Bab 1

Setelah ketujuh kalinya dijanjikan akan menikah tapi kembali diingkari oleh Rafli, aku akhirnya memutus semua hubungan dengannya secara sepihak. Kalau dia hadir di acara perkumpulan teman, aku tidak akan datang.

Kalau dia diundang tampil dalam acara reuni sekolah, aku akan pergi lebih awal. Kalau kantorku memilih kerja sama dengan perusahaannya, aku langsung mengundurkan diri.

Bahkan saat malam tahun baru, dia datang ke rumah orang tuaku untuk bersilaturahmi, aku pun berdalih keluar mengunjungi teman.

Nomornya aku blokir dan akun instagramnya kuhapus dari daftar pertemanan. Intinya, aku ingin memutus hubungan tuntas dengannya.

Aku tidak menghubunginya dan dia pun tidak akan bisa melihatku.

Selama 30 tahun pertama hidupku, sebagian besar waktu kuhabiskan untuk mencintainya dengan sepenuh hati, merawat dan memperhatikannya tanpa pamrih. Sampai akhirnya, setelah yang ketujuh kalinya dia ingkar janji untuk menikahiku, aku benar-benar sadar.

Aku tidak mau hidup seperti ini lagi.

Meski harus menjalani hidup sendirian, tetap saja lebih tenang daripada terus-menerus menunggu di rumah kosong yang tak pernah dia datangi!

Aku menunggu Rafli di kantor catatan sipil dan terus menunggu sampai para petugasnya pulang kerja. Awalnya saat aku meneleponnya, dia hanya bilang sedang sibuk dan memintaku menunggu. Namun setelah dua jam lagi berlalu, teleponnya sudah tidak bisa dihubungi.

Nada sibuk terus terdengar dari ponselnya.

Formulir pernikahan di tanganku sudah kusut karena kugenggam terlalu erat.

"Bu, kami sebentar lagi tutup. Apa Ibu masih ingin melanjutkan proses pendaftaran pernikahan?"

Seorang petugas akhirnya bertanya padaku, mungkin karena tidak tega melihatku menunggu seharian di sana.

Aku tersadar, lalu perlahan menggelengkan kepala. "Terima kasih. Nggak jadi."

Begitu keluar dari kantor catatan sipil, beberapa pegawai yang juga baru pulang kerja lewat di dekatku dan mulai berbisik-bisik. "Kayaknya aku pernah lihat dia beberapa kali. Setiap kali datang selalu sendirian buat nikah."

"Setelah kamu bilang begitu, aku juga jadi ingat. Sepertinya dia selalu nunggu seseorang yang nggak pernah datang."

Wajahku tetap tanpa ekspresi, tetapi hatiku sudah penuh dengan luka dan berdarah-darah tanpa henti. Aku begitu malu sampai tidak sanggup mengangkat kepala. Langkahku pun otomatis semakin cepat.

Kalau dihitung-hitung, ini sudah ketujuh kalinya aku datang ke kantor catatan sipil menunggu Rafli!

Baru saja keluar dan bersiap memesan taksi untuk pulang, Rafli muncul. Dia berlari kecil menghampiriku, napasnya tersengal-sengal, dan wajahnya memancarkan sedikit rasa bersalah.

"Maaf sekali, Dinda. Tadi di kantor tiba-tiba ada urusan, aku nggak terlalu telat, 'kan?"

Aku tersenyum tanpa suara.

Sebelum ini, dia bilang di kantor ada urusan. Dua kali sebelumnya lagi juga ada urusan mendadak di kantor. Terlepas dari kejadian-kejadian sebelumnya, kali ini dia masih saja menggunakan alasan yang sama.

Aku sudah terlalu lelah untuk membongkar semua alasan palsunya. Jadi, aku hanya menggeleng. "Terlambat. Petugasnya barusan pulang."

Mendengar hal itu, dia malah terlihat sedikit kesal. Dia melirik jam tangan, lalu mulai menyalahkan orang lain.

"Orang-orang ini juga keterlaluan, setiap hari pulang kerja tepat waktu, bahkan satu menit pun nggak mau nunggu," katanya sambil bergerak maju dan menarik tanganku, lalu menaruhnya di dadanya yang naik turun seolah-olah baru saja berlari.

"Tadi macet parah, lihat saja, aku sampai lari-lari ke sini. Capek sekali."

Aku hanya memandanginya dengan tatapan kosong, menahan rasa getir dalam diriku. Tidak ada orang yang sebodoh itu.

Apakah Rafli benar-benar lari ke sini atau tidak, aku bisa menebaknya. Aku menggigit bibir bawahku dan untuk pertama kalinya, aku menanyakan sesuatu yang selama ini kupendam.

"Kalau kamu memang benar-benar lari ke sini dari tempat sejauh itu, kenapa keningmu sama sekali nggak ada keringat?"

Keningnya tampak bersih dan segar. Jangankan berkeringat, bahkan setitik kelembapan pun tidak ada.

Begitu ucapanku dilontarkan, ekspresi Rafli langsung berubah. Alisnya mengerut, matanya menyala dengan emosi, dan nadanya bicaranya meninggi, "Apa maksudmu? Kamu mau bilang aku bohong? Maksudnya, aku sengaja hindari kamu supaya nggak datang untuk nikah?"

"Aku sudah capek-capek lari ke sini, kamu malah bilang aku bohong? Dinda, aku nggak nyangka kamu ternyata orang yang dingin dan nggak punya hati!"

Kemampuannya memutarbalikkan fakta benar-benar luar biasa.

Akan tetapi, reaksinya yang berteriak histeris seperti itu justru terlihat semakin jelas bahwa dia sedang menutupi kesalahan.

Aku memijat pelipis dengan pelan. Tiba-tiba saja aku tidak ingin lagi memperpanjang masalah dan terlibat lagi dengannya.

"Rafli, kamu lagi bicara jujur atau nggak, kamu sendiri yang paling jelas!"

Usai bicara, aku bersiap-siap untuk pergi.

Namun, suara dinginnya kembali menggema dari belakang. "Oke, aku tahu kok! Tapi kalau kamu punya nyali, jangan pernah cari aku lagi! Jangan terus-terusan cari aku dan mohon aku untuk daftar pernikahan denganmu!"

"Aku mau lihat, berapa lama kamu bisa bertahan kali ini!"

Kali ini, aku bertekad bulat untuk tidak menoleh. Hanya saja, bibir bawahku telah kugigit hingga meninggalkan jejak berdarah.

Baru berjalan dua langkah, layar ponselku menunjukkan sebuah pesan masuk.

[ Dinda, gagal nikah lagi ya? Sayang banget. Tapi nggak apa-apa, tunggu saja sampai kamu minta Rafli nikah untuk yang kedelapan kalinya! ]

Bab 2

Aku berulang-ulang membaca pesan itu hingga tiga kali. Sebodoh apa pun, aku tetap bisa menyadari bahwa pesan ini jelas-jelas adalah sebuah provokasi darinya.

Meski aku sudah menduga alasan kenapa Rafli tidak datang, tetap saja, menerima pesan dari Yasmine membuat dadaku terasa sesak. Bisa dibilang, aku dan Rafli adalah teman masa kecil yang tumbuh besar bersama.

Sejak kecil, aku sudah bercita-cita untuk menikah dengannya suatu hari nanti.

Masih ingat saat aku pertama kali mengatakan hal itu, waktu itu aku baru masuk SD. Orang tuaku dan orang tuanya sama-sama tertawa senang mendengarnya. Rafli juga memperlakukanku sebagai orang yang sangat dekat.

Semua itu terus berlanjut sampai kami kuliah. Waktu itu, untuk pertama kalinya, dia membawa seorang teman wanita pulang ke rumah.

Orang itu adalah Yasmine.

Dari cara mereka berinteraksi dan cara mereka saling memandang, aku sadar bahwa mungkin kedekatan Rafli padaku selama ini bukan karena cinta.

Aku pun panik.

Setelah lulus kuliah, aku pernah bilang ingin mengajaknya menikah dengan setengah bercanda.

Meski kedua orang tua kami sama-sama menyetujui, Rafli menolaknya. Selain itu, penolakannya itu sangat tegas.

Selama tujuh atau delapan tahun setelah kejadian itu, mungkin ada belasan kali aku memintanya untuk menikah. Namun, dia hanya pernah menyetujuinya tujuh kali.

Hanya saja, ketujuh kali itu semuanya diingkarinya.

Setiap kali kami batal mendaftarkan pernikahan, Yasmine akan mengirimiku pesan yang penuh provokatif.

Ponselku kembali bergetar.

Kupikir itu pesan dari Yasmine lagi dan aku hampir langsung menolaknya. Namun begitu kulihat keterangan namanya, ternyata itu telepon dari temanku. Katanya, malam ini ada acara perkumpulan dan dia ingin mengundangku datang.

Tanpa sadar, kalimat pertama yang keluar dari mulutku adalah pertanyaan, "Rafli datang nggak malam ini?"

"Tenang saja, Dinda. Aku tahu hubunganmu sama Rafli. Aku sudah bilang sama dia sebelumnya. Dia pasti datang, kok!"

"Kalau begitu, nggak usah. Kalau dia datang, aku nggak akan ikut. Lain kali saja ya."

Suara temanku yang tadinya terus mengoceh, tiba-tiba terhenti. Seolah-olah kalimatku barusan mengejutkannya.

Semua orang tahu, selama bertahun-tahun ini, akulah yang terus-menerus mengejar Rafli.

Aku yang dengan muka tebal memberikan bunga padanya di hari wisuda, memutar otak memilihkan pekerjaan yang cocok untuknya, bahkan rela mencuci pakaian dan membersihkan rumahnya tanpa pamrih.

Pernah suatu kali di pesta ulang tahun seorang teman, seseorang mengatakan bahwa Rafli pasti mendapat berkah besar dari kehidupan sebelumnya, sehingga ada aku yang begitu tulus mencintainya.

Namun, Rafli hanya mendengus dingin dan mencibir. "Nempel terus kayak perangko. Menyebalkan! Siapa juga yang peduli?"

Dulu, aku tidak peduli pada ucapannya. Aku selalu berpikir bahwa suatu hari dia pasti akan berubah untukku. Namun sekarang, aku peduli.

Setelah menutup telepon, aku mengirim pesan massal ke beberapa grup teman dekat.

[ Mulai sekarang, kalau ada acara kumpul dan Rafli hadir, nggak usah undang aku. ]

Setelah semuanya selesai, aku baru memesan taksi untuk kembali ke kontrakan.

Selesai bersih-bersih diri, aku mulai mengemasi semua barang milik Rafli yang ada di rumah. Kukumpulkan semuanya ke dalam satu koper besar, lalu menelepon jasa kurir untuk mengantarnya ke tempat Rafli.

Saat kurir datang, sahabatku juga tiba-tiba muncul, seakan-akan sudah mencium ada sesuatu yang terjadi.

Begitu melihatku sibuk mengemas banyak barang, dia langsung berseru, "Dinda, jangan bilang kamu mau pergi jauh?"

Aku tertawa dengan heran, lalu membuka koper dan memperlihatkan isinya. "Kamu ngomong apa sih, ini semua barang-barangnya Rafli. Aku mau kirim balik semuanya."

Sahabatku terdiam cukup lama, lalu setelah melihat kurir pergi membawa koper itu, dia menatapku dengan ekspresi tak percaya dan bertanya pelan, "Tapi, katanya kamu mau pergi daftar nikah sama Rafli hari ini? Kenapa tiba-tiba ...."

Ucapannya terhenti di tengah jalan.

Dia juga tahu soal pembatalan itu, sehingga bisa langsung menebaknya. Tatapan matanya pun langsung tampak membara. "Rafli lagi-lagi ninggalin kamu ya? Pantas saja kamu kirim pesan begitu. Ini pasti ulah Yasmine lagi, 'kan? Ayo, kita temui dia sekarang juga dan ngomongin dengan jelas!"

Bab 3

Meskipun sudah berusaha keras menolak, aku tetap diseret oleh sahabatku ke tempat mereka mengadakan acara kumpul malam ini. Baru saja sampai di depan pintu ruang VIP, suara Rafli sudah terdengar jelas dari dalam.

"Kalian nggak usah ribut. Selama bertahun-tahun ini, Dinda sudah ngomong berapa kali mau ninggalin aku? Tapi pada akhirnya tetap nggak pernah bisa lepas. Hari ini dia cuma lagi emosi. Nanti juga kalau sudah reda, pasti akan kembali cari-cari aku lagi!"

Di luar pintu, aku menggigit bibirku dengan kuat, sampai samar-samar terasa rasa darah di mulutku.

Selama ini, aku sudah setulus itu merawatnya dan melakukan semua hal demi kebaikannya. Namun ternyata, di mata Rafli, semua itu tidak berarti apa-apa.

Sahabatku yang melihat mataku sudah memerah, menggenggam tanganku erat.

Saat dia hendak mendorong pintu dan masuk, aku langsung menahannya. Pada titik ini, aku bahkan tidak ingin lagi melihat wajah Rafli. Aku menarik sahabatku pergi, bersiap untuk meninggalkan tempat itu.

Baru berjalan dua langkah dan sampai di tikungan lorong, pintu ruang VIP terbuka dan Rafli keluar bersama Yasmine.

Tak lama kemudian, Yasmine mulai bicara, "Rafli, kamu sudah mabuk. Jangan ngomong terus. Nanti kalau Dinda dengar, bisa sakit hati, lho."

"Bukannya itu yang kamu mau? Setiap kali kamu minta aku untuk setuju menikah sama dia, lalu di detik-detik terakhir suruh aku batalin. Kamu memang jahat, Yas."

Begitu kalimat itu keluar dari mulut Rafli, air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Ternyata, aku cuma badut bagi mereka selama ini. Aku hanya bagian dari permainan dan olok-olokan bagi mereka berdua!

Pantas saja ... waktu Rafli setuju menikah denganku untuk pertama kalinya, dia sama sekali tidak terlihat bahagia. Aku yang sedang hanyut dalam kegembiraan saat itu, tidak pernah menyadari kesinisan di balik matanya.

Yasmine lalu bersandar manja di dada Rafli dan meninju-ninju dadanya sambil bercanda, "Apa-apaan sih, jahat gimana? Bukannya kamu yang pertama kali ngusulin ide ini!"

"Aku cuma mau buat kamu senang, makanya aku ngasih ide itu."

Keduanya semakin asyik mengobrol. Lalu tanpa memedulikan sekitar, mereka mulai berciuman mesra.

Sekujur tubuhku seolah-olah telah kehilangan jiwa. Aku menyeret sahabatku keluar dengan perasaan linglung.

Angin malam yang dingin menerpa wajahku, seakan ikut membekukan hatiku.

"Dinda, kamu itu terlalu baik, makanya dua manusia berengsek itu semena-mena mempermainkan kamu!" Yasmine terus mengomel dengan penuh amarah, sementara aku hanya tersenyum tipis.

Baru saja hendak membuka mulut, mulutku merasakan bau anyir darah yang pekat.

"Semuanya sudah berlalu. Mulai sekarang, aku dan Rafli nggaka akan ada hubungan apa-apa lagi!"

Setelah bersusah payah membujuk Yasmine pulang, aku kembali ke rumah kontrakan.

Begitu tiba di rumah, aku menerima telepon dari kurir. Katanya dia sudah tiba di lokasi, tetapi tidak bisa menghubungi penerima.

Aku baru teringat, Rafli memang selalu menolak panggilan dari nomor tak dikenal. Aku meminta kurir untuk menunggu sejenak, lalu menutup telepon dan menghubungi Rafli sendiri. Sepertinya dia sedang di bar. Suasananya bising, tetapi suara sombongnya tetap jelas terdengar.

"Cepat sekali telepon aku. Mana keberanianmu waktu ninggalin aku sendirian di tepi jalan seperti tadi siang?"

Dulu, aku pasti sudah meminta maaf dengan segala cara. Namun sekarang, aku hanya berkata dengan datar, "Barangmu sudah kutitipkan di depan pintu rumah. Nanti ambil saja waktu pulang."

Rafli semakin besar kepala.

"Dinda ... kamu belikan aku apa lagi? Mau bujuk-bujuk aku lagi ya? Bukannya kamu sudah sekeras itu sampai ngirim pesan seperti itu ke semua teman-teman? Bukannya kamu bilang nggak mau hadir di semua acara yang ada aku? Kenapa sekarang malah mau bujuk aku lagi?"

Aku tidak berkata apa-apa lagi, melainkan langsung menutup telepon. Sebelum panggilan itu terputus, sepertinya aku sempat mendengar dia menanyakan barang apa yang kubelikan. Dia masih harus melihat apakah dia menyukai barang itu atau tidak sebelum mempertimbangkan untuk memaafkanku.

Aku tertawa getir.

Sudah bertahun-tahun jadi "anjing penjilat", di matanya aku bahkan tidak punya harga diri sedikit pun.

Namun, semua itu tidak masalah lagi. Suatu hari dia akan sadar sendiri.

Tak Kunjung Dinikahi, Aku Memilih Pergi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya