Bab 2
"Aaa ... "
Aku melihat mata ibu yang dingin dan penuh kebencian menatapku tajam dari pintu.
"I ... ibu?"
Seluruh tubuhku merinding, keringat dingin mengalir di punggungku.
Ternyata ibu bangkit!
"Yolanda adalah pengantin dewa gunung, berani sekali kamu menyentuhnya?"
Satu kalimat darinya langsung membuat ayah terdiam. Dengan canggung, dia berusaha memberikan alasan, "Aku hanya mau mengajarinya ... "
Ibu menatapnya dengan dingin, lalu bergegas ke arahku dan mulai memakiku. Dia menyebutku tak tahu malu, menuduhku menggoda suaminya.
Sambil terus memaki, dia mulai mencengkeram dan memukulku.
Aku membuka mulut, ingin membela diri, ingin melepaskan diri, tapi tubuhku terasa lemas tak bertenaga.
"Anak jelek sepertimu, berani-beraninya berebut suami denganku? Dasar anak durhaka! Kalau kamu kehilangan keperawanan dan gagal menjadi pengantin dewa gunung, aku yang akan mati!"
Cerita mengerikan tentang dewa gunung terus terlintas di pikiranku, membuatku gemetar ketakutan.
"Jadi ... aku harus mati?"
Ibu menyeringai sinis, "Tentu saja! Kamu itu pembawa sial! Seharusnya kamu nggak pernah lahir ke dunia ini!"
"Tapi, tak lama lagi ... kalau kamu menikah dengan dewa gunung, aku baru benar-benar hidup kembali ... "
Nenek panik, mulutnya yang keriput berkedut saat dia membentak ibu.
"Dasar perempuan sial, jangan bicara sembarangan! Jangan menakut-nakuti anak!"
Ayah dengan paksa membawa ibu kembali ke kamarnya. Tak lama kemudian, terdengar jeritan tajam yang menusuk telinga.
Aku kesakitan dan ketakutan, tubuhku gemetar dalam pelukan nenek.
"Nenek, aku masih kecil ... aku ... aku nggak mau menikah dengan dewa gunung, aku nggak rela tinggalin kalian ... "
Nenek tersenyum menenangkanku.
"Jangan dengarkan ibumu, menikah dengan dewa gunung itu sebuah berkah! Banyak yang menginginkannya, tapi hanya kamu yang terpilih!"
"Yolanda yang paling cantik, hanya kamu yang bisa menarik hati dewa gunung!"
Aku berpikir, ibu jauh lebih cantik dariku. Jika menikahi dewa gunung itu suatu kehormatan, kenapa ayah tidak mengorbankan ibu saja?
Tapi, aku tak berani mengatakannya.
"Aku nggak cantik ... ibu bilang aku anak jelek ... "
Tiba-tiba, ayah keluar dari kamar ibu. Wajahnya berlumuran darah. Dengan ekspresi aneh, dia melemparkan sepotong daging di hadapanku dan berkata dengan senyuman menyeramkan,
"Kamu akan menjadi lebih cantik dari ibumu!"
Apa?
Tubuhku gemetar, aku menggeleng keras.
"Aku nggak mau ... "
Nenek berusaha menenangkan, "Ayahmu hanya bercanda! Jangan takut, nak ... "
Tak lama kemudian, aku melihat ibu berdiri di ambang pintu, tak terluka sedikit pun. Dia menatapku dengan penuh kemenangan, seakan ingin mengatakan bahwa aku tidak akan bisa lari dari takdirku sebagai pengantin dewa gunung.
Setelah mandi, nenek membawakanku semangkuk sup daging.
Katanya, ini adalah sup kecantikan. Jika aku meminumnya, aku akan menjadi secantik ibu.
Aroma sup itu aneh, membuat perutku terasa mual.
Namun, aku ingin menjadi cantik!
Ibu mendapatkan hidupnya yang nyaman hanya karena kecantikannya ...
Sup itu benar-benar menjijikkan. Tak ada garam sama sekali, hanya rempah-rempah dan obat-obatan aneh. Aku menutup hidung dan menelannya, nyaris muntah.
Namun, yang membuatku senang adalah ternyata nenek tak berbohong.
Dalam beberapa hari, setelah rutin meminum sup kecantikan, kulitku semakin putih dan lembut. Tubuhku bertambah tinggi dengan cepat.
Dadaku pun mulai berkembang, membesar seperti balon yang ditiup.
Baik wajah maupun tubuhku, perbedaannya hampir tak terlihat. Aku bahkan tak bisa membedakan siapa yang ada di cermin, aku atau ibu.
Saat ayah memandikanku, tatapannya semakin liar, napasnya terasa berat.
Setiap kali itu terjadi, ibu akan muncul dengan wajah muram.
"Yolanda itu pengantin dewa gunung, kamu berani sentuh dia?"
Suatu hari, ayah tak bisa menahan diri lagi.
Ibu mengamuk seperti orang gila, menerjangnya hingga mereka bergumul sengit.
Bab 3
Ibu mencengkeram rambutku dengan kasar, mencubit tubuhku sekuat tenaga.
"Dasar jalang pembawa sial! Berani-beraninya kamu menggoda ayahmu sendiri? Kamu mau membunuhku? Membunuh seluruh desa?"
Aku ketakutan, dengan sekuat tenaga aku berusaha melarikan diri. Aku bahkan lupa bahwa aku tidak mengenakan pakaian.
Keributan itu membangunkan nenek dan menarik perhatian penduduk desa. Orang-orang mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
Namun, ibu tidak membiarkanku pergi begitu saja. Dia mengejarku dan menarikku kembali dengan erat.
Tatapan para pria desa tertuju padaku. Aku menundukkan kepala, merasa sangat malu dan tak tahu harus berbuat apa.
"Wah ... anak gadis yang masih segar begini, pantas saja ayahnya nggak bisa menahan diri!"
Wajah ayah memerah, dia buru-buru membela diri, mengatakan bahwa dia hanya ingin mengajariku bagaimana melayani dewa gunung.
Namun, ibu langsung membongkar kebohongannya.
"Perlu diajari? Jangan kira aku nggak tahu! Semua ini karena dia suka minum 'sup kecantikan'! Bahkan bau tubuhnya kini sudah bisa menggoda pria!"
"Semua pria sama saja, mana mungkin bisa menahan godaan?"
Akhirnya, Pak Krisno, si kepala desa maju untuk menengahi, barulah ibu melepaskanku.
Anak dari kepala desa, Arya melepas jubahnya dan menutupi tubuhku.
Saat aku menyadari napasnya yang agak berat, matanya menelusuri tubuhku dengan tatapan panas. Bukan hanya dia, semua pria desa menatapku dengan sorot mata yang sama, tatapan mereka memerah penuh gairah.
Pak Krisno menyeringai, memperlihatkan giginya yang kuning.
"Tapi, ada benarnya juga apa yang dikatakan ayahmu. Kita memang perlu mengajarinya cara melayani dewa gunung, jangan sampai dia nggak puas dan marah!"
Tentu saja ibu tidak akan membiarkan aku kehilangan keperawananku. Jika aku tidak suci lagi, aku tidak bisa menjadi pengantin dewa gunung.
"Nggak perlu kalian ajari! Aku sendiri yang akan mengajarinya!"
"Dasar anak nggak tahu malu! Bukannya kamu suka mengintip saat orang-orang memberiku energi maskulin? Sekarang, lihatlah sepuasmu!"
Tatapan para pria desa semakin memerah, ibu juga membutuhkan energi.
Jika aku bisa menjadi pengantin dewa gunung, dia tidak akan lagi menjadi mayat hidup. Dia bisa benar-benar hidup kembali.
Saat aku kembali sadar, aku sudah berada di dalam kamar, tubuhku tak bisa bergerak.
Ibu berendam di bak besar di samping ranjang. Tubuhnya yang tadinya tampak lemah dan lusuh, kini terlihat putih dan menggoda setelah terendam dalam air susu herbal.
Dia menatapku sambil mengedipkan mata dengan genit. Aku merasa sangat tidak nyaman dan buru-buru memalingkan wajah, menutup mata rapat-rapat.
"Perhatikan baik-baik dan belajar ... "
Air dalam bak mulai beriak, percikan membasahi lantai.
Ayah yang sejak tadi menahan diri, akhirnya tak bisa lagi bersabar, "Dasar wanita jalang! Begitu haus belaian, ya?"
"Dulu aku kira kamu masih perawan, ternyata sudah dipakai pria lain!"
"Pantas saja dewa gunung memilihmu dan menjadikanmu mayat hidup! Sejak awal, dia sudah tahu betapa hinanya kamu!"
Tak ada yang menyentuhku, tapi tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku menjerit kesakitan.
Kenapa? Apa yang terjadi?
Nenek menampar wajahku, "Jangan pura-pura mati! Perhatikan dan pelajari baik-baik!"
Air mataku mengalir dan menjawab, "Nenek, ini sakit sekali ... "
Aku merasa tubuhku ditekan oleh seseorang yang tak terlihat, membuatku sulit bernapas.
Mata nenek yang tajam tiba-tiba bersinar penuh semangat.
"Gangguan roh? Oh bukan ... ini dewa gunung yang datang menindihmu!"
"Sepertinya dewa gunung sangat menyukai Yolanda! Cepat, semua orang keluar! Jangan ganggu mereka!"
Seketika, aku merasa sangat ketakutan dan berjuang sekuat tenaga.
Namun, aku sama sekali tidak bisa bergerak, hanya bisa melihat mereka semua meninggalkan kamar.
Angin dingin berembus, tekanan itu semakin kuat ...
"Aaaa ... nggak! Sakit sekali!"