Bab 1

Tiga tahun lalu, aku menjebak seorang tokoh besar dari kalangan elite Kota Persy dengan obat.

Kami melewati malam penuh kegilaan. Setelah itu, dia bukannya menghukumku, tetapi justru menggenggam pinggangku dengat erat, terus menabrakku hingga kakiku lemas, dan berulang kali memanggilku, "Putri Kecil."

Saat aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kepada Farel, Nia Candra, cinta pertamanya, tiba-tiba kembali.

Demi Nia, Farel rela membiarkanku ditabrak mobil. Dia menyaksikan peninggalan terakhir ibuku dilemparkan ke anjing jalanan, dan bahkan membuatku masuk penjara.

Namun, ketika aku benar-benar menyerah dan terbang ke Kota Appia untuk menikah dengan orang lain, Farel mencari ke seluruh Kota Persy hanya untuk menemukanku.

Di depan orang lain, aku adalah putri kecil Keluarga Elio yang ceria dan bersemangat, sementara Farel adalah sosok bos di kalangan elit Kota Persy yang disiplin, dingin, dan sangat terkendali.

Namun, setiap malam, Farel selalu menggenggam pinggangku, membuat lututku lemas, sambil berulang kali memanggilku, "Putri Kecil."

Akan tetapi, dia tidak tahu, dua minggu lagi aku akan menikah dengan orang lain.

Seprai masih hangat dan lembap saat aku berbaring mengatur napas, sementara Farel sudah bangkit dan mulai mengenakan pakaian.

Aku menoleh ke samping, melihat jari-jari panjangnya merapikan kancing kemeja.

"Kamu nggak tinggal di sini malam ini?" tanyaku.

"Ada rapat di kantor," jawabnya tanpa menoleh. "Bersikaplah manis."

Kata-kata itu lagi.

Aku duduk, seprai pun tergelincir dari tubuhku.

Gerakan Farel berhenti sesaat, lalu dia melanjutkan mengikat dasinya.

"Farel."

"Hm?"

"Nggak apa-apa."

Dia menoleh, menunduk, dan mencium dahiku. "Aku pergi dulu."

Begitu pintu tertutup, aku mengambil ponsel dan menekan nomor yang sudah tidak asing lagi.

"Ayah, aku setuju untuk menikah. Dua minggu lagi, aku akan menikah dengan pewaris Keluarga Fathir di Kota Appia yang nyaris sekarat, tapi aku punya satu syarat."

Orang di ujung telepon terdengar girang, "Oke! Katakan! Apa pun syaratnya, aku akan langsung setuju!"

"Kita bahas nanti saat bertemu."

Aku menutup telepon dan menatap tablet cadangan milik Farel yang ada di meja samping tempat tidur.

Layar menyala, menampilkan pesan baru.

Pengirimnya adalah Nia.

[Kak Farel, terima kasih sudah menemaniku ke rumah sakit hari ini. Dokter bilang aku sudah pulih dengan baik, semua berkat perhatianmu. Besok aku ingin nonton film bersamamu, seperti dulu.]

Di bawahnya ada emoji cium.

Aku menatap pesan itu, jari-jariku sedikit bergetar.

Farel tidak pernah menemaniku ke rumah sakit, bahkan saat aku patah tulang rusuk saat latihan berkuda dulu.

Aku mengenakan pakaian dan diam-diam mengikuti mobil Farel.

Di depan sebuah restoran Michelin, Farel turun dari mobil.

Dari kejauhan, aku melihatnya mendekati seorang gadis berbaju putih.

Nia.

Dia tampak lebih kurus dari foto dan Farel mengulurkan tangan merapikan rambut Nia yang berantakan ditiup angin, gerakannya lembut seolah menyentuh porselen yang mudah pecah.

Selain di ranjang, aku tak pernah melihatnya menunjukkan ekspresi lembut seperti itu.

Tiga tahun lalu, saat ayah menitipkanku pada Farel, melihat wajahnya yang tampan dan dingin, kakiku gemetaran tak karuan.

"Alisa perlu belajar aturan keluarga," kata ayahku kepada Farel. "Dia terlalu liar, hanya kamu yang bisa mengendalikannya."

Waktu itu aku berusia sembilan belas tahun, baru pulang dari sekolah asrama, penuh pemberontakan, tak mau menurut siapa pun.

Banyak pria ingin menaklukkanku dan aku pikir Farel hanyalah salah satunya.

Namun, aku ingin menaklukkannya lebih dulu.

Pertemuan pertama, aku sengaja mengenakan rok super pendek ke kantornya.

Farel duduk di belakang meja, bahkan tak mengangkat kelopak matanya.

"Rapatkan kakimu, Alisa."

"Kenapa?"

"Karena caramu duduk membuat orang mengira Keluarga Elio nggak berpendidikan."

Aku sengaja mengangkat sedikit rokku. "Kalau sekarang bagaimana?"

Farel menatapku dari balik kacamata emasnya, sorot matanya dingin. "Keluar."

Beberapa bulan berikutnya, aku melakukan segala cara untuk memprovokasinya.

Menaruh catatan kecil di dokumennya, sengaja mengacaukan proyek bisnisnya, bahkan pernah menaruh obat pencahar ke wiski miliknya.

Farel selalu dengan tenang membereskan kekacauan yang kulakukan, lalu berkata dengan nada mengajari anak kecil, "Alisa, kamu memang pintar, tapi kepintaran harus digunakan di tempat yang benar."

Sampai suatu malam.

Aku menaruh obat di minumannya untuk melihat seperti apa Farel ketika kehilangan kontrol.

Tak kusangka, saat obat itu bekerja, aku juga berada di ruangan itu.

Farel menggenggam pergelangan tanganku, napasnya berat. "Apa yang kamu masukkan ke minumanku?"

"Kamu seharusnya sudah bisa menebaknya, 'kan?" Aku menatap matanya. "Mau coba sama-sama?"

Malam itu mengubah segalanya.

Keesokan paginya, Farel sudah berpakaian rapi.

Kupikir dia akan marah besar dan mengembalikanku ke ayahku, jadi aku berkata, "Farel, aku ...."

"Putri Kecil." Dia membelai pipiku dengan lembut. "Ini rahasia kita."

Putri Kecil.

Justru panggilan itu membuatku benar-benar jatuh hati.

Selama dua tahun berikutnya, kami menjalani hubungan yang aneh seperti ini.

Siang hari, dia tetap Farel yang tenang dan rasional, tetapi malam harinya, dia memanggilku Putri Kecil di telingaku, membuatku lemas karena gairahnya.

Aku kira dia mencintaiku.

Hingga suatu tahun, pada hari ulang tahunku.

Aku sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna, mengenakan gaun tercantik, dan memesan restoran tempat kami pertama kali bertemu.

Aku sudah memutuskan untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan bahwa aku ingin bersamanya, tidak peduli apa pun konsekuensinya.

Namun, Farel tidak datang.

Aku duduk sendirian di restoran selama tiga jam, sampai para pelayan mulai menatapku dengan rasa kasihan.

Keesokan harinya, foto Farel menjemput wanita lain di bandara beredar luas di internet.

Di foto itu, Nia bersandar di lengan Farel, keduanya tampak begitu intim seperti sepasang kekasih.

Ternyata dia sepenuhnya melupakan ulang tahunku, demi menjemput wanita lain.

Aku tersenyum getir dan minum sampai mabuk. Aku ingin bertanya pada Farel, apa arti diriku di matanya? Hanya teman tidur? Atau sekadar alat?

Namun, aku tak punya keberanian.

Aku terlalu kesepian, terlalu tergantung pada kehangatan yang dia berikan.

Aku takut jika aku menyingkap semuanya, dia justru akan meninggalkanku.

Aku menemukan foto Nia di ruang kerja Farel, malam itu, semua foto itu kuhancurkan.

Namun, ketika Farel pulang dan melihat rumah berantakan, dia bahkan tidak mengerutkan kening. Dia hanya menyuruh pelayan merapikan semuanya dan merawatku, lalu berjalan melewatiku begitu saja.

Saat itu aku akhirnya mengerti. Farel adalah pewaris Keluarga Keano, terlalu tinggi untuk dijangkau, dingin dan penuh wibawa.

Kesabarannya padaku sebenarnya hanyalah karena dia merasa tak perlu mempermasalahkanku.

Sejak saat itu, dia masih memanggilku Putri Kecil di ranjang, seolah tak ada yang berubah.

Hanya saja, hatiku sudah mati.

Di luar restoran, Farel membukakan pintu mobil untuk Nia, mereka berbincang dengan akrab.

Aku mengalihkan pandanganku, kemudian menyetir pulang ke rumah Keluarga Elio.

Di ruang tamu, ayahku dan ibu tiriku, Rara, sedang menonton TV.

Begitu melihatku masuk, ayahku langsung mematikan televisi.

"Katakan. Apa syaratmu agar kamu setuju untuk menikah?"

Aku duduk di sofa. "Aku ingin memutus hubungan ayah-anak denganmu."

Ekspresi ayahku menjadi kaku. "Apa katamu?"

Rara, yang berdiri di dekatnya, matanya berbinar ketika mendengarku mengatakan ini.

"Aku bilang, aku setuju menikah dengan pewaris Keluarga Fathir yang sekarat, tapi sebagai gantinya, kita putus hubungan. Mulai sekarang, aku bukan lagi anak Keluarga Elio. Kamu bisa saja membawa pulang simpananmu dan anak harammu dengan terang-terangan. Sejak kamu merencanakan kecelakaan mobil yang membunuh ibuku, aku nggak ingin menganggapmu sebagai ayah lagi!"

Ekspresi ayahku langsung berubah pucat dan tegang. "Aku sudah bilang, kecelakaan itu murni kebetulan!"

Aku menatap matanya, sambil tersenyum sinis. "Kebetulan atau nggak, dia meninggal saat melihatmu berselingkuh dengan Rara. Ayah, jangan pura-pura peduli padaku lagi. Lima bulan terakhir kamu berusaha menjualku ke Keluarga Fathir, bukan untukku, tapi supaya simpananmu bisa masuk Keluarga Elio dan anak harammu bisa memakai marga Elio, 'kan?"

Abbas tiba-tiba berdiri. "Alisa, kamu ingin memutus hubungan 'kan? Oke! Mulai besok, kamu bukan lagi anakku!"

"Setuju." Aku berbalik dan naik ke lantai atas. "Oh ya, jangan lupa beri tahu mereka, calon pasangan pernikahan mereka bukan lagi putri Keluarga Elio, tapi seorang gadis yatim piatu. Tanyakan apa mereka masih bersedia membayar harga yang sama."

Setibanya di kamar, aku menutup pintu dan akhirnya menanggalkan semua topengku.

Air mata mengalir deras. Aku meringkuk di tempat tidur seperti hewan kecil yang terluka.

Farel, tahukah kamu?

Agar bisa benar-benar meninggalkanmu, aku bahkan melepaskan sandaran terakhirku.

Keesokan paginya, suara barang-barang dipindahkan terdengar dari lantai bawah.

Aku bangun dan turun, berjalan ke sudut tangga.

Sosok yang sangat familier berdiri di sana.

Nia.

Sekejap, darahku seakan membeku.

Bab 2

Nia berdiri di mulut tangga, mengenakan gaun putih polos yang membuatnya terlihat memilukan.

Dia melihatku dan segera menunjukkan senyum manis. "Kamu pasti Alisa, 'kan? Aku Nia, senang bertemu denganmu."

Aku tidak menjawab, hanya memandangnya dalam diam.

Abbas melangkah keluar dari ruang tamu. Saat melihat Nia, raut wajahnya yang biasanya dingin tiba-tiba menampakkan kelembutan yang jarang terlihat.

"Nia, kamu pasti capek, 'kan? Biarkan Alisa mengantarmu ke kamar untuk beristirahat."

"Terima kasih, Paman Abbas," sahut Nia dengan manis dan patuh.

"Pergilah ke kamar Alisa. Di sana pencahayaannya paling baik, cocok untuk pemulihanmu," kata Abbas.

Aku menoleh padanya. "Kamarku?"

"Mulai hari ini, itu akan menjadi kamar Nia. Kamu pindah ke lantai tiga, di sana ada kamar kosong."

Aku tersenyum sinis. "Nggak usah."

Aku berbalik dan naik ke lantai atas untuk mulai membereskan barang-barangku.

Tiga puluh menit kemudian, aku menuruni tangga sambil menyeret koper.

Melihat koperku, Abbas mengernyit. "Kamu mau ke mana?"

"Pergi dari sini," jawabku tanpa menoleh. "Lagi pula, aku sudah bukan lagi anak Keluarga Elio, nggak ada alasan untukku tinggal di sini."

"Alisa!" teriaknya menghentikanku. "Dua minggu lagi kamu akan menikah. Jangan bertingkah seenaknya!"

"Aku tahu." Aku membuka pintu. "Dua minggu lagi aku akan hadir tepat waktu di pernikahan, menepati kesepakatan kita."

Pintu tertutup dengan keras. Aku mengemudikan mobil meninggalkan rumah Keluarga Elio.

Tujuan pertamaku adalah langsung menuju hotel mewah terbaik di kalangan elite Kota Persy.

"Aku mau suite termahal yang kalian punya," kataku ke resepsionis.

"Untuk berapa malam?"

"Dua minggu."

Saat membayar, aku memakai kartu tambahan yang diberikan Keluarga Elio.

Kartu ini punya limit 60 miliar, biasanya jarang kugunakan.

Namun, hari ini, aku ingin memakainya sampai habis.

Setelah masuk ke suite, aku memulai balas dendam lewat belanja besar-besaran.

Aku menghubungi desainer pribadi, Vera dan memesan tiga gaun pengantin berbeda, masing-masing bernilai lebih dari dua miliar.

Lalu, aku membeli sepuluh set perhiasan dan dua jam tangan Rolex edisi terbatas.

Dalam sehari, aku menghabiskan hampir 50 miliar.

Tak lama kemudian, telepon dari Abbas masuk.

"Alisa! Kamu gila ya? Sehari sudah habis hampir 60 miliar!"

"Memang kenapa?" Aku bersandar di sofa kulit hotel dengan santai. "Aku akan menikah ke tempat yang jauh dari sini, jadi setidaknya aku harus belanja sedikit untuk menaikkan gengsi."

"Kamu butuh banyak uang hanya untuk menjaga gengsi?"

"Tentu saja." Aku minum sampanye. "Aku akan menikahi penerus Keluarga Fathir, mana boleh terlihat pelit? Lagi pula, Keluarga Fathir akan memberikan dana pernikahan 6 triliun, apa artinya aku menghabiskan beberapa ratusan miliar?"

"Kamu!" Abbas kesal sampai tak bisa berkata apa-apa.

"Ayah, oh, salah, seharusnya aku memanggilmu Pak Abbas." Aku tersenyum. "Bukankah kita sudah putus hubungan? Jadi, kalau aku pakai uangmu, ya memang salah sih. Begini saja, begitu dana pernikahan masuk, aku akan langsung mengembalikannya."

Setelah menutup telepon, aku melanjutkan rencanaku berbelanja.

Aku harus mengosongkan arus kas Keluarga Elio sebelum dana pernikahan itu cair.

Nantinya, uang 6 triliun itu akan langsung ditransfer ke rekeningku. Jika Abbas ingin mengambilnya kembali, dia harus memohon kepadaku.

Lihat saja nanti, apakah dia masih berani memihak ibu dan anak itu.

Saat aku bersiap untuk melakukan pembelanjaan terakhir, ponselku bergetar.

Ternyata pesan dari Farel: [Kamu sudah tiga hari nggak ke kantor, ada apa?]

Aku menatap pesan itu, jantungku tiba-tiba berdebar.

Namun, aku segera menenangkan diri.

Farel cuma kesal karena aku tidak mengikuti arahan dia, cuma itu saja.

Aku membalas: [Ada urusan keluarga, beberapa hari lagi selesai.]

Farel tidak membalas lagi.

Keesokan paginya, saat aku hendak keluar untuk melanjutkan berbelanja, resepsionis hotel menghentikanku, "Nona Alisa, maaf, akun Anda dibekukan. Anda nggak bisa membayar biaya kamar lagi."

"Maksudnya?"

"Anda harus segera melunasi tagihan, atau ...." Dia berhenti sejenak dengan sopan. "Anda harus meninggalkan hotel."

Satu jam kemudian, aku berdiri di depan hotel sambil menyeret koper.

Tanpa uang sepeser pun, tanpa tempat tinggal.

Aku tidak rela dan tidak ingin menjual barang-barang mewah yang sudah kubeli karena semua ini akan kubawa untuk pernikahanku.

Aku sempat berpikir menelepon temanku, tetapi sadar bahwa aku tak punya teman sejati.

Orang-orang di sekitarku hanya tertarik pada kekuasaan Keluarga Elio.

Sekarang aku sudah diusir dari rumah, siapa yang mau peduli padaku?

Hari makin gelap, aku menyeret koper dan berjalan tanpa tujuan di jalanan.

Akhirnya, aku duduk di sebuah bangku di taman.

Malam sudah larut, taman sunyi, hanya sesekali terdengar suara mobil dari jauh.

Aku memeluk lutut, menghitung mundur lima hari menuju pernikahan, tetapi aku tak bisa terus-terusan berkeliaran di jalan.

Saat aku sedang bingung, beberapa pria mabuk berjalan sempoyongan mendekatiku.

"Hai, cantik, sendirian nih?" Salah seorang mendekat, baunya alkohol murah menyengat.

Aku berdiri dengan waspada. "Menjauh dariku!"

"Jangan dingin gitu dong." Pria itu mengulurkan tangan ingin menyentuhku. "Temani kami minum sebentar, yuk?"

Aku mundur selangkah, tetapi terhalang oleh bangku panjang.

Saat itu, terdengar suara berat.

"Dia sudah ada yang menemani."

Aku menoleh, melihat Farel muncul dari bayangan, ekspresinya sangat muram.

Beberapa pemabuk yang melihat aura Farel langsung minggat.

Farel berjalan ke depanku, memandang koperku, lalu melihat bangku panjang itu.

"Sudah nggak punya rumah, masih juga nggak mau mencariku?"

Bab 3

Farel mengantarku pulang dengan mobil ke rumah vilanya di utara kota.

Aku duduk di kursi penumpang, menatap lampu neon yang melintas di luar jendela, hatiku terasa hampa.

"Sudah sampai." Farel berhenti, berjalan ke sisiku dan membuka pintu mobil.

Kenapa selalu begini, tidak mencintaiku, tetapi tidur denganku dan tetap begitu perhatian.

Hidungku terasa perih.

Aku turun dari mobil, menyeret koper dan berjalan mengikutinya.

Rumah ini sangat kukenal, setiap sudutnya ada jejak-jejak kebersamaan kami.

Farel hendak mengambil koperku dan membawanya ke kamarku.

"Nggak usah." Aku langsung menuju kamar tamu. "Aku hanya tinggal dua belas hari, kamar tamu sudah cukup."

Langkah Farel terhenti sejenak. "Kalau ingin tinggal lebih lama, boleh saja."

Aku menaruh koper di kamar tamu dan menutup pintu.

Duduk di tepi tempat tidur, aku menatap layar ponsel.

Dua belas hari lagi, aku akan meninggalkan kota yang aku tinggali sejak kecil ini untuk selamanya.

Keesokan paginya, aku bangun dan turun ke bawah.

Farel sudah sarapan di ruang makan. Saat melihatku turun, dia menunjuk kursi di seberangnya.

Aku duduk dan pelayan menghidangkan susu dan roti panggang.

"Farel." Aku membuka percakapan.

Dia menatapku dari balik kacamata emasnya dengan tatapan tenang.

"Kamu tahu Nia adalah anaknya Rara, 'kan?"

"Baru tahu kemarin," jawab Farel tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

Aku tersenyum pahit. "Jadi, Nia itu bagimu apa?"

Farel meletakkan cangkir kopinya. "Teman SMA. Dia pernah menahan sebilah pisau untuk menyelamatkan nyawaku. Setelah itu, dia tinggal di Negara Bargata untuk pemulihan."

"Benaran cuma teman SMA dan penyelamatmu? Sesederhana itu?"

Dahi Farel sedikit mengernyit saat menatapku. "Alisa, aku nggak ingin kamu sengaja menyusahkannya hanya karena dia sekarang kembali ke Keluarga Elio."

Aku tertawa, suaraku terdengar getir. "Kamu memperingatkanku?"

"Aku mengingatkanmu," kata Farel dengan nada dingin. "Tubuh Nia lemah, nggak tahan diganggu."

Aku mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.

Sikap Farel yang melindungi Nia ternyata lebih tegas daripada yang kubayangkan.

Apa lagi yang bisa kutanyakan?

"Oke, aku mengerti," kataku sambil berdiri. "Aku naik ke atas dulu."

Seharian itu, aku tetap di kamar tamu. Makan siang dan makan malam diantar oleh pelayan ke kamar, aku bahkan tidak turun ke lantai bawah.

Di malam hari, aku berbaring di tempat tidur, tetapi tidak bisa tidur.

Dulu, pada saat seperti ini, Farel akan mendorong pintu masuk tanpa banyak bicara, menindihku dengan tubuhnya, memegangi pinggulku dan memanggilku putri kecil.

Namun, malam ini, koridor terasa sunyi.

Memang, kalau cinta pertamanya sudah kembali, bagaimana mungkin dia akan mengingatku lagi?

Hari berikutnya adalah akhir pekan, Farel tidak pergi ke kantor.

Pukul sepuluh pagi, dia mengetuk pintu kamarku.

"Alisa, malam ini ada pesta. Temani aku."

Aku membuka pintu, Farel sudah mengenakan setelan jas hitam.

"Pesta apa?"

"Pesta lingkaran pertemanan kita."

Sebenarnya, aku tidak ingin sendirian di rumah yang penuh kenangan ini, jadi aku pun mengangguk setuju.

Pukul tujuh malam, mobil Farel berhenti di depan pintu masuk sebuah klub pribadi.

Aku mengikutinya masuk dan menemukan bahwa tempat ini dihias dengan sangat hangat, dipenuhi bunga-bunga dan pita di mana-mana.

Tidak seperti pesta lingkaran bisnis yang pernah aku hadiri sebelumnya.

Sebelum sempat bertanya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara yang familier.

"Kak Farel! Akhirnya kamu datang!"

Nia mengenakan gaun malam putih, melesat ke arahku seperti kupu-kupu.

Ketika dia melihatku, ekspresinya tertegun sejenak, lalu tersenyum manis.

"Kak Alisa juga datang, bagus sekali!"

Aku menoleh ke sekeliling dan melihat spanduk bertuliskan: [Selamat Datang Kembali, Nia].

Ternyata ini adalah pesta penyambutan Nia.

Farel membawaku ke pesta penyambutan Nia.

Aku berbalik hendak pergi, tetapi Nia menahanku.

"Kak Alisa, kamu kenapa? Sakit?" Dia menatapku dengan penuh perhatian. "Aku dengar kamu pindah dari rumah, apa karena aku? Aku benar-benar minta maaf, aku nggak tahu Paman Abbas akan menempatkanku di kamarmu."

Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas oleh orang-orang di sekitar.

Beberapa tamu menatapku dengan rasa ingin tahu yang samar.

"Nggak apa-apa," jawabku. "Cuma masalah kamar."

"Tapi, Paman Abbas bilang, hubungan kalian, hubungan ayah dan anak, sudah putus." Mata Nia berkaca-kaca. "Semua ini karena aku. Kalau aku nggak kembali ...."

"Nia." Aku memotongnya. "Aku sendiri yang memutuskan hubungan dengan Abbas, apa hubungannya denganmu yang orang luar?"

Air matanya menetes, menatap Farel dengan tatapan memelas.

Farel mendekat, awalnya melemparkan pandangan peringatan padaku, lalu dengan lembut berkata kepada Nia, "Jangan menangis, nanti matamu bengkak."

Dia mengeluarkan saputangan, perlahan menyeka air matanya.

Nia tersenyum setelah berhenti menangis, matanya masih basah, berkata, "Kak Farel, kamu baik banget."

Aku berdiri di samping, menyaksikan momen hangat itu.

Hatiku terasa sesak, seperti direndam di dalam es.

Aku berbalik menuju meja minuman, mengambil gelas sampanye, dan meneguk hampir setengahnya sekaligus.

Ternyata Jodoh Selalu di Sampingku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya