Bab 1

Pada ulang tahun pernikahan kelima, Rebecca menemukan bahwa akta nikahnya palsu. Sementara itu, suaminya menikahi seorang gadis yang dibesarkannya di Andoria, negara di mana seseorang hanya boleh menikah sekali seumur hidupnya.

Suaminya memang mencintainya. Semua kelembutan suaminya terhadapnya juga tulus. Namun, hati suaminya terlalu besar hingga mampu menampung dua wanita sekaligus ....

Setelah lima tahun menikah, Rebecca Winata akhirnya hamil. Sesuai peraturan di negara mereka, dia segera mengajukan surat izin melahirkan. Dia berniat untuk menjadikannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kelima untuk suaminya, Darren Hernanda.

Ketika memasukkan informasi akta nikah mereka, sistem berulang kali menunjukkan peringatan bahwa akta itu tidak valid.

"Bu Rebecca, apa kamu yakin akta ini asli?"

Petugas itu terlihat bingung setelah menerima notifikasi kegagalan berulang kali.

Rebecca juga merasa agak kesal. "Kami sudah menikah selama lima tahun, mana mungkin itu palsu?"

Petugas itu mencoba sekali lagi, lalu mengembalikan akta nikah tersebut kepada Rebecca dan berkata, "Sebaiknya kamu periksa dulu ke kantor catatan sipil. Punya akta palsu itu ilegal. Sekarang, orang lajang juga bisa ajukan surat izin melahirkan."

Rebecca mengerti maksud petugas itu dan pergi ke kantor catatan sipil di sebelah. Ketika dia keluar dari kantor catatan sipil, wajahnya terlihat pucat pasi dan kegembiraan yang memenuhi wajahnya sebelumnya sudah lenyap.

Kata-kata petugas kantor catatan sipil berulang kali menghantam hatinya. "Kamu dan Pak Darren sama-sama lajang. Akta nikah yang kamu pegang ini palsu ...."

Pernikahan mereka yang telah berlangsung selama lima tahun ... ternyata palsu!

Rebecca dan Darren adalah teman masa kecil. Semua orang tahu Darren sangat mencintainya, juga sangat ingin memberinya hal-hal terbaik di dunia. Jadi, kenapa Darren memberinya akta nikah palsu?

Rebecca segera membeli tiket pesawat dan pergi ke Andoria untuk menemui Darren yang sedang dalam perjalanan bisnis. Dia ingin menanyakan dengan jelas faktanya.

Ketika menemukan hotel di mana Darren menginap, Rebecca kebetulan melihat sebuah pernikahan sedang berlangsung.

Andoria adalah negara yang unik. Penduduknya hanya bisa menikah sekali seumur hidup. Di negara ini, tidak ada perceraian. Status duda atau janda seseorang hanya bisa dikarenakan oleh pasangan yang meninggal.

Rebecca tidak tertarik untuk menonton upacara itu. Dia berjalan melewati kerumunan untuk menuju lift. Namun, matanya tidak sengaja tertuju pada mempelai pria yang dikelilingi kerumunan dan dia langsung merasa bagaikan disambar petir!

Pria itu mengenakan jaket kulit dan celana ketat yang dipadukan dengan sepatu bot tinggi, baret, serta ikat pinggang merah yang lebar. Itu adalah pakaian khas orang lokal. Senyum bahagia menghiasi wajahnya.

Pria itu tak lain adalah Darren, suami yang telah dinikahi Rebecca selama lima tahun. Jika tidak melihatnya secara langsung, dia pasti sulit membayangkan Darren berpakaian seperti itu.

"Selamat atas pernikahanmu, Kak Darren!"

"Harus kuakui, Kak Darren memang luar biasa. Baik di dalam maupun luar negeri, pernikahannya sangat megah!"

"Tapi Kak Darren, apa kamu serius dengan Cecilia, gadis kecil dari keluarga miskin itu?"

Seseorang bertanya dengan rasa ingin tahu, "Apa ini nggak termasuk bigami? Gimanapun, bukannya Kak Darren sudah nikah lama sama Kak Rebecca di dalam negeri?"

"Kamu nggak tahu, 'kan? Demi tunggu Cecilia dewasa, Kak Darren nggak pernah benar-benar daftarkan pernikahannya dengan Kak Rebecca di dalam negeri. Secara hukum, Kak Darren belum menikah selama lima tahun ini!"

"Bisa begitu? Kak Darren benar-benar luar biasa!"

Rebecca yang berdiri di antara kerumunan seketika terpaku di tempat. Seluruh darah dalam tubuhnya seolah-olah sudah membeku. Dia mengira dirinya salah dengar, tetapi kata-kata pria itu selanjutnya langsung membuat hatinya tenggelam.

"Aku tentu saja serius soal Cecil. Demi selamatkan nyawa Becca dulu, dia sudah pertaruhkan nyawanya. Dia juga rela hidup dalam bayang-bayang Becca selamanya. Yang dia inginkan cuma pernikahan yang langgeng dan aku bisa memberikannya," ujar Darren secara perlahan. Setiap patah katanya sudah dipertimbangkan dengan saksama.

Rupanya begitu! Mata Rebecca berkaca-kaca. Ternyata Darren sendiri yang mengurus akta nikah palsu itu.

Lima tahun yang lalu, Rebecca mengalami kecelakaan mobil. Cecilia, seorang siswi yang baru masuk SMA itu yang membawanya ke rumah sakit dan mendonorkan darah untuk menyelamatkannya.

Cecilia berasal dari keluarga miskin. Dia hidup saling bergantung dengan ibunya yang sakit kritis. Demi berterima kasih kepada Cecilia atas pertolongannya, Rebecca dan Darren menanggung semua biaya sekolahnya, bahkan mengatur agar Cecilia dapat kuliah dan bepergian ke luar negeri.

Darren berkata bahwa Cecilia yang telah menyelamatkan Rebecca setara dengan telah menyelamatkan dirinya. Dia rela memberikan segalanya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Tak disangka, caranya mengungkapkan rasa terima kasih juga mencakup membesarkan Cecilia hingga dewasa dan menikahinya.

Yang lebih konyol lagi, selama lima tahun ini, Rebecca sama sekali tidak menyadarinya, juga tidak tahu sejak kapan mereka bersama.

Sahabat Darren bertanya lagi, "Gimana dengan Kak Rebecca? Memangnya kamu nggak takut ketahuan sama dia?"

Darren menunduk, jari-jari rampingnya dengan cepat mengetuk layar ponsel. Nada suaranya dipenuhi dengan keyakinan yang samar. "Aku akan terus mencintai Becca seperti biasa, tapi dia nggak akan pernah tahu hal ini. Kalian semua harus perhatikan ucapan kalian. Jangan sampai Becca tahu."

Pada detik berikutnya, ponsel Rebecca bergetar. Setelah membaca pesan Darren, jantungnya berdebar kencang dan hawa dingin menjalar di sekujur tubuhnya.

[ Sayang, aku sudah rindu sama kamu. Aku sama sekali nggak pengen lakukan perjalanan bisnis ini. Setiap detik yang kulalui waktu berpisah denganmu terasa bagaikan siksaan. Aku akan usahakan untuk pulang di hari ulang tahun pernikahan kita. Love you. ]

Rebecca menggenggam ponselnya erat-erat sambil melirik Darren yang berjalan menjauh. Rasa sakit yang menusuk membuncah di hatinya. Penglihatannya menjadi kabur akibat air mata yang menggenang di matanya.

Ini bukan Darren-nya. Darren-nya adalah teman masa kecilnya, anak laki-laki yang kakinya patah saat memanjat jendela demi membantunya mengambil jepit rambut yang jatuh, tetapi malah menghiburnya untuk tidak menangis.

Darren-nya adalah pemuda yang mendaki hingga ke puncak gunung bersalju di usia 18 tahun hanya untuk menyatakan cintanya. Darren-nya juga bersumpah untuk mencintainya selamanya dan tidak akan pernah berbohong padanya.

Darren-nya adalah pria yang menulis 9.999 pucuk surat cinta dan membuat 100 macam kue untuk melamarnya di usia 20 tahun.

Darren-nya adalah pria yang secara pribadi merencanakan pernikahan termegah seabad untuknya di usia 22 tahun, juga pria yang terus menempel padanya seharian dan menolak untuk berpisah dengannya setelah menikah ....

Darren-nya bukanlah pembohong di depannya ini, yang mengaku mencintainya, tetapi malah menikahi wanita lain.

Hati Rebecca terasa bagaikan disayat pisau. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ponselnya bergetar lagi. itu adalah telepon dari Darren. Setelah ragu sejenak, dia baru menjawab.

"Sayang, kamu ada di mana? Sudah makan? Kenapa tempatmu berisik sekali?" Suara Darren masih selembut biasa dan dipenuhi dengan rasa cinta untuk Rebecca setiap saat.

"Darren, kamu lagi ngapain?" Rebecca secara naluriah mengeratkan genggamannya di ponsel. Dia sedang berpikir jika Darren mengaku, dia akan berbicara baik-baik dengan Darren dan memberi mereka satu kesempatan lagi.

Darren menjawab tanpa ragu, "Aku lagi rapat. Karena terlalu merindukanmu, aku keluar untuk meneleponmu. Sayang, kamu lagi belanja? Beli saja apa pun yang kamu suka."

Bibir Rebecca tiba-tiba berkedut, sedangkan cahaya di matanya meredup. Dia terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab pelan, "Oke."

Darren langsung menyadari keanehan Rebecca dan merasa gelisah. "Sayang, kamu lagi nggak senang? Kamu boleh langsung cerita ke aku kalau ada hal yang membuatmu sedih."

"Aku perlu coba beberapa pakaian. Sudah dulu, ya."

Rebecca menutup telepon, lalu mengamati Cecilia yang mengenakan gaun pengantin lokal dan menyelinap ke dalam pelukan Darren tidak jauh dari sana.

"Sayang, aku cantik?"

"Cantik. Mau pakai apa saja, wanitaku tetap cantik."

Bibir Darren melengkung membentuk seulas senyum. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Cecilia, lalu mencium keningnya dan tersenyum lembut.

Senyumannya sangat menusuk mata Rebecca. Ternyata kelembutan dan kasih sayang Darren bukan hanya untuknya. Cinta dan hatinya bisa terbelah dua.

'Darren, kenapa hatimu bisa menampung dua wanita sekaligus?' tanya Rebecca dalam hati.

Kemudian, Rebecca melarikan diri dari hotel dengan panik. Dia berjongkok dan meringkuk di sebuah gang, lalu membiarkan air matanya jatuh. Setelah hampir pingsan karena menangis, dia baru perlahan-lahan berdiri dengan secercah tekad di matanya.

Rebecca sudah tidak menginginkan pernikahan palsu berusia lima tahun ini. Dia juga tidak menginginkan Darren lagi!

Berhubung Darren dan Cecilia sudah menjadi pasangan suami istri yang sah, Rebecca akan merestui mereka. Setengah bulan lagi, hari peringatan kematian orang tuanya akan tiba. Setelah memberi penghormatan terakhir, dia akan pergi dan menghilang sepenuhnya dari dunia Darren.

Rebecca naik taksi ke bandara dan membeli penerbangan pulang yang paling awal. Hal pertama yang dia lakukan setelah kembali adalah menjadwalkan aborsi di rumah sakit.

Bab 2

"Bu Rebecca, kamu mengalami cedera perut yang serius dalam kecelakaan mobil itu. Bisa hamil itu benar-benar adalah keajaiban. Kalau kamu gugurkan anak ini, kamu akan sulit untuk hamil lagi."

Dokter itu menatap Rebecca dengan cemas dan menambahkan, "Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi dan membicarakannya dengan suamimu."

Rebecca mengepalkan tangannya dan hatinya terasa sakit. Darren tidak pernah memberi tahu hal ini kepadanya.

Setiap kali anggota Keluarga Hernanda dan Keluarga Winata mendesak mereka untuk memiliki anak, Darren akan selalu melimpahkan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Dia mengatakan bahwa dirinya masih ingin melewati dunia milik berdua dan tidak ingin diganggu oleh kehadiran seorang anak.

Mata Rebecca pun berkaca-kaca. Darren begitu memikirkannya dan takut dia sedih. Akan tetapi, tidak peduli betapa baiknya pun Darren, itu tidak dapat mengubah fakta bahwa Darren telah menipunya.

"Terima kasih, Dokter. Aku akan memikirkannya."

Rebecca keluar dari klinik dengan linglung, lalu tidak sengaja bertemu dengan Darren dan Cecilia yang sudah pulang di koridor.

Darren dengan hati-hati membantu Cecilia keluar dari ruang USG. Dia terlihat gugup. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih sayang tertuju pada Cecilia. Dia tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun.

"Kak, jangan begitu gugup. Aku cuma hamil, bukan sakit," ujar Cecilia sambil tersenyum. Dia bertemu dengan Darren ketika masih sangat muda dan selalu memanggil Darren kakak. Setelahnya, dia juga tidak pernah mengubah panggilannya.

Darren tersenyum dan tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya. "Tentu saja aku gugup. Ini anak pertama kita. Kita harus merawatnya dengan baik."

Rebecca menggenggam erat lembar janji temu di tangannya. Suhu tubuhnya perlahan-lahan turun. Dia merasa seperti bisa mendengar suara hatinya yang hancur. Matanya terasa panas, tetapi tidak ada air mata yang mengalir keluar.

Ternyata, saat rasa sakit sudah mencapai puncak, air mata juga tidak bisa keluar lagi.

Darren memapah Cecilia masuk ke lift. Di belakangnya, Rebecca perlahan-lahan melonggarkan genggamannya pada lembar janji temu itu dan kembali ke klinik untuk menjadwalkan operasinya di lusa. Dia tidak ingin anaknya lahir di dunia penuh kebohongan, juga tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah.

Seolah-olah sedang dipermainkan oleh alam semesta, Rebecca bertemu lagi dengan Darren dan Cecilia di tempat parkir bawah tanah. Dia pun melaju mengikuti mereka tanpa sadar.

Darren membawa Cecilia ke restoran berputar.

Hati Rebecca langsung tenggelam. Itu adalah restoran berputar yang dirancang dan dibangun oleh Darren untuknya pada ulang tahun terakhirnya. Darren pernah mengatakan bahwa hanya dia seorang yang layak makan di sana. Sekarang, Darren malah membawa perempuan lain ke tempat itu.

Di dalam restoran berputar, Cecilia duduk di kursi favorit Rebecca. Di depannya, tersaji hidangan penutup. Tak jauh dari sana, Darren berjalan keluar dengan mendorong gerobak makanan.

Darren dengan anggunnya melepas bunga dari dadanya dan menyerahkannya kepada Cecilia. Sebuah kalung berlian menjuntai di bawah bunga itu. "Selamat! Putri kecilku akan segera jadi seorang ibu."

"Kak ... terima kasih. Aku sangat gembira," ucap Cecilia. Dia hampir menangis karena terharu.

"Kamu bahkan memasak untukku. Cepat biarkan aku mencicipinya! Seusai makan, kamu langsung pulang saja. Aku sudah memonopolimu selama berhari-hari. Sudah saatnya kamu pulang untuk temani Kak Rebecca."

Cecilia mengerjap dengan kuat dan meneteskan dua tetes air mata.

Darren yang merasa sakit hati memeluknya dengan erat dan berujar, "Dasar bodoh, aku nggak akan pergi ke mana pun hari ini. Aku akan tetap berada di sisimu."

"Gimana dengan Kak Rebecca? Besok itu hari ulang tahun pernikahan kalian. Dia akan sedih kalau kamu nggak pulang untuk temani dia."

"Aku sudah mengurusnya. Kamu nggak perlu khawatir." Darren mengelus kepala Cecilia dan membantunya mengenakan kalung itu. "Kamu sudah jadi istriku. Mulai sekarang, aku akan meluangkan lebih banyak waktu untukmu dan anak kita."

Rebecca yang berdiri di sudut melangkah mundur dua langkah. Punggungnya bersandar di dinding yang dingin. Rasa dingin itu membuatnya menggigil.

Benar juga, Cecilia barulah istri sah Darren. Sementara itu, dia hanyalah orang bodoh yang tidak memiliki status apa pun.

Rebecca masih ingat ketika Darren membawanya ke restoran berputar untuk yang pertama kalinya, Darren juga menyiapkan kalung berlian untuknya. Darren bahkan diam-diam menyewa koki Michelin untuk mengajarinya memasak selama sebulan supaya bisa memasak untuknya.

"Sayang, cobalah masakanku. Mulai sekarang, aku yang akan urus makanmu tiga kali sehari. Seumur hidupku, aku akan mencintaimu dengan baik dan hanya mencintaimu seorang," bisik Darren sambil mengenakan kalung itu ke lehernya.

Kini, Darren telah memberikan cinta dan kasih sayangnya yang sama kepada Cecilia.

Dada Rebecca terasa berat dan sakit. Seumur hidup yang dimaksud Darren terlalu singkat.

Rebecca buru-buru berbalik dan meninggalkan restoran. Air mata mengalir membasahi wajahnya. Dia pergi ke firma hukum, lalu meminta pengacara untuk menghitung semua asetnya dan mengembalikan semua yang berhubungan dengan Darren kepadanya.

Warisan yang ditinggalkan orang tua Rebecca sudah cukup untuk menghidupinya selama beberapa generasi. Dia tidak kekurangan uang dan hanya ingin segera memutuskan hubungan dengan Darren.

Setelah senja, Rebecca baru menyelesaikan semua urusannya dan melaju pulang.

Vila kosong itu hanya diterangi oleh lampu yang ditinggalkan pembantu untuknya. Rebecca bersandar lelah di sofa sambil memandangi foto-foto dirinya dan Darren yang memenuhi ruangan. Dadanya terasa berat dan setiap detak jantungnya terasa perih.

Rebecca mengusap keningnya, lalu berdiri, dan menurunkan bingkai-bingkai foto yang menutupi seluruh dinding.

Foto pertama mereka saat kecil, Rebecca mengenakan gaun merah muda dan Darren memujinya sebagai putri tercantik di dunia.

Foto dansa pertama mereka, Darren memeluk pinggangnya dengan lembut dan memintanya berdansa hanya dengannya.

Foto kencan pertama mereka, Darren memeluknya sambil memutar-mutarnya tanpa henti. Darren mengatakan bahwa dirinya adalah pria paling bahagia di dunia.

...

Rebecca mengeluarkan satu per satu foto itu dari bingkai, lalu memasukkannya ke dalam mesin penghancur kertas. Seiring dengan hancurnya foto-foto itu, semua kenangan mereka juga ikut hancur.

Sepanjang malam, Rebecca hanya melakukan hal ini. Dia menghapus setiap jejak kemesraan mereka di masa lalu tanpa menyisakan apa pun. Saat fajar, lengannya sudah mati rasa, tetapi Darren belum kembali.

Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.

Bab 3

Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, Darren memosting esai singkat di akun media sosialnya tepat pada jam 12 malam. Esai itu berisi rasa cinta dan terima kasihnya yang tulus kepada Rebecca.

Beberapa jam kemudian, jumlah suka dan repost postingan itu telah melampaui 10 juta kali. Video perjalanan cinta mereka yang diedit Darren secara pribadi diputar di layar-layar besar seluruh kota. Dia membuat semua orang merasakan cintanya kepada Rebecca.

Entah sejak kapan, sekelompok orang juga sudah tiba di luar vila mereka. Mereka membentangkan 1.825 buket mawar di sepanjang jalan setapak. Di tengah jalan setapak, terletak sebuah cincin kristal berongga luar biasa besar yang berisi pakaian dan tas terbaru dari berbagai merek. Sebuah kotak musik kecil diletakkan di atasnya and memutar suara Darren yang merdu secara berulang.

"Sayang, selamat hari ulang tahun pernikahan! Aku mencintaimu dan cintaku belum berubah."

Rebecca tetap memasang ekspresi datar. Dia menutup pintu dan membenamkan diri di balik selimut, seolah-olah semua ini tak berarti baginya.

Sesaat kemudian, Darren menelepon. Dia berkata dengan nada bersalah, "Sayang, ada sedikit masalah dalam kerja sama kali ini. Aku nggak bisa pulang untuk rayakan ulang tahun pernikahan kita bersama hari ini. Aku akan menebusnya nanti saat aku pulang."

Mendengar kebohongannya yang buruk, Rebecca tiba-tiba tertawa hingga suaranya bergetar. "Nggak apa-apa. Kamu tangani saja urusanmu."

"Sayang, kamu nggak senang?" Darren menyadari keanehan Rebecca dengan peka. Dia berujar, "Ada banyak kejutan yang sudah kusiapkan untukmu hari ini. Semoga kamu suka. Aku pasti akan menebusnya beberapa hari lagi."

"Nggak, pekerjaan lebih penting. Aku cuma merasa kurang enak badan, mau tidur dulu," jawab Rebecca sebelum menutup telepon dengan dingin.

Kemudian, Rebecca meringkuk dan berusaha menahan rasa sakit di hatinya.

Di luar vila, keramaian itu masih terus berlanjut. Drone-drone yang dipersiapkan Darren menari di udara dan membentuk berbagai bentuk untuk mengekspresikan cintanya kepada Rebecca. Ada banyak wartawan yang bergegas datang dengan harapan dapat mewawancarai Rebecca untuk lanjut mempromosikan cinta mereka.

Rebecca mengabaikan mereka. Ponselnya juga berdering berulang kali. Melihat nama Darren di layar, pandangannya kembali kabur. Dia ingin menjawab panggilan itu dan bertanya kenapa Darren mengingkari janjinya dan jatuh cinta pada wanita lain.

Namun, pada akhirnya, Rebecca hanya mematikan ponselnya dan membenamkan kepalanya di balik selimut. Entah berapa lama waktu telah berlalu, selimutnya tiba-tiba terangkat dan seberkas cahaya terang menusuk mata Rebecca.

Di bawah cahaya itu, Rebecca melihat Darren yang bertampang lesu. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat, sedangkan matanya dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan.

Merasakan ketidaksenangan Rebecca, Darren bergegas kembali. Dia sudah menelepon Rebecca sepanjang jalan, tetapi Rebecca tidak menjawab. Dia pun ketakutan.

Saat melihat Rebecca, Darren memeluknya erat-erat. Suaranya serak dan terdengar tercekat saat berkata, "Untung saja kamu ada di rumah! Sayang, maaf. Maaf."

Mata Darren terlihat memerah, sedangkan tubuhnya gemetar pelan dengan tidak terkendali. "Aku nggak akan pernah lagi tinggalkan kamu sendirian di rumah. Waktu kamu nggak jawab teleponku, duniaku benar-benar seperti sudah hancur. Nggak ada yang lebih penting dari kamu. Aku sudah pulang untuk temani kamu rayakan hari ulang tahun pernikahan kita."

Rebecca tetap diam dan Darren berasumsi dia masih marah. Dia pun berlutut dengan satu kaki dan membujuknya, "Sayang, berjanjilah padaku, jangan nggak angkat teleponku atau abaikan aku lagi. Aku akan sangat menderita."

Kegugupan dan ketakutan Darren terlihat nyata. Dia mencintai Rebecca, tetapi cintanya bukan hanya untuk satu orang.

"Cepat juga kamu pulangnya," kata Rebecca sambil tersenyum tipis.

Wajah Darren agak memucat dan dia merasa agak gelisah.

"Sayang, kamu sudah nggak makan seharian, 'kan? Ayo kita pergi ke restoran berputar." Darren mengganti topik pembicaraan dan dengan lembut merapikan rambut Rebecca dari dahinya.

"Nggak mau," jawab Rebecca sambil menggeleng.

Darren pun panik. "Kalau begitu, kamu istirahat saja dulu. Aku akan pergi masak untukmu."

"Emm." Rebecca mengangguk dengan dingin, lalu berbalik untuk memunggungi Darren.

Darren mengira Rebecca masih marah. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu meninggalkan kamar.

Belasan menit kemudian, terdengar keributan dari lantai bawah. Rebecca pun berjalan turun.

Ruang tamu vila dipenuhi dengan teman-teman Darren. Mereka sedang membantu menggantungkan kembali foto-foto yang baru dicetak ulang ke dinding. Melihat Rebecca, mereka semua mulai membela Darren.

"Kak Rebecca, Kak Darren benar-benar ketakutan setengah mati. Aku belum pernah lihat Kak Darren segugup ini."

"Waktu kamu marah lain kali, beri tahu saja kami. Kami akan bantu kamu lampiaskan amarahmu. Jangan buang foto-foto kalian lagi atau matikan ponselmu. Kak Darren bisa mati."

"Kalau nggak bisa temukan Kak Rebecca, Kak Darren pasti jadi gila."

"Benar! Waktu lihat dinding yang kosong, Kak Darren nyaris pingsan dan bahkan cari ke tong sampah."

...

"Diam kalian semua!" Darren muncul dari dapur dengan mengenakan celemek. Dia terlihat marah. "Ini salahku. Aku yang buat istriku sedih. Sudah sepantasnya dia menghukumku."

"Kak Darren benar-benar suami pemanja istri! Di hadapan Kak Rebecca, dia bahkan nggak peduli sama harga dirinya. Kak Rebecca benar-benar beruntung," ujar Cecilia sambil berjalan keluar dari kerumunan. Wajahnya dipenuhi rasa iri.

Ekspresi Darren tetap tenang. Dia tersenyum lembut dan berkata, "Aku tentu saja harus manjakan istriku!"

Rebecca langsung merinding dan merasa Darren sangat munafik. Namun, dia tidak ingin membongkar kebohongannya sekarang. Dia berujar dengan tenang, "Nggak perlu gantung foto-foto itu. Aku mau ganti warna dinding."

Darren menghampiri Rebecca dan merangkul pinggangnya. "Oke, nggak usah digantung lagi semuanya. Aku akan turuti kata-kata istriku."

"Kak Darren benar-benar seperti budak istri," goda seseorang.

Namun, Darren tidak menganggapnya serius. Dia memapah Rebecca duduk di sofa dan kembali ke dapur untuk memasak.

Darren memasak semua makanan yang Rebecca suka, tetapi Rebecca malah kesulitan untuk menelannya.

Di sisi lain, Darren mengambilkan makanan untuk Rebecca dengan penuh perhatian, tetapi tangannya yang satu lagi malah saling bertautan dengan tangan Cecilia di bawah meja.

Rebecca tiba-tiba merasa semua ini sangat membosankan. Dia sudah tidak sabar untuk meninggalkan tempat ini dan Darren.

Seusai makan malam, Darren tidak memberi Rebecca kesempatan untuk menolak. Dia langsung membungkuk dan memakaikan kaus kaki dan sepatu ke kaki Rebecca, lalu menggendongnya keluar dari pintu.

Teman-teman Darren yang berada di belakang tidak berhenti bersorak. Cecilia juga tersenyum dan ikut menggoda, tetapi Rebecca bisa dengan jelas melihat kilatan kebencian dan kecemburuan di matanya.

Darren secara khusus menyiapkan pertunjukan kembang api di atas laut untuk Rebecca dan bahkan mengundang band favoritnya untuk tampil.

Di tengah pertunjukan, Darren menggunakan alasan ingin pergi ke kamar mandi untuk meninggalkan tempat. Entah kenapa, Rebecca pun mengikutinya.

Tanpamu, Hidupku Makin Bersinar

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya