Bab 5
Ekspresi Chloe mendadak menjadi dingin. Pria ini benar-benar tahu caranya merusak suasana.
Dengan langkah tergesa-gesa, Luther berjalan menuju pintu ruang pakaian. Begitu melihat keadaan di dalam yang sudah nyaris kosong, kata-kata yang siap keluar justru tersangkut di tenggorokannya.
Sebaliknya, dia tertawa sinis. "Bagus, bagus. Sekarang punya trik baru ya? Keluar dari rumah sakit nggak kasih kabar, mau bikin aku merasa bersalah?"
"Sekarang beres-beres kamar, mau kabur dari rumah? Kamu pikir umurmu 3 tahun? Kalau dikasih hati, jangan minta jantung. Jangan kekanak-kanakan begini!"
Chloe belum melakukan apa-apa, tetapi sudah disemprot habis-habisan. Dia menatap Luther datar, lalu balik bertanya dengan tenang, "Sudah selesai ngomongnya?"
Tiga kata itu langsung membungkam Luther. Dia menatap Chloe dengan tidak percaya, tiba-tiba merasa wanita ini berubah banyak. Bahkan waktu di rumah sakit saat melihat Monica, dia tidak bereaksi sedikit pun, seolah-olah tak peduli.
Padahal dulu setiap Luther berinteraksi dengan wanita lain, Chloe pasti akan bertanya. Mereka bahkan pernah bertengkar hebat gara-gara Monica. Namun sekarang? Wanita ini sangat tenang.
Tidak mungkin. Ini pasti trik untuk menarik perhatiannya!
Tatapan Luther berubah jijik. Dia berkata dengan dingin, "Chloe, kamu sudah berubah. Dulu meskipun nyebelin, kamu masih punya sisi manis. Sekarang? Sama sekali nggak ada."
Chloe tetap menatapnya tanpa ekspresi. Dia bertanya, "Sisi manis yang kamu maksud itu waktu aku rela menerima semua pengkhianatanmu tanpa batas?"
"Lihat, 'kan? Kamu masih ngambek! Padahal sudah lebih dari seminggu! Kamu ini pendendam sekali ya!" Luther seakan-akan menemukan bukti kuat sehingga nadanya menjadi percaya diri.
Namun, kali ini Chloe tidak menanggapi. Dia menunduk, melanjutkan membereskan buku desainnya.
Luther merasa dirinya sudah menemukan cara menekan, jadi mendengus sinis. "Ya sudah, selesaikan ngambekmu dulu. Beberapa hari ini aku nggak akan pulang."
Dia benar-benar membuktikan ucapannya. Selama seminggu penuh, dia tak pulang.
Sementara itu, Chloe justru merasa lega. Dia pelan-pelan menyelesaikan semua urusannya. Hingga festival lampion, rumah yang dulu penuh kini tinggal satu set sofa dan satu kursi gantung. Kebetulan, semuanya adalah model yang pernah dipamerkan oleh Monica.
Sejak ponselnya rusak waktu itu, Chloe belum membeli yang baru. Dia berniat menahan diri sampai dua minggu ini untuk menyambut awal yang baru.
Hari ini, dia membawa sekotak kecil barang ke bazar amal, sengaja memilih taman di luar kompleks agar tak bertemu orang yang dikenalnya.
Saat sedang asyik berjualan, dari kejauhan tampak tiga sosok yang sangat familier berjalan mendekat.
Monica pura-pura kaget. "Chloe, ngapain kamu di sini? Lagi jualan apa?"
Luther awalnya mengernyit, mengira Chloe membuat ulah lagi. Namun, begitu tatapannya tertuju pada barang-barang di lapak, pupilnya langsung mengecil. "Chloe, ini barang-barang kita. Kok bisa kamu jual?"
Raiden juga mengenali beberapa barang, langsung ingin merebut. "Ini mobil mainanku!"
Sebelum dia sempat mengambil, Chloe lebih dulu menahan tangannya, tersenyum tipis. "Perlu aku luruskan, ini bukan punyamu. Ini mobil mainan yang aku beli."
"Ini kaleidoskop yang aku beli, bingkai foto berhiaskan kristal ini juga aku yang beli ...."
Dia menyebut satu per satu, lalu menatap Luther. Suaranya pelan saat berkata, "Dulu kalian hina semua barang pembelianku ini, bilang seleraku kampungan. Jadi, apa salahnya dijual untuk amal?"
Luther terpaku, seakan-akan tak mengenali wanita di depannya. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah bingkai besar. Tubuhnya menegang. "Itu bingkai untuk foto pernikahan, mana fotonya?"
Chloe menoleh, pura-pura heran. "Memangnya ada? Bukannya dari dulu memang kosong?"
"Chloe! Jangan keterlaluan ya!"
Melihat Luther menaruh perhatian ke Chloe, hati Monica mendidih. Dia merangkul tangan Luther dengan manja, lalu berucap, "Chloe, jangan salah paham. Luther cuma nggak mau rumah tangga kalian hancur."
Tak habis pikir, bagaimana bisa seorang pelakor berbicara seangkuh itu? Chloe sampai kagum pada ketebalan muka Monica.
"Orang yang benar-benar nggak mau rumah tangganya hancur, nggak akan membiarkan wanita lain merangkul tangannya di depan istrinya."
Begitu kata-kata itu dilontarkan, Luther seakan-akan tersengat dan buru-buru melepaskan tangan Monica.
Chloe segera membereskan barang, melirik mereka dengan tatapan jijik. "Gara-gara kalian, daganganku berantakan. Silakan lanjut kencan kalian. Aku pindah tempat."
Bab 6
Chloe memanggul satu tas besar dan pergi. Luther tidak mengejarnya. Chloe pun tidak berharap pria itu akan menyusul. Dengan Monica di sisinya, mana mungkin dia sempat memikirkan orang lain?
Setelah Chloe selesai menjual barang-barangnya, langit sudah gelap. Malam ini adalah festival lampion. Semua rumah tampak meriah.
Chloe tidak ingin membuat dirinya terlihat menyedihkan, jadi dia pergi ke sebuah bar yang sudah lama dia sukai, tetapi belum pernah dia datangi.
Desain bar itu artistik. Pernah suatu kali Chloe membicarakannya kepada Luther, tetapi pria itu mengatakan tempat seperti itu bukanlah tempat untuk orang baik.
Saat melangkah masuk, bar ini tidak seramai bar lain. Sebaliknya, dengan alunan musik pelan, suasananya justru romantis. Dia memilih kursi di sudut. Baru saja duduk, seorang pembawa acara naik ke panggung, menepuk mikrofon dan memberi isyarat agar tenang.
"Malam ini, di hari yang istimewa ini, kami kedatangan tamu spesial. Mari kita sambut!" Diiringi tepuk tangan meriah, seseorang melangkah keluar dari balik tirai.
Itu adalah wajah yang sangat dikenal Chloe. Dengan senyuman anggun, Monica menyapukan pandangan ke sekeliling. Saat melihat Chloe, dia sempat tertegun, lalu senyumannya semakin cerah. Dia menggenggam mikrofon dan berkata.
"Halo semuanya, aku Monica. Setahun lalu aku adalah penyanyi tetap di sini. Di sini, aku bertemu dengan cinta sejatiku."
Matanya menoleh ke arah Luther. Sorotan lampu pun mengikuti pandangan itu. Satu orang di panggung, satu lagi di bawah. Keduanya saling bertatapan seakan-akan mereka adalah pasangan paling romantis di dunia.
Orang-orang di sekitar mulai bersorak, bahkan pembawa acara memanggil Luther untuk naik ke panggung. Raiden ikut bertepuk tangan, mendorong ayahnya untuk naik.
Pria yang biasanya berwajah datar itu, kini justru tampak malu-malu dan sedikit tersipu.
Chloe duduk di sudut, menyilangkan tangan, menatap suasana riuh di panggung dengan tenang.
Dia adalah istri sah dengan akta nikah, tetapi kini seperti orang asing yang hanya menjadi saksi kebahagiaan mereka.
"Luther, terima kasih karena dulu kamu menolongku. Sejak dulu, hatiku nggak pernah berubah." Mata Monica berkaca-kaca seakan-akan hendak menangis.
Sorot mata Luther dipenuhi rasa iba. Dia mengangkat tangan, menghapus air mata di sudut mata.
"Cium! Cium!" Sorakan menggema.
Monica menatap Chloe dengan tatapan penuh kemenangan. Di hari yang seharusnya untuk kebersamaan ini, suami dan anaknya malah menerima cinta dari wanita lain di depan umum dengan terang-terangan.
Membosankan. Chloe menunduk, meneguk habis isi gelasnya dalam sekali minum. Saat orang-orang bersorak merayakan cinta, dia berdiri dan berjalan ke luar.
Di panggung, Luther yang sedang menatap Monica tiba-tiba teringat wajah Chloe tadi pagi. Entah kenapa, wajah itu penuh rasa muak kepadanya. Seketika, dia menangkap sosok yang sangat familier dari sudut mata.
Chloe? Kenapa dia di sini? Bukankah sudah dibilang jangan datang ke tempat seperti ini?
Saat sedang berpikir begitu, Luther melihat seorang pria asing yang mencurigakan mengikuti Chloe dari belakang. Tanpa berpikir panjang, dia turun dari panggung dan berlari ke luar.
Sementara itu, Monica yang sedang larut dalam rasa puas dan sorotan, yakin kali ini dia pasti bisa membuat Luther takluk. Namun, pria itu tak kunjung memberi jawaban, seakan-akan sedang bimbang. Baru saja dia hendak mendesak, Luther sudah berlari pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pria ini mau mengejar Chloe? Kenapa? Bukankah suasana di sini sangat romantis?
Monica meradang, segera menyusul. Penonton pun heboh, tak tahu apa yang terjadi.
Angin malam masih terasa dingin. Chloe merapatkan kerah mantelnya. Segelas alkohol tadi membuat perutnya panas dan kepalanya agak pusing. Belum berjalan jauh, dia sudah merasa bumi berputar. Dia berhenti, bersandar di dinding.
Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar. "Cantik, sendirian?"
Chloe refleks menoleh, menjaga jarak. Pria itu mengenakan topi, wajahnya tak terlihat jelas. Tanpa basa-basi, dia langsung mencoba menyentuh Chloe.
Chloe melawan mati-matian, tetapi tenaga pria itu begitu kuat.
"Chloe!" Suara Luther terdengar.
Saat ini, Chloe tak peduli lagi soal cerai atau tidak. Dia berteriak, "Luther! Cepat tolong aku!"
Pria mesum itu kaget, hampir melepaskan. Namun, dari belakang Luther, Monica tiba-tiba mengeluarkan suara lirih kesakitan, lalu jatuh ke tanah.
"Luther, kakiku ... sakit sekali ...." Monica memegang pergelangan kakinya, menangis tersedu-sedu.
"Ayah! Bibi Monica keseleo! Cepat bawa ke rumah sakit!" Raiden berteriak dengan panik.
Pria mesum itu mendadak menjadi lebih berani, mencengkeram lengan Chloe erat-erat, menatap Luther dengan tatapan menantang. Siapa pun tahu, sekarang Luther harus memilih.
Chloe menatapnya lekat-lekat. Wajah pria itu penuh dilema. Dia akhirnya berbalik, mengangkat Monica, dan hanya meninggalkan satu kalimat. "Jangan takut! Aku akan telepon polisi untukmu!"
Raiden memekik dengan marah, "Dia cuma nenek sihir tua, Papa! Ngapain peduliin dia!"
Tiga sosok itu pun menghilang dalam kegelapan. Chloe menatap dengan tidak percaya.
Bab 7
Apa ini pilihan yang bisa dilakukan manusia? Luther selalu punya cara untuk terus menurunkan standar dirinya.
"Kelihatannya kamu sudah kehabisan bala bantuan." Pelaku pelecehan itu menyeringai puas.
Chloe mengeluarkan kunci dari saku dan langsung menusukkannya ke mata pria itu.
Pelaku menjerit keras, lalu melayangkan tinju ke arah Chloe. Perkelahian terjadi. Chloe menerima beberapa pukulan telak, tetapi dia memanfaatkan celah dengan menendang keras kemaluan pria itu. Saat pria itu kesakitan dan terkapar, Chloe merebut ponselnya dan menelepon polisi.
Polisi datang dan menanyakan situasinya. Chloe pun bertanya, "Apa tadi ada laporan polisi untuk lokasi ini?"
Polisi menjawab dengan santai, "Nggak ada."
Heh. Bahkan untuk menelepon polisi pun Luther malas.
Setelah selesai melapor di kantor polisi dan mengobati lukanya di rumah sakit, dokter memuji daya tahannya menghadapi pukulan berat. Chloe hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Serangan mental yang lebih parah pun bisa dia terima, apalah artinya cedera fisik ini?
Ketika semua urusan selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Chloe menyeret tubuhnya yang lelah untuk pulang. Rumah sunyi tanpa tanda-tanda kehidupan. Dia merebahkan diri di sofa, kehilangan semua energi.
Entah berapa lama, suara pintu terbuka memecah keheningan. Lampu menyala, menyilaukan mata. Chloe memicingkan mata, mengangkat tangan menutupi cahaya. Dari sela-sela jari, dia melihat Luther masuk bersama Raiden.
"Huh! Sudah kuduga kamu cuma berakting buat ganggu Papa!" Raiden mencibir tanpa ampun.
Chloe tak punya tenaga untuk menegur. Dia memejamkan mata, malas memedulikan ayah dan anak itu. Suaranya datar saat berujar, "Mau ambil apa, cepat ambil. Aku mau istirahat dengan tenang."
Luther menatapnya. Memar di sekujur tubuh, pipi bengkak, kuku patah. Namun, Chloe tetap diam, seolah-olah hanya tersisa kelelahan untuk Luther. Bahkan tidak ada niat untuk mengadu. Padahal, suaminya seharusnya menjadi tempat perlindungannya.
Melihat Raiden yang sama sekali tak peduli dengan kondisi ibunya, hati Luther mendadak mencelos. Bagaimana anaknya bisa berubah sekejam ini?
Karena tak mendengar suara untuk waktu yang lama, Chloe membuka mata dan melirik sekilas. "Mau aku minta maaf karena merusak kencanmu? Ya sudah, aku minta maaf."
Dia hanya ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan.
Luther malah berkata pada Raiden, "Masuk kamar, tidur." Kemudian, pria itu keluar dari rumah.
Dia tak tahu suaminya mau ke mana dan tak peduli.
Namun, setengah jam kemudian, pintu terbuka lagi. Luther masuk dengan kantong berisi obat. Pria itu berjongkok di hadapan Chloe, menyiapkan kapas dan antiseptik.
Gerakan itu membuat Chloe membuka mata. "Mau apa? Lukaku sudah diobati. Berpura-pura peduli sekarang? Apa gunanya?"
Alis Luther berkerut, nadanya jengkel. "Aku sudah obati lukamu, kamu masih marah-marah? Chloe, kamu memang suka diperlakukan buruk ya? Harus disakiti baru puas?"
Chloe tersenyum sinis. "Jadi, kamu juga sadar kalau kamu memang jahat padaku?"
Pria itu terdiam, malas berpura-pura baik lagi. Dia melempar kapas dan antiseptik ke meja, berdiri tegak menatap ke bawah. "Sudah kubilang jangan ke tempat seperti itu. Kamu yang nggak dengar. Sekarang celaka sendiri, mampus!"
Mampus? Hebat. Luther selalu bisa menemukan celah di tubuhnya yang penuh luka untuk kembali menusukkan belati.
Chloe bahkan tak punya energi untuk marah. Dia hanya menatap Luther, lalu bertanya, "Terus, kamu dan Monica bertemu lagi di mana?"
Seingatnya, Monica sendiri yang bilang di bar. Setelah bertanya, dia tak peduli dengan ekspresi Luther, langsung menarik selimut untuk menutupi kepala. Lelah. Benar-benar lelah. Kenapa dia harus menanggung ini semua?
Masih ada setengah bulan, tetapi dia bahkan tidak bisa bertahan selama satu jam lagi.
Sayup-sayup, Chloe mendengar ponsel Luther berbunyi berkali-kali, tetapi tak diangkat. Beberapa saat kemudian, Raiden keluar dari kamar sambil membawa ponsel, berteriak tanpa sungkan, "Papa, Bibi Monica telepon!"
Setengah jam setelah itu, Luther dan Raiden pergi. Padahal sekarang sudah dini hari.
Setelah mereka pergi, Chloe baru bisa tidur dengan tenang. Saat bangun, hari sudah gelap lagi. Dia bangkit, tubuhnya terasa remuk.
Sudah berhari-hari, tetapi Luther tak pernah menanyakan soal ponselnya. Kalau pria itu menelepon sekali, pasti tahu ponselnya tak bisa dihubungi.
Dengan tenaga yang tersisa, Chloe keluar untuk membeli makanan. Baru sampai di bawah, dia melihat Luther dan Monica sedang bermesraan di tikungan.
Saat itu juga, bayangan hitam melintas di sisinya. Dalam sekejap, perutnya terasa perih. Dia pun menunduk, mendapati darah segar mengalir deras. Kepalanya terangkat, dia terpaku.
Di sana, Monica menjerit, memeluk lengan Luther erat-erat. "Luther! Aku takut!"
Pelaku itu panik karena mendengar teriakan. Dia buru-buru menusuk Chloe sekali lagi, lalu kabur. Tubuh Chloe perlahan ambruk ke tanah, pandangannya tertuju ke arah pria yang masih berdiri di sisi Monica ....