Bab 1

Aku iri pada ibu, dia cantik seperti sekuntum bunga, disukai oleh semua pria di desa. Dia hanya perlu berbaring di ranjang setiap hari tanpa perlu bekerja, hidup dengan nyaman dan terawat. Sementara aku yang lahir darinya, justru berkulit gelap dan kurus, harus bekerja tanpa henti mengurus ladang dan pekerjaan rumah. Anak-anak desa pun sering menggangguku. Mereka bilang aku pembawa sial dan kelak pasti akan dinikahkan dengan dewa gunung, lalu mati tragis di kuilnya. Sebelum hari pernikahan tiba, aku diam-diam menukar posisi dengan ibu.

Aku benci ibuku. Saat melahirkanku, dia mengalami kesulitan dan menjadi mayat hidup. Semua pria di desa berebut memberikan energi maskulin untuk memperpanjang hidupnya, membuatnya semakin cantik dan lembut.

Namun, aku anak yang lahir dari mayat hidup ini, justru harus menanggung kutukan dewa gunung. Aku dianggap pembawa sial, ditakdirkan menjadi pengantin dewa gunung dan mati mengenaskan di dalam hutan.

Nenek berkata, jika aku merebus daging dari tubuh ibuku dan membuat "sup kecantikan", aku bisa semakin cantik dan mirip dengannya.

Aku tergoda. Sebelum pernikahanku, aku menukar posisi dengan ibuku.

Hari itu, aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Para pria di desa menatapku dengan penuh hasrat.

...

Setiap kali ada pria yang memberikan energi maskulin kepada ibuku, aku akan mendengarkan dengan rakus dari luar jendela. Hatiku dipenuhi rasa iri dan keinginan.

Kebencianku terhadapnya semakin bertambah.

Aku iri padanya.

Iri karena dia hanya perlu berbaring, tak perlu melakukan apapun, tetapi tetap terawat dengan baik, kulitnya putih mulus, secantik bidadari.

Sedangkan aku? Aku lahir dengan kulit gelap dan tubuh kurus kering, selalu kelaparan, kedinginan dan harus bekerja keras dari pagi hingga malam.

Anak-anak di desa sering melempariku dengan batu, mengejekku dengan sebutan si jelek dan pembawa sial!

Jika saja ibuku mati saat melahirkanku, aku tak akan lahir sebagai "anak mayat" yang dikutuk. Kenapa dia tidak mati saja di ruang persalinan?

Setiap pagi, tugasku adalah membersihkan tubuhnya.

Harus diakui, ibuku memang sangat cantik.

Rambut hitam panjang berkilau, wajah putih berseri, dada yang penuh dan padat, pinggang ramping, serta sepasang kaki jenjang yang sempurna ...

Tak heran semua pria di desa berebut untuk memberinya energi dengan berbagai cara.

Aku juga menginginkan seorang pria.

Sebagai pengantin dewa gunung, aku harus tetap perawan. Tapi aku tidak mau menikah dengannya!

Kabarnya, semua pengantin dewa gunung mati dengan cara yang mengenaskan ...

...

Setiap malam, selalu terdengar jeritan kesakitan yang mengerikan dari kuil di tebing desa belakang.

Kalau ada pria yang mau menikahiku, mungkinkah aku bisa lolos?

Mungkin aku bisa hiidup seperti ibu, berbaring di ranjang sepanjang hari, menikmati hidup, tanpa perlu bekerja keras lagi.

Tak kusangka, kesempatan itu datang lebih cepat dari yang kuduga.

Baru saja usiaku menginjak lima belas tahun, ayah dan nenek tiba-tiba menangkapku dan membawaku ke dalam bak mandi yang besar untuk memandikanku.

Aku sangat bersemangat, itu adalah bak mandi yang hanya digunakan oleh ibuku!

Setiap kali aku memandikannya, dia selalu berendam dalam air obat berwarna putih susu. Kulitnya tampak semakin bercahaya, membuat para pria tergila-gila.

Apakah aku juga akan menjadi seperti dia?

Namun, kata-kata nenek bagaikan air dingin yang menyiram tubuhku.

Dia tersenyum dan mencubit daguku.

"Meskipun belum tumbuh sempurna, wajahnya benar-benar mirip dengan wanita itu! Masih segar dan muda! Dewa gunung ... pasti akan sangat menyukainya!"

"Yolanda, sebentar lagi kamu akan menjadi pengantin dewa gunung. Tenang saja, nenek akan memandikanmu hingga kulitmu putih dan lembut ... "

Ayah menatapku dengan tatapan penuh nafsu. Wajahnya semakin memerah, dia menjilat bibirnya, bahkan air liurnya hampir menetes. Cengkeramannya semakin kuat.

Saat itu, aku benar-benar ketakutan.

"Ayah ... jangan seperti ini ... sakit sekali ... "

Ayah tersenyum aneh, "Ayah akan mengajarkanmu cara melayani dewa gunung hari ini! Jangan takut, ayah akan melakukannya dengan lembut!"

Aku mulai menyadari sesuatu.

Setiap kali dia memberikan energi kepada ibuku, ekspresinya juga seperti ini.

"Tapi, tapi kamu ayahku ... "

Ekspresi ayah langsung memuram dan menjawab, "Cih, wanita jalang itu sudah hamil saat dibeli! Siapa yang tahu kamu anak siapa?"

"Jadi, diamlah dan jangan banyak bicara ... "

Matanya memerah seperti serigala kelaparan.

Aku sangat putus asa dan hanya ada satu pikiran dalam hatiku.

Jika ini benar-benar terjadi ... bukankah mimpiku akan menjadi kenyataan?

Namun, tiba-tiba ...

Bab 2

"Aaa ... "

Aku melihat mata ibu yang dingin dan penuh kebencian menatapku tajam dari pintu.

"I ... ibu?"

Seluruh tubuhku merinding, keringat dingin mengalir di punggungku.

Ternyata ibu bangkit!

"Yolanda adalah pengantin dewa gunung, berani sekali kamu menyentuhnya?"

Satu kalimat darinya langsung membuat ayah terdiam. Dengan canggung, dia berusaha memberikan alasan, "Aku hanya mau mengajarinya ... "

Ibu menatapnya dengan dingin, lalu bergegas ke arahku dan mulai memakiku. Dia menyebutku tak tahu malu, menuduhku menggoda suaminya.

Sambil terus memaki, dia mulai mencengkeram dan memukulku.

Aku membuka mulut, ingin membela diri, ingin melepaskan diri, tapi tubuhku terasa lemas tak bertenaga.

"Anak jelek sepertimu, berani-beraninya berebut suami denganku? Dasar anak durhaka! Kalau kamu kehilangan keperawanan dan gagal menjadi pengantin dewa gunung, aku yang akan mati!"

Cerita mengerikan tentang dewa gunung terus terlintas di pikiranku, membuatku gemetar ketakutan.

"Jadi ... aku harus mati?"

Ibu menyeringai sinis, "Tentu saja! Kamu itu pembawa sial! Seharusnya kamu nggak pernah lahir ke dunia ini!"

"Tapi, tak lama lagi ... kalau kamu menikah dengan dewa gunung, aku baru benar-benar hidup kembali ... "

Nenek panik, mulutnya yang keriput berkedut saat dia membentak ibu.

"Dasar perempuan sial, jangan bicara sembarangan! Jangan menakut-nakuti anak!"

Ayah dengan paksa membawa ibu kembali ke kamarnya. Tak lama kemudian, terdengar jeritan tajam yang menusuk telinga.

Aku kesakitan dan ketakutan, tubuhku gemetar dalam pelukan nenek.

"Nenek, aku masih kecil ... aku ... aku nggak mau menikah dengan dewa gunung, aku nggak rela tinggalin kalian ... "

Nenek tersenyum menenangkanku.

"Jangan dengarkan ibumu, menikah dengan dewa gunung itu sebuah berkah! Banyak yang menginginkannya, tapi hanya kamu yang terpilih!"

"Yolanda yang paling cantik, hanya kamu yang bisa menarik hati dewa gunung!"

Aku berpikir, ibu jauh lebih cantik dariku. Jika menikahi dewa gunung itu suatu kehormatan, kenapa ayah tidak mengorbankan ibu saja?

Tapi, aku tak berani mengatakannya.

"Aku nggak cantik ... ibu bilang aku anak jelek ... "

Tiba-tiba, ayah keluar dari kamar ibu. Wajahnya berlumuran darah. Dengan ekspresi aneh, dia melemparkan sepotong daging di hadapanku dan berkata dengan senyuman menyeramkan,

"Kamu akan menjadi lebih cantik dari ibumu!"

Apa?

Tubuhku gemetar, aku menggeleng keras.

"Aku nggak mau ... "

Nenek berusaha menenangkan, "Ayahmu hanya bercanda! Jangan takut, nak ... "

Tak lama kemudian, aku melihat ibu berdiri di ambang pintu, tak terluka sedikit pun. Dia menatapku dengan penuh kemenangan, seakan ingin mengatakan bahwa aku tidak akan bisa lari dari takdirku sebagai pengantin dewa gunung.

Setelah mandi, nenek membawakanku semangkuk sup daging.

Katanya, ini adalah sup kecantikan. Jika aku meminumnya, aku akan menjadi secantik ibu.

Aroma sup itu aneh, membuat perutku terasa mual.

Namun, aku ingin menjadi cantik!

Ibu mendapatkan hidupnya yang nyaman hanya karena kecantikannya ...

Sup itu benar-benar menjijikkan. Tak ada garam sama sekali, hanya rempah-rempah dan obat-obatan aneh. Aku menutup hidung dan menelannya, nyaris muntah.

Namun, yang membuatku senang adalah ternyata nenek tak berbohong.

Dalam beberapa hari, setelah rutin meminum sup kecantikan, kulitku semakin putih dan lembut. Tubuhku bertambah tinggi dengan cepat.

Dadaku pun mulai berkembang, membesar seperti balon yang ditiup.

Baik wajah maupun tubuhku, perbedaannya hampir tak terlihat. Aku bahkan tak bisa membedakan siapa yang ada di cermin, aku atau ibu.

Saat ayah memandikanku, tatapannya semakin liar, napasnya terasa berat.

Setiap kali itu terjadi, ibu akan muncul dengan wajah muram.

"Yolanda itu pengantin dewa gunung, kamu berani sentuh dia?"

Suatu hari, ayah tak bisa menahan diri lagi.

Ibu mengamuk seperti orang gila, menerjangnya hingga mereka bergumul sengit.

Bab 3

Ibu mencengkeram rambutku dengan kasar, mencubit tubuhku sekuat tenaga.

"Dasar jalang pembawa sial! Berani-beraninya kamu menggoda ayahmu sendiri? Kamu mau membunuhku? Membunuh seluruh desa?"

Aku ketakutan, dengan sekuat tenaga aku berusaha melarikan diri. Aku bahkan lupa bahwa aku tidak mengenakan pakaian.

Keributan itu membangunkan nenek dan menarik perhatian penduduk desa. Orang-orang mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.

Namun, ibu tidak membiarkanku pergi begitu saja. Dia mengejarku dan menarikku kembali dengan erat.

Tatapan para pria desa tertuju padaku. Aku menundukkan kepala, merasa sangat malu dan tak tahu harus berbuat apa.

"Wah ... anak gadis yang masih segar begini, pantas saja ayahnya nggak bisa menahan diri!"

Wajah ayah memerah, dia buru-buru membela diri, mengatakan bahwa dia hanya ingin mengajariku bagaimana melayani dewa gunung.

Namun, ibu langsung membongkar kebohongannya.

"Perlu diajari? Jangan kira aku nggak tahu! Semua ini karena dia suka minum 'sup kecantikan'! Bahkan bau tubuhnya kini sudah bisa menggoda pria!"

"Semua pria sama saja, mana mungkin bisa menahan godaan?"

Akhirnya, Pak Krisno, si kepala desa maju untuk menengahi, barulah ibu melepaskanku.

Anak dari kepala desa, Arya melepas jubahnya dan menutupi tubuhku.

Saat aku menyadari napasnya yang agak berat, matanya menelusuri tubuhku dengan tatapan panas. Bukan hanya dia, semua pria desa menatapku dengan sorot mata yang sama, tatapan mereka memerah penuh gairah.

Pak Krisno menyeringai, memperlihatkan giginya yang kuning.

"Tapi, ada benarnya juga apa yang dikatakan ayahmu. Kita memang perlu mengajarinya cara melayani dewa gunung, jangan sampai dia nggak puas dan marah!"

Tentu saja ibu tidak akan membiarkan aku kehilangan keperawananku. Jika aku tidak suci lagi, aku tidak bisa menjadi pengantin dewa gunung.

"Nggak perlu kalian ajari! Aku sendiri yang akan mengajarinya!"

"Dasar anak nggak tahu malu! Bukannya kamu suka mengintip saat orang-orang memberiku energi maskulin? Sekarang, lihatlah sepuasmu!"

Tatapan para pria desa semakin memerah, ibu juga membutuhkan energi.

Jika aku bisa menjadi pengantin dewa gunung, dia tidak akan lagi menjadi mayat hidup. Dia bisa benar-benar hidup kembali.

Saat aku kembali sadar, aku sudah berada di dalam kamar, tubuhku tak bisa bergerak.

Ibu berendam di bak besar di samping ranjang. Tubuhnya yang tadinya tampak lemah dan lusuh, kini terlihat putih dan menggoda setelah terendam dalam air susu herbal.

Dia menatapku sambil mengedipkan mata dengan genit. Aku merasa sangat tidak nyaman dan buru-buru memalingkan wajah, menutup mata rapat-rapat.

"Perhatikan baik-baik dan belajar ... "

Air dalam bak mulai beriak, percikan membasahi lantai.

Ayah yang sejak tadi menahan diri, akhirnya tak bisa lagi bersabar, "Dasar wanita jalang! Begitu haus belaian, ya?"

"Dulu aku kira kamu masih perawan, ternyata sudah dipakai pria lain!"

"Pantas saja dewa gunung memilihmu dan menjadikanmu mayat hidup! Sejak awal, dia sudah tahu betapa hinanya kamu!"

Tak ada yang menyentuhku, tapi tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku menjerit kesakitan.

Kenapa? Apa yang terjadi?

Nenek menampar wajahku, "Jangan pura-pura mati! Perhatikan dan pelajari baik-baik!"

Air mataku mengalir dan menjawab, "Nenek, ini sakit sekali ... "

Aku merasa tubuhku ditekan oleh seseorang yang tak terlihat, membuatku sulit bernapas.

Mata nenek yang tajam tiba-tiba bersinar penuh semangat.

"Gangguan roh? Oh bukan ... ini dewa gunung yang datang menindihmu!"

"Sepertinya dewa gunung sangat menyukai Yolanda! Cepat, semua orang keluar! Jangan ganggu mereka!"

Seketika, aku merasa sangat ketakutan dan berjuang sekuat tenaga.

Namun, aku sama sekali tidak bisa bergerak, hanya bisa melihat mereka semua meninggalkan kamar.

Angin dingin berembus, tekanan itu semakin kuat ...

"Aaaa ... nggak! Sakit sekali!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B38933" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B38933
Salin

Sup Kecantikan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya