunya sampai ke siku dan perlahan membungkuk. Perlahan, sebuah melodi langsung terlintas di kepalaku.”
“Istriku benar-benar pembawa keberuntungan! Aku akan mencintainya selamanya!”
Talita menutup video tanpa ekspresi dan menggulir ke kolom komentar.
Sudah bisa ditebak ….
[Wah, ‘istriku’~ Manis sekali!]
[Sudah kuhitung, dalam video sembilan menit ini, dia sudah menyebut ‘istriku’ sebanyak 199 kali! Dia cinta sekali dengan istrinya!]
[Istrinya pasti sangat bahagia! Aduh, iri sekali. Kalau aku punya suami seperti ini, hidupku pasti sangat bahagia!]
….
Semua orang tahu John cinta mati dengan istrinya.
Namun, tak ada yang tahu, seperti apa pengorbanan Talita untuk John.
Dia datang ke dunia ini dengan tubuh aslinya, hanya demi pria itu.
Enam tahun lalu, dia menerima misi untuk menaklukkan John dan akhirnya bertemu dengannya.
Saat itu, John sedang berada di titik terendah dalam karirnya, dihujat dan diserang habis-habisan oleh haters, bahkan sampai mengalami depresi.
Talita menyelamatkannya dari serangan para haters, tapi tulang selangkanya malah terkena luka bakar akibat siraman air keras.
Talita bahkan nekat melompat dari tebing ke laut demi menyelamatkan John dari ambang kematian. Tapi, karena suhu air laut yang terlalu dingin, dia mengalami kerusakan pada rahim dan tidak bisa mengandung lagi.
Untungnya, John akhirnya jatuh cinta padanya dan menikahinya.
Sebenarnya, Talita bisa kembali ke dunia asalnya setelah misi selesai, tapi dia memilih tetap tinggal demi pria ini.
Setelah menikah, john sangat melindunginya. Tak seorang pun tahu siapa sebenarnya ‘istri misterius’ itu. Tapi, semua orang tahu John sangat bucin dengan istrinya.
Di vlog hariannya, John berkata,
“Kue kering palmier ini sangat susah dibuat, tapi karena istriku suka, sesusah apapun pasti akan kupelajari.”
“Tadi malam aku rekaman lagu baru dan nggak pulang, tapi untungnya aku tetap orang pertama yang mengucapkan selamat pagi ke istriku!”
Semua itu adalah bukti betapa dalam cinta John padanya.
Namun, bahkan Talita sendiri tak pernah menyangka, pria yang mencintainya sehidup semati ini, pada akhirnya tetap mengkhianatinya.
Talita membuka MV [Hanya Kamu], melihat pemeran wanita yang duduk di pinggir pantai sambil mengayun-ayunkan kakinya.
Wajah gadis itu cukup mirip dengan dirinya pada saat muda.
Talita melamun, tidak sadar kalau John sudah pulang dan berdiri di belakangnya.
Hangatnya suhu tubuh dari belakang membuatnya reflek mengernyit dan merinding.
Aroma samar parfum wanita membuatnya mual.
“Maaf, sayang. Habis wawancara tadi aku diajak makan bersama perusahaan, jadi pulangnya agak telat.”
Talita menunjuk gadis di layar ponselnya dan menoleh ke arah John, “Dia juga ikut?”
John melirik sebentar, ekspresinya tetap tenang. Dia berlutut dan mengelus tangan Talita dengan lembut.
“Ivy itu pemeran utama MV-nya, dia juga selebgram, jadi dia bantu promosi lagu ini, tentu saja dia ikut.”
Talita tak menjawab, tapi matanya menangkap jelas ada bekas lipstik di kerah baju John.
Bahkan makan malam dengan pihak perusahaan pun tak menghalangi dia untuk berselingkuh.
Rasa mual yang sejak tadi ditahannya akhirnya tak tertahankan lagi. Talita mendorong John dengan keras dan berlari ke kamar mandi untuk muntah.
Bab 2
John sempat terpaku di tempat selama beberapa detik, lalu bergegas ke kamar mandi dan menepuk-nepuk punggung Talita dengan lembut.
“Sayang, kamu … hamil?”
Nada suaranya yang penuh harap tak bisa disembunyikan, membuat Talita tersenyum pahit. Setelah rasa mual mereda, Talita mengatur napas dan perlahan berdiri tegak.
“Kamu lupa? Dokter bilang aku mandul.”
Namun, John tetap tak bisa menyembunyikan kegembiraannya, “Besok kita ke rumah sakit saja, siapa tahu masih ada harapan?”
Usai bicara, dia langsung mengambil ponselnya dan membuat janji dengan dokter. Talita membuka mulut, ingin bicara, tapi akhirnya tak jadi mengatakan apa-apa.
Keesokan paginya, mereka mengenakan masker dan topi, lalu pergi ke rumah sakit.
Itu rumah sakit swasta dan dokternya juga orang yang dikenal baik oleh John.
“Rahim Bu Talita pernah mengalami kerusakan parah. Dari hasil pemeriksaan, kemungkinan untuk hamil nyaris nol.”
Meski sejak awal sudah tak berharap, ucapan dokter tetap saja terasa menusuk hati Talita.
Jika tiga tahun lalu, setelah menyelesaikan misinya, dirinya memilih kembali ke dunia asal, tubuhnya pasti akan tetap sehat.
Namun, dia menolak untuk kembali. Meski sekarang dirinya memilih kembali, dirinya hanya bisa kembali dengan tubuh yang sudah rusak ini.
Namun, asalkan bisa pergi, itu sudah cukup baginya.
Tatapannya sekilas menoleh pada John yang terlihat kecewa di sebelahnya.
Namun, hanya sebentar wajah John langsung kembali ceria dan memeluk Talita.
“Nggak apa-apa, sayang. Kalau ke depannya kita mau punya anak, kita bisa adopsi saja.”
Talita mendorong pelukannya dengan ekspresi datar.
“Ada anak atau nggak sudah nggak penting lagi.”
John menggenggam lengannya, “Benar, yang penting kita tetap bersama.”
Talita menunduk dan dalam hati berkata, itu pun sudah tak mungkin lagi.
Dokter bilang rasa mual dan ingin muntah tadi malam kemungkinan besar disebabkan oleh depresi dan tekanan batin, jadi tidak ada yang serius.
Keluar dari rumah sakit, John mengusulkan untuk mengajak Talita jalan-jalan ke Ocarina agar bisa menyegarkan pikiran.
Talita tidak menolak, dia memang ingin sekali melihat laut itu lagi.
Itu adalah tempat pertama yang dilihatnya saat datang ke dunia ini.
Dulu, John pernah melompat ke laut itu karena depresi dan cukup lama trauma dengan tempat itu. Talita yang perlahan-lahan menyembuhkannya, membuatnya jatuh cinta lagi pada laut.
Namun sekarang, saat datang ke tempat itu, hati Talita sudah jauh berbeda dari sebelumnya.
Laut itu terletak agak terpencil dan sepi, cocok untuk menenangkan diri.
Angin laut akhir tahun bertiup menerpa mereka. Talita merapikan jaketnya, merapatkan tubuhnya.
Dia memang mudah kedinginan.
John buru-buru melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Talita, lalu memeluknya dari belakang.
“Kayak gini, biar nggak dingin.”
Sepasang nenek dan kakek berjalan melewati mereka sambil bergandengan tangan.
Nenek berkata, “Lihat, anak muda zaman sekarang romantis sekali.”
Kakek tak mau kalah, mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam, “Cih, kalau sampai setua kita masih seromantis ini, baru hebat namanya.”
Mereka tertawa dan berjalan menjauh.
Tubuh Talita mendadak menjadi tegang.
Iya, dia dan John memang tak sehebat itu. Baru tiga tahun menikah, sudah ada yang berubah hati.
John tak menyadari perubahan sikapnya, malah menggesekkan wajahnya ke telinga Talita dengan manja dari belakang.
“Sayang, kita juga bisa seperti mereka, mesra sampai tua.”
Rasa mual itu kembali datang, Talita benar-benar ingin membongkar semua sandiwara manisnya itu.
Tiba-tiba, ponsel John berdering. Dia melihat layarnya sebentar, tapi tak langsung mengangkat.
Setelah ragu sejenak, dia berkata pada Talita, “Sayang, tunggu sebentar, ya. Aku angkat telepon dulu.”
Satu menit kemudian, dia kembali dengan wajah penuh rasa bersalah, “Maaf sayang, aku nggak bisa temani kamu lagi. Ada urusan mendadak dari kantor penerbit, aku harus ke sana sekarang juga."
Talita tidak menjawab, hanya melepas jaket John dan menyerahkannya kembali, memberi isyarat agar dia pergi saja.
John memandangi ekspresi Talita yang datar, seolah ingin bicara sesuatu, tapi akhirnya mengurungkan niat.
Akhirnya, dia hanya berkata, “Kamu juga pulanglah lebih awal, jangan terlalu malam.” Lalu pergi.
Talita menyipitkan mata, menatap sosok John yang semakin lama semakin jauh dengan wajah penuh sindiran.
Kantor penerbit? Dia jelas-jelas sempat melihat nama Ivy terpampang di layar ponselnya tadi.
Belum sempat marah, angin dingin kembali berhembus. Tiba-tiba ada aliran hangat yang mengalir di bawah tubuhnya, lalu perutnya terasa nyeri luar biasa.
Seketika, wajah Talita langsung berubah pucat.
Bab 3
Talita dirawat di rumah sakit terdekat Ocarina.
Karena mengalami kerusakan pada rahim, setiap kali datang bulan, dia selalu merasakan sakit yang luar biasa.
Awalnya, setiap kali menjelang haid, dia selalu merasa cemas. John yang tak tega dia kesakitan, sesibuk apapun, dia selalu meluangkan waktu untuk menemaninya tanpa beranjak sedikit pun, menghangatkan perutnya dan membuatkan wedang jahe untuknya.
Karena ada John, lama-lama Talita pun jadi tidak terlalu memperhatikannya lagi. Setiap kali datang bulan, justru John yang selalu mengingatkan duluan, barulah dirinya sadar kalau dirinya akan segera datang bulan.
Namun kali ini, John pun lupa.
Setelah minum obat pereda nyeri, Talita bersandar di ranjang rumah sakit dan memanggil sistem.
“Bantu aku lacak posisi John sekarang.”
[Baik, tuan.]
Bunyi ‘ting’ terdengar dan di kepala Talita muncul peta pelacakan.
John terlihat sedang berada di Jalan Agung. Tiga menit kemudian, dia berpindah ke sebuah gedung bernama Winsor, blok 13.
Itu tempat tinggal Ivy.
Talita membuka tiktok dan mencari akun Ivy, lalu masuk ke siaran langsungnya.
“Selamat datang buat teman-teman yang baru bergabung.”
Ivy melirik jam tangannya, “Tapi sebentar lagi aku sudah mau tutup siarannya, soalnya pacarku mau datang.”
Suara Ivy terdengar manja dan lembut, memberi kesan yang sangat nyaman.
Baru saja selesai dia bicara, suara pintu terbuka terdengar dari sana. Wajahnya langsung berseri-seri penuh suka cita.
Dia mematikan mikrofonnya, mendongak menatap ke samping, matanya berbinar seperti anak anjing yang menanti belaian tuannya.
Detik berikutnya, lengannya dirangkul seseorang. Orang itu langsung menunduk dan menciumnya dengan penuh gairah, seolah tak sabar sedetik pun.
Meski wajah pria itu tak kelihatan, penonton langsung heboh.
[Ahh, manis sekali! Cium lagi, mau lihat!]
[Niatnya hanya mau nonton siaran langsung, malah dapat tontonan romantis seperti ini.]
[Keterlaluan sekali, beraninya ciuman di depan kami! Tapi, aku suka melihatnya!!]
….
Berbeda dari para penonton yang antusias, Talita justru seperti disiram air es. Rasa dingin itu merambat dari dalam, membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Pria itu adalah John.
Lengan bajunya yang setengah terlihat di layar adalah baju yang sama yang dikenakan John.
Mengingat bahwa jaket itu masih melekat di tubuhnya satu jam yang lalu, Talita langsung merasa mual.
Di siaran langsung, pasangan itu berciuman hampir satu menit, masih enggan berpisah. Talita pun membalikkan ponselnya dengan kesal.
Beberapa saat kemudian, mikrofon di siaran kembali menyala. Ivy tertawa kecil dengan wajah malu-malu, suaranya terdengar manja,
“Maaf, ya sayang-sayangku, pacarku sudah datang. Aku mau tutup siarannya dulu. Sampai bertemu besok~”
Talita mengambil ponsel dan sempat melihat komentar yang membanjiri layar sebelum siaran ditutup.
[Sudahlah, kami mengerti kok. Nggak mau ganggu kegiatan pasangan muda seperti kalian~]
Talita tersenyum tanpa suara. Di dalam kepalanya terasa seperti ada senar yang dipetik sembarangan, membuat pikirannya berdengung tak karuan.
Malam itu, Talita menginap di rumah sakit, tidurnya sangat tidak tenang.
Saat bangun keesokan paginya, yang pertama dilihatnya adalah John yang tertidur sambil menggenggam tangannya di samping ranjang.
Talita menahan rasa tak nyaman, lalu menarik kembali tangannya pelan.
John langsung terbangun. Melihat Talita sudah sadar, dia buru-buru menggenggam tangannya lagi dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Maaf ya, sayang. Beberapa hari ini aku terlalu sibuk sampai lupa kamu lagi haid. Ini semua salahku, aku yang membuatmu menderita.”
Iya, mengurus dua perempuan sekaligus, mana mungkin tidak sibuk?
Talita berniat menarik kembali tangannya, tapi John malah menggenggamnya lebih erat.
“Kenapa kamu nggak telepon aku semalam? Aku pulang ke rumah, lihat kamu nggak ada, rasanya panik sekali.”
“Lain kali harus kabarin aku, ya. Nggak ada yang lebih penting dari kamu.”
Dulu, Talita pasti akan menangis tersedu-sedu karena terharu mendengar kalimat seperti itu. Tapi sekarang, dia hanya menatapnya dengan pandangan datar, lalu memalingkan wajah dan memejamkan matanya.
“Aku masih sangat capek, mau istirahat lagi.”
John terdiam, melihat sikap Talita yang begitu dingin, hatinya mendadak gelisah.
“Sayang ….”
Belum sempat lanjut bicara, ponselnya bergetar. Dia pun melirik layar.
Beberapa saat kemudian, John yang tadi menolak pergi dan terus menggenggam tangan Talita, tiba-tiba berubah pikiran.
“Kalau begitu, kamu istirahat dulu, ya. Aku keluar sebentar buat beliin bubur.”
Begitu dia pergi, Talita langsung membuka mata, bangkit dari ranjang dan diam-diam mengikutinya.