Bab 1

Kakak tiriku sangat membenciku.

Dia membenci kedatanganku dan ibuku, membenci kami karena merusak keluarganya yang terlihat harmonis.

Setiap kali melihatku, dia akan selalu menunjukkan wajah dingin. Dia akan mengatakan bahwa aku menjijikkan, lalu dengan kejam bertanya kapan aku akan mati.

Pada akhirnya, aku memenuhi keinginannya.

Namun, dia menyesalinya. Dia menangis, memohon agar aku bisa kembali. Dia mengatakan bahwa dia seharusnya tidak putus denganku, tidak seharusnya memperlakukanku dengan kasar.

Hanya saja, aku sudah mati. Untuk apa lagi dia menunjukkan sikap penuh kasih seperti ini?

Saat aku tahu bahwa hidupku tak akan lama lagi ....

Itu adalah tahun keenam sejak aku putus dengan Alvin Setyo, juga tahun keenam kami menjadi satu keluarga.

Aku berlari pulang dengan panik, langsung menuju ke ruang kerjanya.

Aku bertanya kepadanya, apakah dia benar-benar ingin menikahi putri dari Keluarga Gunawan?

Dia malah tertawa dingin sambil memandangku, mengatakan bahwa aku sedang bermimpi. Dia juga mengatakan bahwa aku tidak bisa melihatnya bahagia.

Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa, tak mampu mengeluarkan bantahan.

Melihat tatapannya yang dingin, perlahan aku mulai tersadar. Alvin sepertinya selalu membenciku.

Aku memaksakan senyum simpul.

"Tapi putri Keluarga Gunawan bukanlah seorang wanita yang baik," kataku.

Aku memang punya motif pribadi, tetapi aku tahu bahwa hubungan kami juga tak akan pernah berakhir dengan baik.

Jadi, istri masa depan Alvin tidak seharusnya adalah seorang sosialita dengan reputasi buruk.

"Bagaimana denganmu? Apa anak seorang selingkuhan sepertimu pantas menjadi pasangan hidupku?" balas Alvin.

Dia melirikku dengan sudut matanya yang penuh penghinaan, seolah-olah bisa membaca isi hatiku.

Alvin bangkit berdiri, sementara cahaya lampu menyinari tubuhnya.

Wajahnya terlihat samar, rambut acak-acakan di dahinya membuatku tak bisa melihat ekspresinya dengan jelas.

"Vina Lesmana, segala sesuatu milik Keluarga Setio nggak ada hubungannya dengan orang luar sepertimu," lanjut pria itu.

"Tapi, aku nggak pernah ...."

Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak pernah mengincar kekayaan Keluarga Setio.

Namun, Alvin berdiri, lalu langsung melangkah keluar tanpa peduli dengan penjelasanku.

"Kak ...."

Pria berjas rapi itu tiba-tiba berbalik. Matanya tampak seperti serigala saat menatapku dengan tajam.

"Kamu barusan memanggilku apa?"

Saat aku pertama kali melihat Alvin di rumah ayah tiriku, aku langsung tahu alasan kami putus.

Aku berpikir kalau kami masih bisa hidup dengan rukun. Namun, aku tak menyangka bahwa dia ternyata selalu membenciku.

Dia membiarkan teman-teman sekolah menindasku sesuka hati mereka, serta menyaksikan dengan dingin ketika aku difitnah.

Namun, aku tetap keras kepala, tak mau memanggilnya Kakak.

Seolah-olah, jika aku benar-benar memanggilnya Kakak, tak akan ada lagi masa depan untuk kami berdua.

"Kak, kita jangan bertengkar lagi, oke?"

Nada suaraku terdengar memohon. Rasa sakit di dadaku sungguh tak tertahankan.

"Jangan panggil aku Kakak. Vina, itu menjijikkan sekali!"

Mendengar kata-kata makian itu, kepalaku mulai pusing, mataku pun berkunang-kunang.

Aku terhuyung, kemudian langsung jatuh ke lantai.

"Vina, drama apa lagi yang sedang kamu mainkan? Kalau mau mati, mati jauh-jauh sana!"

Dia tidak memedulikanku lagi, langsung pergi begitu saja dari ruang kerja dengan dingin.

Aku berusaha bangkit dengan susah payah. Ketika aku menyentuh hidungku, aku melihat noda darah di tanganku, tatapanku menjadi makin muram.

Namun ....

Alvin, aku sakit.

Aku akan segera mati.

Bisakah kamu mengasihani aku sedikit saja?

Setidaknya, bisakah kamu memelukku?

Aku berlutut dengan lemah di lantai, berusaha menghapus noda darah yang berceceran.

Namun, baru saja aku membersihkannya, tetesan darah segar kembali jatuh.

Seolah-olah, darah itu tak pernah berhenti mengalir, serta tak akan pernah bisa aku bersihkan sepenuhnya.

Aku benar-benar hancur.

Aku terduduk di lantai, meringkuk sambil menangis dalam keheningan.

Aku tidak mengerti kenapa takdir begitu kejam padaku.

Saat aku mengira bahwa aku telah menemukan cinta sejati, aku mendapati bahwa mantan pacarku adalah kakak tiriku.

Ketika aku ingin menyerah untuk terus mencintai Alvin, aku mendapat kabar bahwa aku sedang mengidap kanker hati stadium akhir.

Aku berjalan keluar dalam kebingungan. Namun, aku tak menyangka bahwa ibuku sedang berdiri di depan pintu dengan wajah penuh kekhawatiran.

Bab 2

Ibuku tidak bertanya apakah aku bertengkar dengan Alvin, melainkan hanya memandang wajahku dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya dari mana darah itu berasal.

Tatapan matanya dipenuhi ketakutan yang sudah familier.

Ini adalah sebuah jejak dari kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan ayah kandungku sebelum ibuku menikah lagi.

Aku tidak ingin membuatnya khawatir, jadi aku hanya tersenyum sambil menjelaskan bahwa ini hanya karena panas dalam.

Baru setelah itu ibuku merasa lega, lalu mendesakku untuk segera beristirahat.

Aku kembali ke kamar tidur sambil menahan rasa sakit. Aku berbaring di tempat tidur dengan keringat dingin yang terus mengucur dari dahiku.

Aku menelan beberapa tablet pereda sakit, lalu dengan paksa menutup mata, berusaha agar bisa tertidur.

Saat tertidur, aku tidak merasakan sakit lagi.

Dalam mimpiku, tidak ada Alvin yang galak, juga tidak ada ibuku yang selalu menangis.

Di tengah kabut kesadaranku, aku seolah kembali ke masa-masa paling manis bersama Alvin.

Waktu itu, aku masih tinggal di daerah kumuh di bagian selatan kota. Kami berdua sedang menjalani cinta yang paling polos.

Kami berjalan berdua, saling bergandengan tangan, serta berkeliaran tanpa tujuan di sepanjang jalan.

Aku tidak menyebutkan soal masalah kemiskinan keluargaku, sementara dia pun tidak pernah mengatakan kalau dia berasal dari keluarga kaya.

Kami berdua adalah anak-anak dari keluarga yang tidak bahagia, yang saling menghibur serta menghangatkan satu sama lain.

Dia bilang bahwa suatu hari nanti dia akan membangun segalanya dari nol, agar ayahnya bisa memandangnya dengan tatapan kagum.

Aku bilang bahwa aku ingin ibuku bercerai, menjauh dari ayahku yang suka melakukan kekerasan.

Saat aku mengatakan ini, remaja pendiam itu memandangku dengan mata penuh kasih sayang.

Dia mengangkat tangannya untuk menyeka air mata di sudut mataku, lalu dengan kaku memelukku. Dia mengucapkan janjinya sambil menepuk-nepuk pundakku.

"Vina, selama ada aku di sini, aku nggak akan pernah membiarkan kamu merasa takut lagi."

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat itu. Hanya saja, rasanya hatiku begitu sesak.

Pada hari itu, kemeja Alvin basah oleh air mataku.

Aku pikir kami akan baik-baik saja selamanya. Namun, dia tiba-tiba memutuskan hubungan kami.

Aku menolak untuk putus darinya, bertanya alasannya dengan mata memerah.

Dia bilang bahwa dia sudah tidak menyukaiku lagi, sesederhana itu.

Aku tidak bisa menerima alasan yang begitu sederhana ini, jadi aku mulai mengejarnya lagi.

Aku memetik bunga mawar liar dengan tangan sendiri. Meski jariku terluka hingga berdarah, aku tetap melakukannya tanpa berhenti.

Aku mengantri berjam-jam di bawah terik matahari demi membeli minuman dari toko terkenal. Aku menikmatinya meski merasa lelah.

Akhirnya, semua orang tahu bahwa di Universitas Harmoni ada Vina yang tidak tahu malu.

Mereka semua bertaruh kapan kami akan kembali bersama.

Namun ....

Ketika Alvin tahu bahwa calon ibu tirinya adalah ibuku ....

Aku tahu dengan sangat baik.

Kami tak akan pernah bisa bersama lagi.

Tidurku sebenarnya sangat nyenyak, kalau saja aku tidak terbangun karena rasa sakit.

Aku memegang perut kananku yang terasa tidak nyaman dengan sangat erat, begitu kuat hingga hampir membuat kulitku tergores.

Biasanya, cara ini bisa sedikit meredakan rasa sakitnya, tapi kali ini tidak memberikan pengaruh apa pun.

Dengan wajah pucat, aku sangat ingin meminum segelas air hangat.

Namun, aku tidak menyangka bahwa Alvin yang seharusnya sudah lama meninggalkan rumah, sedang duduk di sofa.

Lampu di ruang tamu tidak menyala, hanya ada cahaya lampu jalan dari luar yang membuatku bisa melihatnya dengan samar.

Saat itu, Alvin sedang duduk bersandar di sofa dengan tenang. Jarinya yang panjang memegang sebatang rokok yang masih menyala dengan cahaya merah.

Sepertinya dia mendengar suara langkahku, karena dia langsung melirikku dengan tatapan tidak sabaran.

"Vina, apa kamu ingin berpura-pura jadi hantu malam-malam begini untuk menakutiku sampai mati?"

"Maaf, aku hanya ingin minum air."

Aku mengerucutkan bibirku, lalu memalingkan wajah, tidak ingin pria itu melihat betapa menyedihkannya diriku.

Namun, sepertinya dia memang ingin mempersulitku.

Alvin berdiri, berjalan ke arahku, lalu berkata, "Keluarga Setio bukanlah keluarga yang pelit. Kalau kamu mau berpura-pura menyedihkan untuk mencari simpati, hanya ayahku yang akan tertipu."

Alvin mengerutkan kening, memandang tubuhku yang kurus kering dengan tatapan merendahkan, lalu berujar, "Kalau berat badanmu terus turun begini, nanti kamu dan peti matinya mungkin hanya seberat lima kilogram."

Aku terdiam sejenak, lalu menunjukkan senyum simpul.

Kata-katanya itu benar-benar akan menjadi kenyataan.

Aku memang hampir mati.

"Ya, aku nggak akan diet lagi," ujarku.

Aku terdiam lama, akhirnya memilih untuk tidak memberitahunya tentang penyakitku.

Bab 3

Bagaimanapun juga, dia sangat berharap aku mati.

Jadi aku akan memberinya kejutan terakhir.

"Siapa yang peduli kamu mau diet atau nggak? Aku malah berharap kamu mati kelaparan!" kata Alvin.

Alvin mendengus pelan, melangkah melewatiku untuk menuangkan segelas air hangat, lalu meletakkannya di atas meja.

"Melihatmu benar-benar merusak suasana. Andai aku tahu, aku nggak akan pulang!"

Dia terlihat sangat muak berada di ruangan yang sama denganku. Bahkan air yang baru saja dia tuang pun tak diminumnya.

Aku memandangnya saat dia mengambil jasnya, berjalan cepat keluar dari vila.

Dia membenciku seperti seorang musuh bebuyutan, menghindariku seperti menghadapi harimau buas.

Sudah enam tahun aku menjalani kehidupan seperti ini.

Apa yang aku andalkan untuk bisa melewati semua ini?

Melihat riak di gelas kaca, aku tak bisa menahan diri untuk menyesapnya sedikit.

Rasanya masih hangat seperti biasa.

Pada saat itu, penglihatanku menjadi buram.

Sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu.

Aku tidak bisa memahami mengapa aku terus mengejar Alvin meski setelah kami putus.

Mungkinkah itu karena tangannya yang menolongku dari lumpur, atau karena dia adalah tempat berbagi cerita di tengah kesulitan?

Alvin memberiku kebahagiaan selama setahun. Ini membuatku bertahan melewati enam tahun penderitaan.

Aku bahkan mulai meragukan diriku sendiri. Meski bukan karena kanker hati yang tiba-tiba ini, mungkin aku benar-benar akan berhenti mencintainya.

Namun, meski aku akan segera mati, aku tetap ingin terus mencintainya.

Seolah-olah aku sedang menenun mimpi manis untuk diriku sendiri.

Di jalan menuju alam baka, aku masih bisa dengan bangga berkata ....

Aku pernah memiliki cinta yang paling tulus.

Aku bertemu Alvin lagi di departemen kebidanan rumah sakit.

Aku menemani sahabatku, Angel Wijaya, untuk pemeriksaan kehamilan.

Sedangkan pria itu, dia bersama dengan tunangannya, Ajeng Gunawan.

Aku merasa seperti tikus selokan yang takut pada cahaya. Aku berusaha keras mencari tempat untuk menyembunyikan diri.

Namun, gerakanku begitu canggung sehingga orang-orang di sekitarku menatapku seperti sedang melihat orang gila.

Beberapa orang bahkan sengaja berjalan memutar hanya untuk menghindariku.

Namun, aku tidak peduli dengan tatapan-tatapan aneh dari orang-orang. Pikiranku hanya dipenuhi dengan bayangan Alvin yang tersenyum lembut pada Ajeng.

Ada senyum bahagia yang sudah lama tidak aku lihat di wajahnya.

Dia selalu memasang ekspresi dingin di wajahnya, serta berbicara dengan nada yang serius.

Aku dulu berpikir bahwa setelah bekerja, semua orang akan berubah menjadi dingin seperti itu.

Namun, ternyata aku salah.

Alvin hanya bersikap seperti itu padaku.

Aku mengangkat kepala untuk melihat apakah dia sudah pergi, tetapi aku justru bertemu dengan tatapan penuh selidik dari Alvin.

Dia mengerutkan kening, lalu berjalan dengan cepat ke loket lain.

Dia melihatku, tapi dia tidak menghampiriku.

Aku selalu merasa bahwa diriku adalah orang yang sangat canggung.

Aku tidak suka mengambil inisiatif mengungkapkan apa yang aku inginkan.

Namun, ketika aku benar-benar tidak mendapatkan apa pun, aku hanya akan menyimpan rasa kesal sendirian dalam diam.

Bahkan ibuku sendiri tidak menyadari hal ini. Namun, selama setahun aku pacaran dengan Alvin, dia selalu memperlakukanku seperti seorang putri.

Dia memanjakan kecanggunganku, menempatkan segala sesuatu yang aku inginkan di depanku tanpa aku harus mengatakannya.

Awalnya, itu adalah boneka Barbie yang tidak pernah aku miliki sejak kecil. Kemudian, gaun-gaun putri yang indah serta berkilauan ....

Bagaimana mungkin aku bisa melupakan seorang pemuda yang pernah mencintaiku sepenuh hati?

Perutku mulai terasa sakit lagi.

Angel sudah selesai dengan pemeriksaannya. Ketika melihatku duduk di bangku dengan wajah pucat, dia mulai menangis lagi dengan penuh empati.

"Vina, kamu harus bertahan. Bayiku masih harus memanggilmu Bibi."

Aku menatap iri pada perutnya yang sudah mulai membesar. Kemudian, aku melirik ke perutku yang masih datar.

Dulu, di sini juga pernah ada benih kehidupan.

Sayangnya, dia tidak sempat tumbuh di dalam rahimku.

"Angel, jangan menangis. Ibu hamil nggak boleh menangis."

Aku mengulurkan tangan untuk menyeka air matanya, lalu berujar, "Demi panggilan Bibi ini, aku akan terus hidup beberapa tahun lagi."

Takdir yang Sulit Ditempuh

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya