Bab 2

Dalam semalam, aku menjadi wanita murahan yang berselingkuh, dicerca habis-habisan oleh opini publik.

Sementara itu, dia dan Vior justru berubah menjadi korban yang tak bersalah.

“Aku bisa menandatangani surat cerai ini, tapi kau harus berjanji padaku satu hal.”

Setelah lama terdiam, akhirnya aku berbicara.

Anto mengangkat pandangannya sekilas padaku, lalu langsung mengangguk setuju.

Dia menyerahkan pena padaku. Aku menerimanya dan, tanpa sedikit pun emosi di wajahku, menandatangani surat cerai itu.

“Kau nggak mau lihat isi perjanjiannya dulu?” Anto mengernyit dan bertanya.

Aku tersenyum tipis. “Nggak perlu.”

Dia hampir pergi dengan tangan kosong, menyerahkan seluruh harta kepadaku, semua hanya demi Vior, demi membalas budi atas pertolongan di masa lalu.

“Besok luangkan waktu untuk ke kantor catatan sipil.”

“Oke,” jawabku.

Saat Anto mengambil surat cerai, tangannya sedikit terhenti di udara. Tatapannya tampak sedikit ragu, namun pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa pun.

Saat mereka pergi, Vior menoleh ke arahku dan menatapku dengan ejekan. Bibir tipisnya bergerak tanpa suara, “Kau kalah.”

Aku memang kalah.

Aku telah kalah dalam seluruh hidupku, itulah sebabnya sekarang aku tak ingin kalah lagi.

Beberapa saat kemudian, layar ponselku menyala.

Itu pesan dari Anto.

[Hari ini pasti membuatmu merasa tertekan, Elsa. Maaf.]

[Setelah semua ini berlalu, aku akan memberimu pesta pernikahan yang megah. Kita akan menikah lagi.]

[Aku tak bisa diam saja melihat depresi Vior semakin parah. Kau pasti bisa mengerti, bukan?]

Aku menatap pesan itu dan tak bisa menahan tawa, meski air mata menggantung di sudut mataku.

Sama seperti kehidupan sebelumnya.

Demi memaksaku bercerai, Anto meminta bantuan teman-temannya untuk mencari cara, lalu mabuk berat.

Tapi dia lupa, teman-temannya juga adalah temanku.

Josua, sambil berusaha membujuk Anto agar tidak menghancurkan pernikahannya demi Vior, juga datang padaku, meminta agar aku mencoba memahami Anto.

Dia berkata bahwa Anto adalah seseorang yang sangat menghargai hubungan dan balas budi.

Jika dulu ayah Vior tidak melihat potensi Anto, memberinya investasi, dan membantu mendirikan bisnisnya, maka Anto tak akan bisa mencapai posisinya yang sekarang.

Saat itu, aku menangis sambil membantah,

“Anto punya ribuan cara untuk membersihkan namanya. Kenapa harus bercerai?”

Josua terdiam.

Dia pernah menanyakan hal yang sama pada Anto, dan saat itu Anto menjawab,

“Selalu akan ada seseorang yang harus dikorbankan. Aku hanya bisa membuat Elsa yang menderita. Dia mencintaiku, dia pasti bisa mengerti.”

Hanya karena aku mencintainya, aku yang harus dikorbankan?

Apa masuk akal?

Untungnya, aku masih punya kesempatan.

Selama itu menyangkut Vior, Anto selalu bertindak cepat.

Siang tadi, dia baru saja menandatangani surat cerai denganku. Malamnya, dia sudah mengatur konferensi pers dan menyuruh asistennya mengundangku untuk hadir dan memberikan klarifikasi.

Aku bahkan belum sempat membuka mulut ketika asisten itu, mengira aku akan menolak, buru-buru menyampaikan pesan dari Anto.

“Nona Elsa, Anda seharusnya menghadiri konferensi pers ini. Bahkan jika bukan demi Tuan Anto, setidaknya demi reputasi Anda sendiri.”

Aku terdiam selama satu detik, lalu tertawa sinis.

Anto sedang mengancamku.

Dia mencoba menggunakan trik yang sama seperti di kehidupan sebelumnya. Memojokkanku dengan opini publik, menodai namaku, memaksaku tunduk, sampai aku tak punya pilihan selain menundukkan kepala.

Aku tak pernah bisa memahami. Bagi Anto, aku ini istrinya atau musuhnya…?

Sekarang dia ingin secara terbuka membersihkan hubungannya denganku.

Maka aku pun tak terkecuali.

Konferensi pers diadakan di lobi hotel termewah di Manhattan, dengan tamu undangan yang terdiri dari jurnalis paling berpengaruh di industri ini.

Ketika Vior muncul mengenakan kebaya, berjalan berdampingan dengan Anto, para wartawan langsung menyerbu mereka.

Anto refleks melindungi Vior di belakangnya, tersenyum sambil menghalangi mikrofon yang diarahkan kepadanya.

“Tolong tenang, saya akan menjawab semua pertanyaan satu per satu,” katanya dengan suara lembut.

“Untuk sekarang, bisakah kalian memberi kami sedikit ruang?”

Saat dia mengangkat kepalanya, tatapan kami bertemu di antara kerumunan wartawan.

Dan anehnya, aku masih berharap, meskipun hanya sedikit, bahwa Anto juga akan membantuku keluar dari situasi ini.

Bab 3

Namun, di detik berikutnya...

Anto dengan tenang mengalihkan pandangannya. Dengan senyum di sudut bibir, dia menggandeng tangan Vior dan berjalan menuju panggung, seolah-olah aku tak pernah ada di sana.

Aku mencibir, sudut bibirku melengkung dengan sinis.

Seorang wartawan yang berdiri paling dekat denganku, mungkin masih seorang magang, ia dengan ragu-ragu mengulurkan mikrofon dan bertanya,

“Nona Elsa, apakah benar Anda sudah bercerai dengan Pak Anto?”

“Ya.” Aku tersenyum dan mengangguk.

Wartawan itu mendorong kacamatanya ke atas, lalu melanjutkan, “Tapi Anda dan Pak Anto sudah saling mengenal sejak SMA, berpacaran selama tujuh tahun, menikah selama lima tahun...”

“Bahkan bulan lalu, Pak Anto menghabiskan banyak uang untuk membeli sebuah pulau dan menamainya sesuai dengan nama Anda.”

Aku tetap tersenyum, hanya saja senyum itu tak sampai ke mataku.

“Itu hanya sesuatu yang dia hutangkan padaku.”

Demi merawat Vior yang sakit, dia melewatkan ulang tahunku dan menggantinya dengan hadiah ini.

Di kehidupan sebelumnya, aku masih merasa senang karena hal itu. Tapi belakangan aku baru tahu, ide ini berasal dari Josua, pulau itu dipilih oleh asisten Anto, dan dia sendiri bahkan tak tahu pulau itu berada di mana.

“Lalu, apakah Anda masih mencintai Pak Anto?”

Wartawan itu menatapku dengan gugup, sementara para jurnalis di sekitarku mendadak terdiam, menunggu jawabanku.

Bahkan Anto yang berdiri di atas panggung juga menoleh ke arahku, alisnya sedikit berkerut.

Aku hanya menatapnya dengan tenang, kemudian mengangkat sudut bibir dan berkata dengan jelas.

“Tidak lagi.”

Wawancara itu tidak kutunggu sampai selesai. Setelah Anto mengklarifikasi bahwa pernikahan kami sebenarnya sudah lama hancur sejak setahun yang lalu, aku pun meninggalkan tempat itu.

Dalam semalam, aku menjadi ‘barang bekas’ yang tak diinginkan oleh Anto.

Sedangkan Vior? Dia justru berubah menjadi satu-satunya korban tak bersalah dalam pusaran opini publik ini.

Wawancara hari itu bertengger di puncak trending media sosial selama beberapa hari, dengan topiknya terus-menerus diperdebatkan.

Terutama kalimat yang diucapkan Anto.

“Aku dan Elsa memang sudah berniat bercerai sejak setahun yang lalu, hanya saja belum menemukan waktu yang tepat.

Awalnya kami ingin menyelesaikannya dengan tenang, tetapi sekarang, ada orang yang tidak bersalah ikut terseret, jadi kami harus mengklarifikasinya.

Nona Vior bukan orang ketiga yang merusak hubungan kami.

Dia adalah satu-satunya orang yang masih menjadi tanggung jawab profesorku di dunia ini.

Aku hanya berusaha merawatnya dengan baik, dan itu adalah hal yang wajar.

Aku harap semua orang bisa melihat masalah ini dengan lebih rasional.”

Ucapan itu mengarahkan opini publik.

Para penggemarnya mulai mengatakan bahwa alasan hubungan kami berakhir adalah karena aku terlalu kaku dan tak bisa menerima permasalahan kecil dalam pernikahan.

Mereka menuduhku telah menganggap persaudaraan murni antara Anto dan Vior sebagai sesuatu yang kotor dan memalukan.

Mereka juga berkata bahwa aku sempit hati dan tak cukup berlapang dada.

Setelah menikah dengan Anto selama lima tahun, aku tetap tak bisa belajar darinya tentang bagaimana menjadi seseorang yang "setia dan menghargai perasaan orang lain."

Topik ini terus viral selama berhari-hari.

Dan aku? Aku menjadi sasaran kebencian semua orang.

Setelah mengambil sertifikat cerai dari kantor catatan sipil, aku keluar.

Anto memanggilku,“Jangan terlalu memikirkan komentar di internet. Sebentar lagi, orang-orang juga akan melupakannya.”

Aku berhenti melangkah dan tak bisa menahan tawa kecil.

Sama sama dihujat di media sosial, tapi kenapa perlakuannya bisa begitu berbeda?

“Elsa, dua bulan lagi sudah Tahun Baru.”

“Awal tahun depan, bagaimana kalau kita menikah lagi?”

Dia menatapku dan hendak mendekat, tapi aku melangkah mundur sedikit. Dengan ekspresi datar, aku mengalihkan pandangan ke arah para wartawan yang dihalangi oleh pengawal di kejauhan.

Anto tampaknya menyadari ketidakpantasan situasinya dan berhenti di tempat.

“Anto, aku akan kembali ke Montana.”

“Memang sudah lama kau nggak pulang. Pergi sebentar juga baik. Nanti saat Tahun Baru, aku akan menjemputmu pulang...”

“Aku nggak akan kembali.” Aku memotong kata-kata Anto dengan tenang.

Senyum tipisnya langsung membeku di wajahnya, matanya dipenuhi kebingungan.

Aku melanjutkan, “Saat itu aku setuju menandatangani surat cerai, dan kau berjanji akan memenuhi satu permintaanku. Sekarang saatnya menepati janji itu.”

Anto tertegun menatapku.

Saat pertama kali terlahir kembali, aku hanya butuh beberapa detik untuk mencerna cinta dan benciku terhadapnya.

Saat melihat surat cerai, aku memang sempat berpikir untuk merobeknya dan bertengkar dengannya lagi. Namun, pada akhirnya, akalku yang menang.

Setelah sekian lama, aku tersenyum tipis.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B96692" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B96692
Salin

Tak Ada yang Kedua

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya