Bab 3

Luther tersentak oleh kata-kata tajam Chloe. Dia memperingatkan, "Mereka juga orang tuamu sekarang. Apa begitu sulit membantuku membersihkan makam mereka? Kamu sudah dewasa, masa nggak bisa naik taksi sendiri?"

Dulu meskipun Luther suka bersikap dingin, dia tak pernah seperti ini. Sekalipun kesal, dia tetap akan mengutamakan keselamatan Chloe.

Chloe tidak lagi berdebat, langsung membuka pintu dan turun. Brak! Pintu mobil tertutup dengan keras, penuh emosi.

Luther bahkan tidak ragu sedetik pun, langsung memutar balik mobil dan pergi. Asap knalpot pun mengepul ke wajah Chloe.

Hampir bersamaan, ponsel Chloe bergetar. Itu adalah pesan dari Monica.

[ Mengalahkanmu terlalu mudah. ]

Tiga kata yang membuat Chloe muak. Dia menggulir ke atas. Semua isi percakapan adalah provokasi dari Monica. Chloe tak pernah membalas.

Dulu, dia terlalu marah sampai menangis berhari-hari, tak punya tenaga untuk menanggapi. Sekarang dia sudah bebas. Setelah berpikir sejenak, dia mengetik.

[ Kalau begitu, aku doakan pernikahan kalian bahagia nanti. ]

Dia sangat tahu, sebulan lagi ketika perjanjian cerai berlaku, Luther pasti segera menikahi Monica. Ucapan ini tulus dari lubuk hatinya. Dia tulus berharap mereka menikah, tulus berharap rumah tangga mereka hancur lebur.

Monica langsung terpancing, membalas dengan marah.

[ Dasar perempuan murahan nggak tahu malu! Kalau bukan karena kamu, aku sudah menikah dengannya! ]

[ Kamu kira dia suka sama kamu? Jangan terlalu percaya diri. Kamu tahu nggak, setiap hari Raiden bilang mau bakar kamu hidup-hidup, biar aku jadi mamanya! ]

Pesan terakhir membuat Chloe terdiam. Bagaimana bisa seorang anak kecil berkata sekejam itu? Namun, perasaan sedih itu segera menguap. Sebentar lagi, Raiden memang bukan anaknya lagi.

Chloe mengaktifkan mode diam, lalu mematikan ponsel. Setelah berjalan satu jam, dia akhirnya sampai di gerbang pemakaman.

Petugas yang berjaga sudah mengenalnya. Jarang sekali ada yang berziarah di hari pertama tahun baru. Sambil mencatat, petugas melirik ke belakangnya. "Hari ini sendirian?"

"Ya." Chloe tidak banyak bicara, mengambil bunga, lalu berjalan menuju makam.

Foto pasangan suami istri di batu nisan tampak muda. Tidak ada yang menyangka mereka akan mengalami kecelakaan.

Saat itu, Chloe baru pertama kali bertemu Luther dalam acara perjodohan. Luther bahkan membawa Monica sebagai bentuk perlawanan diam-diam.

Ayah Luther menyetir, ibunya duduk di depan, berusaha mencairkan suasana. Chloe duduk di dekat jendela, Monica di tengah.

Mungkin karena terlalu sibuk menghidupkan suasana, ayah Luther tidak melihat truk besar yang tiba-tiba muncul di tikungan.

Benturan keras terjadi sekejap. Chloe hanya sempat menarik Luther agar menjauh dari sisi truk. Akan tetapi, potongan besi yang menembus kaca langsung memotong jari manis dan kelingkingnya. Setelah itu, dia pingsan.

Saat bangun, dia melihat Luther menangis sampai wajahnya bengkak, menatapnya dengan benci, dan berkata dengan terpaksa, "Kita ambil akta nikah sekarang juga."

Entah kenapa Monica pergi. Dalam waktu lama, Luther selalu menyalahkan kematian orang tuanya pada Chloe. Namun, waktu terus berjalan, jarak mereka sempat menipis, bahkan menikmati dua tahun indah bersama. Hingga kemudian ....

Chloe menarik napas panjang, meletakkan bunga di depan makam. Suaranya parau saat berujar, "Ayah, Ibu, ini terakhir kalinya aku memanggil kalian begitu. Aku sudah lelah mendampingi Luther. Sekarang wanita yang dia cintai sudah kembali, semoga dia bahagia. Kalian jangan khawatir."

"Hari ini dia nggak bisa datang. Tapi mulai tahun depan, aku tetap akan datang setiap tahun." Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi, hanya duduk terdiam. Angin berembus, menjatuhkan kelopak bunga ke wajahnya, seakan-akan mereka pun menghela napas untuknya.

Chloe bertahan sampai siang, makan seadanya bersama petugas, lalu berjalan pulang. Baru setengah jalan, langit mendadak gelap, hujan deras mengguyur tanpa ampun.

Dia ingin memesan taksi, tapi antreannya sampai ratusan orang. Jalan sepi, tak ada satu pun sosok, bahkan pohon untuk berteduh pun tidak ada.

Chloe memaksakan diri, terus berjalan di tengah hujan. Empat jam kemudian, dia akhirnya sampai di pusat kota. Pantulan kaca menunjukkan penampilannya yang kacau.

Bajunya basah kuyup, rambutnya menempel di kulit kepala, wajahnya tanpa cahaya. Siapa pun yang melihat akan mengira dirinya adalah gelandangan.

Saat hendak mengalihkan pandangan, matanya terpaku pada sosok di balik kaca. Kebetulan sekali.

Di dalam restoran, Luther duduk bersama Raiden dan Monica, bercakap hangat, seperti keluarga kecil yang sempurna. Sementara itu, dia seperti pengemis tanpa rumah.

Barulah Chloe sadar, setelah Luther pergi tadi, pria ini sama sekali tidak meneleponnya. Dia lantas mengeluarkan ponsel yang sudah basah kuyup, tetap keras kepala menekan nomor itu. Panggilan tersambung.

Di dalam, Luther menoleh, melihat nama penelepon. Alisnya berkerut dengan jijik, lalu menolak panggilan tanpa ragu.

Chloe menatap layar yang berubah ke tampilan utama, lalu mendadak mati. Dia menekan berulang kali, tetapi tidak menyala lagi.

Seperti hati Luther, seberapa pun dia berusaha menghangatkannya, tetap dingin.

Chloe menatap ponsel untuk waktu yang lama, mencabut kartu SIM, lalu melemparkan ponsel itu ke tong sampah. Kemudian, dia berjalan perlahan menuju rumah sendirian.

Bab 4

Pukul 10 malam, Chloe berbaring di bawah selimut, membungkus dirinya rapat-rapat, tetapi tetap tak bisa menahan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh. Kepalanya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang, tubuhnya panas dingin.

Dia tidak tahu kapan tertidur, juga tidak tahu kapan terbangun. Chloe bangkit dengan langkah goyah, ingin menuangkan air panas untuk dirinya sendiri. Namun, tangannya melemas. Teko air panas jatuh menghantam lantai, air mendidih memercik mengenai kakinya.

Rasa perih yang menusuk membuatnya sedikit sadar. Dia refleks masuk ke kamar mandi untuk menyiram air dingin. Baru saja memutar kran, tiba-tiba kepalanya berputar hebat dan tubuhnya jatuh terjerembap ke dalam bak mandi.

Dalam kesadaran yang memudar, pikiran terakhirnya adalah apakah dirinya akan mati di sini?

Ternyata Tuhan masih mengasihinya. Saat Chloe terbangun di rumah sakit, dia merasakan kelegaan sekaligus rasa syukur karena masih hidup. Namun, Tuhan tidak terlalu berbaik hati padanya karena orang pertama yang dia lihat adalah Luther. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan wajah kelam, seakan-akan menyimpan bara amarah.

Luther melangkah cepat ke sisi tempat tidurnya. Tanpa peduli wajah pucat Chloe, pria itu langsung mencengkeram kerah bajunya dan menghardik dengan suara keras, "Kamu gila ya? Drama kasihan biasa nggak mempan, sekarang pakai cara ekstrem begini buat cari perhatianku?"

"Uhuk ... uhuk ...." Chloe yang baru saja siuman dan belum pulih total pun tersentak oleh cengkeramannya hingga batuk hebat. Dia batuk sampai bibirnya memucat dan matanya memerah.

Namun, Luther mengira dia hanya berpura-pura sehingga menghardik lebih keras, "Jangan pakai trik murahan ini! Kamu bisa tipu orang tuaku, tapi nggak bisa tipu aku!"

Setelah batuk mereda, Chloe menarik napas dengan susah payah, menepis tangan Luther. Kemudian, dengan wajah pucat, dia berkata pelan, satu demi satu kata, "Aku bukan cari perhatian. Semalam aku jalan kaki empat jam dari pemakaman, kehujanan, demam, dan jatuh karena kehabisan tenaga."

"Kalau bisa memilih, aku lebih rela kamu nggak memberiku perhatian apa pun untuk seumur hidup." Dia sudah cukup menderita untuk pria ini.

Luther tertegun, melepaskan genggamannya, bertanya dengan ragu, "Kamu ... jalan kaki pulang?"

Untuk apa membahas itu sekarang? Chloe merapikan kerah bajunya, berbaring kembali, menarik selimut menutupi tubuhnya.

Tak lama kemudian, Raiden masuk sambil berteriak, "Papa! Ngapain lama-lama sama si nenek sihir? Bibi Monica sudah nunggu lama!"

Dia melotot ke arah Chloe seolah-olah Chloe adalah pengganggu keluarga mereka.

"Sekarang teknologi canggih, nggak bisa pesan taksi? Pasti pura-pura, 'kan? Aku sering lihat di TV, orang kayak kamu sangat menjijikkan!"

Luther sempat merasa ucapan itu berlebihan, tetapi demi menghindari rasa bersalah yang menyeruak, dia memilih percaya dan tertawa dingin. "Chloe, aku sudah meremehkanmu."

Saat ini, Monica muncul, bersandar di pintu sambil berkata dengan lemah, "Luther, aku pulang dulu saja. Sepertinya kondisi Chloe parah banget ...."

Belum sempat lanjut, tubuhnya oleng ke samping.

Luther langsung menyerbu ke arahnya, menahan tubuh Monica dengan wajah penuh kecemasan. "Kalau pusing, duduk saja. Aku cuma lihat sebentar, lalu pergi."

"Heh." Chloe terkekeh-kekeh. Ternyata Luther bukan datang untuk menjenguknya.

Monica kembali bersandiwara. "Nggak apa-apa, kamu urus Chloe saja ... eh!"

Dia terkejut karena Luther tiba-tiba menggendongnya.

Saat pergi, Luther hanya melontarkan kalimat dingin, "Berhenti lakukan hal yang sia-sia."

Raiden mengikuti sambil menjulurkan lidah dan membuat wajah mengejek.

Seorang perawat masuk untuk mengganti perban Chloe, memandang dengan iri. "Itu kakak dan kakak iparmu ya? Kompak sekali."

Chloe menjawab dengan nada datar, "Itu suami dan anakku, bersama cinta pertamanya."

Perawat terdiam, lalu mendadak marah. "Pantas saja kelakuan cewek itu lebai. Nggak sakit serius, tapi periksa ini itu. Cuma cari perhatian!"

Emosi perawat yang tiba-tiba meledak justru membuat Chloe agak lega, bahkan tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam setahun ini.

Untungnya, cederanya tidak parah. Setelah seminggu, dokter mengizinkannya pulang. Hari itu, tak ada yang menjemputnya.

Chloe menatap langit biru dengan awan putih, merasakan semilir angin di wajahnya. Belum pernah dia merasa sebebas ini, seolah-olah dia hidup kembali.

Dia berjalan sendirian di jalanan rindang, langkahnya semakin cepat, hingga akhirnya berlari kecil. Ternyata, melepaskan beban hati terasa sebebas ini.

Sesampainya di rumah, pintu terbuka. Teko yang jatuh itu masih tergeletak di lantai, seolah-olah menunjukkan betapa paniknya situasi saat dia diselamatkan hari itu. Namun, ini juga menunjukkan bahwa Luther tidak pernah pulang sekali pun.

Namun, dia tidak merasakan apa-apa. Dia langsung masuk ke ruang pakaian, mengemasi baju-baju baru yang masih berlabel dan boneka-bonekanya. Kalau bukan karena tetangga yang menolong memanggil ambulans, mungkin dia sudah mati di rumah ini.

Dia mengemas baju, boneka, dan peralatan dapur yang belum pernah dipakai. Totalnya ada tiga kotak besar. Setelah berbicara dengan tetangga, tetangganya setuju menyimpannya.

Ruang pakaian kini kosong, hanya tersisa satu mantel dan beberapa baju yang dipakai sehari-hari. Matanya menyapu sekeliling, lalu dia membuka sebuah laci tersembunyi dan mengeluarkan sebuah buku berisi desain.

Dulu sebelum menjadi istri Luther, dia adalah desainer perhiasan yang cukup terkenal. Semua itu dia tinggalkan demi pria itu.

Nanti saat pergi, dia akan membawa mimpinya sendiri. Ketika sedang berkemas, tiba-tiba terdengar suara Luther dari pintu. "Chloe?"

Bab 5

Ekspresi Chloe mendadak menjadi dingin. Pria ini benar-benar tahu caranya merusak suasana.

Dengan langkah tergesa-gesa, Luther berjalan menuju pintu ruang pakaian. Begitu melihat keadaan di dalam yang sudah nyaris kosong, kata-kata yang siap keluar justru tersangkut di tenggorokannya.

Sebaliknya, dia tertawa sinis. "Bagus, bagus. Sekarang punya trik baru ya? Keluar dari rumah sakit nggak kasih kabar, mau bikin aku merasa bersalah?"

"Sekarang beres-beres kamar, mau kabur dari rumah? Kamu pikir umurmu 3 tahun? Kalau dikasih hati, jangan minta jantung. Jangan kekanak-kanakan begini!"

Chloe belum melakukan apa-apa, tetapi sudah disemprot habis-habisan. Dia menatap Luther datar, lalu balik bertanya dengan tenang, "Sudah selesai ngomongnya?"

Tiga kata itu langsung membungkam Luther. Dia menatap Chloe dengan tidak percaya, tiba-tiba merasa wanita ini berubah banyak. Bahkan waktu di rumah sakit saat melihat Monica, dia tidak bereaksi sedikit pun, seolah-olah tak peduli.

Padahal dulu setiap Luther berinteraksi dengan wanita lain, Chloe pasti akan bertanya. Mereka bahkan pernah bertengkar hebat gara-gara Monica. Namun sekarang? Wanita ini sangat tenang.

Tidak mungkin. Ini pasti trik untuk menarik perhatiannya!

Tatapan Luther berubah jijik. Dia berkata dengan dingin, "Chloe, kamu sudah berubah. Dulu meskipun nyebelin, kamu masih punya sisi manis. Sekarang? Sama sekali nggak ada."

Chloe tetap menatapnya tanpa ekspresi. Dia bertanya, "Sisi manis yang kamu maksud itu waktu aku rela menerima semua pengkhianatanmu tanpa batas?"

"Lihat, 'kan? Kamu masih ngambek! Padahal sudah lebih dari seminggu! Kamu ini pendendam sekali ya!" Luther seakan-akan menemukan bukti kuat sehingga nadanya menjadi percaya diri.

Namun, kali ini Chloe tidak menanggapi. Dia menunduk, melanjutkan membereskan buku desainnya.

Luther merasa dirinya sudah menemukan cara menekan, jadi mendengus sinis. "Ya sudah, selesaikan ngambekmu dulu. Beberapa hari ini aku nggak akan pulang."

Dia benar-benar membuktikan ucapannya. Selama seminggu penuh, dia tak pulang.

Sementara itu, Chloe justru merasa lega. Dia pelan-pelan menyelesaikan semua urusannya. Hingga festival lampion, rumah yang dulu penuh kini tinggal satu set sofa dan satu kursi gantung. Kebetulan, semuanya adalah model yang pernah dipamerkan oleh Monica.

Sejak ponselnya rusak waktu itu, Chloe belum membeli yang baru. Dia berniat menahan diri sampai dua minggu ini untuk menyambut awal yang baru.

Hari ini, dia membawa sekotak kecil barang ke bazar amal, sengaja memilih taman di luar kompleks agar tak bertemu orang yang dikenalnya.

Saat sedang asyik berjualan, dari kejauhan tampak tiga sosok yang sangat familier berjalan mendekat.

Monica pura-pura kaget. "Chloe, ngapain kamu di sini? Lagi jualan apa?"

Luther awalnya mengernyit, mengira Chloe membuat ulah lagi. Namun, begitu tatapannya tertuju pada barang-barang di lapak, pupilnya langsung mengecil. "Chloe, ini barang-barang kita. Kok bisa kamu jual?"

Raiden juga mengenali beberapa barang, langsung ingin merebut. "Ini mobil mainanku!"

Sebelum dia sempat mengambil, Chloe lebih dulu menahan tangannya, tersenyum tipis. "Perlu aku luruskan, ini bukan punyamu. Ini mobil mainan yang aku beli."

"Ini kaleidoskop yang aku beli, bingkai foto berhiaskan kristal ini juga aku yang beli ...."

Dia menyebut satu per satu, lalu menatap Luther. Suaranya pelan saat berkata, "Dulu kalian hina semua barang pembelianku ini, bilang seleraku kampungan. Jadi, apa salahnya dijual untuk amal?"

Luther terpaku, seakan-akan tak mengenali wanita di depannya. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah bingkai besar. Tubuhnya menegang. "Itu bingkai untuk foto pernikahan, mana fotonya?"

Chloe menoleh, pura-pura heran. "Memangnya ada? Bukannya dari dulu memang kosong?"

"Chloe! Jangan keterlaluan ya!"

Melihat Luther menaruh perhatian ke Chloe, hati Monica mendidih. Dia merangkul tangan Luther dengan manja, lalu berucap, "Chloe, jangan salah paham. Luther cuma nggak mau rumah tangga kalian hancur."

Tak habis pikir, bagaimana bisa seorang pelakor berbicara seangkuh itu? Chloe sampai kagum pada ketebalan muka Monica.

"Orang yang benar-benar nggak mau rumah tangganya hancur, nggak akan membiarkan wanita lain merangkul tangannya di depan istrinya."

Begitu kata-kata itu dilontarkan, Luther seakan-akan tersengat dan buru-buru melepaskan tangan Monica.

Chloe segera membereskan barang, melirik mereka dengan tatapan jijik. "Gara-gara kalian, daganganku berantakan. Silakan lanjut kencan kalian. Aku pindah tempat."

Tak Dianggap Oleh Suami dan Anakku

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya