Bab 2

Kemudian, tangan-tangan itu mulai bergerak bebas di antara kedua kakiku, memainkan setiap bagian dari kulitku.

Namun, keinginan untuk bertahan hidup membuatku tidak memedulikan hal itu sama sekali.

Akhirnya, aku berhasil diselamatkan ke pinggir kolam. Ini membuat akal sehatku perlahan mulai kembali. Aku selalu menjaga kakiku tetap tertutup rapat, karena bagian bawah celana renangku sudah terlepas.

"Maaf, aku nggak sengaja melepas celana renangmu tadi. Aku akan kembali untuk mencarinya," ujar Theo.

Dengan suara cipratan air, Theo kembali melompat ke dalam air.

Namun, aku mengetahui di dalam hati bahwa ini tidak seperti sebuah kesengajaan, melainkan lebih seperti memanfaatkan situasi. Terutama saat tadi Theo menyentuh area di antara kedua kakiku. Ini seperti sesuatu yang sudah direncanakan sebelumnya.

Hanya saja, dengan banyaknya orang lain di sekitar, aku mulai menikmati perasaan yang tidak seharusnya ini.

Terlebih lagi ketika aku melihat Theo mengeluarkan celana dalamku dari dalam air. Pria itu tampak menaruhnya di hidungnya, lalu mengendusnya dengan penuh nafsu.

Dia tidak akan benar-benar ….

Setelah Theo kembali ke naik, aku akhirnya bisa kembali memakai celana dalamku.

Kemudian, Theo menyuruh kami untuk duduk di tanah, serta mengikutinya untuk melakukan beberapa gerakan pemanasan.

Kami mengikuti contoh yang diberikan Theo. Kami menyatukan jari-jari kaki kami di tanah, lalu melebarkan kaki kami seperti kupu-kupu.

"Gerakan ini bisa melatih otot-otot di kedua sisi paha kita. Ini nggak hanya memungkinkan kita untuk menghasilkan tenaga yang lebih baik saat berenang, tapi juga …."

Theo berhenti sejenak, seolah-olah sedang berpura-pura misterius. Kemudian, dia melanjutkan, "Selain itu, kalau gerakan ini kalian kuasai dengan baik, pacar kalian mungkin akan makin mencintai kalian."

Kata-kata itu jelas merupakan sebuah petunjuk. Semua orang langsung memahami apa maksudnya.

Setelah Theo mendemonstrasikan gerakan tersebut pada kami beberapa kali, dia membiarkan kami berlatih sendiri. Sementara itu, dia mengawasi dari bawah untuk melihat apakah gerakan kami sudah sesuai atau belum.

Seperti yang Theo katakan, setelah melakukan gerakan ini beberapa kali, akar pahaku perlahan-lahan mulai terasa sakit.

Ditambah dengan pakaian yang berulang kali bergesekan dengan paha bagian dalamku, lambat laun aku mulai merasakan sensasi yang berbeda.

Sejujurnya, aku masih muda dan cukup energik sekarang. Ini adalah usia yang tepat untuk mendapatkan nutrisi.

Aku tidak tahu apakah itu karena aku adalah orang yang tidak mudah didekati atau karena hal lain, tetapi aku hampir tidak memiliki teman dekat lawan jenis di sekolah. Jangankan lagi seorang pacar.

Oleh karena itu, memuaskan hasratku sendiri adalah kewajiban yang aku lakukan setiap malam.

Namun, karena aku melakukan hal semacam ini terlalu sering, rasanya ini mulai membosankan. Bahkan setelah hasrat tubuhku terpenuhi, celah di hatiku seakan makin membesar.

Secara bertahap, harapanku agar bisa menemukan seorang pria untuk melepaskan hasratku menjadi makin besar.

Terlebih lagi, akhir-akhir ini aku sedang dalam masa ovulasi. Tubuhku menjadi lebih sensitif. Rangsangan sekecil apa pun bisa membuat tubuhku bereaksi.

Aku duduk di lantai, mengikuti hasrat paling primitif itu. Aku membuka dan menutup kedua kakiku dengan intensitas serta kecepatan yang makin meningkat.

Bahkan pikiranku pun mulai penuh dengan bayangan tentang Theo yang menerkamku di depan umum, dengan kejam menyiksaku di lantai.

"Perlambat gerakanmu. Buatlah gerakan yang lebih baik."

Tanpa peringatan apa pun, Theo meletakkan tangannya di pangkal pahaku, lalu mulai membelai maju mundur di sepanjang garis kakiku.

"Ya, benar begitu. Sedikit lebih lambat …."

"Rentang gerakannya harus sedikit lebih besar, agar gerakannya jadi lebih efektif."

Tangan Theo meluncur tanpa kendali di atas kakiku. Sensasi kasar dan hangat dari telapak tangannya perlahan-lahan menyebar, membuat tubuhku yang sudah sensitif itu jadi makin tak terkendali.

Setiap pori-pori di tubuhku sepertinya telah terbuka. Sensasi penuh kegembiraan yang tak terlukiskan mengalir melalui tubuhku seperti arus listrik.

Pandanganku perlahan-lahan mulai kabur, sementara tatapan mata Theo yang tajam seakan bisa menembus diriku.

Ini adalah pertama kalinya aku berada dalam jarak sedekat itu dengan seorang pria. Wajahku pun mulai merona.

Kelembapan di antara kedua pahaku perlahan-lahan bertambah. Dua gumpalan daging di depan dadaku terasa sesak, sungguh tidak nyaman.

Bab 3

"Bagaimana? Apa kamu merasakannya?" tanya pria itu.

Aku tiba-tiba mendongakkan kepala untuk menatap ke arah Theo yang menyunggingkan senyum di sudut mulutnya.

Dalam benakku, aku merasa dia sepertinya sedang memberi isyarat padaku. Ketika melihat ekspresinya yang licik, aku pun mengangguk sedikit.

"Baguslah …."

Tangan Theo masih menempel di pangkal pahaku. Setelah membelai beberapa kali, tangan itu langsung masuk ke dalam celana dalamku.

Aku langsung tersentak dengan gerakan tanpa peringatan dari Theo. Bulu kuduk di seluruh tubuhku pun langsung meremang.

Setelah menyelipkan tangan ke balik celana dalamku dengan cepat, Theo meraih dan mencubit pantatku. Kemudian, dia menarik tangannya kembali, bangkit berdiri seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia terus memberikan instruksi pada siswa lainnya.

Gerakan tiba-tiba ini membuatku terpaku di tempat.

Sekarang, aku merasa makin yakin bahwa Theo memiliki pemikiran yang tidak seharusnya padaku.

Setelah melakukan pemanasan selama sepuluh menit, Theo menyuruh kami semua masuk ke dalam air untuk mulai berlatih.

Mungkin karena aku sudah berlatih gerakan-gerakan itu dengan sangat terampil, aku jelas lebih terampil daripada siswa lainnya begitu masuk ke dalam air.

Aku bahkan bisa mencoba beberapa gerakan renang lainnya sendirian.

Theo yang berdiri di pinggir menyaksikan semua ini.

Theo berujar, "Kalian semua sudah berlatih dengan baik hari ini. Terutama Serena, yang pantas mendapatkan pujian khusus!"

"Serena cukup berbakat dalam berenang. Kamu bisa tinggal sebentar, aku akan memberikan beberapa pelajaran tambahan untukmu," lanjut Theo.

Ketika mendengar ini, aku langsung merasa terkejut.

Ditambah dengan "perhatian khusus" dari Theo padaku sebelumnya, aku memahami dengan sangat jelas bahwa "pelajaran tambahan" ini bukan dengan niat baik.

Murid-murid yang lain juga sepertinya bisa menyadari hal ini. Ketika mereka pergi, mereka semua melemparkan pandangan iri ke arahku. Bahkan ada sedikit kilat rasa cemburu di mata mereka.

Setelah kelas selesai, kolam renang akhirnya kosong. Hanya ada aku dan Theo saja di sana.

Pria itu sepertinya sudah tidak sabaran. Dia menarik tanganku, mengajakku masuk ke dalam air.

Kali ini, Theo menuntunku langsung ke bagian kolam yang dalam.

Namun, perasaan hampir tenggelam di area kolam yang dalam tadi masih membekas di benakku, membuatku merasa sedikit takut. Jadi, seluruh tubuhku bersandar erat pada tubuh Theo.

"Nggak apa-apa. Serena, kamu nggak perlu gugup. Sebenarnya, kolam yang dalam dan yang dangkal itu sama saja. Kamu bisa belajar lebih cepat di kolam yang dalam," jelas Theo.

Aku mencoba mengatasi rasa takut di hatiku, perlahan-lahan berenang ke kolam yang dalam.

"Ya, benar begitu. Rilekskan saja tubuhmu, lalu ayunkan kedua kakimu secara perlahan," ucap Theo.

Di bawah kata-kata bimbingan dari Theo, aku mendapati diriku bisa mengambang di dalam air.

Perasaan ini membuatku merasa terkejut sekaligus senang. Theo juga berada di sampingku setiap saat untuk melindungiku, agar tidak terjadi apa-apa padaku.

Tanpa aku sadari, Theo sudah meletakkan salah satu tangannya di pinggang dan perutku, sementara tangan lainnya menopang pahaku.

Ketika aku menatapnya, aku menyadari bahwa mata pria itu menatap lurus ke arah dadaku.

Karena aku mengenakan pakaian renang yang terbuka, serta karena bentuk tubuhku yang cukup indah, lekukan di depan dadaku bisa terlihat dengan sangat jelas.

Meskipun sudah ketahuan olehku, Theo masih tidak memalingkan pandangannya. Tingkahnya bahkan makin tidak terkendali. Matanya yang membara seakan menusuk ke dalam diriku.

Meskipun aku berada di dalam air yang sejuk, aku masih merasakan hawa panas di sekujur tubuhku.

Entah sejak kapan, sepasang tangan besar Theo menyentuh pusarku, bergerak ke bawah di sepanjang perutku.

Theo tiba-tiba bertanya, "Serena, kamu nggak punya pacar, ya? Kamu pasti sangat menginginkannya …."

Theo mencondongkan tubuh ke telingaku sambil berbisik. Pada detik berikutnya, dia langsung menggigit daun telingaku.

Pada saat yang sama, tali baju renangku terlepas. Sementara itu, ada sepasang tangan yang mencoba bergerak maju mundur beberapa kali sebelum mengusap dadaku.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B44991" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B44991
Salin

Ternyata Jatuh Keperangkap Pelatihku

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya