Bab 2
"Sayang?"
Saat suamiku memanggilku, aku baru terhenyak.
Suamiku berkata dengan nada memelas, "Sayang, kenapa kamu diam saja? Berikan saja buah liar ini biar aku bisa makan. Aku ingin sekali coba buah segar seperti ini."
Aku melirik buah liar yang sedikit berdebu di tangan suamiku. Aku mendadak tersenyum.
"Ok. Aku juga petik beberapa buah lain. Pasti rasanya enak."
Aku mengeluarkan beberapa buah merah dari tas. Penampakan buah itu saja sudah sangat menggugah selera.
Suamiku menelan ludah dan mengambil buah itu.
Suamiku sibuk mengunyah buah itu. Matanya mendadak berbinar.
"Enak sekali!"
"Aku memberikan lebih banyak buah kepada suamiku. "Kalau enak, makanlah lebih banyak."
Suamiku menghabisi semua buah yang kuberikan. Senyumanku makin lebar.
Tak lama kemudian, suamiku mulai berakting seperti kehidupan sebelumnya. Dia berpura-pura mati keracunan.
"Sayang, buah liar itu sepertinya beracun. Aku sudah mau mati."
Keringat dingin mengucur di wajah suamiku. Dia memegangi perutnya erat-erat. Sepertinya dia benar-benar kesakitan.
Aku bertanya dengan khawatir, "Sayang, kamu baik-baik saja? Bagaimana kalau aku minta orang menyelamatkanmu sekarang?"
Suamiku melambaikan tangannya dan berkata dengan lemah.
"Nggak usah. Aku hanya ingin berterus terang padamu sekarang. Aku punya banyak utang dengan sepasang ibu dan anak. Setelah aku mati nanti, kamu harus membayarnya. Kalau nggak, reputasiku akan hancur."
Aku berpura-pura menyetujuinya, tetapi dalam hati, aku tersenyum sinis.
Setelah aku setuju, suamiku pun 'meninggal'.
Aku mencubit pahaku dengan kuat. Air mataku langsung mengalir deras.
"Sayang, kenapa kamu mati begitu saja? Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?"
Suaraku sangat keras hingga menarik perhatian semua orang di sekitar.
Semua orang penasaran dengan apa yang terjadi.
Sama seperti di kehidupan sebelumnya, 'pria baik hati' itu menghampiriku.
"Astaga, kamu sudah membuat suamiku mati keracunan. Bagaimana kalau kamu turun gunung dan cari bantuan dulu? Aku akan bantu kamu menjaganya di sini."
Sembari berbicara, 'pria baik hati' itu menarik suamiku ke samping. Aku segera meraih tubuh suamiku dan menyeretnya kembali.
Aku berteriak lebih keras lagi, "Aku nggak punya dendam denganmu. Suamiku meninggal, aku sudah sangat sedih. Sekarang kamu masih ingin menjebakku dan mengatakan aku yang mencelakainya. Tuan, jangan keterlaluan."
Pria baik hati' itu tertegun sejenak. Dia jelas tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Dia menunjuk suamiku yang tergeletak di tanah. "Dia bisa mati karena makan buah liar yang kamu petik. Kalau bukan kamu yang mencelakainya, siapa lagi?"
Aku mengusap air mataku. Ekspresi wajahku bertambah sedih.
"Astaga. Buah liar yang kuberikan nggak beracun. Mana mungkin dia bisa mati keracunan? Sebaliknya, dia barusan minum air pemberianmu dan langsung mati. Apa kamu yang mencelakainya?"
Jari-jariku menunjuk buah-buahan liar yang tersisa di tanah. Semua orang mulai membicarakannya.
Mereka yang pernah makan buah liar tentu tahu kalau buah itu tidak beracun. Meski dimakan, juga tidak akan keracunan.
Karena terlampau sedih di kehidupan sebelumnya, aku jadi lupa kalau aku pernah makan buah liar ini sebelumnya dan tidak beracun sama sekali.
Sebaliknya, itu karena suamiku minum sebotol air dari pria baik hati. Tak lama kemudian, napasnya mulai melemah dan aku tidak menyadarinya.
Mendapati semua orang memandangnya dengan tatapan aneh, seolah bersiap menangkap pelaku kapan saja, 'pria baik hati' buru-buru ingin melarikan diri.
Aku berteriak, "Dia pelakunya. Semuanya, tolong bantu aku menangkapnya."
Ada dua lelaki yang menangkapnya dan mendorong pria itu ke tanah. Aku langsung menamparnya.
"Aku dan suamiku nggak punya dendam denganmu. Mengapa kamu ingin mencelakai suamiku? Mengapa kamu begitu tega?"
Aku berpura-pura berakting layaknya janda yang ditinggal mati suami. Lalu, mulai melampiaskan emosiku dengan mencakar 'pria baik hati' itu. Tak perlu waktu lama, tubuhnya sudah penuh dengan goresan merah.
Dia ingin menjelaskan. "Bukan aku. Sungguh bukan aku. Air yang kuberikan padanya ...."
Memang ada yang aneh dengan air pemberiannya, jadi dia tidak berani berbicara lagi.
Melihat hal itu, semua orang makin marah dan ingin menyeretnya ke kantor polisi.
Aku berdiri. "Baiklah. Demi membalaskan dendam suamiku, kita harus lapor polisi sekarang."
Ada yang bertanya padaku, bagaimana dengan tubuh suamiku. Aku melihat sekeliling, tetapi tidak ada yang mau membawanya.
"Hais. Biarlah dia di sini. Besok baru bawa orang untuk mencarinya. Kalau nggak, hanya akan membuat energi kalian semua terkuras habis."
Sembari berbicara, aku mengemas semua perlengkapan dan pakaian pendakian. Kemudian, turun gunung bersama semua orang.
Hatiku dipenuhi dengan kegembiraan. Saat itu, sudah larut malam di pegunungan. Sekalipun suamiku tidak meninggal, dia juga mungkin akan sekarat.
Apalagi, dia juga minum air aneh itu. Kondisinya sekarang lemah sekali.
Bab 3
Saat aku dan semua orang tiba di kantor polisi, hari sudah pagi. 'Pria baik hati' tidak bisa menjelaskan, tetapi dia juga tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
Di luar dugaanku, pria ini tidak mengkhianati adiknya.
Namun, hal ini tidak memengaruhi keinginanku untuk membalas dendam padanya. Dia juga berkontribusi pada tragedi di kehidupanku sebelumnya.
Lagi pula, dia tidak bisa melarikan diri dan juga tidak bisa memberikan penjelasan. Dia adalah tersangka utama.
Saat aku membawa polisi kembali ke 'lokasi kematian' suamiku, tubuh suamiku telah hilang.
Tidak heran, aku menerima telepon dari ibu mertuaku.
Dia bilang dia telah membawa suamiku untuk dikremasi dan telah mengadakan acara pemakaman.
Tampaknya rencana untuk membongkar suamiku yang memalsukan kematiannya telah gagal. Hanya saja, yang seharusnya khawatir sekarang adalah mereka, bukan aku.
Jenazah sudah dikremasi, tetapi botol minumannya masih ada.
Polisi mengambil botol minuman itu untuk diperiksa dan memberitahukan bahwa hasilnya akan keluar dalam beberapa hari.
Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada polisi dan meminta mereka harus menemukan pelaku sebenarnya.
Polisi menepuk dadanya dan meyakinkanku. Aku baru meninggalkan kantor polisi dan pergi ke pemakaman suamiku.
Begitu sampai di tempat pemakaman, ibu mertuaku langsung memintaku pergi ke kantor polisi untuk mencabut gugatan.
"Pergilah ke kantor polisi dan jelaskan pada mereka kalau Robin meninggal karena sudah punya niat bunuh diri sebelumnya."
Aku diam-diam mendengus dingin.
Setelah melihat kerabat-kerabat di sekitar, aku sengaja bertanya kepada ibu mertuaku dengan suara lantang, mengapa ingin mencabut gugatan?
Kerabat-kerabat yang berada di sekitar langsung memusatkan perhatian ke arah kami.
"Apa Ibu nggak ingin pembunuh Robin diadili?"
Ibu mertuaku tentu menyadari tatapan semua orang. Dia menyuruhku untuk mengecilkan suara.
Aku bukan hanya tidak mengecilkan suara, tetapi malah bertanya lebih keras lagi. Mengapa dia ingin mencabut gugatan?
Suaraku penuh dengan rasa kekecewaanku terhadap ibu mertuaku. Ibu mertuaku masih mengelak.
"Bukan begitu. Robin sungguh berniat bunuh diri. Dia memberitahuku sebelum kalian mendaki gunung."
Sembari berbicara, ibu mertuaku menangis tersedu-sedu. Bersamaan dengan itu, dia juga memandangku dengan tatapan yang seolah berkata, 'Aku malah nggak menyadarinya.'
Orang-orang di samping mulai memandangku dengan tatapan aneh. Aku menyadari sudut bibir ibu mertuaku sedikit terangkat.
Aku tertawa. "Robin nggak bunuh diri, tapi dia meninggal karena minum air pemberian orang itu."
"Apalagi, polisi baru saja memberitahuku bahwa mereka telah menemukan petunjuk. Mereka akan segera menemukan pelakunya."
Tentu saja, aku hanya mengelabui ibu mertuaku. Sampai sekarang polisi masih belum menemukan hasil.
Namun, ibu mertuaku memercayainya. Dia mulai panik.
"Aku menyuruhmu mengatakan Robin bunuh diri. Kenapa kamu nggak mau dengar?"
Aku tetap menolak dan menuduhnya begitu kejam. Bahkan, tidak peduli dengan kematian putranya sendiri. Wanita berhati jahat.
Orang-orang di sekitar kami kembali memandang ibu mertuaku dengan tatapan aneh.
Menyadari hal itu, ibu mertuaku langsung membela diri.
Dia tiba-tiba menoleh. "Kamu lihat wanita di belakangku ini? Dia kakak orang yang ditangkap itu."
"Robin berutang banyak padanya. Dia bilang kalau kita nggak mau bilang Robin bunuh diri, dia mau kita melunasi utang sekarang juga."
Aku melirik wanita di belakang ibu mertuaku. Cinta pertama suamiku ada di sana.
Begitu melihat wanita ini, aku langsung mengenalinya.
Dia-lah yang mendatangiku sambil membawa putranya. Lalu, mengambil alih mobil dan rumahku serta mengusirku. Terakhir di saat aku sekarat, dia mempermalukanku dengan menukar uang sepuluh ribu dengan selembar uang dua ribu.
Aku terdiam beberapa saat. Cinta pertama suamiku berjalan mendekatiku.
"Nona Eva, suamimu berutang 12 miliar kepadaku. Aku punya bukti. Silakan pergi ke kantor polisi untuk mencabut gugatanmu."
"Kalau nggak, kembalikan utang suamimu sekarang juga."
Dia mengeluarkan selembar kertas. Ekspresi wajahnya tampak menantang.
Di saat ibu mertuaku mengira aku akan menurut, aku tiba-tiba angkat bicara.
"Demi membalaskan dendam suamiku, aku juga nggak akan ragu meski harus membuat keluargaku bangkrut."