Bab 1
Pada tahun kelima pernikahan, Julia Trevon merasa vitamin C yang dibeli suaminya terlalu pahit. Jadi, dia membawa botol obat itu ke rumah sakit.
Dokter memeriksanya, lalu mengatakan bahwa isi botol itu bukanlah vitamin C.
"Dokter, bisakah kamu mengulanginya sekali lagi?" tanya Julia.
"Berapa kali pun aku mengulanginya, hasilnya akan sama." Dokter menunjuk botol obat itu sambil berkata, "Ini isinya mifepristone. Kalau diminum terlalu banyak, bukan hanya bisa menyebabkan kemandulan, tapi juga akan merusak tubuhmu."
Tenggorokan Julia seakan tercekat sesuatu. Tangannya yang mencengkeram botol obat itu menjadi pucat.
"Nggak mungkin. Ini adalah obat yang disiapkan suamiku untukku. Namanya Victor Camden. Dia juga dokter di rumah sakit ini," ujar Julia.
Dokter itu mengangkat kepala, menatap Julia dengan tatapan yang aneh, seakan ada makna yang sulit dijelaskan di sana. Akhirnya, dokter itu tersenyum.
"Nona, sebaiknya kamu memeriksakan diri ke psikiater. Kami semua sudah mengenal istri Dokter Victor. Dua bulan yang lalu, dia baru saja melahirkan seorang anak. Jangan berkhayal seperti ini, kamu nggak punya harapan."
Setelah berkata demikian, dokter itu membuka foto di ponselnya.
Di dalam foto itu, Victor mengenakan jas dokter berwarna putih sambil menggendong seorang bayi. Di sampingnya tampak berdiri seorang wanita yang tersenyum lebar.
Wanita itu adalah Mandy Darwin, "adik angkat" yang selalu dibicarakan oleh Victor.
Julia merasa kepalanya kosong dalam sekejap.
Namun, dokter itu mengatakan bahwa itu adalah istri Victor, lalu anak itu adalah anak mereka.
Napas Julia tiba-tiba menjadi berat. Dia terhuyung masuk ke dalam lift, ingin pergi ke lantai 15 untuk mencari Victor, lalu meminta penjelasan.
Begitu pintu lift tertutup, terdengar dua suara yang tidak asing.
Mungkin karena hari ini Julia berpakaian rapat, serta mengenakan topi, orang di depannya tidak mengenalinya. Jadi, mereka berbicara tanpa ragu.
"Kak Victor, apa kamu nggak takut Julia akan mengetahuinya? Kenapa kamu bersikeras meminta dia kembali dulu? Kalau dari awal kamu menikah dengan Mandy, sekarang kamu nggak perlu bertingkah seperti pencuri hanya untuk melihat anakmu."
Itu adalah suara Moreno Darwin.
Suara Victor terdengar dingin ketika berkata, "Dia nggak akan tahu. Moreno, jaga mulutmu. Ketika bertemu dengan Julia, kamu harus tahu apa yang boleh dikatakan dan apa yang nggak."
"Aku benar-benar nggak memahami dirimu." Moreno tertawa sinis. "Mandy datang ke rumahmu sejak berumur 5 tahun sebagai calon istri kecilmu. Waktu kecil kamu juga sangat menyayanginya. Tapi setelah dewasa, kamu malah direbut oleh Julia."
"Demi Julia, kamu sampai mengirim Mandy pergi, lalu dengan segala cara membawanya kembali. Sebenarnya siapa yang kamu cinta?"
Victor terdiam cukup lama, baru akhirnya kembali membuka mulut, "Aku mencintai Julia, tapi juga nggak bisa melepaskan Mandy. Setiap kali memikirkan tahun-tahun dia hidup dengan penuh kesulitan di luar negeri, hatiku menjadi kacau."
"Aku sudah memberikan status sebagai istriku kepada Julia, jadi aku akan memberikan anak hanya untuk Mandy. Setidaknya dia akan memiliki sandaran di masa depan."
Moreno menghela napas, lalu kembali bertanya, "Bagaimana kalau nanti kamu dan Julia memiliki anak? Bisakah kamu memperlakukan Mandy dengan adil? Bagaimanapun juga, Mandy itu sepupuku."
Suara pemberitahuan bahwa lift sudah sampai tiba-tiba berbunyi.
Suara pintu terbuka bertabrakan dengan kata-kata Victor, "Nggak akan."
Moreno tertegun sejenak. Dia tidak mengerti apakah maksud Victor adalah dia tidak akan memiliki anak dengan Julia, atau dia tidak akan pilih kasih. Moreno berjalan mengikuti Victor dengan bingung.
Namun, Julia memahaminya.
Maksud Victor adalah, dia tidak akan memiliki anak dengan Julia.
Karena dia sudah menyiapkan obat steril untuk Julia, menghilangkan bahaya untuk istri kecilnya.
Di dalam lift banyak orang yang berlalu lalang, terasa pengap dan panas. Namun, Julia merasa seperti terjatuh ke dalam lubang es, hingga seluruh tubuhnya kedinginan.
Baru setelah lift turun lagi ke lantai satu, Julia tiba-tiba terbatuk hebat, seperti orang tenggelam yang akhirnya kembali menghirup udara.
Ponsel di saku Julia bergetar, sementara layarnya menyala. Victor mengirimkan tangkapan layar tiket pesawat.
[Julia, sampai jumpa di arena kompetisi besok. Jangan lupa untuk memakai jimat yang aku berikan padamu.]
Ketika melihat pesan ini, emosi Julia yang meluap langsung meledak, air matanya pun berjatuhan.
Dokter adalah profesi yang sangat sibuk. Namun, sejak mereka menikah, Victor selalu menunggunya di garis akhir dengan tepat waktu untuk setiap kompetisi Julia. Meskipun itu artinya pria itu harus naik penerbangan malam.
Pada hari itu, Victor akan memesan tempat di restoran terlebih dulu, membeli bunga, serta menjemputnya dengan penuh kemenangan. Setiap tahun akan selalu seperti itu.
Julia teringat dengan ejekan teman-temannya. Mereka mengatakan bahwa dia adalah cinta sejati yang didapatkan oleh Victor setelah mempertaruhkan separuh nyawanya.
Untuk membuat Julia bersedia kembali ke tanah air, Victor bersaing dengan orang-orang di klub luar negeri, hingga menghadapi situasi penuh bahaya beberapa kali.
Untuk mempertahankan Julia, Victor mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan tim pelatih terbaik, lalu membuka klub balap khusus untuknya.
Setelah menikah, Victor malah makin memanjakannya.
Julia hanya bergumam dalam mimpi, mengatakan bahwa dia merindukan ibunya. Victor menggunakan semua koneksi yang dia miliki di tengah malam, membantu Julia menemukan barang peninggalan ibunya sebelum fajar menyingsing.
Namun, Victor yang seperti ini ternyata memiliki keluarga lain tanpa sepengetahuan Julia.
Julia tiba-tiba tersadar.
Pantas saja Mandy lebih mengenal setiap sudut rumah Keluarga Camden dibandingkan dirinya. Pantas saja orang yang bertahun-tahun tinggal di luar negeri bisa menyebutkan nama panggilan semua teman Victor. Pantas saja seorang "adik angkat" bisa membuat Victor menunda jadwal operasinya selama setengah tahun, menemaninya bermain balapan.
Adik angkat apanya? Dia jelas-jelas adalah calon istri yang sudah dijodohkan dengan Victor sejak kecil.
Tadi Julia masih berpikir, kalau Mandy masih berani mengganggu, dia tidak akan memberikan toleransi.
Sekarang dia baru tersadar. Ternyata dialah orang yang menjadi pengganggu. Orang yang seharusnya mundur adalah dirinya.
Rasa dingin yang menusuk tulang merayap dari bawah kaki Julia hingga ke atas, membekukan anggota tubuhnya sampai mati rasa.
Dulu Julia selalu mengira orang yang hancur akan menangis dan mengamuk. Namun, ketika sudah sampai di tahap ini, dia baru tahu bahwa kehancuran sejati adalah ketika seseorang tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.
Hanya air mata yang tak terbendung dan hati yang tenggelam ke dasar yang memberi tahu bahwa dirinya hampir mati kesakitan.
Hatinya seperti dicengkeram erat oleh sebuah tangan besar yang ingin memeras habis setiap tetes darah di hatinya.
Ponsel Julia bergetar lagi. Ternyata Mandy mengirim foto keluarga, disertai dengan sebaris tulisan.
[Kak Julia, berhentilah menempati posisi yang bukan milikmu. Tadinya aku mengira kamu bisa sadar diri, tapi ternyata kamu nggak tahu malu. Kak Victor mengatakan kalau anaknya mirip dengan dirinya. Bagaimana menurutmu?]
Julia hanya melirik pesan itu sekilas, lalu berjalan keluar.
Jika Mandy menginginkan pria itu, Julia akan memberikannya.
Namun, Julia terlalu mengenal Victor. Ketika pria itu membuat keputusan, dia tidak akan melepaskannya dengan mudah meski sudah tidak menginginkannya lagi.
Ujung jari Julia melayang di atas tombol ponsel untuk waktu yang lama sekali. Pada akhirnya, dia menghubungi nomor yang hampir terlupakan itu.
Saat telepon tersambung, Julia mendengar suaranya bergetar.
"Devon, apakah taruhan waktu itu ... masih berlaku?"
Bab 2
Suara napas di ujung lain telepon terhenti sejenak, lalu suara Devon yang dalam terdengar.
"Setengah bulan lagi, Keluarga Frans akan pindah. Aku akan menjemputmu."
Julia tertegun selama setengah detik, lalu tertawa.
Julia belum mengatakan apa-apa, tetapi orang ini sudah yakin dia akan pergi.
Yang membuat Julia kesal, tebakannya memang benar.
"Baiklah."
Dengan kemampuan Devon, setengah bulan lagi, sekali pun Victor menggali sampai ke dasar bumi, dia tetap tak akan bisa menemukan dirinya.
Hingga larut malam hari itu, Julia tidak membalas pesan Victor sama sekali.
Victor benar-benar panik. Dia pulang kerja lebih awal, mengubah tiket ke penerbangan terdekat. Namun, saat membuka pintu rumah, dia tiba-tiba terpaku. Kecemasan di matanya langsung menghilang sebagian.
Di bawah lampu kuning yang hangat di ruang tamu, Julia sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
"Julia? Kenapa kamu sudah pulang?" Victor berlari menghampiri. "Aku sudah mengirim banyak pesan padamu ...."
Sebelum Victor selesai berbicara, dia sudah memeluk Julia dengan erat. Dagunya menempel di puncak kepala Julia, menggosoknya pelan, lalu berujar, "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku benar-benar takut .... Julia, aku nggak bisa hidup tanpamu."
Cinta di matanya tampak tulus.
Julia juga mengetahui bahwa Victor benar-benar mencintainya. Namun, dia juga tahu dengan jelas bahwa cinta pria ini tidak hanya diberikan pada satu orang.
Rasa sesak di tenggorokannya menyeruak. Julia mencubit telapak tangannya dengan keras untuk menahannya.
Untuk sejenak, Julia hampir membongkar semua kebohongan ini, tetapi dia mengurungkan niatnya.
Jika Julia mengungkapkannya, dia benar-benar tidak akan bisa pergi.
Julia perlahan melepaskan diri dari pelukannya, sementara suaranya dibuat setenang mungkin, "Pertandingannya ditunda. Ponselku mati, jadi aku nggak melihat pesannya."
Namun, Victor tidak mendengar gelombang di balik ketenangan itu. Dia tersenyum, lalu mengangkat jari untuk menepuk hidung Julia.
"Nggak apa-apa kalau kamu nggak melihatnya. Kenapa kamu menangis? Aku nggak akan menyalahkanmu," ujar Victor.
"Kamu pasti lapar, 'kan?" Victor mengayunkan kunci mobil di tanganya. Kemeja dan celana formalnya membuat postur Victor tampak tegap. Jasnya disampirkan dengan santai di lengannya. "Aku sudah memesan tempat di restoran hotpot yang sudah lama kamu inginkan. Ayo, Tuan Putri, aku akan menemanimu makan sepuasnya."
Victor mengulurkan tangan padanya, dengan telapak tangan menghadap ke atas.
Pandangan Julia jatuh pada tangan itu. Tiba-tiba, dia menjadi linglung.
Pada sore hari saat berumur 18 tahun, pemuda di lapangan basket itu juga mengulurkan tangan seperti ini padanya. Kaos putihnya basah karena keringat, bola basket terjepit di bawah lengannya, sementara senyumnya lebih sombong dari sekarang. "Ayo, Tuan Putri. Hari ini aku akan mentraktirmu makan sampai puas!"
Waktu itu, hanya ada Julia seorang di hatinya.
Julia tidak ingin menyiksa perutnya, jadi dia mengikuti Victor pergi ke restoran hotpot.
Pria itu masih bersikap seperti biasa. Jelas-jelas dia adalah seorang pria yang tidak pernah melayani orang lain, tetapi sekarang dia dengan terampil menyingsingkan lengan baju, mengambilkan makanan untuk Julia dengan cermat. Suapan pertama dari makanan yang baru matang selalu diberikan pada Julia terlebih dulu.
Baru pada saat piring menumpuk seperti gunung kecil, ponsel tiba-tiba berdering. Julia pun tersadar.
Jika bukan karena dering yang tidak berhenti ini, Julia takut dirinya akan terjebak lagi dalam cinta yang tampak tak berujung itu.
"Angkat saja."
Julia menundukkan kepala sambil mengaduk saus wijen di piring.
Victor melirik ponselnya, mengatakan kata-kata manis untuk Julia, lalu berjalan keluar untuk menjawab telepon.
Ketika kembali, mata Victor tampak dipenuhi dengan kecemasan dan penyesalan.
"Julia, di rumah sakit sedang ada operasi mendadak, aku harus segera ke sana. Maaf, aku nggak bisa menemanimu menghabiskan hotpot. Besok aku akan mengajukan cuti agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu."
Julia sudah melihat nama penelpon tadi, tetapi dia tidak membongkar kebohongan Victor. Dia hanya mengangguk sambil berujar, "Baiklah, kamu pergi saja."
Setelah mendapatkan persetujuan, Victor tidak membuang waktu, langsung berbalik untuk meninggalkan restoran hotpot.
Ketika melihat kursi kosong yang ada di depannya, hati Julia seperti ditusuk jarum, terasa mati rasa.
Tepat ketika dia akhirnya berhasil menenangkan perasaan, hendak mengangkat sendoknya lagi, panggilan video dari Mandy masuk.
Julia menutup teleponnya, tetapi orang di ujung lain menelepon kembali. Setelah belasan kali menelepon, Julia akhirnya mengangkatnya.
Mandy menunjukkan senyuman polos seperti biasa.
"Kak Julia nggak sedang makan hotpot, 'kan? Aku penasaran, kenapa ada seseorang yang pulang ke rumah dengan bau seperti hotpot hari ini."
Wanita itu menekan kata "pulang ke rumah" dengan sangat berat. Julia bisa mendengar nada provokasi dalam kata-katanya.
Wajahnya berubah dingin. "Mandy, kamu terlalu kekanak-kanakan."
"Apa kamu lupa siapa yang sekarang menjadi istri sahnya? Coba kamu tebak. Kalau aku mengirimkan riwayat obrolan ini ke Victor sekarang, apakah dia akan memilih kamu atau aku?"
Mata Mandy tampak berkilat, tetapi dia segera tersenyum lagi. "Kalau begitu, kirimkan saja. Jangan menutup teleponnya. Biar aku lihat, siapa sebenarnya yang kekanak-kanakan."
Julia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, tetapi ternyata Mandy benar-benar tidak menutup teleponnya.
Tidak lama kemudian, latar belakang dalam video bergerak, lalu sosok Victor muncul di layar.
Mandy langsung berbalik, merebahkan diri dengan manja di pelukannya, langsung menghalangi pandangan Victor ke layar dengan sempurna.
"Kak Victor, apa kamu masih marah karena dulu aku kawin lari dengan orang lain? Kalau aku nggak pergi, apa kamu nggak akan mencari Kak Julia? Apa kamu akan menikah denganku?"
Victor mengerutkan kening sambil menjawab, "Kenapa ada begitu banyak kalau?"
"Aku hanya bertanya ...." Mata Mandy memerah, sementara suaranya menjadi makin kecil. "Aku nggak ada maksud lain ...."
Setelah keheningan selama beberapa detik, Julia melihat Victor membuka mulut, suaranya terdengar serak, "Ya."
Satu kata itu langsung membuat hati Julia menjadi kosong.
Ternyata sejak saat itu, Julia bukan satu-satunya orang di hati Victor.
Dia tiba-tiba teringat pada hari pernikahan mereka.
Victor memegang tangannya, bersumpah atas nama Nenek yang paling dihormatinya di hadapan semua tamu.
"Dalam hidupku, Victor Camden, nggak peduli sekarang atau nanti, aku hanya akan mencintai Julia seorang. Diriku, uangku, serta nyawaku, semuanya akan menjadi miliknya."
"Dia boleh bersikap manja, boleh melakukan kesalahan, boleh tidak mencintaiku, bahkan boleh mencintai orang lain. Asalkan dia nggak meninggalkanku."
Waktu itu Julia menangis dengan begitu kencang, mengira dirinya sudah mendapatkan cinta paling tulus di dunia.
Sekarang dia baru mengerti bahwa sumpah itu semuanya palsu sejak awal.
Julia tidak pernah menjadi satu-satunya wanita untuk Victor. Tidak di masa lalu, tidak di saat ini, tidak akan pula di masa depan.
Dia hanyalah alat bagi Victor dan Mandy untuk saling bersitegang. Hanya saja, setelah cukup lama bersama, sedikit perasaan pun tumbuh, membuat Victor enggan untuk melepaskan dirinya.
Ketika memikirkan hal ini, Julia memaksakan diri untuk tersenyum. Dia tersenyum sambil terus menangis.
Julia mengira, setidaknya walau hanya sejenak, mereka pernah memiliki cinta yang begitu membara. Namun, Julia tidak menyangka bahwa dari awal hingga akhir, dirinya hanyalah seorang pencuri yang merebut tempat milik orang lain.
Julia menundukkan kepala, mencengkeram erat pakaian di dada, mencoba mengatur napasnya.
Namun, rasa sesak di tenggorokannya tidak bisa ditekan. Jadi, Julia hanya bisa membiarkan air matanya menetes satu per satu di meja.
Malam itu, Victor tidak pulang.
Namun, Julia menerima foto langsung wajah tidur Victor yang dikirim oleh Mandy.
Julia menatap wajah itu lama sekali, sampai akhirnya fajar menyingsing. Ketika hatinya akhirnya sepenuhnya tenang, hatinya seakan sudah mati.
Dia mengambil ponselnya, menelepon teman pengacaranya, Lina Adams.
"Lina, tolong bantu aku untuk membuat surat cerai …."
Bab 3
Saat Julia bangun, rumah masih kosong.
Di ponsel ada pesan dari Victor.
[Sayang, rumah sakit hari ini sangat sibuk, jadi liburanku dibatalkan. Jangan marah, ya. Aku akan menemanimu besok, nggak peduli seberapa sibuknya aku. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. Tunggu aku pulang.]
Di bawah pesannya ada foto yang dikirimkan oleh Mandy satu jam yang lalu.
Itu adalah foto mereka berdua di tepi kolam air panas. Senyuman keduanya begitu menyilaukan mata.
Julia menggenggam ponsel dengan erat hingga ujung jarinya terasa panas. Dia hampir menelepon Victor untuk bertanya apakah sebenarnya dia sibuk melakukan operasi, atau sibuk menemani istri kecilnya.
Namun, mengingat kembali rencana di dalam hatinya, akhirnya Julia menekan amarahnya, hanya membalas Victor dengan jawaban singkat, [Baiklah.]
Akan lebih baik jika Victor tidak kembali. Ini akan memudahkan Julia untuk mengemasi barang-barangnya.
Julia mengemas semua pakaian yang diberikan Victor, bersiap untuk menyumbangkannya ke daerah miskin di pegunungan.
Dia menurunkan foto bersama yang tergantung di dinding, lalu masukkannya ke dalam mesin penghancur kertas. Dia juga mengambil seratus kartu kecil berisi harapan yang pernah dia tulis untuk Victor, lalu membakarnya hingga menjadi abu di balkon.
Julia tidak berani membuang terlalu banyak barang, karena takut Victor merasakan ada yang tidak beres ketika kembali.
Keesokan harinya, Victor akhirnya pulang.
Begitu melihat Julia, dia langsung meletakkan kue di tangannya, membuka kedua lengannya sambil berjalan menghampiri. Pria itu berujar, "Julia, aku lelah sekali. Aku membutuhkan pelukanmu untuk mengisi ulang energiku."
Julia mundur selangkah dengan tenang, membuat pelukan Victor meleset.
Victor menaikkan alisnya. "Apa kamu masih marah? Jangan marah lagi, ya. Aku akan membawamu melihat kejutan yang sudah aku siapkan."
Tanpa menunggu Julia berbicara, Victor langsung menariknya untuk naik ke mobil.
Mobil melaju di sepanjang jalan ke tempat latihan. Julia masih kebingungan ketika dia ditarik turun dari mobil.
"Apa kamu menyukainya?"
Victor menunjuk mobil di depan sambil bertanya.
Itu adalah sebuah mobil balap yang sudah dimodifikasi. Tubuh mobil ditempeli dengan berlian merah muda yang berkilauan, hingga membuat orang yang melihatnya merasa pusing.
Mata Julia berkilat dengan ketekejutan sesaat. Para pelatih klub berdiri di samping, berkata dengan nada yang dipenuhi dengan rasa iri.
"Katanya modifikasi mobil ini menghabis biaya hampir 200 miliar. Dia benar-benar rela menghabiskan uang banyak, ya."
"Memangnya kenapa kalau mahal? Kalian nggak tahu kalau berlian di atas mobil ini ditempel satu per satu oleh Pak Victor. Dia begadang mengerjakannya sampai hampir terkena keratitis."
"Julia, cepat cobalah. Setelah selesai mencoba, pinjamkan pada kami juga. Pak Victor benar-benar menyayangi istrinya."
Setelah mendengar kata-kata ini, keterkejutan di hati Julia perlahan tenggelam, matanya menjadi sedikit perih.
Dia menarik sudut mulutnya, menunjukkan senyum mengejek pada diri sendiri.
Semua orang mengatakan bahwa Victor menyayangi istrinya. Namun, siapa yang tahu siapa "istri" yang sebenarnya ada di hati pria itu?
Cinta Victor memang terasa begitu hangat, tetapi kehangatan ini tidak pernah hanya menyinari dirinya seorang.
Emosi yang ditahan Julia selama beberapa hari ini seakan menemukan jalan keluarnya pada saat ini.
Julia duduk di kursi pengemudi, menginjak gas hingga dalam, lalu mobil balap pun melesat seperti anak panah.
Dia melaju dengan gila-gilaan di lintasan, melampiaskan semua ketidakadilan, amarah, serta ketidakrelaan itu ke dalam deru mesin.
Victor berdiri di tepi lapangan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku, senyuman tampak di sudut mulutnya, sementara matanya menatap tanpa berkedip.
Di putaran ke-40, Julia melihat Victor membentuk hati dengan tangan ke arahnya. Dalam keadaan linglung sejenak, Julia tidak memegang kemudi dengan erat. Mobil balapnya menabrak pembatas di sisi lapangan dengan suara keras.
Julia merasakan nyeri yang menusuk pada jari-jari kakinya. Sebelum dia bisa bereaksi, Victor sudah berlari menghampiri, membuka pintu, lalu langsung menggendongnya masuk ke ruang istirahat.
"Apa ini sakit?" Victor mengernyitkan kening, dengan hati-hati mengangkat kaki Julia. Kapas dicelupkan dalam iodine, lalu dioleskan ke luka Julia sedikit demi sedikit. "Ini semua salahku. Aku membuatmu menyetir terlalu lama."
Gerakan Victor begitu lembut, seakan dia takut akan memecahkan kaca. Rasa sakit di matanya yang begitu dalam tidak dapat dilelehkan.
Namun, Julia hanya merasa seluruh tubuhnya dingin.
Ternyata cinta benar-benar bisa diperankan senyata ini.
Julia tanpa sadar mengangkat tangan, ingin menyentuh rambut pria itu. Namun, Victor malah menangkap pergelangan tangannya, menundukkan kepala, hendak mencium Julia.
"Brak!"
Pintu ruang istirahat tiba-tiba didorong hingga terbuka dengan keras.
Victor bahkan tidak mendongak, hanya mengambil botol air mineral di meja dengan asal, lalu melemparkannya ke arah pintu.
"Keluar!"
Julia menoleh, melihat Mandy berdiri di pintu.
Ketika Victor akhirnya melihat dengan jelas siapa yang datang, wajahnya sedikit berubah. "Mandy? Kenapa kamu ada di sini?"
Mandy menutupi dahinya yang memerah karena terkena terkena lemparan, menggigit bibirnya, lalu menundukkan pandangannya. Pakaiannya kotor berlumuran lumpur, tampak sangat kusut.
"Waktu latihan mobil aku nggak menginjak rem dengan cukup baik, jadi aku menabrak .… Aku datang ke sini untuk mengambil kotak obat."
Victor terdiam selama beberapa detik, mengabaikannya. Pria itu mengambil plester, menempelkannya dengan lembut di jari kaki Julia.
"Kamu duduk di sini saja, jangan bergerak. Jangan berjalan sembarangan dengan kakimu yang terluka," kata Victor.
Victor mengangkat tangan untuk menyibakkan rambut di telinga Julia, lalu mencium pipinya. "Aku akan memeriksa lukanya dulu. Aku akan langsung kembali setelah beberapa menit. Aku akan berada di depan pintu, panggil aku kalau kamu butuh sesuatu."
Pria itu melangkah keluar dengan membawa kotak obat.
Ruang istirahat tiba-tiba menjadi sunyi. Begitu sunyi sampai Julia bisa mendengar suara angin di luar jendela.
Beberapa menit pun berlalu. Julia perlahan mendorong pintu terbuka. Di depan pintu tidak ada satu orang pun. Apanya yang "berada di depan pintu"?
Kekecewaan di hati Julia hanya muncul sesaat sebelum akhirnya diredam.
Seharusnya dia sudah bisa menebak semuanya, 'kan?
Julia bersandar dinding, berjalan tertatih-tatih menuju mobil balap itu.
Dia benar-benar menyukai mobil itu. Karena melihat hujan akan segera turun, Julia ingin memarkirkan mobil itu di garasi.
Namun, saat Julia sampai di samping mobil, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Mobil tampak bergoyang dengan ringan, disertai dengan suara yang samar-samar keluar dari celah jendela yang tidak tertutup rapat ....