Bab 2
Setelah bertemu dengan Rachel, aku butuh tiga hari untuk menenangkan diri. Selama tiga hari itu, aku merasa jijik melihat Patrick yang terus memberiku perhatian. Reaksi psikologis ini membuat tubuhku merasa tidak nyaman sampai aku demam tinggi selama tiga hari.
Seharusnya tubuhku bisa pulih hanya dalam sehari, tetapi Patrick terus memainkan peran suami yang penuh kasih dan terus melayaniku seperti seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Hal ini pun membuat rasa jijikku yang terpendam terus bergejolak.
Selama tiga hari itu, Patrick diam-diam menerima lima panggilan telepon dan menggunakan alasan masalah kontrak klien untuk pergi satu kali. Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu, tetapi sekarang aku lebih memperhatikan. Ternyata semuanya berkaitan dengan Rachel.
Beberapa kali aku ingin bertanya padanya kenapa dia mengkhianatiku, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokanku. Bertengkar hanya akan merugikan diriku sendiri, jadi aku memilih untuk diam dan melakukan semuanya dengan cara yang lebih tenang. Mereka tidak akan tahu bahwa aku sedang menyusun rencana untuk menghancurkan mereka.
Setelah tiga hari, aku akhirnya pulih dan Patrick kembali bekerja. Dia bekerja di salah satu perusahaan terbesar milik negara di kota ini. Berkat dukungan ayahku yang juga adalah mertuanya, Patrick diangkat menjadi petinggi di usianya yang ke-32 tahun. Dia sukses di usia muda!
Seorang pemuda dari luar kota yang tidak memiliki latar belakang, menikahi anak seorang petinggi, dan meraih kesuksesan dengan mudah. Apa Patrick mengira semua itu karena kemampuan luar biasanya?
Tanpa aku, tanpa keluargaku, Patrick bahkan mungkin tidak bisa berdiri tegak di kota ini, apalagi melakukan hal-hal kotor seperti itu di belakangku.
Memikirkan bagaimana orang tuaku dulu meragukannya dan bagaimana aku memilihnya dengan keras kepala, membuatku ingin sekali menampar diriku sendiri.
Orang tuaku tidak boleh mengetahui perselingkuhan ini. Cukup aku merasa jijik sendirian. Aku tidak bisa membiarkan orang tuaku merasakannya juga.
Namun, aku belum tentu bisa mendapatkan hasil yang baik jika bisa berjuang sendirian. Setelah merenung sesaat, aku memutuskan untuk meminta bantuan sahabatku, Sally. Aku akan memberitahunya semua tentang kejadian memalukan ini.
Sally sedang dinas luar kota. Setelah kembali, dia langsung datang ke rumahku tanpa pulang ke rumahnya dulu. Dia bertekad untuk membalas dendam kepada Patrick dan Rachel.
"Apa rencanamu?" Sally terlihat marah sekaligus kasihan.
"Pertama, gugurkan kandunganku dulu," jawabku sambil menyentuh perutku yang belum besar.
"Kamu biarkan Rachel melahirkan anak itu, sementara kamu yang menggugurkan anakmu? Apa yang ada di pikiranmu? Ini lelucon terbesar yang pernah aku dengar!" Sally memukul tanganku dengan kesal.
"Gimana lagi? Masa aku harus melahirkan anak untuk pria berengsek itu dan seumur hidup terikat dengannya?" Aku mengangkat alis sambil memegang tangannya.
Mungkin karena ucapanku cukup masuk akal, Sally terdiam sejenak. "Orang bilang kalau ada pasangan yang bertengkar, kita harus membujuk untuk damai. Tapi, aku nggak bisa. Aku nggak akan menyarankan apa pun dan hanya akan mendukungmu!"
Setelah mengatakan itu, Sally memelukku. Begitu dia memelukku, semua rasa sakit, ketidakadilan, dan penyesalan membanjiri hatiku. Aku menangis tanpa bisa menahan diri.
Butuh waktu lama untuk menenangkan diri. Kemudian, aku menceritakan bagaimana Rachel datang menemuiku dan rencana awalku.
Setelah mendengarnya, ekspresi Sally berubah dari marah menjadi terkejut. Dia mengacungkan jempol. "Kamu memang sahabatku, kamu cerdas dan kuat. Hanya dengan membayangkannya, aku merasa sangat puas. Pasangan berengsek ini harus menanggung akibatnya!"
"Sekarang, tolong bantu aku cari tempat tinggal yang agak jauh dari sini dan perusahaan Patrick. Tapi, harus tetap dalam jangkauan kita berdua."
"Tenang saja, aku punya banyak properti. Tinggal pilih saja mau yang mana untuk ditinggali Rachel. Jangankan manusia, bahkan lalat yang terbang masuk ke kamarnya saja bisa kita lihat dengan jelas."
Bab 3
Setelah Sally memilihkan rumah dan mengatur segalanya, aku membawa Rachel ke sana dan memberinya sebuah kartu ATM.
Aku memberitahunya bahwa setiap bulan aku akan mengirimkan uang untuk biaya hidupnya, juga akan mengatur seseorang untuk menemaninya melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Namun, syaratnya adalah anak yang dilahirkannya akan menjadi milikku.
Rachel tampaknya benar-benar percaya bahwa aku menginginkan anak, tetapi tidak bisa hamil. Jadi, tanpa rasa curiga sedikit pun, dia tinggal di sana dengan tenang.
Selama beberapa hari tidak bisa menghubungi Rachel, Patrick tampak gelisah dan lesu, seperti orang yang baru bangun dari mabuk.
Mungkin karena dulu aku terlalu yakin pada kesetiaannya, kini saat melihatnya mencintai orang lain dengan begitu bergairah, hatiku rasanya sangat getir.
Aku menahan perasaan cemburu itu dan mencoba mengujinya. "Sayang, akhir-akhir ini Rachel ada menghubungimu nggak?"
Tangan Patrick yang sedang mengupas apel sontak terhenti. Wajahnya tampak kaku. "Dia nggak ada urusan denganku, kenapa harus menghubungiku?"
Aku mengambil apel yang sudah dikupas darinya dan menatapnya sejenak. "Aneh. Minggu ini 'kan ulang tahunmu. Aku mau mengundangnya untuk merayakan bersama, tapi teleponnya nggak bisa dihubungi, pesan juga nggak dibalas."
Aku menunjuk ponsel yang diletakkan di meja. "Coba deh kamu yang kirim pesan ke dia, undang dia."
Begitu jari-jariku menyentuh ponsel Patrick, Patrick segera menarik ponselnya. Aku meliriknya dan melihat kecemasan di wajahnya. Sambil tersenyum dan mengangkat alis, aku bertanya, "Sayang, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Meskipun aku sangat membenci pengkhianatannya, pada akhirnya kami sudah bersama selama 10 tahun. Selama itu, seluruh masa muda dan kenangan terindahku adalah bersamanya. Jika dia benar-benar menyesal dan berhenti berbohong, aku mungkin bisa memberinya kesempatan kedua dan berpisah dengan damai.
Namun, jelas bahwa Patrick tidak ingin memberikan diri sendiri kesempatan seperti itu. Dia segera berekspresi normal kembali. "Pekerjaan akhir-akhir ini kurang lancar, makanya aku agak lesu."
Jelas-jelas dia lesu karena kehilangan selingkuhannya. Aku menggigit apel, tetapi aku tiba-tiba mual.
Melihatku seperti itu, Patrick tampak senang. "Sayang, kamu hamil ya?"
"Aku cuma sakit perut," jawabku dengan singkat dan tegas.
Melihat ekspresinya, aku tiba-tiba mengerti dari mana kepercayaan diri Rachel berasal. Orang tua Patrick sangat mementingkan keturunan. Hal ini sangat memengaruhi Patrick.
Mendengar jawabanku, wajah Patrick berubah kecewa. Dia memelukku dan mengelus perutku. "Aku harap cinta kita segera berbuah."
Dagunya menyentuh keningku, sama seperti dulu, lembut dan penuh kasih. Tangan panjangnya yang bersih juga masih hangat seperti dulu.
Aku mematung di pelukannya, mengenang setiap momen manis yang pernah kami bagi. Namun, ketika aku sadar semua hanya kebohongan dan akting, hati ini begitu hancur hingga aku tidak bisa menahan air mata.
Patrick mengira aku menangis karena perasaan sensitif tentang kemandulan. Dia terus memelukku dan menghiburku.
Untuk sesaat, aku menginginkan lebih banyak kelembutan seperti ini dan hampir tidak tega untuk menggugurkan kandunganku.
Namun, begitu teringat bahwa Patrick sudah menanamkan benihnya di perut wanita lain, amarah kembali tersulut.
Karena mulai merasakan gejala kehamilan, aku takut hal ini tidak bisa disembunyikan lagi. Aku pun menelepon sepupuku, memintanya untuk segera mengirim Patrick ke luar kota untuk mengerjakan proyek.
Sebelum aku sempat memikirkan alasan yang tepat, sepupuku sudah langsung menyetujui. Keesokan harinya, Patrick diterbangkan ke luar kota.
Tindakan sepupuku ini jelas menunjukkan bahwa dia sudah mengetahui sesuatu. Mungkin banyak orang di sekitarku yang sudah mengetahui perselingkuhan ini. Memikirkan itu, aku merasa sangat terhina dan malu.
Begitu Patrick pergi, aku segera melakukan operasi. Selama masa pemulihan, aku tidak hanya diam. Aku juga membantu Rachel mencari pengasuh yang layak untuknya.