Bab 1
"Sudah kupertimbangkan. Pak Noel, tolong bantu aku siapkan surat cerai."
Pada hari peringatan lima tahun pernikahannya dengan Rio Ansari, Anna Wesley malah menghabiskan waktunya di firma hukum.
Karena Rio sedang sibuk melayani sekretarisnya di rumah.
Sebagai istrinya, Anna malah diusir untuk menghindari kesalahpahaman.
Selama lima tahun ini, Rio tidak pernah mengungkapkan hubungan pernikahan mereka di kantor.
Awalnya, Anna ingin membicarakan hal ini dengan Rio.
Namun, Rio berkata, "Sella sendirian di rumah dan tiba-tiba mati lampu. Dia nggak tahu harus pergi ke mana, jadi aku menyuruhnya datang untuk makan bersama. Anna, seharusnya kamu nggak keberatan, 'kan?"
Anna merasa hal ini tidak perlu dibicarakan lagi.
Bercerai adalah jalan terbaik untuk mengakhiri hubungan yang sudah berlangsung selama lima tahun ini.
"Pak Noel, bisakah kamu menyelesaikan surat perceraianku hari ini?"
Mendengar sepasang pria dan wanita mengobrol riang di dalam vila, Anna tidak bisa menahan diri untuk menghubungi pengacaranya.
Angin malam berembus kencang, tetapi tidak sedingin hatinya.
Jelas-jelas, ini adalah rumahnya dan hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan mereka.
Namun, suaminya malah mengusirnya agar sekretaris suaminya tidak merasa terganggu dan menghindari kesalahpahaman.
Orang di ujung lain telepon mengembuskan napas panjang. "Nona Anna, mari bertemu dan bicarakan langsung."
Satu jam yang lalu, Anna bergegas pulang. Melihat berbagai hidangan di atas meja, dia otomatis menghela napas.
"Rio, kamu tahu aku nggak bisa makan pedas ...."
Dia bukanlah orang yang pemilih dalam hal makanan.
Namun, hampir tidak ada lauk yang bisa dia makan di meja ini.
Meskipun dia tidak pemilih, dia tidak mungkin mempertaruhkan nyawanya demi makan.
Rio tahu bahwa Anna alergi pada cabai.
Jadi, selama beberapa tahun ini, sebagian besar makanan yang disiapkan Anna bercita rasa ringan.
Namun kali ini, Rio malah memesan berbagai hidangan bercita rasa kuat.
Dia mendorong satu-satunya hidangan yang tidak pedas, sup tomat dan telur ke hadapan Anna sambil berkata dengan kesal, "Kamu tahu aku sibuk bekerja, nggak punya waktu untuk mengurus hal-hal kecil seperti ini. Perusahaan sebesar itu bergantung hidup padaku. Hari ini, aku luangkan waktu untuk makan bersamamu, jangan cari masalah. Lagi pula, bukannya sup tomat dan telur ini nggak pedas?"
Meskipun Anna tahu Rio sudah berpindah hati atau mungkin tidak pernah peduli padanya, dia tidak menyangka Rio akan memperlakukannya dengan semena-mena dan tidak menghargai hubungan yang sudah berlangsung selama lima tahun ini.
Jelas-jelas, hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan mereka. Ada dua belas hidangan di atas meja, tetapi Anna hanya pantas memakan satu hidangan.
Ketika Anna hendak mengatakan sesuatu, ponsel Rio berdering.
Saat ini, wajah Rio berseri-seri.
Dia menjawab telepon dengan riang, lalu pergi ke dapur untuk mengambil alat makan dan meletakkan alat makan itu di sampingnya.
Setelah mengakhiri panggilan, dia bertanya pada Anna, "Sella sendirian di rumah dan tiba-tiba mati lampu. Dia nggak tahu harus pergi ke mana, aku menyuruhnya datang untuk makan bersama. Anna, seharusnya kamu nggak keberatan, 'kan?"
Jelas-jelas Rio sedang menanyakan pendapatnya, tetapi malah terdengar seperti sedang mengabarinya.
Anna tersenyum masam.
Rio sudah bertindak sejauh ini, bahkan sudah menata piring dan sendok dengan rapi.
Apa gunanya dia menentang?
"Omong-omong, Anna, tadi kamu mau bilang apa?"
Rio tiba-tiba teringat bahwa tadi Anna hendak mengatakan sesuatu, tetapi disela oleh dering teleponnya. Jadi, dia berinisiatif untuk bertanya pada Anna.
Hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan mereka.
Anna sangat menghargai kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua, dia tidak ingin diganggu oleh orang lain.
Meskipun dia tahu Rio akan kesal mendengar ucapannya, dia tetap ingin mengutarakan isi hatinya.
"Rio, hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan kita. Aku hanya ingin berdua denganmu, mengobrol dan makan ....."
Memang benar, sebelum Anna selesai berbicara, Rio sudah menyelanya.
Rio mengerutkan kening, dia tampak sangat kesal dan langsung membanting sendok di tangannya.
"Aku tahu hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan kita, kamu nggak usah terus mengingatkanku."
"Aku pesan begitu banyak makanan, kamu nggak bisa menghabiskannya sendirian. Sella menemaniku bekerja setiap hari, asam lambungnya sering kambuh karena kelaparan. Anggaplah ini kompensasi untuknya."
Mendengar nada bicara Rio yang begitu tegas, Anna menundukkan kepala.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia mulai menyantap sup tomat dan telur di hadapannya.
Tanpa sadar, matanya memerah.
Air matanya menetes ke dalam sup, lalu disantap olehnya.
Memang benar, dia tidak bisa menghabiskan semua hidangan ini.
Sekalipun bisa, dia akan mati kekenyangan.
Anna menghabiskan sup tomat dan telur itu dalam beberapa suapan.
Ketika dia kembali mengangkat kepalanya, ekspresinya sudah kembali normal.
Hanya saja, sudut matanya agak bengkak dan merah. Kalau Rio memperhatikan dengan saksama, Rio pasti akan menyadari ada yang aneh dengannya.
"Rio, bagaimana kalau kita bercerai saja?"
Rio yang duduk di seberangnya sedang menatap ponsel.
Perhatian Rio tidak tertuju padanya, suatu senyuman tipis muncul di sudut bibir Rio.
Sepertinya dia tidak mendengar ucapan Anna dengan jelas. Dia hanya bergumam pelan tanpa mengangkat kepalanya.
Anna tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tetapi suatu rasa sakit perlahan-lahan melanda hatinya.
Dia menarik napas dalam-dalam untuk menahan kekesalannya.
Ketika dia hendak mengulangi ucapannya, Rio menyelanya, "Sella sudah datang. Kalau ada urusan, kita bicarakan nanti."
Anna membuka mulutnya, tetapi Rio bahkan tidak menunggunya berbicara dan meninggalkan ruang makan dengan terburu-buru.
Melihat Rio pergi dengan tegas, Anna mengerutkan bibirnya dan menundukkan kepala untuk mengetik pesan.
"Nanti, aku akan menemuimu di firma hukum."
Ke depannya, Rio tidak perlu khawatir Anna akan mengganggunya berinteraksi dengan wanita lain.
Lima tahun sudah berakhir, keinginan ibu Rio pun sudah terpenuhi.
Namun, dia tidak ingin menunggu lagi.
Bab 2
Tak lama kemudian, Rio membawa seorang gadis masuk ke rumah.
Anna mengenalinya.
Nama gadis itu Sella Candra.
Sebenarnya, mereka adalah rekan kerja.
Rio adalah bos perusahaan dan Sella adalah sekretarisnya.
Sedangkan Anna adalah direktur keuangan perusahaan.
Namun, untuk menghindari kesalahpahaman, seluruh perusahaan tidak mengetahui hubungan mereka.
Bahkan saat berangkat dan pulang kerja pun, Rio selalu menghindari jam sibuk.
"Kak Anna, ternyata kamu di sini. Kukira Pak Rio membohongiku."
Sella melangkah maju untuk menggandeng lengan Anna.
Nada bicaranya sangat lembut, tetapi terkesan agak licik.
"Kak Anna, beri tahu aku, sebenarnya apa hubunganmu dengan Pak Rio?"
Anna menarik lengannya dengan tidak nyaman. Ketika dia hendak memberi tahu Sella tentang hubungannya dengan Rio, Rio yang berdiri di samping angkat bicara. Nada bicara Rio dipenuhi dengan kasih sayang dan ketidakberdayaan.
"Aku dan Anna hanya rekan kerja. Hari ini, dia sedang memeriksa keuangan perusahaan dan kebetulan bertemu denganmu. Kamu kira semua orang sama sepertimu? Sepulang kerja, bisa langsung berbaring dan menonton televisi?"
Rio menjelaskan hubungan mereka dengan santai.
Anna berdiri di samping Rio, dia menatap Rio untuk cukup lama. Seketika, sekujur tubuhnya membeku.
Meskipun mereka bekerja di perusahaan yang sama dan menganggap satu sama lain sebagai rekan kerja, kata-kata yang diucapkan Rio bagaikan pisau yang menusuk ke hatinya.
Anna menggertakkan giginya sambil berkata dengan kesal, "Rio, jelas-jelas kita ...."
"Diam!"
Rio tidak membiarkan Anna mengungkapkan hubungan mereka. Sebaliknya, dia mendelik Anna dengan galak.
"Sebagian hal nggak pantas dikatakan, aku masih berhak buat keputusan."
Anna menggelengkan kepalanya dengan kecewa. Harapan terakhir di balik matanya pun lenyap.
Saat ini, Sella tersenyum. Mendengar hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja, Sella langsung duduk di samping Rio.
Dia berkata dengan kaget, "Wah, semuanya makanan kesukaanku. Kak Rio, kamu baik sekali."
Setelah melontarkan kalimat ini, Sella mengangkat kepalanya untuk mengecup pipi Rio.
Rio tertegun.
Setelah tersadar, dia diam-diam melirik Anna dengan sudut matanya.
Melihat Anna sedang menundukkan kepala dan sepertinya tidak melihat adegan itu, dia pun menghela napas lega.
"Makanlah. Aku tahu kamu menyukai makanan-makanan ini, kupesankan khusus untukmu."
Mulut Sella dipenuhi dengan makanan lezat, suaranya terbata-bata dan dibaluti dengan nada centil.
"Kak Rio, kamu menyebalkan sekali. Kamu tahu hari ini akan ada pemadaman listrik di kontrakanku, bukannya bilang lebih awal. Aku ketakutan waktu mandi."
"Apa kamu terluka? Salahku, aku nggak menyangka akan begitu kebetulan."
"Hehe, aku hanya bercanda. Waktu mati lampu, aku sudah selesai mandi."
"Ini kejutan yang kusiapkan untukmu hari ini, apa kamu suka?"
...
Keduanya saling menggoda.
Anna tidak menyangka pembicaraan mereka akan begitu mesra, bahkan sudah melewati batas.
Hingga Rio menaruh berbagai lauk di piring Sella, Anna baru menyadari bahwa semua hidangan ini adalah makanan kesukaan Sella.
Di hari peringatan lima tahun pernikahan mereka yang sudah lama dia nantikan, ternyata dia hanyalah peran pendukung.
Ternyata hari ini Rio pulang lebih awal dan menyiapkan semua hidangan lezat ini bukan untuk dia.
Seketika, sepertinya dia tahu kapan Rio mulai berpindah hati.
Hal yang menakutkan itu bagaikan batu besar yang menekan dada Anna hingga membuatnya sesak napas.
Anna berdiri dengan ekspresi masam dan berniat untuk pergi.
"Kalau nggak ada urusan lain, aku pergi dulu."
Sella duduk diam di kursi sambil bertanya, "Kak Anna, kamu nggak makan dulu sebelum pergi?"
"Sudahlah, nggak pantas."
"Biar kuantar."
Sella hendak bangun untuk mengantar Anna keluar, seolah-olah dialah nyonya di rumah ini.
Namun, Rio malah menahan kursinya.
"Dia tahu jalan, nggak usah diantar."
Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Rio ketika Anna meninggalkan vila.
Sama sekali tidak menahannya.
Anna berdiri di luar vila sambil menghirup udara segar.
Dia bukan hanya mengenal jalan, tetapi ini adalah rumahnya.
Namun, sekarang dia bahkan tidak bisa pulang ke rumahnya.
Mungkin waktunya tinggal di rumah ini akan segera berakhir.
Bab 3
Rintik-rintik hujan menetes.
Angin sepoi-sepoi meniup dahan di sepanjang jalan.
Namun, semua itu tidak memengaruhi suasana hati Anna.
Dia menelepon dengan tujuan yang jelas, lalu pergi ke sebuah firma hukum.
Anna menekan lift dan berjalan ke kantor pengacara dengan familier.
Terlihat jelas, ini bukan pertama kalinya Anna datang.
"Pak Noel, bisakah kamu menyelesaikan surat perceraianku hari ini?"
Pengacara yang duduk di seberangnya mengerutkan kening sambil membuka riwayat obrolan di ponselnya.
"Sudah selesai setengah, kalau aku lembur hari ini, seharusnya bisa selesai."
"Tapi, dilihat dari permintaanmu sebelumnya, bukankah kamu berencana untuk bercerai di bulan depan? Kenapa kamu mempercepatnya?"
Anna tersenyum tipis.
"Lebih baik mengakhiri penderitaan daripada terlarut dalam penderitaan. Lagian, cepat atau lambat pasti akan terjadi."
Anna berada di firma hukum hingga larut malam.
Ketika pergi, dia membawa sebuah map hitam.
Sejak meninggalkan firma hukum, dia terus mengerutkan keningnya.
"Surat cerai ini perlu ditandatangani oleh kedua belah pihak."
Sebagai salah satu pihak yang terlibat, dia sudah menandatangani surat itu.
Namun sekarang, dia harus memikirkan cara untuk membuat Rio menandatangani surat itu.
Ketika dia sedang merenung, ponselnya berbunyi.
Rio yang menelepon.
"Anna, di mana kamu? Sudah begitu malam, masih belum pulang? Kirimkan alamatmu, aku akan pergi menjemputmu."
Setelah mempertimbangkan sejenak, Anna mengirimkan alamatnya.
"Oke, aku akan menjemputmu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Dia berpikir kalau kali ini Rio datang menjemputnya, dia akan berterus terang pada Rio dan membicarakan hal ini baik-baik, termasuk soal dia sedang mempersiapkan perceraian.
Namun, dua jam berlalu.
Rio tidak kunjung datang.
Ketika dia membuka ponselnya untuk menghubungi Rio, dia melihat unggahan baru di Instagram Story.
Rumah Sella gelap gulita, hanya menyalakan sebatang lilin. Cahaya redup itu menyinari tangan kiri Rio.
Meskipun sangat gelap, Anna tahu itu adalah Rio.
Anna tidak mungkin salah mengenali cincin nikah mereka.
[Rumahku mati lampu, bosku menemaniku di malam yang gelap ini!]
Anna tertegun sejenak. Pada akhirnya, dia tersenyum masam.
Pantas Rio belum datang, ternyata ada yang menahannya.
Dia menyukai unggahan Sella, lalu berjalan pulang.
Sesampainya di rumah, Anna mandi dan berbaring di kasur.
Ketika Anna hampir terlelap, Rio baru pulang.
Begitu naik ke kasur, dia langsung meletakkan tangannya di pinggang Anna.
Rio menarik Anna ke depan dadanya.
Bibirnya yang dingin bersentuhan dengan leher Anna.
"Anna, kita sudah lama nggak bermesraan ...."
Begitu Rio berbicara, tersebar aroma parfum yang kuat hingga membuat Anna bersin.
Kebetulan, aroma parfum itu sama dengan parfum yang dipakai Sella.
Hal ini membuat Anna merasa mual.
Anna melepaskan diri dari pelukan Rio, suaranya sangat tenang.
"Jangan hari ini, aku nggak enak badan."
Ini adalah pertama kalinya Anna menolaknya.
Suatu cahaya kaget melintas di mata Rio.
Namun, setelah mendengar Anna bersin beberapa kali, Rio teringat bahwa dia melewatkan janji temu hari ini. Dia merasa bersalah.
"Anna, kamu flu? Biar kuantar ke rumah sakit untuk diperiksa."
"Maaf, Anna. Hari ini, aku melupakan janjiku, ada urusan mendadak di kantor. Awalnya aku berniat untuk menjemputmu, tapi nggak sempat karena terlalu sibuk."
Anna memejamkan mata dan mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pria yang sudah berbagi ranjang dengannya selama lima tahun ini, kini selalu membohonginya.
Awalnya, Anna merasa bersalah karena menyiapkan surat cerai tanpa memberi tahu Rio. Namun, sekarang rasa bersalah itu lenyap.