Bab 2
Setelah pulang ke rumah, suamiku masih menunggu aku memasak. Padahal aku sudah merasa sangat lelah.
Saat memasak bubur, pikiranku sudah melayang ke tiga hari ke depan. Setelah menyusui anak, menidurkannya dan akhirnya baru bisa punya waktu sendiri.
Aku pun mandi sendirian. Rumah kami punya dua kamar tidur dan satu ruang kerja kecil. Suamiku lebih memilih tidur di ruang kerja daripada kembali ke kamar utama.
Sejak aku hamil, dia sudah mulai tidur di kamar terpisah, katanya demi kebaikan bayi.
Namun, aku tahu alasannya bukan itu, dia sudah kehilangan ketertarikan padaku. Air dari shower mengalir perlahan melewati tubuhku. Saat menyentuh putingku, tanpa sadar aku bergetar pelan. Tanganku reflek menirukan teknik pijatan terapis tadi dan entah kenapa itu sedikit menghiburku.
Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Kali ini aku pergi sendirian. Ruangan pijat dan orangnya masih sama.
Dengan luwes aku melepaskan pakaian dan berbaring di atas ranjang pijat. Suara terapis masih selembut dulu, dipadu dengan wajahnya yang tenang dan berwibawa, membuat jantungku perlahan berdebar semakin cepat.
“Kali ini kita akan masuk ke tahap berikutnya, sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk pelan dan menutup mata, mencoba rileks.
Terapis menggenggam lembut bagian tubuhku yang lunak. Telapak tangannya sangat hangat, membuatku merasa seolah melayang di atas awan. Sentuhannya menekan lembut lalu perlahan melepaskan, disusul gerakan naik turun yang teratur. Tanpa melihat pun, aku tahu bagian tubuhku bergelombang seperti riak air yang dipermainkan angin.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar terapis memanggil namaku. Belum sempat menjawab, aku sudah mendengar dia berkata, “Kamu tertidur, ya?”
Aku bisa merasakan hembusan napasnya mengenai buah dada lembutku. Entah kenapa, aku tak menjawabnya. Dalam hati, aku justru seperti sedang menantikan sesuatu.
Awalnya, dia mendekat dan mencium perlahan. Lalu ujung lidahnya yang lembap menyentuh sisi kiri payudaraku.
“Lembut dan halus sekali,” gumamnya pelan, terdengar begitu puas. Tubuhku langsung bereaksi, muncul sensasi aneh yang sulit dijelaskan.
Aku tak ingin membuka mata, memilih pura-pura tidur dan berharap dia melangkah lebih jauh. Lidahnya mulai bergerak memutar di sekitar buah dadaku, perlahan naik hingga menyentuh bagian puncaknya. Aku bisa merasakan ASI mulai keluar, membuatku mengeluarkan suara lirih. Tapi, aku tetap memejamkan mata.
Gerakannya sempat terhenti saat mendengar suaraku, tapi karena melihatku tak bereaksi, dia kembali melanjutkan. Kali ini, mulutnya menyedot kuat, menutupi hampir seluruh puting. Rasanya sangat berbeda dengan saat menyusui anakku.
Aku menginginkannya lebih jauh lagi, tapi tiba-tiba dia berhenti. Tidak ada gerakan lanjutan. Aku membuka mata sedikit dan melihatnya menatapku dengan senyuman yang sulit diartikan.
“Bu Lily, sesi pijat hari ini cukup sampai di sini. Kita sudah berhasil setengah jalan. Sesi berikutnya dijadwalkan dua hari lagi.”
Aku merasa pipiku sedikit panas, “Terima kasih Pak Jason.”
Kemudian, aku cepat-cepat membereskan pakaianku, seolah ingin melarikan diri dari ruangan itu.
Sinar matahari sore tidak lagi menyengat. Sinar-sinar lembut menembus sela-sela dedaunan. Langkahku terasa ringan saat berjalan pulang ke rumah.
Begitu membuka pintu, suara ibu mertua langsung menyambut dengan sindiran pedas, “Tak hanya melahirkan anak perempuan, sekarang bahkan ASI saja nggak ada, asik minum susu formula terus-terusan, emangnya uang Indra itu dipetik dari pohon?”
Sudah muak mendengar ocehannya, aku pun membalas, “Bella itu segalanya bagiku, dia pantas dapat yang terbaik. Lagipula, aku sudah berusaha keras supaya ASI-ku bisa lebih banyak.”
Namun, ibu mertua masih belum puas dan membantah, “Anak perempuan itu hanya perlu makan seadanya saja, yang penting nggak mati kelaparan. Nggak perlu sok-sokan butuh gizi segala.”
Aku malas menanggapinya, segera menggendong putriku dan masuk ke kamar. Tanpa sadar, air mata sudah membasahi pipiku.
Perasaan benciku pada ibu mertua semakin menjadi-jadi. Suami yang sekarang enggan tidur sekamar denganku, aku curiga jangan-jangan juga karena hasutan ibunya.
Menatap wajah polos putriku yang sedang tertidur, pikiranku mulai kembali ke semua yang sudah kulakukan belakangan ini.
Setelah merenung, akhirnya aku memutuskan untuk tidak pergi lagi ke tempat pijat itu. ASI-ku sekarang sudah jauh lebih banyak. Lebih baik aku fokus di rumah untuk menemani putriku.
Bab 3
Setelah kejadian di tempat pijat, aku diliputi rasa bersalah yang besar pada suamiku. Aku pun memutuskan untuk tidak pernah menemui terapis itu lagi.
Aku mulai berusaha memperbaiki hubungan kami. Dulu waktu kuliah, kami sangat saling mencintai dan hubungan kami pun sangat manis.
Waktu itu, dia tinggi, kurus, selalu terlihat bersih dan rapi. Setiap kali kami jalan berdua, dia selalu menggandeng tanganku dan berjalan di depan, membiarkan angin malam meniup aroma segarnya ke arahku. Saat-saat itu, aku merasa sangat bahagia.
Terkadang dia menoleh dan tersenyum padaku. Melihat senyumannya, hatiku pun luluh.
Namun kini pikiranku kembali ke kenyataan, kenapa hubungan kami bisa berubah sampai sejauh ini?
Aku menggendong putriku, berjalan pelan-pelan di ruang tamu untuk menidurkannya. Hari ini hari jumat, aku mengirim pesan pada suamiku, memintanya untuk pulang lebih awal. Aku sudah menyiapkan makan malam romantis di rumah. Tapi, dia tak membalasnya.
Pukul sembilan malam, akhirnya dia pulang. Begitu masuk, dia tampak pura-pura terkejut, “Wah, kok spesial sekali? Hari ini juga bukan hari penting. Kamu mengurus anak di rumah saja sudah cukup, nggak perlu repot-repot begini.”
Aku mendengarkannya tanpa menanggapi sepatah kata pun. Melihat aku diam, akhirnya dia pun berhenti bicara dan menggaruk hidungnya, mungkin karena merasa canggung.
Aku pun berkata pelan, “Baru pulang? Cepat mandi dan tidur saja.”
Dia benar-benar langsung masuk ke kamar mandi. Sementara itu, aku mengambil baju kotor dari keranjang pakaian dan memasukkannya ke mesin cuci. Saat duduk di sofa, tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor asing, isi pesannya adalah foto suamiku sedang di ranjang bersama wanita lain.
Darahku seperti berhenti mengalir, jantungku berdebar keras dan rasa sedih yang luar biasa menghantamku.
Ternyata begini caraku mengetahui bahwa suamiku selingkuh. Bukan dengan ketahuan di kamar hotel, bukan dengan bekas lipstik di baju, tapi lewat sebuah pesan.
Aku membalas pesan itu dan mengusulkan untuk bertemu besok. Orang itu pun setuju.
Malam itu, kami tetap tidur di kamar terpisah. Aku tak bisa tidur, gelisah dan terus membolak-balik tubuh di ranjang. Aku mengenakan lingerie yang agak sexy, berniat mengetuk pintu kamarnya.
Saat aku perlahan membuka sedikit celah pintu, suara erangan pelan darinya langsung terdengar.
Aku menatap adegan di depan mataku dengan penuh ketidakpercayaan. Dengan tubuh telanjang, suamiku duduk di depan komputer sambil memakai earphone. Di layar, tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat mempesona.
Perkiraanku, usianya sekitar lima puluh tahunan. Di layar, dia sedang mengelus bagian dadanya sendiri, sementara kakinya terbuka lebar. Adegan itu sungguh mengejutkan dan mengguncang. Aku menahan napas, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Dalam hati aku ingin menerobos masuk dan memakinya habis-habisan. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku hanya menutup kembali pintunya.
Setelah kembali ke kamar, aku hanya bisa berbaring diam sepanjang malam.
Keesokan paginya, aku menemui pengirim pesan itu. Ternyata dia adalah wanita yang kulihat di layar komputer suamiku semalam.
“Halo, aku tahu siapa kamu. Kamu istrinya Indra sekarang, ‘kan? Aku adalah perempuan pertama yang dia cintai.”
Perempuan itu berbicara dengan tenang, lalu menyeruput kopi. Aku menahan amarah dan berkata, “Kenapa kamu datang merusak keluargaku? Aku baru saja melahirkan putri kami sebulan lalu. Kamu nggak punya hati nurani? Nggak tahu malu?”
Dia tertawa pelan, “Kamu juga lihat sendiri, aku sudah tidak muda lagi. Aku lebih tua dari dia lebih dari dua puluh tahun, tapi dia tetap memilihku. Dia menikah denganmu hanya untuk memberikan cucu pada ibunya. Jadi, jangan terlalu naif, adik manis.”
Tiba-tiba, aku merasa sangat muak, “Kalian benar-benar nggak tahu malu. Kalau kamu mau pria menjijikkan itu, ambil saja! Aku nggak sudi melihat kalian lagi.”
Aku mengambil tas dan berbalik pergi. Saat tiba di rumah, meski melihat dekorasi yang hangat dan nyaman, aku sama sekali tidak merasakan kehangatan apapun.
Lalu, suara nyaring yang menusuk telinga itu kembali terdengar, “Pagi-pagi sudah ke mana saja? Hanya bisa titipkan anak ke aku saja!”
Aku menatap wajah ibu mertua yang begitu mirip dengan suamiku, lalu tak tahan lagi dan berlari ke kamar mandi, muntah sejadi-jadinya.
Ibu mertua menyusul dengan ekspresi penuh semangat dan berkata senang, “Lily, jangan-jangan kamu hamil lagi? Semoga kali ini diberikan adik laki-laki untuk Bella.”
Aku langsung memotong ucapannya, “Baru sebulan lebih yang lalu aku melahirkan Bella, mana mungkin hamil lagi.”
Lagipula, aku dan Indra sudah tidak mungkin punya anak lagi. Tapi, dia tetap saja senang dan berkata, “Belum tentu! Dokter bilang pemulihanmu sangat bagus, ‘kan? Lagipula, masa-masa begini memang paling mudah hamil. Neneknya Indra juga dulu melahirkan tantenya Indra di saat-saat seperti ini.”
Aku malas meladeninya dan langsung membanting pintu keluar. Samar-samar masih terdengar suara omelannya dari belakang. Tanpa sadar, kakiku malah membawaku kembali ke tempat pijat itu.