Bab 2
Mobil tiba di rumah Keluarga Prakoso. Kennedy memerintahkan orang untuk membawaku membersihkan diri di kamar mandi. Aku menolak bantuan para pembantu dan hanya meminta mereka memilihkan terusan panjang.
Mereka mencari cukup lama dan akhirnya menemukan sebuah terusan lengan panjang yang sederhana dan formal. Saat becermin, aku melihat gayaku seperti seorang pelajar.
Sebelum diculik, aku menerima surat penerimaan dari sebuah sekolah desain ternama di luar negeri. Namun, sekarang sudah tiga bulan berlalu dari waktu untuk mendaftar ulang.
"Terima kasih."
Para pembantu terkejut, tidak menyangka aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Setelah kejadian ini, aku sadar bahwa aku dan mereka sama saja. Mereka adalah pembantu yang dipekerjakan oleh Keluarga Prakoso, sedangkan aku adalah putri yang juga dipekerjakan oleh Keluarga Prakoso.
Setelah keluar dari kamar, aku melihat Kennedy berdiri di depan tangga menungguku. Dia setengah bersandar di pagar dengan culas sambil mengamatiku dari atas hingga bawah. Kemudian, dia tersenyum sinis.
"Lovia, kamu ngapain sih? Kenapa pakai baju gini?"
Apa ini sangat kolot? Kennedy mengira ini adalah tingkah kekanak-kanakanku untuk menarik perhatiannya, padahal aku hanya ingin menutupi luka di tubuhku.
Aku dan Kennedy datang ke ruang makan. Ruangan sunyi senyap. Setelah Kennedy menyuruhku maju, aku melihat ayah dan ibunya duduk di meja makan dengan ekspresi cemas.
Begitu melihatku, Ibu Kennedy langsung menyerbu ke depan. Langkah kakinya tidak stabil sehingga dia hampir terjatuh. Untungnya, wanita di samping segera memapahnya
"Bibi, jangan terburu-buru. Nona Lovia sudah kembali dengan selamat. Nona Lovia, lihatlah, Bibi mencemaskanmu sampai beruban."
Aku tentu mengenal wanita ini. Dia adalah sekretaris Kennedy. Sarah yang berambut hitam mengenakan sweter berleher tinggi yang sederhana dan celana jeans. Di lehernya tergantung kalung emas mawar yang indah.
Satu kalimat darinya membuatku yang merupakan korban menjadi anak yang tidak berbakti.
Ibu Kennedy menggenggam tanganku sambil menangis, sementara Sarah terus menghiburnya. Namun, aku tidak bisa menangis. Aku menatap Kennedy dan melihat tatapannya yang seolah-olah mengatakan aku tidak punya perasaan.
Pada akhirnya, ayah Kennedy berkata dengan tegas, "Sudahlah, jangan nangis lagi. Suruh Lovia kemari untuk makan." Bibi pun menyeka air mata. "Ya, ya. Kamu pasti kelaparan beberapa hari ini. Ayo, aku sudah buatkan sup ikan favoritmu."
Bibi menarikku untuk duduk di antara dia dan Paman. Kennedy duduk tepat di seberangku, sementara Sarah duduk di sampingnya. Kami terlihat seperti keluarga.
Aku menatap makanan di atas piring yang terlihat menggugah selera. Aku sampai hampir lupa bagaimana rasanya makanan lezat. Saking laparnya, aku ingin sekali melahap semuanya hingga bersih.
Semakin dekat dengan jalan raya di pusat kota, semakin ketat pengawasan kebersihan. Saat itu, aku kesulitan untuk mencari makanan. Makanya, aku kelaparan selama 3 hari dan hanya bisa mengisi perutku dengan makan daun.
Di bawah tatapan semua orang, aku berusaha untuk menahan diri dan makan dengan tenang. Meskipun begitu, aku masih bisa melihat Sarah tersenyum mengejek. Dia makan dengan perlahan, seolah-olah ingin menunjukkan betapa elegannya dia.
Ketika melihat pemandangan ini, Kennedy tentu merasa semakin kesal denganku. Namun, Bibi memberinya isyarat untuk mengambilkan daging asam manis untukku.
Aku awalnya mengira bubur hambar sekalipun bisa kumakan dengan lahap saking laparnya. Namun, saat melihat daging yang diambil oleh Kennedy itu, aku langsung merasa mual."
"Lovia, ayo makan. Kennedy tahu kamu sangat suka daging asam manis. Dia menyuruh pembantu untuk masak hidangan ini."
Omong kosong, Kennedy tidak tahu apa yang aku suka. Sebaliknya, aku tahu semua kesukaannya, termasuk warna favoritnya, yaitu warna rosegold.
Saat melihat aku ragu-ragu, Paman bertanya dengan perhatian, "Kenapa? Kamu bertengkar sama Kennedy ya? Tenang saja, nanti aku akan memarahinya setelah selesai makan."
"Ayah!" panggil Kennedy langsung. Mungkin, dia merasa malu di hadapan Sarah.
Aku hanya menggeleng tanpa mengatakan apa-apa. Aku berusaha menahan rasa jijik itu dan memasukkan daging asam manis itu ke mulutku. Namun, aku kesulitan untuk menelannya hingga akhirnya memuntahkannya.
Kennedy tampak terkejut. Aku buru-buru bangkit dari kursi dam berlari ke pojok untuk bersembunyi. "Maaf, maafkan aku. Aku akan makan! Jangan pukul aku!"
Semua orang tercengang. Bibi lagi-lagi menangis dan menghampiri untuk memelukku. "Lovia, orang-orang itu menyiksamu ya? Beri tahu saja aku."
Paman membawa Kennedy mendekat. Ekspresinya tampak tidak tega. Sementara itu, Kennedy hanya mengernyit dengan wajah suram tanpa melontarkan sepatah kata pun.
Apa maksudnya? Bukankah para penculik itu sudah mengancam Keluarga Prakoso? Jika tidak membayar uang tebusan, mereka akan menyiksaku habis-habisan. Kenapa sekarang mereka malah bertanya apakah aku disiksa?
Sebenarnya memberiku makan roti basi atau nasi basi tidak termasuk penyiksaan. Lagi pula, yang kumakan selanjutnya jauh lebih buruk dari itu.
Namun, aku sangat takut. Aku takut karena nyawaku ada di tangan Kennedy. Para penculik itu menghubungi Kennedy, tetapi Kennedy memilih untuk menyerahkanku kepada mereka. Dia sangat membenciku. Mungkin, hal ini yang membuatku bereaksi seperti ini.
Bab 3
Selesai makan, aku dipanggil ke ruang kerja Ayah Kennedy.
Paman yang biasanya bersikap tegas, justru bertanya dengan sabar dan ramah, "Lovia, kamu menyukai Kennedy sejak kecil, 'kan? Sekarang kamu masih suka nggak?"
Aku buru-buru menggeleng, bahkan gelenganku sangat kuat. Kepalaku sampai terasa sakit.
Aku menyukai Kennedy selama 7 tahun, merendahkan diri selama 7 tahun, menderita selama 7 tahun. Meskipun begitu, aku malah tidak pernah memetik pelajaran apa pun. Makanya, aku mendapatkan balasan seperti siksaan di neraka.
Itu sebabnya, aku tidak berani menyukai Kennedy lagi.
Setelah mendengarnya, Paman merenung sejenak. Dia berkata dengan kecewa, "Ya sudah, kamu nggak bisa menjadi menantu Keluarga Prakoso, tapi kamu tetap putri kami. Kamu sangat baik dan cantik, Kennedy yang nggak beruntung karena nggak mendapatkanmu."
Paman mengeluarkan kartu bank dari lacinya. "Ini peninggalan orang tuamu. Di dalamnya ada 8 miliar. Mereka menyuruhku menyimpannya dan memberikannya kepadamu sebagai mahar."
Delapan miliar? Nominal ini sama seperti jumlah uang tebusan.
Ketika diculik, aku sempat marah kepada orang tuaku. Kenapa mereka tidak membawaku bersama mereka dan membuatku menderita seperti ini?
Namun, ternyata mereka meninggalkan jaminan hidup untukku. Mereka sangat mencintaiku.
Aku menggigit ibu jariku, berusaha agar tidak menangis. "Terima kasih, Paman."
Setelah keluar dari ruang kerja, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku pergi ke kamarku. Di tengah jalan, aku malah bertemu Kennedy.
Kennedy tahu aku hendak ke kamarku. Dia berucap dengan lembut, tidak seperti biasanya, "Malam ini Sarah tidur di kamarmu. Kamu bisa tidur di kamar tamu di samping kamarku."
Ternyata demi Sarah. Aku mengangguk, lalu berjalan ke arah yang berlawanan. Saat aku baru pindah, Kennedy sangat membenciku sehingga pindah ke kamar yang paling jauh dariku. Satu di ujung timur, satu di ujung barat.
Namun, kamarku di desain oleh desainer profesional. Tentu saja, kamar tamu itu sama sekali tidak bisa dibandingkan. Namun, semua itu milik Keluarga Prakoso. Aku hanya bisa menurut.
Sebelum aku berjalan lebih jauh, Kennedy tiba-tiba memanggilku, "Lovia, kenapa kamu jadi pendiam sekarang?"
Aku menoleh dan melihat ekspresinya yang mencemooh, tetapi juga terlihat khawatir.
"Aku ... maaf ...." Setelah ragu-ragu, aku hanya bisa meminta maaf. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada Kennedy.
"Ini sudah ketiga kalinya kamu minta maaf padaku hari ini. Kamu aneh sekali." Kennedy mendekat, lalu hendak menyentuh dahiku.
Aku langsung melompat mundur seperti tersengat listrik. Saat aku memegang pagar koridor, kakiku pun lemas hingga hampir tidak bisa berdiri.
Saat melihatku yang seperti orang gila ini, ekspresi Kennedy mulai tidak sabar. Aku menahan suaraku yang bergetar saat berkata, "Aku ... aku akan pindah besok. Aku sudah bilang sama Paman."
Aku mengira Kennedy akan merasa lega mendengarnya dan melepaskanku, tetapi dia malah marah.
"Pindah? Kenapa? Aku cuma suruh Sarah nginap di kamarmu 1 malam. Dia tamu. Masa kamu nggak bisa ngalah sedikit?"
Aku buru-buru menggeleng. "Bukan begitu."
Kennedy mendekat dengan wajah suram. Dia meraih pergelangan tanganku, lalu menarikku ke kamar yang terletak di ujung timur. "Ikut aku, ada yang ingin kubicarakan."
Ketakutan menyelimuti hatiku. Aku mengeluarkan kartu yang diberikan Paman tadi, lalu berucap, "Maaf, aku punya uang. Jangan pukul."
Kennedy menoleh dengan kaget. Sementara itu, aku sudah terduduk lemas di lantai dengan tangan yang masih digenggam oleh Kennedy. "Lovia, kamu bicara apa?"
Saat ini, bibirku sangat merah karena kugigit. Saat melihat wajah Kennedy yang semakin dekat, aku teringat pada hinaan para penculik itu. "Kamu cuma anjing Keluarga Prakoso. Kamu nggak berhak mengganggu majikanmu."
"Kak Kennedy, maksudku Pak Kennedy, aku nggak akan mengganggumu lagi. Aku nggak akan berani lagi."
Kennedy akhirnya menyadari bahwa kondisi mentalku agak terganggu. Sikapnya menjadi lebih lembut. Dia merangkul pinggangku dan menggendongku dari lantai.
Karena kehilangan keseimbangan, aku secara refleks memeluk leher Kennedy. Ekspresinya yang serius pun menjadi melunak. "Lovia, aku bukan mau menyuruhmu berhenti menggangguku. Tapi ...."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, pintu kamar di koridor tiba-tiba terbuka. Sarah menjulurkan kepalanya dari dalam, lalu menutup mulutnya dengan kaget. "Pak, Nona."
Kennedy tampak kesal. "Aku sudah memberimu izin nginap di kamar ini. Ada masalah apa lagi?"
Sarah menyahut dengan agak sedih, "Ada rapat daring dari cabang perusahaan di luar negeri. Kamu harus menghadiri rapat ini."
Kennedy melirikku yang berada di pelukannya. Pada akhirnya, dia terpaksa menurunkanku. Tubuhku kaku, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Kamu tunggu aku di kamarku." Usai melontarkan itu, Kennedy masuk ke kamar Sarah. Pintu pun ditutup.
Cahaya terang menghilang di koridor. Aku seketika merasa sangat lega. Bajuku sampai basah karena keringat.
Kennedy tidak akan kembali lagi. Aku tahu seperti apa metode yang digunakan Sarah. Ini sudah terjadi berkali-kali. Di hari ulang tahunku, di upacara kelulusanku, Kennedy selalu dipanggil pergi oleh Sarah. Mungkin Kennedy memang ingin pergi atau tidak ingin kembali lagi.
Aku harus segera pergi dari sini. Aku akan ke tempat yang sangat jauh dari Kennedy. Jika terus berhubungan dengannya, aku takut mentalku akan hancur sampai menjadi gila.