Bab 2
Tapi auranya sangatlah dingin.
Wajahnya yang tampan ada kacamata dengan bingkai setengah hitam, di belakang kaca tersebut, tatapannya sangat dingin.
Tetapi pria yang semakin dingin, semakin membangkitkan rasa tantanganku.
Barang yang ada di dalam masih bergerak tanpa bisa dikendalikan.
Nafasku berantakan, pandanganku dengan nggak sadar melihat ke wajahnya.
Di dalam pikiranku membayangkan, matanya yang dingin ini penuh dengan kenafsuan.
Seperti menyadari tatapanku, dia menarik sudut bibirnya.
Aku menyadarinya dan segera mengalihkan pandanganku.
Dia mengulurkan tangannya, jari telunjuknya dengan pelan menunjuk perutku bagian bawah.
Aku menunduk kepala dan melihat rendaku yang berwarna pink, wajahku mulai memerah, dengan suara yang sangat pelan.
“Ini juga perlu kah?”
Surya mengangguk kepalanya dengan tatapan yang tidak bisa ditolak.
Aku terus-menerus berkata di dalam hati.
Tidak bermasalah, di depan dokter tidak ada perbedaan jenis kelamin.
Di saat aku sedang menenangkan diriku sendiri, aku dengan terpaksa membuka kain renda yang berwarna pink.
Suara nafas Surya sangat jelas sudah berantakan.
Walaupun aku sengaja membalikkan kepala tidak melihatnya, tetap bisa merasakan bahwa tatapannya yang panas itu sedang melihatku.
Dia dengan perlahan-lahan memakai sarung tangan, menundukkan badan dan memegang betisku.
Rasa dingin dari sarung tangan karet membuat nafasku jadi cepat.
Dia perlahan-lahan menarik betisku dan melipat ke atas, lalu menarik satunya lagi.
Setelah diletakkan ke penyangga kaki yang khusus dibuatkan untuk kasur pasien, menekan tombol pengatur kasur pasien, dengan suara mekanis ringan yang terdengar, bagian bawah tubuhku perlahan-lahan terangkat, bagian intimku kelihatan semuanya.
Kedua tangan itu memgang perut bagian bawah, lalu mengelus dengan pelan dan perlahan-lahan menuju ke bagian yang terluka......
Jari yang dingin masuk ke dalam, sangat susah untuk mengabaikannya.
Aku bisa merasakan gerakan jarinya, kadang menyentuh dengan lembut, kadang bergoyang.
Bagian tersebut sangatlah sensistif, hanya gerakan yang lembut pun bisa membangkitkan perasaan yang kuat.
Tiba-tiba, dia maju ke depan, barang tersebut jadi semakin dalam.
Aku mengerutkan alisku dan mendesah.
Di saat aku kira sudah bisa mengeluarkannya, dia menarik tangannya keluar.
Dia mengangkat jari tangannya yang basah.
Surya berkata dengan suara yang serak.
“Barang itu lumayan dalam, tidak gampang untuk mengeluarkannya, kamu tahan sebentar.”
Aku menggigit bibir dan mengangguk: “Dok, tolong pelan sedikit.”
Kali ini, aku bisa merasakan tenaga tangannya jauh lebih kuat.
Bukan lagi mencoba perlahan-lahan, melainkan langsung masuk ke dalam.
Aku menggigit bibirku dengan kuat supaya tidak mengeluarkan suara yang memalukan.
Setelah pencarian yang lama, akhirnya Surya mendapatkan barang kecil itu.
Aku bisa merasakan barang tersebut dijepit oleh jarinya dan sedang ditarik keluar.
“Ehm...”
Di saat menariknya, getaran yang tanpa henti itu melewati setiap bagian.
Dan aku tidak bisa menahannya lagi, mulai mengeluarkan suara desahan.
Akhirnya, barang kecil itu sudah dikeluarkan.
Cairan juga terbawa keluar, membuat sprei kasur menjadi basah.
Aku dan Surya sama-sama menghela nafas lega.
Barang itu dibuang di atas piringan, masih bergetar dan mengeluarkan suara dengung halus.
Wajahku sangat merah dan menundukkan kepala, ingin masuk ke bawah tanah karena terlalu malu.
Aku duduk dan sedang mau memakai celana, Surya berkata.
“Tunggu sebentar.”
Gerakanku terhenti, dan melihatnya dengan penuh kebingungan.
“Kenapa dok?”
Dia membuka sarung tangan yang basah dan membuangnya ke tong sampah.
Tatapannya penuh dengan ketidakjelasan.
“Rumah sakit mengembangkan teknik pijatan baru yang dapat memberikan efek menenangkan untuk kondisi seperti Anda yang pengembangannya berlebihan. Apakah Anda mau mencobanya?”
Bab 3
Saat bertanya, pandangannya jatuh di antara kedua kakiku dengan sangat agresif.
Aku jadi ragu.
Jujur, saat ini aku merasa tergoyang.
Di mana hari ini nafsuku memang tinggi.
Tetapi terjadi hal yang di luar dugaan, proses masturbasiku terhenti dan sampai masuk ke rumah sakit, lalu disiksa sama jarinya Surya.
Setelah mengalami ini semua, nafsuku tidak teratasi, malah semakin kuat.
Tubuhku sedang berteriak kesepian.
Kalau dipijat, apakah bisa lebih nyaman?
Lalu aku dengan malu mengangguk kepala, setuju ajakan Surya.
“Baik, silahkan baring.
Aku kembali baring, tetapi tidak senang dengan sikapnya yang sangat serius.
Dia berdiri di samping kasur dan menunduk kepala melihatku.
Walaupun dengan sudut yang menjelekkan ini, dia tetap terlihat tampan.
“Karena pijat seluruh tubuh, jadi baju Anda juga perlu di buka.”
Aku mau membuka kancingku, tetapi ditahannya.
“Aku saja, Anda seharusnya sudah capek juga.”
Aku hari ini memakai kemeja sutra, bagian kerahku terikat pita.
Dia menggunakan kedua tangannya membuka pita yang di bajuku.
Aku merasa diriku seperti kado, sedang perlahan-lahan dibuka.
Lalu kancing, satu per satu.
Buka sampai setengah, kelihatan kulitku yang putih mulus dan ditutupi renda pink.
Merasakan nafas Surya semakin berat, aku diam-diam tersenyum.
Manusia ini, walaupun dari luar sangatlah dingin dan tenang, tapi tetap adalah pria, semua pria itu bernafsu.
Aku ingin menganggunya, lalu diam-diam menegakkan tubuhku.
Bentuk yang bulat penuh dan berisi itu gemetar.
Nafas Surya terhenti, gerakan tangannya semakin cepat, kelihatan kalau sudah tidak sabar.
Kemejaku dibuka, lalu tangannya sampai ke punggungku, gerakan membuka kaitan sangatlah bodoh.
Melihat dia tidak bisa membukanya, aku tersenyum dan membantunya.
Tidak ada tutupan, payudaraku berebutan keluar.
Pandangan Surya terdiam, telinganya mulai memerah.
Aku merasa sangat unik dengan rasa malunya, dengan tatapan penuh menggoda melihatnya.
“Dok, masih belum mulai kah?”
Surya kembali sadar, lalu batuk ringan untuk menutupi kecanggungannya.
Di saat ini, aku masih ada tenaga untuk menggodanya, tetapi sangat cepat sudah kehabisan tenaga.
Kedua tangannya menempel di tubuhku.
Kali ini tidak memakai sarung tangan, jadi aku bisa dengan jelas merasakan suhu telapak tangannya.
Mulai dari leher, kedua tangannya dengan kadang pelan kadang kuat memijatnya.
Yang di luar dugaanku adalah begitu dipijatnya, kecapekan di seluruh tubuhku jadi sedikit menghilang.
Aku mulai menutup mataku dan menikmati kenyamanan ini.
Tapi perlahan-lahan, kenyamanan ini mulai berubah.
Mungkin dimulai dari kedua payudaraku.
Gerakan tangannya tidak kuat lagi, melainkan menjadi menggoda dan memainkan.
Telapak tangan memegangnya, dengan lembut memijat dan mencubitnya, jari tangan kadang menyentuh puting.
Nafasku mulai jadi berantakan, nafsu yang belum diselesaiin bangkit kembali.
Aku membuka mataku langsung bertatapan dengan matanya yang penuh dengan senyuman licik.
Sesuai dengan dugaanku, pijat ini tidak sesederhana itu.
Karena gerakannya, nafsuku jadi semakin kuat.
Bibir merahku mulai terbuka dan bernafas pelan-pelan.
Di ruangan yang sempit, aura cinta memenuhi seluruh ruangan, kadang-kadang ada suara air yang berdebur.
Jari tangannya masuk lagi, gerakannya sangat lincah, bertindak semaunya.
Aku menutup mata, di dalam otakku mulai melupakan semuanya, bahkan akal sehat pun hilang.
Di saat mencapai puncak, depanku seperti ada bunga putih yang mekar.
Aku membuka mataku di saat mencapai klimaks.
Dan melihat Surya yang sudah membuka tali pinggangnya.
Satu tangannya mendirikan kakiku, lalu naik ke kasur, dengan tatapan seperti serigala melihatku.
Dengan suara yang serak berkata: “Tahap terakhir pijat, di mana tahap yang paling penting juga.”
Melihat barangnya yang besar, nafasku jadi bergetar, dalam hatiku sangat menginginkannya.
Dalam hatiku hanya ragu sedetik, lalu dikuasai oleh nafsuku yang kuat.
Lagi pula aku dan suami hanyalah pernikahan antar keluarga, tidak ada perasaan apapun.
Surya mulai masuk di antara kedua kakiku.