Bab 2

Aku mengangkat kepalaku dan melihat wajah Hani yang arogan.

Rasa sakit yang menusuk jantung menjalar dari punggung tanganku, sementara kakinya terus menginjak dengan kuat.

Orang-orang di sekitar berteriak kaget.

“Biarpun kubuang benda yang pernah kupakai, orang lain juga jangan berharap bisa memilikinya.”

Saat aku menggumpalkan tanganku dan berniat untuk berbicara, tiba-tiba terdengar suara yang kuat.

“Baik.”

Aku menoleh ke arah suara dengan kaget.

Josua yang berada di samping Hani menundukkan kepalanya dan menatapku dengan penuh rasa bersalah, lalu cincin itu ditendang ke dalam danau buatan di samping tanpa ragu.

Bagaikan meteor yang menyambar, cincin itu menghilang dalam sekejap mata.

Aku menatap ke arah hilangnya cincin itu lumayan lama.

Dulu, Josua sangat menghargainya dan tidak memperbolehkan orang lain menyentuh cincin tersebut. Dia diam-diam membawa cincin itu melintasi tujuh negara dan melamarku di bawah aurora.

Kini dia menendangnya seperti sampah.

Hani sangat senang dan merangkul leher Josua.

“Josua, kau jangan salahkan aku. Kau tahu ‘kan? Aku nggak suka barangku kena bau orang lain.”

Josua pun menjawabnya dengan penuh kasih.

Hani berpaling dan baru sadar bahwa aku masih berada di lantai.. Dia lalu berkata dengan kaget, “Nona Neti, kenapa kau masih duduk di lantai? Maafkan aku ya. Kau pengantin hari ini, tapi aku malah menghilangkan cincinmu, gimana kalau ..."

Hani menoleh dan mengambil kaleng yang dia temukan di samping.

“Jadikan tutup kaleng ini sebagai cincin pernikahanmu. Astaga, ini seperti skenario dalam drama. Membayangkannya saja sudah romantis sekali.”

Aku berdiri dan mengambil kalengnya dengan wajah pucat. Setelah kubuka tutup kalengnya, amarah di hatiku terus membara ketika melihat wajah Hani yang penuh senyuman sindir.

Saat aku hendak menyiram Hani dengan air kaleng, Josua berdiri di depan Hani dan para pengiring pria merenggut tanganku.

Teriakan Josua beserta bujukan orang di sekitar muncul bersamaan.

“Neti! Kau gila?”

“Jangan ambil hati sama anak kecil. Kau ‘kan tahu kondisinya agak spesial. Dia nggak bermaksud jahat, cuma pikirannya agak idealis.”

“Betul, betul. Hari ini kau adalah pengantin. Jangan bersikap kasar di hari yang bahagia ini.”

Tubuhku yang meronta tiba-tiba kaku dan sedih melandaku.

Josua menghampiriku, lalu merampas kaleng dan melemparkannya ke samping sambil membentakku, “Bolehkah kau jangan buat onar lagi? Kalau nggak mau nikah ya nggak usah! Apa kau hebat menganiaya orang yang hilang ingatan?”

“Sebelumnya aku benar-benar salah menilaimu. Kau kok sekejam gini?”

“Cepat minta maaf sama Hani!”

Aku memegang pergelangan tanganku dan berdiri tanpa daya. Rasa sakit di tangan tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku. Melihat semua orang memperhatikan Hani, aku akhirnya melarikan diri.

Saat aku bereskan emosiku dan kembali ke ruang ganti, aku melihat Josua dan Hani duduk berpelukan di sofa. Jejak merah di sudut bibir mengisahkan segalanya.

Aku mendengar Hani bertanya dengan bingung, “Josua, kenapa nggak kelihatan pengantin prianya? Apa Nona Neti tiba-tiba diputuskan oleh pasangannya?”

Mendengar ini, aku menghentikan langkahku dan tanganku yang mencengkram pintu perlahan mengencang. Aku terus memelototi Josua dan bergumam dalam hati, ‘Ini kesempatan terakhir kali. Josua, kau jangan membuatku kecewa. Asalkan kau mengaku bahwa kaulah pengantin pria hari ini, aku bakal melupakan segalanya. Aku bakal menikah denganmu dengan senang hati.’

Josua sadar akan tatapanku yang panas dan langsung mengangkat kepalanya.

Oleh karena tidak mendapatkan jawaban, Hani menggigit bibir Josua dengan kesal dan berkata, “Jawab pertanyaanku Josua.”

Di bawah tatapan Josua, aku terus menggelengkan kepalaku, memandangnya dengan tatapan mohon dan terus bergumam tanpa suara, “Jangan jawab. Asalkan kau nggak jawab …”

Bibir Josua bergetar dan pada akhirnya dia menghindari pandanganku, lalu menundukkan kepalanya dan menatap Hani dengan penuh manja.

“Hani, kau kenal sama pengantin prianya.”

“Aku kenal? Siapa?”

“Sarno Susanto.”

Bab 3

Mendengar ini, aku menundukkan kepalaku dan menertawakan diriku sendiri.

Ternyata Sarno, orang yang pernah memakiku sebagai perempuan materialistik palsu di depan umum adalah pengantin priaku. Sekalipun berbohong, Josua juga tidak membiarkanku mengakhiri pernikahan ini dengan bermartabat.

Mendengar nama ini, Hani terkejut kemudian mulai memencet ponselnya. Sebelum Josua sempat bereaksi, Hani sudah meneleponnya.

“Bang Sarno, hari ini adalah hari pernikahanmu. Kenapa kau belum datang?”

“Betul, kami semua di Gedung Bingga.”

Hani tiba-tiba bersemangat dan mulai memanggil semua tamu untuk berkumpul di aula. Sementara itu, kaki dan tanganku mulai mendingin, seolah-olah darahku berhenti bersikulasi.

Teleponku terus berdering hingga akhirnya kuangkat dengan bengong.

“Neti?”

Suaranya bagaikan setan yang membuatku ingin membuang ponselku.

“Cobalah kalau kau berani menutup teleponku.”

Aku menanggapinya dengan nada rendah dan suasana hati yang tertekan.

Terdengar ejekan dari sisi lain, “Aku kira aku nggak bakal ketemu kau lagi setelah menolak menjadi pengiring pria Josua.”

“Aku dengar aku adalah pengantin pria hari ini?”

“Kenapa? Apa kau lupa hubungi aku?”

Aku menggosok noda di gaunku dan menjawab dengan suara serak, “Kau jangan ikut campur.”

Setelah diam sejenak, terdengar suara yang sangat dingin, “Huh.”

Setelah lama berada di kamar mandi, aku menopang kakiku yang kaku untuk berdiri. Darah di seluruh tubuhku mulai menghangat.

Saat aku buka pintu, ada bayangan yang melintas di hadapanku.

Dia adalah pengantin priaku.

Josua menatapku dengan wajah muram dan berkata, “Tadi kau telepon dengan siapa?”

Aku tidak meladeninya, melainkan berjalan memutarinya.

Josua tiba-tiba menarik tanganku dan tanpa sengaja menekan luka injakan tadi, sehingga lukaku bertambah sakit.

“Jawab pertanyaanku!” Josua tiba-tiba berteriak.

Aku mendongak dan tidak mau kalah, “Kau yang bilang bahwa Sarnolah pengantin priaku. Gimana? Apa kau secepat itu lupa akan apa yang kau katakan?”

Wajah Josua jadi muram dan pelan-pelan menghindari tatapanku.

“Neti, aku cuma asal ngomong.”

Ucapan manisnya penuh dengan makna menghibur.

“Kalau gitu, apa Sarno bakal datang?”

Rasa pedih yang mengganjal di dada terus naik ke tenggorokan dan mataku yang menatapnya perlahan berkaca-kaca. Akhirnya aku berkata dengan nada yang serak, “Josua, kau cuma ingin dengar gimana Sarno menhinaku, ‘kan?”

“Kau bilang sama Hani bahwa Sarno adalah pengantin priaku karena kau tahu Sarno nggak bakal datang. Karena dulu aku mengkhianatinya demimu. Karena dia pernah bilang bahwa aku adalah wanita nggak becus di depan umum. Dia sangat membenciku!”

“Kau nggak mau menyakiti Hani, tapi malah menyakitiku. Aku hanya ingin mengakhiri pernikahan tanpa pengantin pria ini, tapi kau pun tak mengizinkannya. Kau lebih memilih aku ditertawakan oleh semua orang.”

“Dia sama sekali nggak peduli!”

“Gimana? Apa kau puas?”

Mendengar ini, Josua tampak senang. Dia mengabaikan histeriaku, lalu memelukku dan mengusap air mataku dengan lembut.

“Sarno marah padamu? Kau segitu emosi?”

“Hanya aku yang bisa menoleransi perilakumu yang nggak masuk akal.”

Setelah selesai berbicara, Josua ingin mengusap heningku, tetapi aku memalingkan kepalaku.

“Ini semua salahku. Kelak aku akan membayarmu.”

“Neti yang baik, setelah selesai nanti, aku akan pulang mencarimu. Semuanya akan berakhir. Percayalah padaku, oke?”

Aku mengedipkan mataku dan menahan air mataku. Teringat akan tampakku yang memohonnya dengan rendah hati, aku berusaha berkata dengan datar, “Josua, nggak ada kelak lagi.”

“Aku mau putus denganmu.”

Josua mengerutkan alisnya, tatapannya penuh dengan kesal dan keacuhan, seolah-olah aku yang bersikap tidak masuk akal.

“Sudahlah, Neti.”

“Apa yang bisa kau lakukan setelah putus denganku?”

“Apa kau lupa sebelumnya kau bilang bakal melahirkan dua anak dan menjadi seorang ibu dan istri yang baik? Kalau kau putus denganku, apa yang bisa kau lakukan?”

Mendengar ini, aku tercengang.

Betul, aku meninggalkan Grup Susanto di saat kritis proyek dan menyerahkan segalanya demi Josua. Ini semua karena dia bilang bahwa Keluarga Hutapa memerlukan seorang istri yang bisa mengurus rumah dengan baik. Bisa-bisanya ini menjadi alasan dia untuk mengontrolku.

Sebelum Josua pergi, aku menarik lengan bajunya dan menekankan, “Josua, aku serius.”

Wajah Josua tampak muram, kesabarannya habis dan dia mencungkil jari-jariku satu demi satu dengan tegas, “Neti, kau terlalu nakal.”

“Kebetulan Hani perlu waktu setahun untuk memulihkan ingatannya. Mulai hari ini, kita nggak usah ketemu dalam setahun ini. Dia nggak tahan sama rangsangan.”

“Setelah setahun, aku akan pertimbangkan kembali apakah kau layak jadi seorang istri. Semoga kau nggak mengecewakanku.”

Di bawah ajakan Hani, semua orang berkumpul di aula. Melihatku kemari, mata Hani penuh dengan cahaya jahat.

“Nona Neti, akhirnya kau muncul.”

“Mana pengantin prianya? Kenapa belum datang?”

“Astaga! Jangan-jangan kau diputuskan pada hari pernikahan ini.”

Mendengar ini, para tamu mulai berbisik-bisik, “Pengantin prianya ‘kan Tuan Keluarga Hutapa? Orang yang di atas pentas adalah …”

“Jangan-jangan dia adalah anak haram Tuan Hutapa.”

“Pengantin pria lama tak junjung datang, apa dia beneran membatalkan pernikahan ini?”

Hani meraih lengan Josua dan berjalan ke arahku dengan tatapan sombong.

Saat aku ingin mengumumkan pembatalan pernikahan, sebuah lengan yang kekar melingkari bahuku. Tiba-tiba ada yang teriak dari kerumunan.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B10908" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B10908
Salin

Terima Kasih, Mantan!

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya