Bab 1

Ketika suamiku datang ke tempat pemulihan pasca persalinan untuk menemaniku, terapis pasca persalinan yang selalu tidak banyak bicara tiba-tiba menjadi antusias dan bersemangat.

Awalnya, dia memuji suamiku yang tinggi dan tampan. Dia masih muda, tetapi sudah menjadi manajer umum perusahaan.

Kemudian, dia berasumsi bahwa aku bisa menikah dengan orang kaya dengan mengandalkan operasi plastik yang aku lakukan.

Ketika dia melakukan pijat laktasi kepadaku, dia juga menasihatiku bahwa aku tidak bisa memberikan asi kepada anakku karena aku menggunakan implan di payudara, karena itu tidak baik untuk bayi.

Aku terlalu malas untuk meladeninya, jadi berdiskusi dengan suamiku tentang nama anak kami nanti.

Suamiku mengatakan bahwa ini adalah anak pertama kami, jadi dia harus memikirkannya dengan baik.

Namun, terapis pasca persalinan berseru, "Ah, Kak, bukankah sebelum ini kamu sudah pernah melahirkan?"

Ketika suamiku datang ke tempat pemulihan pasca persalinan untuk menemaniku, terapis pasca persalinan yang selalu tidak banyak bicara tiba-tiba menjadi antusias dan bersemangat.

Awalnya, dia memuji suamiku yang tinggi dan tampan. Dia masih muda, tetapi sudah menjadi manajer umum perusahaan.

Kemudian, dia berasumsi bahwa aku bisa menikah dengan orang kaya dengan mengandalkan operasi plastik yang aku lakukan.

Ketika dia melakukan pijat laktasi kepadaku, dia juga menasihatiku bahwa aku tidak bisa memberikan asi kepada anakku karena aku menggunakan implan di payudara, karena itu tidak baik untuk bayi.

Aku terlalu malas untuk meladeninya, jadi berdiskusi dengan suamiku tentang nama anak kami nanti.

Suamiku mengatakan bahwa ini adalah anak pertama kami, jadi dia harus memikirkannya dengan baik.

Namun, terapis pasca persalinan berseru, "Ah, Kak, bukankah sebelum ini kamu sudah pernah melahirkan?"

...

Sahabatku yang bernama Intan membuka tempat pemulihan pasca persalinan dan menghabiskan banyak uang untuk mempekerjakan terapis pasca persalinan. Dia mengatakan bahwa terapis pasca persalinan yang bernama Tiara adalah orang yang baik hati, manis dan sangat terampil.

Untuk meramaikan bisnisnya, aku memesan satu ruangan di tempat pemulihan pasca persalinan yang dikelola oleh Intan.

Awalnya, suamiku berjanji akan menemaniku ketika aku melahirkan anak kami.

Namun, ketika usia kehamilanku memasuki 37 minggu, suamiku pergi ke luar negeri untuk mengurus proyek penting dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di sana.

Dalam panggilan video, suamiku menangis. "Valeri, aku ingin kembali sekarang juga. Kenapa aku nggak bisa nemenin kamu di saat penting begini?"

Aku tersenyum dan menghiburnya, "Sayang, aku baik-baik saja. Aku hanya melahirkan, apalagi ada orang tuaku yang menemaniku, jangan khawatir."

Pada hari ketiga setelah melahirkan, aku dipindahkan ke tempat pemulihan pasca persalinan milik Intan.

Intan sedang berada di luar kota untuk melakukan riset pasar, jadi salah satu terapis terbaik di tempat pemulihan pasca persalinan yang menyambut kedatanganku.

Saat pertama kali mendengar kalau aku adalah teman bosnya, terapis itu tersenyum cerah, dengan antusias mengatur ruangan untukku dan memperkenalkan layanan yang ada.

Setelah melihat ayahku mengenakan celana panjang pantai dan ibuku mengenakan pakaian linen polos saat menemaniku, senyum terapis itu langsung memudar. Dia bahkan terkesan acuh saat aku menanyakan beberapa masalah yang aku hadapi.

Setelah orang tuaku pergi, aku mencoba untuk mengatur rencana pemulihan setelah melahirkan. Namun, terapis itu menjawab dengan tidak sabar, "Kak, layanan ini sudah penuh untuk hari ini, jadi aku nggak punya waktu untuk melayanimu."

Setelah itu, dia pergi dan meninggalkanku sendirian.

Selama dua hari berturut-turut, aku bertanya kepadanya kapan dia akan mengatur jadwal untukku. Namun, dia begitu acuh dan tidak sabar saat menghadapiku.

Setelah diabaikan selama hampir empat hari, aku mulai kesal. Hari ini, ketika aku ingin mendapatkan jawaban pasti darinya, dia tiba-tiba tersenyum cerah, bahkan nada bicaranya berubah menjadi sedikit manja.

Aku sedikit bingung, tiba-tiba suara seksi suamiku terdengar, "Valeri, aku pulang."

Suamiku, Dirga, berdiri di depan pintu dengan setelan jas mewah berwarna abu-abu perak.

Sinar matahari menyinari sosoknya melalui kaca, menambah aura elegan dan misterius dalam dirinya. Dia seperti bunga yang sedang mekar sempurna, menunggu untuk dipetik.

Detik berikutnya, bibir Dirga mendarat di keningku. "Sayang, kamu pasti sangat menderita dalam beberapa hari ini."

Aku baru akan mengomel tentang sikap arogan dan kasar terapis yang bertanggung jawab atas diriku, tiba-tiba terapis itu menghampiriku dengan sikap antusias, memeriksa kondisi tubuhku.

"Kak, aku akan memeriksa kondisimu, baru nanti kita jadwalkan layanan pemulihan pasca persalinan yang akan disesuaikan dengan kebutuhanmu nanti."

"Aku sendiri yang akan melakukan dua kali program laktasi untukmu. Kamu bisa memanggilku Tiara."

Ternyata namanya Tiara, terapis pasca persalinan yang sangat ingin dipekerjakan oleh Intan.

Mengingat penghargaan Intan yang begitu tinggi terhadapnya, aku menganggukkan kepala tanda setuju dan memintanya untuk melakukan pemeriksaan dan pengecekan pada tubuhku.

Ketika memeriksa kondisiku, Tiara juga mengamati Dirga, secara sadar mencari topik pembicaraan dengan Dirga.

Kening Dirga menunjukkan kelelahan, tetapi dia menanggapi dengan sopan.

Melihatku menatapnya dengan penuh curiga, Tiara tersenyum canggung. "Kak, suamimu tampan sekali."

"Kak, buka bajumu. Aku ingin memeriksa kondisimu dengan lebih teliti."

Tanpa memberiku waktu untuk bereaksi, Tiara langsung membuka bajuku, mengabaikan fakta bahwa pintu kamar masih terbuka lebar.

Aku sedikit tidak senang, tetapi masih menahan diri ketika teringat bahwa tempat ini milik Intan.

Tiara mulai meraba-raba tubuhku dan berbincang denganku, "Kak, apa suamimu pimpinan di sebuah perusahaan? Dia tampan dan berwibawa."

"Apa pekerjaannya?"

Aku mengangguk tidak sabar, "Dia manajer umum di sebuah perusahaan."

Tiara berkata dengan penuh semangat, "Kak, kamu beruntung sekali."

Setelah mengatakan itu, Tiara dengan kasar memelintir daging lembut di dadaku. Aku menjerit kesakitan dan langsung duduk, mendorongnya menjauh. "Apa yang kamu lakukan?"

Bab 2

Tiara panik dan mengalihkan pandangannya dari Dirga.

Aku mengikuti tatapannya di saat yang tepat, kebetulan melihat sosok Dirga yang sempurna dan jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangannya.

Tiara langsung tersipu malu. "Ah, maaf ya, aku sudah menyakitimu."

"Tapi, Kak, biasanya perempuan yang menggunakan implan payudara saja yang merasakan sakit."

Aku mengabaikannya karena terlalu jengah.

Aku tidak menyangka dia akan memperkeruh suasana. "Sungguh, Kak. Kamu sudah melakukan operasi di seluruh tubuhmu, kamu pasti sudah mengeluarkan biaya yang nggak sedikit, 'kan?"

"Berapa banyak yang kamu habiskan untuk membuat tubuhmu bisa membuat suamimu tertarik?"

Aku sangat marah dan menepis tangannya, lalu bertanya, "Apa maksudmu?"

Mendengar itu, Dirga bergegas masuk dan menanyakan apa yang sedang terjadi.

Tiara langsung merengek, "Nggak apa-apa, kok. Aku cuma mau bilang kalau Kakak sangat beruntung."

"Nggak cuma tampan, suaminya juga kaya raya."

"Kakak bertanggung jawab untuk tampil cantik sempurna. Bagaimanapun, ada laki-laki yang akan memberimu uang."

"Nggak seperti aku. Aku harus mencari uang sendiri untuk menghidupi diriku sendiri."

Aku kemudian sadar, ternyata Tiara cemburu dengan suamiku yang tampan dan kaya.

Aku merasa agak konyol.

Aku tidak bergantung pada seorang pria untuk menghidupi ku. Uang keluargaku tidak akan habis dalam dua kali keturunan.

Orang tuaku sudah pensiun dan menyerahkan perusahaan ke tanganku. Mereka berdua menanam bunga dan tanaman untuk menghabiskan waktu luang agar tidak bosan.

Jadi, karena itulah mereka berpakaian santai.

Aku menyembunyikan identitasku dan mempekerjakan Dirga sebagai manajer profesional untuk membantuku mengelola bisnis.

Jadi, Dirga tidak pernah tahu keadaan keluarga kami yang sebenarnya.

Namun, hal ini juga tidak bisa menjadikan alasan bagi Tiara untuk menilaiku secara terang-terangan atau di dalam hatinya.

Dirasa tidak ada yang salah, Dirga pun kembali ke luar untuk istirahat di sofa.

Aku terdiam sejenak, lalu berkata kepadanya, "Jangan bicara omong kosong seperti itu. Kalau kamu nggak mau melayaniku, ganti orang lain saja."

Tiara terdiam selama beberapa saat, lalu berkata, "Kak, maaf, aku akan lebih hati-hati mulai sekarang."

"Setelah pengecekan selesai, kamu bisa istirahat. Aku akan memijat asimu setengah jam lagi."

Setengah jam kemudian, Tiara berganti pakaian kerja. Tidak seperti baju lengan pendek dan celana panjang yang baru saja dia kenakan, kali ini dia mengenakan rompi tanpa lengan dan rok super pendek berwarna merah muda.

Lekukan tubuhnya di bagian dada cukup dalam, bahkan tubuhnya cukup berisi di bagian tertentu. Dia memiliki tubuh yang awet muda dan indah.

Melihat tatapan selidik dariku dan Dirga, Tiara berkata dengan malu-malu, "Kak, layanan kali ini cukup berat dan aku takut kepanasan. Jadi, aku ganti baju biar nggak panas. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

Jelas-jelas ada AC di ruangan ini. Apa dia masih perlu pakai pakaian seminim itu biar tidak panas?

Namun, begitu aku berpikir bahwa itu adalah pakaian kerja, aku menghilangkan keraguanku dan menganggukkan kepala agar dia memulai tindakan.

Keterampilan Tiara sangat bagus, rasa sakit di payudaraku yang awalnya begitu tak tertahankan karena payudara yang tersumbat, perlahan-lahan berkurang di bawah perawatan pijatannya.

Namun, perlahan aku merasa ada yang tidak beres.

Payudaraku menjadi lebih sakit dari sebelumnya, nyeri dan bengkak. Rasanya sangat menyakitkan sampai aku tidak tahan.

Aku langsung minta berhenti.

Dirga mendengar teriakan kesakitanku dan langsung berlari masuk ke dalam.

Ketika melihat Dirga, Tiara menggigit bibirnya dengan gemas dan berkata, "Kak, aku sudah bilang kalau pakai implan payudara pasti bakal sakit."

Aku menatap payudaraku yang semula putih, sekarang menjadi merah dan bengkak.

"Tapi aku serius. Kamu melakukan implan payudara, jadi nggak dianjurkan untuk menyusui anakmu. Bagaimanapun juga, implan di dalam payudaramu akan mempengaruhi asi mu, itu nggak baik buat anakmu."

Aku tidak tahan lagi dan melambaikan tangan, "Aku nggak pernah melakukan operasi plastik dan kenapa kamu terus-terusan mengatakan kalau aku melakukan implan payudara?"

"Kalau kamu nggak menguasai tekniknya, ganti yang lain saja. Aku nggak butuh layananmu."

"Kalau kamu memfitnahku lagi, aku nggak keberatan menjebloskanmu ke kantor polisi."

Aku sangat marah dan suaraku yang meninggi menarik perhatian orang di sekitar.

Bab 3

Tiara menjatuhkan diri ke lantai, terlihat sangat menyedihkan. "Kak, aku bicara jujur. Mereka yang melakukan implan payudara ...."

Aku sangat marah, sampai sekarang pun dia masih bicara omong kosong.

Aku mengangkat tangan dan menunjuk hidung Tiara, siap untuk memarahinya.

Dirga menghampiri dan memelukku, mencoba menenangkanku, "Sayang, tenanglah."

"Kenapa kamu marah-marah sama terapis? Sudah, jangan marah-marah."

Aku menjadi tenang setelah dipeluk dan ditenangkan Dirga.

Aku memelototi Tiara yang terduduk di lantai. Aku memutuskan untuk mengatakan pada Intan bahwa terapis pasca persalinan yang dia pekerjakan ini memiliki masalah karakter.

Ketika Tiara melihatku mulai tenang, dia kembali berdiri dan mengatakan akan mengerjakan layanan selanjutnya.

Aku langsung melambaikan tangan dan menolak, "Nggak, aku mau ganti orang."

Mendengar aku ingin ganti orang, Tiara sedikit cemas. "Kak, jangan. Kalau kamu minta ganti, bonusku bulan ini akan hangus."

"Tolong kasihani aku."

Aku tetap bersikeras untuk ganti orang.

Tiara mengalihkan perhatiannya ke Dirga.

"Kak, tolong bantu aku membujuknya. Aku sudah kesusahan karena harus cari uang sendiri. Aku nggak ingin bonusku juga hangus."

Tiara menangkupkan tangannya dengan air mata berlinang, mencoba meminta bantuan Dirga.

Tangannya menangkup seperti itu, membuat garis dada yang sudah dalam jadi makin dalam.

Dirga mengalihkan pandangannya, berjalan mendekat lalu memelukku, "Valeri sayang, bagaimana kalau kita beri dia kesempatan lagi?"

"Aku merasa kasihan padanya."

Aku langsung menolak.

Raut wajah Dirga langsung berubah tidak mengenakkan.

Untuk mencairkan suasana, aku mengubah topik pembicaraan, "Anak kita belum diberi nama, lebih baik pikirkan nama untuknya."

Dirga langsung tertarik. "Ya, ini anak pertama kita, jadi aku harus memikirkannya baik-baik."

Tiara yang sudah berjalan sampai pintu tiba-tiba berbalik. Dia melihat kami, lalu berseru, "Eh, Kak, bukannya kamu sudah pernah melahirkan sebelum ini?"

Setelah mengatakan itu, Tiara langsung menutup mulutnya, seolah-olah dia mengatakannya secara tidak sengaja.

Matanya yang berair bergerak sedikit kikuk.

Seolah-olah dia sedang berusaha keras memikirkan cara untuk memperbaiki situasi.

Orang yang sebelumnya berkumpul di sekitar pintu pun mendekat, takut melewatkan gosip panas dan menggemparkan.

Dirga juga menatapku dengan bingung. Valeri, apa-apaan ini?"

Aku menatap Dirga dengan kecewa. Dirga, kamu nggak percaya padaku?”

Dirga mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapanku.

Aku tertawa jengkel.

Aku merapikan pakaianku dan berjalan ke pintu, menoleh ke arah Tiara. "Barusan kamu bilang apa? Katakan lagi?”

Tiara tersentak ke belakang Dirga seperti terkejut.

Aku mendorong Dirga menjauh dan meraih tangan Tiara, memaksanya untuk berhadapan denganku.

"Kapan dan di mana aku pernah melahirkan?"

Tiara menjawab tergagap, "Dua tahun yang lalu di ...."

"Di ... di Rumah Sakit Angel."

"Aku sedang melakukan pemulihan pasca bersalin dan bertemu denganmu di ruang bersalin. Kamu sedang menggendong bayimu."

Melihat alis Dirga berkerut, Tiara tampak sangat bersemangat.

Dia melanjutkan dengan lantang, "Melihat data hasil pengujian otot dasar panggul, aku tahu kalau kamu pernah melahirkan lebih dari satu kali."

"Kamu melakukan operasi plastik di sekujur tubuhmu dan sekilas bisa diketahui kalau kamu bukan wanita normal. Mungkin sebelumnya kamu bekerja sebagai wanita simpanan, punya pemikiran menggunakan anakmu untuk menaikkan statusmu."

"Kak Dirga, jangan tertipu olehnya."

"Monster plastik seperti dia nggak pantas untukmu."

"Kamu kaya dan tampan, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik untuk mendampingimu."

Orang yang berkumpul di sekitar mulai berbisik-bisik, banyak dari mereka yang menatapku dengan ekspresi jijik.

Beberapa bahkan sudah membuka mulut untuk mengutukku, "Wanita simpanan yang nggak tahu malu!"

"Wanita simpanan kenapa nggak mati saja?"

"Aku ingin menghajar wanita simpanan!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B36233" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B36233
Salin

Terapis Pembawa Petaka

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya